Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Senyuman Sakti


__ADS_3

Nadia masih merintih kesakitan, karena dorongan kaki Ibra jari-jari kakinya yang terluka kini terantuk kursi jok mobil bagian depan. Nyawanya langsung terkumpul seketika saat jari-jari nya bertambah perih.


Ia menatap tajam Ibra, "kalau om nggak niat bangunin ya gak usah bangunin, ngapain tadi harus nyari dan ngajak pulang kalo ujungnya cuma nyari ribut, salah Nadia sama om sebenarnya apa sih ?," ucap gadis itu kesal.


"Kau sudah berani memarahiku ?" ucap Ibra yang tak kalah kesalnya.


"Aku hanya bertanya," balas Nadia cepat kemudian memalingkan wajahnya dari wajah tampan Ibra.


"Kau bisa bertanya dengan pelan, tidak perlu membentakku seperti itu," ucap Ibra kasar.


"Hiiiihhh," gemas Nadia pada Ibra.


"Nona muda dan tuan selalu saja bertengkar, sudah berapa kali mereka bertengkar hari ini" batin Sakti yang selalu menjadi saksi pertengkaran mereka.


Mobil itu masih terus melaju memasuki sebuah perumahan, sudah banyak rumah yang berdiri di perumahan itu, karena bukan salah satu perumahan elite banyak sekali gerobak-gerobak jualan di kanan kiri jalan. mimik muka Nadia yang tadinya kesal kini berubah sedikit sumringah melihat orang-orag jualan itu.


"Pak Sakti kita berhenti sebentar boleh ? Nadia pengen beli makanan itu," ucap Nadia sembari menunjuk gerobak penjual makanan yang ia inginkan.


"Tuan muda sudah membelikan banyak makanan untuk nona, akan mubadzir jika nona harus beli lagi," jelas Sakti memberi pengertian.


"Memang dasar **** kecil," tambah Ibra.


"Ishh," cebilk Nadia tanpa menanggapi ucapan Ibra.


Tak terasa mobil yang mereka kendarai kini sudah sampai di sebuah rumah, rumah itu sangat cantik, jauh lebih cantik dari yang Nadia kira, sentuhan batu-batu alam sangat indah dan serasi dipadukan dengan desain minimalis rumah itu.


"Wahh rumah seperti ini katanya kecil, ini sudah sangat besar dari pada panti asuhan yang aku tempati dulu," ucap Nadia, muncul ukiran senyum di bibir ranum gadis kecil itu.


"Cepat turunlah," perintah Ibra.


Mereka bertiga turun dari mobil dan mulai berjalan menuju pintu utama rumah itu, Nadia yang berjalan paling belakang karena kakinya masih terasa sangat sakit. "Kauuu....." Ibra menoleh kearah Nadia yang tak kunjung menyusulnya.


Namun ia terdiam ketika melihat Nadia yang berdiri sambil melihat kakinya, "bukankan dia habis jatuh di kamar kemaren, apa kaki itu masih sangat sakit, sehingga dia tadi sangat marah ketika aku mendorong kakinya" batin Ibra.


Tanpa ba bi bu Ibra segera menyusul Nadia dan menggenggan tangan gadis kecilnya itu, "kakimu masih sakit ?" tanya Ibra pelan.

__ADS_1


Nadia yang sedari tadi menahan rasa sakitnya itu kini sudah tidak kuat lagi, sudah ada genangan air yang sebentar lagi akan jatuh dari pelupuk matanya. Ibra yang melihat itu segera menggendong tubuh gadis kecilnya.


Nadia yang tiba-tiba di gendong sedikit memberontak karena kaget, "om turunkan aku, aku tidak apa-apa, hanya sedikit mengantuk," alasan Nadia sembari memukul dada Ibra.


"Diamlah atau kau akan jatuh," ucap Ibra kembali kasar.


"Kau hanya perlu berpegangan pada ku, anggap saja aku paman yang sedang menggendong keponakannya" ucap Ibra lagi.


"Aku tidak sekecil itu om." ucap Nadia lagi.


"Diamlah, kau terlalu banyak bergerak," Ibra berkata sambil membawa Nadia masuk kedalam rumah.


Sakti yang melihat Ibra datang dengan menggendong Nadia merasa tidak enak, "Maafkan saya tuan muda, tidak seharusnya saya membiarkan anda menggendong nona muda," ucap Sakti merasa bersalah.


"Lalu kau yang akan menggendong nya ? dia istriku, dia memiliki aku sebagai suaminya, kenapa harus kamu yang menggendongnya," ketus Ibra lalu mendudukkan Nadia di atas sofa.


Nadia dan Sakti tercengang dengan pengakuan Ibra, namun Sakti lebih dulu mencairkan suasana, "saya minta maaf tuan muda, saya hanya tidak ingin membuat anda kelelahan karena menggendong nona muda,"


"Tubuhnya bahkan lebih ringan dari kapas, hey Gacil makanlah yang banyak agar lebih gemuk sedikit, jangan kurus kering tanpa daging seperti ini," ucapnya.


"Silahkan nona, tuan muda yang meminta saya membeli makanan sebanyak ini untuk anda, anda sangat mudah lapar jadi saya harus membelikan anda banyak makanan," ucap Sakti.


"Apa dia mengira aku seekor **** ?" kesalnya dengan manyun setelah tau sebanyak apa makanan yang dipesan Ibra untuknya.


"Nona jangan terlalu sakit hati dengan sikap tuan muda, beliau tidak pernah berhadapan dengan wanita jadi tidak tau bagaimana seharusnya memperlakukan anda," jelas Sakti.


"Bukankah dia sudah memiliki kekasih, dia sudah mencintai orang lain. Bagaimana mungkin tidak tau bagaimana memperlakukan wanita ?" tanya Nadia sedikit penasaran.


Sakti tersenyum, "tuan muda hanya mencintai satu orang sampai detik ini, orang itu sudah tidak ada sehingga membuat hati dan kehidupan tuan muda membeku seperti sekarang,"


"Hahhh ?" ucap Nadia melongo'


"Tidak ada bagaimana pak ?" tanya Nadia lagi yang semakin penasaran.


"Maaf nona, saya tidak berani untuk membicarakan tuan muda, apalagi menceritakan masalah sensitif seperti ini, mari kirta lanjutkan makan saja," ucap Sakti lagi dengan senyum tampannya.

__ADS_1


Nadia semakin dibuat penasaran terlebih dengan jawaban Ibra yang banyak menimbulkan pertanyaan, "Aku tau om Ibra sangat baik, itu bisa dilihat dari matanya yang hangat meskipun sudah banyak di tutupi kemarahan, tapi apa yang membuatnya sampai seperti ini sekarang? pasti ada pemicunya aku harus cari tau," ucap Nadia semangat.


Nadia makan dengan lahap makanan yang sudah disiapkan oleh Sakti di meja ruang tengah, "makanan yang di pesan semua sangat enak," ucapnya dengan mulut yang masih penuh.


"Ini semua makanan kesukaan tuan muda nona," jawab Sakti


"Loh om Ibra nanti makan apa dong ?" tanya Nadia.


"Saya sudah menyiapkan khusus untuk tuan muda nona,"


"Pak Sakti nggak makan juga ?"


"Saya tidak akan makan sebelum tuan muda nona, silahkan anda makan terlebih dahulu," ucap Sakti yang membuat Nadia meringis tidak enak hati.


"Hehehe maaf ya pak, Nadia makan duluan," ucap gadis itu kemudian menjauhkan piringnya berniat menunggu Ibra terlebih dahulu.


"Anda makanlah terlebih dulu nona, jika anda tidak makan nanti tuan muda yang akan marah,"


"Bareng aja pak, biar lebih niqmat, hehehe," ucap Nadia.


"Nona Nadia sangat lucu dan cantik," Batin Sakti sambil tersenyum melihat wajah gadis kecil itu.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu ??"


.


.


.


Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya


Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.


Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2