Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Kakak laki-laki


__ADS_3

"Dasar Gacil sepatu buluk gini masih di pakai, buang aja deh ntar biar beli yang baru," ucapnya sendiri kemudian meraih kedua sepatu itu, namun matanya melihat beberapa sesuatu berada di sepatu itu.


"Darah ?"


"Bagaimana mungkin ada darah di sepatu Gacil, udah bolong gini depannya," cibirnya.


"Jangan-jangan..... "


Pikirannya langsung teringat dengan Nadia, ia langsung masuk kedalam mobil untuk mengambil kotak P3K yang tersimpan di laci setiap mobilnya kemudian berjalan kedalam rumah mencari keberadaan Nadia, gadis itu sedang berusaha berjalan membawa piring menuju dapur.


"Bagaimana mungkin dia tetap berjalan dengan kaki seperti itu, dasar Gacil bodoh, " ucap Ibra lirih.


Ibra segera berjalan menghampiri Nadia, ia mengambil beberapa piring yang ada di genggaman tangan gadis itu.


"Ah om ngagetin aja," ucapnya.


Ibra berjalan ke arah dapur dan menaruh piring-piring kotor itu di tempat pencucian piring kemudian kembali dan menarik tangan Nadia dengan pelan.


"Kenapa om?" tanyanya yang masih bingung dengan sikap Ibra.


Ibra menuntun dan mendudukkan Nadia di sofa tempat mereka makan sebelumnya, bedanya kini ia duduk di karpet tepat di bawah kursi, "Om kenapa, duduklah disini. Kenapa om duduk bawah?" tanya gadis kecil itu.


"Berikan kakimu ?"


"Hah kaki ?" tanya Nadia yang masih belum faham arah pembicaraan Ibra.


"Awww om," rintih Nadia yang reflek memegang pergelangan kakinya.


Karena tidak mendapat jawaban dari istri kecilnya itu, Ibra menarik paksa kaki Nadia. Di ujung jari-jari kaki itu terlihat darah baik yang sudah mulai mengering maupun luka yang masih basah, bahkan ada juga beberapa benjolan berisi air yang siap meletus kapan saja. Tak cukup dengan itu, pergelangan kaki itu terlihat bengkak kebiruan akibat jatuhnya Nadia semalam.


"Bagaimana bisa kau tetap berjalan dengan kaki seperti ini hahh?," bentak Ibra kemudian meraih kotak p3k yang sudah ia siapkan di atas meja sebelumnya.


Tangan laki-laki itu dengan lihai mengobati kaki Nadia, gadis itu hanya diam tidak bergeming sama sekali, sesekali isakan tangis keluar dari mulutnya.


"Kau sangat pemberani sebelumnya, kenapa sekarang jadi sangat cengeng seperti ini," ucap Ibra lagi sedikit ketus.


"Bagaimana mungkin kau merawat dan menjagaku ketika menjaga diri sendiri saja tidak bisa, kau masih harus menjagaku selama lima tahun. "


Laki-laki itu masih terus mengomel dengan Nadia yang semakin terisak mendengar ocehannya, bukan merasa marah gadis itu merasa di perhatikan oleh Ibra.


"Kenapa kau jadi semakin menangis, apa aku menggigit mu ?" tanya Ibra lagi dengan sedikit kesal.

__ADS_1


Gadis kecil itu semakin mengeraskan isakan nya, sejak tadi ia sudah ingin menangis, tidak hanya untuk luka di kakinya saja namun juga jalan hidupnya.


"Mulai sekarang bersihkan lukamu setiap hari, jangan sampai terkena air, oke?"


"Hey, jawab aku jangan hanya diam dan menangis seperti ini,"


Karena tidak mendapat jawaban dari Nadia, kini Ibra beranjak dari duduknya. Ia sempat ragu untuk berbicara, melihat Nadia yang menangis seperti ini membuat dirinya bingung.


"Aku minta maaf.... " ucap Ibra.


Namun belum sempat Ibra melanjutkan ucapannya, "bisakah Nadia anggap om sebagai kakak laki-laki Nadia, terlepas dari perjanjian yang sudah kita sepakati tentang pernikahan," ucap gadis itu dengan wajah masih menunduk.


Ibra terdiam, dia masih mencerna kata-kata yang di ucapkan gadis kecilnya itu, dahinya mengkerut. "Semua wanita selalu ingin dekat denganku sebagai kekasih ataupun istri, bahkan banyak yang rela naik ke ranjang ku untuk mendekatiku, kenapa dia yang nyata-nyata udah jadi istri sah malah pengen jadi adik," batinnya.


"Terserah"


Ibra beranjak dari duduknya, namun langkahnya terhenti. "Terimakasih om," ucap gadis itu dengan mendongakkan wajahnya menatap Ibra.


"Senyum, dia tersenyum hanya karena hal remeh seperti ini,"


"Berhentilah menangis dan tunggu disini, aku akan menelfon dokter untuk memeriksa lukamu, dasar cengeng" ucapnya kemudian berbalik dan pergi. Terlihat senyum simpul di bibir laki-laki itu.


Ibra berjalan ke kamarnya meninggalkan Nadia yang kini masih mematung melihatnya, ia mengambil handphone di atas nakas kamarnya kemudian mengetikkan sesuatu.


Panggil dr. Luna kemari, cepat!!!


***


Drrtt drttt


"Tuan muda... "


Sakti menghentikan mobilnya di pinggiran trotoar, dan membuka pesan yang di kirimkan oleh Ibra.


Panggil dr. Luna kemari, cepat!!!


"Siapa yang sakit, hingga harus memanggil dr Luna, apa seserius itu hingga Luna harus turun tangan," ucap Sakti sedikit bingung namun segera menghubungi dr. Luna seperti yang di inginkan oleh Ibra.


"Halo Lun,"


"Ada apa? aku harus melakukan operasi penting sekarang,"

__ADS_1


"Tuan muda ingin kau memeriksanya sekarang, cepatlah datang sebelum beliau semakin marah," ucapnya.


"Apa yang terjadi dengan Ibra ? aku harus melakukan operasi,"


"Datanglah, kau tau selain kamu tuan muda tidak mempercayai siapapun untuk memeriksanya, pasien itu biar di operasi oleh dokter lain, aku akan segera mengirim kompensasi pada keluarganya,"


"Kalian berdua selalu merepotkan," ucap wanita itu kemudian memutuskan telfon secara sepihak.


***


Seorang laki-laki paruh baya kini sedang duduk di kursi kebesaran dalam rumah miliknya itu, raut wajahnya jelas sangat tidak bersahabat seperti ingin membunuh siapapun yang ada di hadapannya.


"Apa yang kalian kerjakan sebenarnya?" bentak laki-laki itu sangat keras hingga menggema di penjuru ruangan.


"Kami minta maaf tuan ," ucap beberapa orang yang berada di tempat itu bersamaan.


"Beraninya para tikus itu ingin menghabisi orang yang berada di bawah perlindunganku, Ibra bukan orang yang bisa di sentuh sembarang orang," bentak nya lagi, kali ini semakin keras, amarahnya semakin tidak terkendali ketika mendapat informasi tentang apa yang terjadi pada Ibra.


"Kami akan menjaga tuan Ibra dengan lebih baik kedepannya," ucap salah seorang di antara mereka.


"Seharusnya kalian sudah menjaganya hari ini," ucap laki-laki itu dengan pandangan tajam melihat satu per satu bawahannya.


"Siapa dia?"


"Tuan Abrar yang sudah bekerjasama dengan nona Bella tuan," jelas salah seorang yang lain dengan pandangan yang masih menunduk.


Laki-laki itu kini tersenyum, senyuman yang sangat menakutkan, "Akan terjadi bencana apa setelah ini, sesuatu selalu mengerikan ketika tuan sudah tersenyum seperti itu," gumam beberapa orang dalam hati


"Ibra, Ibrahim Muhammad Attar, orang yang akan menjadi tuan kalian kedepannya, dia tidak perlu mengotori tangannya untuk menghabisi sekelompok tikus seperti mereka,"


Seringai itu terlihat semakin Menyeramkan, "kami sudah meledakkan mobil mereka tuan," ucap salah seorang di antara mereka.


"Jika menyangkut orang yang ingin bermain-main dengan Ibra, meledakkan atau menguliti mereka tidak akan cukup,"


.


.


.


Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya

__ADS_1


Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.


Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.


__ADS_2