
"Saya akan membereskan nya tuan muda, tolong lepaskan dan kembali ke kamar anda, saya dan Aga akan membereskan semuanya malam ini, istirahat dan lakukan apapun yang tuan muda inginkan malam ini, saya akan berada di sini untuk menyelidiki semuanya dan berjanji tidak akan ada seorang pun yang akan bisa mengganggu tuan muda," ucap Sakti.
"Mas.. ayok balik yukk... " ajak Nadia tidak ingin berlama-lama melihat Ibra di penuhi amarah.
"Membuat ku kesal saja," ucap Ibra sebelum melepaskan wanita itu.
"Argh... uhuk uhuk.... uhuk.... " ucap wanita itu terbatuk begitu Ibra melepaskan tangannya.
Nadia dengan sigap langsung menarik tangan Ibra dan membawanya ke dalam kamar, "jika tidak di antar kan, mas Ibra nggak akan tau jalan pulang," begitu pikirnya.
Begitu sampai kamar, gadis kecil itu membuat teh camomile kesukaan suaminya, dia sendiri juga tengah memakan sebuah coklat agar moodnya kembali baik, sejujurnya ia sangat kesal dengan sikap Rafael yang seperti itu.
Nadia melihat Ibra yang saat itu tengah duduk di atas ranjang dengan bersandar, terlihat bahwa laki-laki itu sedang menghembuskan nafas berkali-kali untuk mengontrol emosinya.
"Aku harus menjodohkan abang El dengan perempuan lain," gumam Nadia seorang diri dengan tetap menyeduh teh milik Ibra.
"Ini sudah tidak bisa ditawar lagi, abang El harus segera menikah, aku harus membuat rencana agar abang El bisa berhenti bermain dengan wanita-wanita tidak jelas itu,"
"Tapi siapa? bahkan tidak ada seorang pun yang mau berteman denganku sejak dulu," gumamnya lagi.
"Itu karena kau yang tidak mau membuka diri, bukan mereka nggak mau berteman denganmu," ucap Ibra dengan menyentil kepala Nadia dengan tangan kirinya.
"Sakit mas," ucapnya manja.
"Mana yang sakit? di sini? di sini?? " tanya Ibra yang sudah menciumi seluruh wajah gadis itu.
"Ha ha ha, udah cukup mas, udah nggak sakit,"
"Kalau kamu bermasalah hanya pada satu orang, mungkin orang itu yang bermasalah, tapi kalau hampir semua orang memperlakukan kamu seperti itu, maka masalahnya ada di dalam dirimu sendiri,"
"Benarkah mas?" tanya Nadia yang masih berusaha mencerna penjelasan yang di sampaikan Ibra dengan mata berkedip-kedip.
"Mungkin kamu yang membuka peluang agar mereka bersikap seperti itu, di bully, di beri tugas yang sangat banyak, di kerjain senior, pernah nolak nggak? pernah coba bilang enggak sama mereka ?" tanya Ibra.
Nadia menggelengkan kepala, "nah itu, coba untuk bersikap bijak dalam menyikapi segala sesuatu, karena menjadi dewasa bukan sesuatu yang mudah, kita harus bisa keras terhadap diri sendiri Nadia, sebelum dunia bersikap keras kepada kita, terlebih Nadia Clara adalah istri Ibrahim Muhammad Attar, kau membawa namaku di setiap gerakan dan perilaku yang kau lakukan, dan jangan lupa dengan Adiwijaya di belakang namamu, jadi sekarang coba untuk berkata tidak, menolak segala sesuatu yang memang tidak seharusnya kau kerjakan, lakukan apapun yang ingin kau lakukan, hidup hanya sekali, mengerti...??? " ucap Ibra memberi petuah.
"Mengerti... " jawab Nadia menunduk dengan sikap malu manjanya.
"Hah, melihat tingkahnya yang seperti ini saja sudah membuatku tenang kembali, kenapa aku tidak menikah sejak dulu jika rasanya semenyenangkan ini," batin Ibra.
"Tunggu... bagaimana kepalamu ? biarkan aku melihat nya, Lama-lama kau akan menjadi botak ketika semua orang menarik rambut mu seperti itu, besok pagi aku pasti akan memotong semua rambut di kepalanya." tambah Ibra.
__ADS_1
Nadia langsung memajukan bibirnya, "aku besok akan memotong rambut saja, semua orang sangat suka menarik rambut ku," ucapnya lagi.
"Jangan, begini saja, itu karena rambutmu cantik sehingga semua orang berusaha merusaknya."
"Aku masih sangat kesal dengan abang El mas,"
"Dia seperti itu sejak dulu," jawab Ibra tanpa dosa.
"Mas Ibra.. aku boleh menemui abang El sebentar ?" tanyanya pada Ibra bermaksud meminta izin.
"Ada apa? ada sesuatu yang ingin kau tanyakan padanya,"
"Aku hanya ingin menyalurkan tenaga ku yang berlebihan," ucapnya.
"Hah? tenaga berlebihan bagaimana maksudnya ?"
"Sudah mas Ibra tenang saja,"
"Baiklah, jangan lama-lama oke,"
Setelah menjawab ucapan Ibra dengan mengangguk, Nadia segera pergi dengan membawa sebuah guling yang sebelumnya sudah ia ambil di atas ranjang kamarnya.
Bukannya menjawab, Nadia malah berjalan semakin cepat, si kecil itu bahkan tidak menoleh sedikitpun pada Sakti dan Aga yang masih berada di sana setelah memberi pesan kepada para penjaga.
"Anda mau kemana nona?" tanya Sakti yang tidak mendapat jawaban sama seperti Ibra.
Bukan hanya Sakti dan Aga yang heran dengan apa yang di lakukan Nadia, Ibra juga penasaran dengan apa yang akan di lakukan istrinya dengan sebuah guling yang dia bawa.
Ibrahim dengan rasa penasaran itu keluar mengikuti Nadia yang sudah sampai pada pertengahan tangga, "ada apa tuan ku?" tanya Aga.
"Aku juga ingin melihat apa yang akan dia lakukan pada Rafael dengan guling di tangannya itu," ucap Ibra yang bergegas menaiki tangga.
Melihat itu, Sakti dan Aga segera saling pandang dan mengikuti Ibra segera.
***
Kamar Rafael
Rafael terlihat menatap luasnya langit malam, entah apa yang ada di pikirannya saat ini hingga berdiri lama di teras balkon kamarnya seorang diri.
Hingga cek lik
__ADS_1
Sebuah pintu terbuka, terlihat Nadia datang dengan membawa guling miliknya, namun Rafael masih belum juga peka bahwa Nadia sudah ada di belakang nya.
Hingga buk buk buk
Sebuah pukulan datang bertubi-tubi mengenai tubuh Rafael hingga laki-laki itu tidak sempat untuk melawan.
"Heh... hehh... lu gila dek, ngapain lu mukul gua kayak gini sih?" teriak Rafael yang langsung berlari begitu saja menghindari pukulan demi pukulan yang di lakukan oleh Nadia.
"Ini agar abang nggak nakal, kenapa masih bermain dengan perempuan-perempuan gak jelas itu, masih tinggal berapa?"
"Apa?"
"Masih berapa wanita lagi yang sedang sama abang sekarang ?" teriak Nadia masih berusaha mengikuti Rafael dan memukul laki-laki itu.
"Aku sudah sangat marah sekarang dengan abang, kemari... kemari.. " ucapnya pada Rafael yang terus menjauh darinya berusaha menghindari pukulan.
"Cuma 27 wanita lagi sampai hari ini," jawabnya tanpa merasa bersalah.
"Dua puluh tujuh ????" ucap Nadia melotot sempurna.
"Kenapa tidak memilih satu saja di antara mereka untuk di jadikan pendamping hidup? abang nggak tau kalo abang sudah tua? kenapa masih aja bermain," ucapnya dengan kesal.
Sakti yang mendengar itu segera melihat kepada Ibra, "apakah nona sedang menyindir saya tuan muda, apakah kami memang terlihat setua itu?" tanya Sakti dengan wajah frustasi setelah mendengar ucapan Nadia itu.
"Jangan dengarkan dia, itu ucapannya ketika marah, " tambah Ibra.
Nadia hendak bergerak mengejar Rafael dan memukul laki-laki itu lagi, namun Ibra segera mendekat dan memeluknya.
"Berhenti Nadia, jangan bergerak berlebihan, itu akan membuat anak kita merasa tidak nyaman, calm oke... calm... calm... " ucap Ibra berusaha menenangkan.
"Tapi abang El akan membuat orang tua kita berdua mendapat siksaan karena sikap dan perilaku abang ini, bagaimana Nadia bisa diam mas?" ucapnya di pelukan Ibra.
Ibra masih menatap tajam Rafael dengan masih tidak melepaskan Nadia dari pelukannya, "aku akan membunuhmu setelah ini, dasar bocah tua," ucapnya dengan melotot karena sudah membuat istrinya seperti ini.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.
Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe
Salam sayang semua
__ADS_1