Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Menggoda Rafael 2


__ADS_3

"Rafael tidak memberimu makan?" tanyanya yang kemudian hanya di jawab anggukan oleh Nadia.


"Hey... astaga... kapan gua nggak ngasih makan, sumpah aish.... gua mulu yang jadi korban dari tadi, gua udah nyuruh lu makan dek, kenapa lu nyalahin gua sekarang," ucap El berdiri tidak Terima.


"Liat kan mas, abang El selalu marah-marah, dia nggak pernah ngasih Nadia makan, hanya mommy yang selalu membuatkan makanan, tiap marah selalu main cewek dan mabuk,sepertinya abang El harus di sekolahkan lagi mas," adunya pada Ibra menggoda Rafael.


"Hey.... hey.... " ucap Rafael tidak Terima dengan ucapan adiknya.


Baru saja ia hendak mendekat ke arah Nadia untuk menjewer telinga adik nakalnya itu, namun suara ketukan Luna membuatnya berhenti.


Luna melihat Ibra dengan seksama, laki-laki di sampingnya ini berkali-kali memijit pelan mata kakinya yang tertutup sempurna oleh kaos kaki dan celana panjangnya.


"El angkat mejanya... " ucap Luna spontan.


"Kenapa El? di depanmu ada Sakti dan juga Aga yang lebih dekat jaraknya," sanggah Ibra begitu saja.


Luna hanya menatap Ibra dengan bola mata sedikit bergetar, "baiklah siapapun cepat pindahkan mejanya, padahal aku sedang ingin mengganggunya," perintah Luna.


Sakti dan Aga segera mengangkat meja di depan mereka dengan sekali angkat, Luna yang tadinya duduk di atas sofa kini sudah berjongkok untuk melihat kondisi kaki Ibra.


Luna baru mengangkat kaki Ibra, kaki itu sudah membiru dan bengkak hingga ke bawah, yang mana langsung membuat Luna segera melepaskan sepatu dan kaos kaki yang masih terpasang rapi itu.


"Ah.. pelan lah sedikit," sebuah rintihan berhasil lolos dari mulut Ibra yang mana membuat semua orang di sama panik.


Mata Luna mengkerut seketika saat melihat kaki itu sudah sangat bengkak dan membiru seperti tidak di aliri darah, "dia berusaha berjalan sepanjang hari dengan kaki ini sejak tadi? nih orang manusia atau bukan sih, astaga...."ucap Luna dalam hati.


"Mas... mas jujur kapan bangun? mas belum sembuh bener kan? kenapa dateng kesini sih?" tanya Nadia dengan wajah sangat khawatir.

__ADS_1


"Gua bener-bener nggak faham lagi sama lu, semua orang takut mati, lu nggak takut sama kematian?" ucap Rafael yang kini sudah berada di depan Ibra.


Ibra menatap semua orang yang saat ini sedang khawatir dengan keadaanya "Siapa yang tidak takut mati? aku juga takut mati, tapi... aku lebih takut melihat orang-orang yang ku sayangi mati tepat di depan mataku, kalian semua ada di sana saat itu," ucapnya kemudian menatap langit-langit ruangan.


Baik Nadia, Luna, Sakti, Rafael dan Aga yang semula melihat pada kondisi kaki Ibra kini beralih menatap Ibra dengan sendu.


Nadia segera memeluk suaminya itu tidak peduli dengan semua orang yang melihat mereka saat ini, Rafael hanya berbalik tidak ingin melihat adegan ini, meskipun sejujurnya ia juga sangat tersentuh dengan apa yang sudah di lakukan Ibra padanya.


Percaya atau tidak, tapi Ibra adalah super hero bagi mereka semua, semuanya bisa bertahan hidup hingga sekarang karena Ibra mengulurkan tangan kepada mereka di saat mereka semua benar-benar membutuhkan.


"Mangkanya kalo sakit tuh istirahat, nggak usah sok-sokan jadi pahlawan, udah tau baru bangun," ketus Rafael.


"Mangkanya kau urus perusahaan dengan baik biar tuan muda bisa beristirahat dengan nyaman tanpa mikir perusahaan yang hancur di tanganmu," tegur Sakti tidak Terima.


"Kau juga Aga... bukankah sebelumnya perusahaan ini tidak ada masalah saat berada di tanganmu, kenapa menjadi hancur saat pembuat masalah ini datang," ucapnya pada Aga.


"Abang jangan berantem terus dong," ucap Nadia yang semakin pusing dengan mereka semua.


Tok tok tok


Seorang wanita dewasa dengan anggunnya masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu bahkan sebelum ada seseorang yang mempersilahkan untuk masuk.


"Ada yang bisa saya bantu? ingin bertemu dengan tuan Rafael?" ucap Aga yang sudah menebak maksud kedatangan wanita ini, pasalnya ia adalah wanita yang pernah berkencan dengan tuannya Rafael.


"Uhm, bukan... tuan Ibrahim... saya ingin meminta keadilan dari anda,"


"Aku bukan hakim, minta saja pengadilan untuk memberimu keadilan, kenapa meminta padaku," ucap Ibra tidak ramah masih dengan Nadia yang berada di dalam pelukannya dan Luna yang merawat kakinya.

__ADS_1


Rafael yang tau siapa yang datang segera berbalik, itu adalah mantan kekasihnya yang sudah ia putuskan hampir satu bulan yang lalu, "mau apalagi dia kesini?"


"Tunggu, tapi Rafael ada di dalam kuasa anda, aku yakin anda bisa mengatasinya, aku saat ini sedang hamil anaknya, tapi dia sudah berkencan dengan wanita lain, tolong berikan keadilan untukku dan bayi ku tuan," ucapnya memohon di depan pintu.


"Aw.... Luna... kenapa kau menekan kakiku dengan keras, Nadia..." ucapnya memberi kode agar istrinya saja yang menggantikan Luna untuk mengurus kakinya.


"Biar aku saja kak," ucap Nadia mengambil alih mengompres kaki Ibra.


Luna berdiri, yang mana diikuti oleh Sakti dan Aga, mereka berempat berdiri sejajar dengan Rafael saat ini tepat di belakang Ibra.


"Duduklah... " ucap Ibra pada wanita itu.


Wanita itu dengan gaya anggunnya duduk di sana, berhadapan langsung dengan Ibra dan Nadia, "berapa bulan?"


"satu bulan," ucapnya.


"El...duduklah di sana," ucap Ibra kemudian menunjuk pada kursi tunggal.


Rafael memberikan kode yang hanya di ketahui oleh Ibra dan pasukan terlatih miliknya, mengetahui itu, Ibra langsung faham dengan apa yang terjadi.


"Kenapa percaya padaku? aku sudah pasti mempercayai orang-orang ku dari pada hanya seorang wanita yang baru saja ku temui, ah apa aku terlihat bodoh hingga mudah kau tipu?" ucap Ibra.


"Bukan tuan, just.. justru karena anda terlihat sangat cerdas dan bijaksana sehingga saya berani untuk datang kesini hari ini,"


"Tapi setahuku Rafael memiliki gangguan pada adik kecil miliknya, setahuku dia tidak bisa berdiri, bagaimana mungkin bisa ada bayi di dalam sana, sebentar coba ku tanyakan pada dokter pribadiku, bagaimana Lun?" ucapnya dengan santai namun membuat wanita di hadapannya ini semakin gelisah tidak karuan.


"Miliknya memang tidak bisa berdiri, aku memiliki rekam medianya, aku bahkan baru saja memeriksanya seminggu yang lalu, atau mau kita buktikan sama-sama di sini... " ucap Luna.

__ADS_1


"E.. busyettt orang-orang kalo alasan kira-kira dong, jangan impoten juga... mereka nyumpahin apa gimana sih ini," kesal Rafael.


***


__ADS_2