
Nadia berjalan dengan sedikit tertatih, menuruni anak tangga dengan pelan agar tidak semakin menyakiti kakinya lagi dan membuat gaduh rumah ini, ia sudah sampai di dapur namun sayangnya tidak terlihat makanan sama sekali disana.
"Aku harus makan apa, rasanya sudah tidak bisa ditahan lagi," ucapnya dengan tangan yang masih membuka tutup beberapa lemari guna mencari sesuatu yang bisa ia makan.
Ibra memperhatikan Nadia dari kejauhan, laki-laki itu tidak meninggalkan Nadia begitu saja rupanya, dia seperti pencuri kecil.
Nadia membuka pintu kulkas, benar-benar tidak ada makanan di rumah sebesar ini hanya ada beberapa sayuran di dalam sana, Nadia meraih beberapa sayur yang ada disana, ia berniat membuat capcay untuk mengganjal perutnya yang sudah sangat lapar.
Dengan langkah yang masih terseok-seok ia membawa sayur-sayur itu dengan sebuah mangkuk berukuran sedang di atas meja, tangannya mulai lihai mengupas beberapa bumbu yang akan ia masak bersama sayur tersebut.
"Untung saja masih ada bawang dan bumbu masak lainnya," ucap Nadia disela-sela kegiatan memasaknya.
Nadia memotong beberapa sayuran dengan masih berfikir, "rasanya aku masih akan lapar jika hanya makan sayur ini tanpa nasi, tapi dimana letak beras nya," ucapnya lagi dengan kepala yang celingak-celinguk mencari beras.
Ibra, laki-laki itu masih setia memandangi Nadia yang berjalan kesana kemari di dapur yang di desain terbuka dengan kaki terseok-seok. Laki-laki itu mengamati apa yang dilakukan Nadia tanpa berniat membantu sama sekali kemudian melangkah naik ke atas menuju ruang kerjanya.
Kegiatan memasak Nadia masih berlanjut ketika ia menemukan beras yang disimpan di dalam lemari paling bawah, "pantas saja aku tidak menemukannya, dia disembunyikan di dalam wadah seperti ini," yah beras itu di simpan di dalam anak sebuah lemari.
"Bahkan lemari pun memiliki anak, hahah" Nadia tertawa sendiri memikirkan beras itu.
Di tengah kegiatan memasaknya ia teringat sesuatu, "bukankah tadi om menyuruhku mengambil makanan sewaktu di pesta, tapi gagal karena aku menjatuhkannya, jangan-jangan om benar-benar belum makan sampai sekarang," ucap Nadia masih berbicara sendiri dengan pikirannya.
"Okeh, ini akan kubagi dengan om nanti," ucapnya lagi sambil tersenyum.
Setelah Nadia menyelesaikan kegiatan masak-masaknya ia segera mengambil nasi dan sayur capcay yang sudah ia masak ke dalam sebuah wadah, kemudian duduk di atas kursi yang sengaja ia ambil di sebelah kulkas.
"Rasanya takut kalo duduk di meja makan tanpa yang punya rumah, disina saja," ucapnya dengan melahap cepat makanan yang sudah ia siapkan itu.
"Ini masih enak, ternyata kemampuan masakku masih cukup berguna dikondisi seperti ini, hehe" Nadia masih terus saja makan sambil sesekali bergumam sendiri, mudah sekali mencairkan suasana hatinya yang memang sangat ceria.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu Nadia sudah melahap habis makanannya, sekarang saatnya menyiapkan makan untuk suaminya, ia mengambil beberapa sendok nasi dan mengambil sayur capcay dalam wadah yang berbeda, tak lupa air putih pun sudah siap di dalam sebuah gelas, semua sudah tersedia di atas nampan yang akan ia bawa untu Ibra.
Ia mengambil nampan itu dengan hati-hati, "aku tidak boleh jatuh dan membuat keributan, nanti om akan marah lagi," ucapnya yang masih berusaha berjalan pelan.
"Bagaimana caraku menaiki tangga dengan nampan ini," pikir Nadia yang saat ini berada tepat dibawah tangga.
Karena tidak bisa menemukan ide untuk bisa membawa nampan ke lantai dua atau meminta bantuan orang lain, akhirnya ia memaksa kakinya untuk tetap melangkah dengan satu tangan memegang nampan dengan kuat dan tangan yang lain memegang pinggiran tangga. sesekali Nadia hampir terpeleet karena kakinya yang tidak seimbang namun ia tetap melanjutkan langkahnya dengan hati-hati.
"Hufttt akhirnya sampai juga di atas, rasanya seperti aku sudah menjadi tua dan sulit berjalan," ucapnya bernafas lega, "tapi aku masih harus berjalan mengantarkan ini ke kamar om, semangat Nadia jangan kalah sama nini nini,,, wkwkwkwk," ucapnya lagi dengan cekikikan-cekikikan kecil.
Nadia mengetuk pintu kamar Ibra beberapa kali, "om,, om,, " panggil gadis itu, namun karena Ibra tak kunjung keluar Nadia memberanikan diri membuka pintu kamar, namun zonk kamar itu kosong.
Kepalanya menoleh beberapa kali dengan masih berfikir kemana Ibra pergi, kemudian melihat ada sebuah ruangan dengan pintu setengah terbuka, "ahhh mungkin om ada disana, pintunya masih terbuka dan lampunya juga menyala,"
"Om,, om,," panggil Nadia
Karena merasa mendengar suara, Ibra sedikit menjulurkan kepalanya untuk melihat siapa yang sedang berjalan-jalan di jam tengah malam begini, tak lama Nadia muncul dari balik pintu yang sedikit terbuka itu dengan senyumnya, "om Nadia bawa makanan " ucapnya dengan bahagia karena sudah berhasil menemukan Ibra.
"Om pasti belum makan, tadi kan makanannya udah jatuh di pesta," ucap Nadia lagi sembari berjalan mendekati meja kerja Ibra.
"Kau pikir aku sapi ? bagaimana mungkin kau hanya memberiku makan rumput ? ini hijau semua" gerutu Ibra melihat penampakan makanan di depan matanya.
"Ini enak om, cobalah dulu,"
"Kau bawa saja, aku tidak lapar. Melihatnya saja membuatku tidak selera." jawabnya ketus.
"Ya sudah kalau tidak mau," ucap Nadia sambil mengambil nampan berisi makanan itu kembali ke tangannya.
Melihat langkah Nadia yang berusaha mengantarkan makanan kepadanya dengan kaki yang seperti itu, ada rasa tidak tega juga di hati Ibra, "kemarikan!!! untuk kali ini aku mau memakan makanan aneh itu," ucap Ibra lagi dengan ketus.
__ADS_1
Nadia tersenyum dan membalikkan tubuhnya untuk kembali mengantar nampan itu, tapi Ibra sudah lebih dulu berdiri untuk mengambilnya dari tangan Nadia, "kembali dan cepat tidur jangan berjalan-jalan dimalam hari, kau seperti hantu," ucapnya lagi.
"Oke om, aku juga sudah mengantuk,"
"Dasar ****, habis makan tidur," ucap Ibra lagi.
"Ommm jahat, ishhh" kesal Nadia kemudia melangkah pergi meninggalkan Ibra.
Sekali lagi Ibra menggeleng-gelengkan kepala karena tingkah Nadia, "dia kadang ceria, suka sekali tersenyum tapi juga mudah kesal, dasar gadis aneh,"
Pandangan mata Ibra tertuju pada makanan yang tadi disiapkan Nadia, "apa aku terlihat mirip sapi hingga dia memberiku makan seperti ini, aku paling tidak suka sayur," ucap Ibra lagi.
Kruyuk kruyukk
"Aishh aku memang belum makan dari tadi, sudahlah aku hanya akan memakan nasinya,"
Namun karena aroma capcay itu sangat menggoda, ia mencicip sedikit kuah yang ada di mangkuk itu, "aku belum makan dari pagi, rasanya ini masih bisa di makan," ucapnya lagi yang kemudian tanpa sadar segera menghabiskan makanan itu tanpa sisa.
"Masakannya lumayan juga, **** kecil itu cukup berguna,"
.
.
.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.