Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Sedingin Kutub Utara


__ADS_3

Nadia mulai kelihatan tidak bersemangat kemudian, pikiran gadis itu sedang berlarian ke sana kemari. Raut wajahnya jelas memperlihatkan perasaannya yang sebenarnya.


"Cemburu ?"


Nadia menatap Rafael yang sedang menatap ke arahnya, "Nadia masih istrinya, tapi Nadia sadar diri kok bang, Nadia cuma istri kontrak," ucap gadis itu pelan.


Sakti dan Rafael kini menatap lekat gadis yang sudah menemani mereka beberapa bulan terakhir ini, terlihat sangat jelas kekecewaan di matanya.


"Nona, saya ingin memberi tahu anda sebuah rahasia," ucap Sakti kemudian.


"Apa bang?" tanyanya seolah enggan menjawab dengan masih menatap layar komputer, hendak memperbaikinya.


"Saya sangat faham betul dengan karakter tuan muda nona, percaya pada saya, apa yang di tampakkan tuan muda hari ini semata-mata hanya karena perasaan bersalah saja," jelas Sakti.


"Nadia tau bahkan rumah besar itu hanya boleh di tempati tante Anna sebagai ratu di dalamnya, ini bukan hanya sekedar rasa bersalah bang,"


"Seperti yang terlihat di awal, sangat sulit untuk membujuk nona muda, sifatnya yang seperti ini benar-benar sulit di hadapi, kenapa Anna harus muncul dan bersikap tidak sopan seperti itu di saat tuan muda sudah bahagia," batin Sakti kesal.


***


Ruang Makan


Aisyah baru saja bergabung bersama mereka di meja makan setelah Nadia pamit untuk segera memperbaiki komputer milik suaminya.


Tak lama Aisyah mengambil piring milik Attar dan mengisi beberapa sendok nasi dan lauk di atasnya.


"Bi, tolong ambilkan udang kesukaan tuan muda," perintah Anna pada pelayan memecah keheningan.


Pelayan yang berdiri di antara kursi Ibra dan Attar segera mendekat hendak mengambil piring yang sudah di siapkan rapi tepat di depannya.


Namun sebelum pelayan itu berhasil mengambil piring, tangan Ibra mencegahnya, "Nadia..... Nadia...... " teriknya kemudian.


"Ibra, ini tempat makan, tidak baik kamu teriak-teriak di depan makanan," ucap Anna aneh.


"Panggil nona muda, Sakti dan Rafael," perintahnya pada pelayan itu.


"Kita di sini, ngapain lu teriak-teriak," sahut Rafael yang baru saja turun dari tangga.


Ibra menoleh ke arah sumber suara di belakangnya, tidak tau kenapa ada perasaan tenang setelah melihat kehadiran mereka bertiga.


"Cepat ambilkan makanan, kau masih istriku, dan kalian duduklah," ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Ibra, ini meja makan hanya khusus untuk keluarga, jika Nadia, dia memang istrimu, tapi mereka? barusan dia bahkan berbicara tidak sopan kepadamu, kalian harus menjaga jarak," rajuk Anna dengan tangan bergelayut manja pada lengan Ibra.


"Lalu kamu siapa? sejak tadi hanya bilang khusus keluarga khusus keluarga, lalu kamu siapa?" tegas Attar yang sudah merasa kesal sejak tadi melihat kelakuan wanita itu.


Attar dan Aisyah hanya berusaha tertawa menanggapi gurauan yang keluar dari bibir Anna sejak ia datang bertamu, namun sikapnya semakin kurang ajar, dan membuatnya kesal sendiri menanggapinya.


"Daddy,"


"Kamu bahkan belum membicarakan maksud kedatangan mu kesini, alasan kamu pergi dan datang tiba-tiba seperti ini," ucapnya kemudian, kali ini dengan nada semakin tidak bersahabat.


"Kalian, kemari dan duduklah, bukankah sebelumnya kalian juga makan bersama seperti ini," ucap Attar lagi pada ketiga orang yang masih tetap setia berdiri di tempatnya. Pasalnya ia tau jika mereka bertiga lah yang selama ini merawat dan menemani putranya.


Anna mematung tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Attar kepada nya, dan yang lebih kesalnya lagi adalah ketika Ibra tidak membantunya sama sekali. Hingga akhirnya wanita itu lebih memilih diam.


Rafael dan Sakti sudah duduk di kursi yang masih kosong di sana, dan Nadia berdiri di samping Ibra untuk mengambilkan makanan yang di inginkan suaminya, karena yah ini adalah apa yang dia lakukan setiap hari.


"Baik suamiku atau putraku, keduanya tidak pernah ingin di sentuh oleh orang lain selain orang yang benar-benar ia percaya, terlebih jika itu tentang makanan dan pakaian," jelas Aisyah memecah keheningan.


Gerakan Nadia berhenti, mencerna apa yang di ucapkan oleh ibu mertuanya itu. Sudut bibir gadis itu terangkat kemudian.


"Om ingin yang mana lagi?" tanya Nadia kemudian, setelah memenuhi piring dengan nasi dan lauk secukupnya.


"Sudah cukup, kau makanlah," ucapnya kemudian.


"Mommy yang masak ?" tanya Ibra kemudian.


"No, mommy hanya request, kamu suka? dia chef hotel bintang lima yang di rekrut oleh daddy," ucapnya bangga.


"Pecat saja, ini jauh dari yang di masak Nadia setiap hari," ucapnya kemudian menjauhkan piring dari hadapannya dan hendak meraih salad.


"Aku yang akan mengambilkan," ucap Anna.


"Aku ingin salad itu,"


"Aku bahkan membuat salad, namun tak di sentuh nya sama sekali, hmmm" batin Nadia.


"Jadi bagaimana komputer om El, kesampaian juga ya kamu setelah sekian purnama punya cita-cita bajak komputer om," tanya Attar sedikit kesal.


"Mana ada El om, tuh mantu om yang bikin komputer om kayak gitu," belanya pada diri sendiri.


"Nadia.....?" tanya Aisyah dan Attar tak percaya.

__ADS_1


"Hehe, maaf daddy," ucapnya dengan sebuah senyum tanpa dosa.


"Heh Ibra, sejak kapan kamu bikin istrimu sendiri bekerja," tanya Attar dengan mendorong kaki Ibra keras.


Jedakkk


"Astaga dad, sakit, aku tidak membuatnya bekerja, sebaiknya daddy tanya sama wanita tua itu apa yang dia lakukan selama ini," ucapnya kesal kemudian.


"Kau menutup semua akses tentang mu, bagaimana dia bisa mencari tau, dasar anak nakal, kau bahkan menyuruh El dan Nadia memblokir komputer daddy,"


"Lah, itu bukan El om, udah di bilang bukan El juga," sanggahnya tidak terima di salahkan.


"Yang pasti salah satu dari kalian, dan kamu pasti yang mengajari menantuku, jadi ini semua tetap kamu yang salah,"


"Astaga om, salah terus gua," ucapnya kemudian.


"Benar-benar membuat daddy iri saja, bagaimana bisa kamu selalu menemukan orang-orang yang berbakat," gerutunya.


"Karena dia putraku, aku selalu mendoakannya,"


"Mommy," panggil Ibra kemudian mengacungkan jempolnya ke udara.


"Sejak mereka semua datang, bahkan tidak ada satupun yang menganggap aku," kesal Anna.


"Kau sudah memperbaikinya?" tanya Attar lagi.


"Daddy stop,"


"Aku merasa sangat kesal mom," ucapnya.


"Diamlah," ketus Aisyah dengan tatapan tajam pada suaminya.


Makan malam itu berakhir dengan perdebatan panjang Attar, entah kenapa hari ini rasa kesalnya bertambah seratus dua puluh derajat, terutama ketika mendengar ucapan menohok yang beberapa kali keluar dari mulut Anna, gadis yang selama ini di cari dan sangat di cintai putra satu-satunya.


"Bagaimana?" tanya Aisyah pada Attar ketika semua orang sudah meninggalkan dapur.


"Aku tetap pada pilihanku, Nadia," jawabnya.


"Anna terlalu kaku, apa jadinya putraku jika bersanding dengan orang sepertinya, bisa-bisa rumah mereka akan sedingin kutub utara dad,"


"Pikirkan sebuah cara,"

__ADS_1


"Untuk apa ?"


"Tentu saja memisahkan mereka mom, aku tidak ingin memiliki menantu sepertinya, buat Nadia segera hamil, beri saja Ibra obat atau apa saja, toh mereka sudah tidur satu kamar, bagaimana?" usul Attar.


__ADS_2