Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Dukun


__ADS_3

Ibra dan Nadia keluar dari lift terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh Sakti dan Rafael seperti biasa.


"Ibra, Honey... " ucap salah seorang perempuan yang tiba-tiba datang entah dari mana dan sudah menyeruduk tubuh Ibra hingga membuat tautan tangan Ibra dan Nadia terlepas.


"Ada lagi satu ulat bulu," gumam Rafael yang masih terlihat jelas.


"Wah Rafael si pacar semua wanita di bumi ini ternyata ada di sini juga," sapa perempuan itu dengan ucapan hiperbola. Pasalnya memang benar jika kebanyakan wanita yang terjun di dunia entertainment pasti memiliki hubungan dengan Rafael.


Ibra masih mengangkat kedua tangannya ke udara, tidak ingin bersentuhan dengan tubuh wanita yang kini menempel di tubuhnya, kedua matanya memberi kode kepada Sakti dan Rafael seolah bertanya, "Siapa dia ? aku tidak mengingatnya," pada mereka berdua.


Begitulah Ibra, untuk bisnis dia bisa keluar dengan dua belas sampai lima belas orang setiap harinya, entah itu laki-laki maupun perempuan, saking banyaknya ia bahkan tidak hafal satu persatu orang terutama wanita yang harus ia ajak makan untuk membicarakan bisnis.


"Putri duta besar Inggris, anda bisa melepas pelukan anda terlebih dahulu dengan tuan muda kami," ucap Sakti sopan.


"Ah duta besar inggris, dulu ayahnya selalu mencoba mendekatkan wanita gatal ini denganku di setiap pertemuan,"


"Selera wanita om Ibra selalu kurang bahan," batin Nadia.


"Ehem," Nadia bergerak maju memisahkan tubuh wanita yang masih menempel di tubuh suaminya itu, dengan yakin Nadia meraih tangan Ibra dan merangkulnya. Tentu saja hal ini membuat wanita itu menatap tidak suka.


"Siapa kamu ? tidak semua orang bisa menyentuhnya !" hardik nya di depan semua orang.


"Hoho, jika aku tidak punya hak, lalu hak tante apa untuk menyentuhnya," ejek Nadia lagi, dia sudah berani mengeluarkan taringnya karena saat ini dunia tau dirinya sebagai istri Ibra, dan akan membuat Ibra sangat malu jika dunia tau ia memiliki istri yang cengeng dan mudah di tindas.


"Aku akan menjadi miliknya,"


"Dia sudah menikah,"


"Itu hanya perjodohan, nggak akan bertahan lama, aku yang akan menjadi nyonya Ibra selanjutnya,"


"A.... " belum sempat Nadia menyelesaikan ucapannya, Ibra sudah memotongnya terlebih dahulu.


"Kalau istriku tidak bisa menyentuhku, lalu siapa yang bisa? kamu? jangan bermimpi, tubuhku tidak semurah itu," ucap Ibra tak kalah sinis kemudian menggenggam erat jari jemari Nadia.


"Istri ?" ucap perempuan itu melihat tangan Nadia dan Ibra yang sudah menyatu.


"Makanya tante, besok-besok liat TV, baca berita, biar nggak di kira perebut suami orang, mending mbak berurusan sama pacar semua wanita di bumi ini deh, Nadia sama suami Nadia yang tampan ini mau masuk ke ruangan dulu," senyum Nadia dengan bangga.

__ADS_1


"Udah masuk dulu sana, jangan lupa bikin pesenan gua ya, tiga ponakan laki-laki yang lucu-lucu, masalah ini biar abang yang beresin," ucap Rafael sengaja ingin membuat panas hati wanita di depannya saat ini.


"Siap bang," tambah Nadia dengan mengedipkan sebelah matanya kemudian melangkah bersama Ibra memasuki ruangan.


"Eh tunggu-tunggu Ibra," teriak perempuan itu hendak mengejar Ibra dan Nadia yang sudah hilang di balik pintu.


Cetik


"Vanessa," ucap Rafael dengan nada suara yang sudah tidak ramah, dan tanpa basa basi dia memegang sebuah pistol dengan ujung yang benar-benar menempel di kepala wanita itu.


"Ra.. Rafael... " ucap wanita itu terbata-bata.


"Semua wanita yang ada di hidup gua bahkan gak bisa di hitung dengan jari, tapi nggak pernah ada yang modelan kayak lu, mereka semua tau etika," ucapnya kemudian masih dengan senyum menghiasi bibirnya seolah ini adalah sebuah permainan yang menyenangkan.


Berbeda dengan Rafael, wanita bernama Vanessa itu sudah sangat pucat karena takut, ia tau tidak akan mudah jika harus berurusan dengan mereka secara langsung.


"Aku minta maaf, aku tidak akan mendekati Ibra lagi,"


"Kami bahkan bisa membuat ayah anda kembali ke Inggris dan menjadi pengemis di sana," tegas Sakti.


***


"Huft om," Nadia menghela nafas lega kemudian melepas kaitan tangannya dengan tangan Ibra dan terduduk di dekat pintu.


Ibra memperhatikan gadis kecil itu dengan seksama, muncul sebuah senyum kecil di sudut bibirnya, hanya kecil dan tidak begitu kentara.


"Dia sangat lucu, pemberani, dan menggemaskan, bagaimana bisa bertingkah seperti tadi, benar-benar tidak kenal takut, aku sangat ingin menggodanya," batin Ibra.


"Kemari dan kunci pintunya," perintah Ibra yang saat ini sudah berada di kursi kebesarannya.


"Hah kenapa om ?"


"Kunci dan cepat kemari !!!!" ucap Ibra dengan nada keras, tidak seperti sebelumnya.


Karena mendengar Ibra berbicara dengan nada yang tidak bersahabat seperti itu akhirnya membuat Nadia melakukan apa yang diinginkan suaminya.


"Kenapa om?" tanya Nadia yang sudah berada di samping Ibra.

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan Nadia, Ibra menarik pergelangan tangan Nadia dan menariknya, membuat tubuh kecil itu jatuh di pangkuannya, "Ahh om," teriak Nadia terkejut.


Gadis itu masih berusaha berdiri dari pangkuan Ibra, namun tangan kelar laki-laki itu menahannya, "bukankah Rafael tadi memesan agar di buatkan tiga bayi laki-laki, kau sudah menyanggupinya, bagaimana mungkin aku melepaskan mu," ucap Ibra dengan seringai senyum menyeramkan.


"Ahh om bikin merinding," teriak Nadia meronta di dalam pangkuan Ibra.


"Om tikus..." teriak Nadia.


"Hey kau selalu berteriak, aku sudah bilang berkali-kali, ini bukan hutan!!" bentuknya kemudian.


"Itu ada tikus om,"


"Nggak akan ada tikus di ruangan yang memakai AC, Sakti yang akan membereskannya jika memang ada, kau hanya perlu duduk disini menemaniku bekerja, diam dan jangan bergerak, atau aku akan memakan mu,"


"Aku harus belajar,"


"Diam lah,"


Nadia menggaruk kepalanya yang tak gatal, "kenapa akhir-akhir ini om Ibra selalu seperti ini," pikir Nadia.


Ia ingat akhir-akhir ini ketika ia bangun tidur di pagi hari, lengan Ibra selalu mendarat cantik di perutnya, memang sejak kejadian tirai bergoyang dulu, ia selalu tidur di ranjang yang sama dengan Ibra, namun ada pembatas berupa dua guling di antara keduanya.


Anehnya, Ibra selalu melewati batas itu beberapa minggu terakhir ini, sebenarnya Nadia tidak masalah karena toh mereka sudah resmi menikah, namun memang ada yang ganjal menurut nya, entah apa dirinya sendiri juga tidak tau.


Ditengah lamunannya ia menatap Ibra yang tengah fokus melihat layar komputer di depannya, "Om Ibra selalu terlihat keren dilihat dari sudut manapun, gimana para cewek-cewek nggak kepincut liatnya, nasib punya suami gantengnya maksimal," batin Nadia dengan masih tetap menatap Ibra.


"Kau selalu menatapku setiap malam, masih belum puas juga," ucap Ibra membuyarkan lamunan Nadia.


"Hah, kok bisa om Ibra tau, Jangan-jangan ada CCTV di dalam kamar,"


"Jangan berfikir yang aneh-aneh, aku tidak segila itu," ucap Ibra kemudian menatap bola mata milik Nadia.


"Uhmm, bagaimana om tau ? aku bahkan tidak mengatakannya, om dukun ya?" tanyanya.


***


Terimakasih untuk dukungan dan support readers kapada author, sehat selalu dan tetap bahagia, doa author selalu untuk kalian semua para readers kesayangan.

__ADS_1


__ADS_2