
"Mencintai Nadia sangat mudah, gadis itu pintar, dia akan tau siapa lawan dan kawan dalam sekali lihat, ketelitiannya luar biasa dan tau bagaimana harus bersikap, hanya saja gadis itu masih tidak terlalu percaya diri ketika menjadi sorotan dan tampil di depan banyak orang," ucap Attar lagi dengan memegang dagunya.
"Tapi tuan," potong Lusy.
"Ada apa ?" keduanya menoleh melihat ke arah Lusy.
"Seperti ada yang salah dengan tuan muda tuan besar,"
Attar dan Aisyah mengernyitkan dahi, "ada apa dengan putraku ?" tanya Aisyah.
Lusu menelan lidahnya kasar, ada semburat kegelisahan di wajah yang biasa terlihat tenang itu, "seperti ada kekuatan besar yang mengintai tuan muda nyonya, saya masih belum bisa mendapatkan informasi apapun," jelas Lusy.
"Bagaimana dengan pelayan kita di sana, apa ada sesuatu yang aneh seperti dugaan Lusy ?" tanya Attar pada pak Mul.
"Tuan muda sangat jarang pulang ke rumah itu tuan, jadi para pelayan tidak mengetahui apa pun yang dilakukan tuan muda ataupun yang terjadi pada beliau, tapi sakti..." ucapan pak Mul masih menggantung karena berfikir.
"Kenapa dengan Sakti ?" tanya Aisyah cepat.
"Sakti terlihat semakin memperketat penjagaannya terhadap tuan muda nyonya, bahkan mobil yang di pakai oleh tuan muda kemaren sudah di desain khusus anti peluru dan kedap suara," jelas pak Mul
"Tidak hanya itu tuan besar, saya yakin mobil itu adalah mobil sport keluaran terbaru dengan harga fantastis tapi kemaren hanya terlihat seperti mobil sport biasa yang terlihat tidak terlalu mencolok dan kaca mobil itu benar-benar tidak terlihat dari luar." tambah Lusy.
"Artinya mereka tau ada yang sedang mengintai dan menginginkan mereka." ucap Aisyah merespon ucapan Lusy dan pak Mul.
Attar terlihat sedang berfikir dan mencerna apa yang diucapkan oleh kedua orang setianya itu, "siapa kira-kira yang ingin bermain-main dengan putraku." gumam Attar yang masih terdengar jelas di telinga ketiga orang di sampingnya.
"Segera cari tau siapa saja yang mungkin bisa menjadi pelakunya," tegas Attar.
"Baik tuan besar," ucap keduanya bersamaan.
"Pergilah," tambah Aisyah karena tau saat ini mood suaminya sedang tidak baik setelah mendengar laporan Lusy pagi ini.
"Tenanglah dad, Ibra itu putra kita, dia bukan orang yang bisa di kalahkan dengan mudah," ucap Aisyah menenangkan suaminya.
***
Nadia masih mengikuti langkah kaki Ibra yang berjalan semakin cepat, "makanya punya badan tinggian dikit jangan cebol gitu jadi nggak bisa lari kan," ucap Ibra.
"Ya kan dulu Nadia tidur om waktu pembagian tinggi, jadi Nadia nggak dapet," jawab Nadia.
"Pinter banget ngejawab ya sekarang," ketus Ibra yang sudah mendudukkan dirinya disebuah kursi taman dengan meja di depannya.
__ADS_1
“Om aja tuh yang suka banget kesel sama Nadia,” jawab Nadia lagi.
“Lah kan, jawab aja terus,," ucap Ibra lagi.
Sakti tersenyum sendiri melihat Ibra dan Nadia yang berdebat sedari tadi, tuan dan nona muda sangat manis mereka terlihat sangat cocok, gumam Sakti dalam hati kemudian berjalan mendekat ke arah Ibra dan Nadia.
"Selamat pagi tuan dan nona muda," ucap Sakti menyapa mereka.
"Silahkan duduk Pak Sakti," balas Nadia ramah.
"Heyy gadis kecil, kenapa kau jadi seperti yang punya rumah," ucap Ibra ketus.
"Hehe maaf om, pak Sakti gak usah duduk deh berdiri aja ya," ucapnya sambil tersenyum tanpa dosa.
*Ya Ampun, nona muda benar-benar sangat lucu, sepertinya aku sudah tidak perlu mengkhawatirkan tuan muda kedepannya, yess bisa kencann akhirnya, *batin Sakti yang tanpa sadar muncul senyum di bibirnya..
"Kenapa kau tersenyum seperti itu ? apa yang lucu ?" tanya Ibra dengan ketus.
Sakti menjadi salah tingkah dengan pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan Ibra padanya, "Maaf tuan muda, saya hanya memikirkan seseorang itu saja," jawabnya dengan datar.
"Sudahlah om, jangan suka marah-marah, pak Sakti hanya tersenyum apa salahnya, senyum kan sedekah hehe," tambah Nadia yang kemudian mendapat lirikan tajam dari Ibra tanda untuk menutup mulutnya, namun Nadia tetap saja tersenyum.
"Duduklah, apa yang ingin kau laporkan sepagi ini sampai mengganggu waktu istirahatku." tanya Ibra.
"Nadia pergi aja deh om, gak ganggu kerjaan om,"
"Ini menyangkut anda nona muda," ucap Sakti.
"Tentangku ?" tanya Nadia heran.
"Katakan," Tegas Ibra.
"Untuk sementara mohon untuk tidak memberitahukan informasi kepada siapapun tentang pernikahan nona dengan tuan muda," ucap Sakti versi serius.
"Santai aja pak, tanpa dimintapun Nadia pasti bakal jaga rahasia kok, janji," ucap Nadia dengan tangan membentuk huruf V.
"Baiklah nona, tolong bantu tuan muda kedepannya, anda sudah bisa berkeliling melihat-lihat isi rumah ini," ucap Sakti mengusir Nadia dengan nada halus.
Nadia yang memang sangat peka itu tentu saja memberi waktu untuk mereka berdua bicara, Sakti menarik kursi yang ditempati Nadia agar nonanya itu bisa keluar dengan mudah.
"Terimakasih pak Sakti," ucap Nadia dengan senyum tak lepas dari bibirnya.
__ADS_1
"Sudah tugas saya nona," jawab Sakti yang masih tetap melihat ke arah Nadia yang sudah berjalan menjauh dengan kaki sedikit pincangnya itu.
"Kenapa kau melihat Nadia sampai seperti itu ? Kau menyukainya ?" tanya Ibra sambil memicingkan matanya.
"Tidak tuan muda," jawab Sakti singkat.
"Jangan pernah bermimpi untuk memiliki apa yang yang sudah menjadi milikku, kau tidak akan pernah mendapatkannya," jawab Ibra ketus.
"Nona muda terlihat istimewa kan tuan," ucap Sakti lagi dengan sengaja.
"Sudahlah aku sedang tidak ingin membahas gadis kecil itu, katakan untuk apa kau membangunkan aku sepagi ini," tanya Ibra dengan nada sedikit kesal.
"Orang yang berusaha mengintai kita sudah sampai rumah ini tuan," jelas Sakti.
"Solusi apa yang kau punya ?" tanya Ibra.
Seperti biasa Ibra selalu bertanya pendapat Sakti tentang segala hal, hal itu untuk menghargai dan menampung pendapat asistennya itu, meskipun biasanya Ibra sudah memiliki solusi sendiri yang otomatis muncul di kepalanya.
"Kita pindah di hotel seperti biasanya tuan," ucap Sakti
Kali ini solusi yang dipikirkan Sakti sama dengan apa yang Ibra pikirkan, "Oke kita pergi hari ini," ucap Ibra.
"Jangan pakai satupun pelayan atau pengawal mereka mudah untuk di susupi," ucap Ibra lagi.
"Kita akan berpindah setiap beberapa hari sekali tuan muda," ucap Sakti lagi.
"Tanyakan pada Nadia tentang itu," ucap Ibra yang dengan cool nya melenggang pergi meninggalkan Sakti.
"Nona terlihat sangat pintar, apa yang harus aku katakan,," gusar Sakti meremas rambutnya.
.
.
.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.
__ADS_1