Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Seperti yang kau inginkan


__ADS_3

"Aishh shit," umpat Rafael kemudian.


Rafael menekan tombol hitam yang berarti tanda darurat di seluruh perusahaan, "cari tuan dan nona muda di seluruh airport, angkutan umum, stasiun atau di tempat-tempat umum lain yang memungkinkan tuan muda ada di sana, cari di mana pun juga, jangan sampai media tau tentang semua ini atau kalian akan saya pecat."


"Berapa uang yang di tarik Ibra?" tanya Rafael pada Sakti yang sedang menatap layar dengan serius.


"Tidak banyak, hanya lima puluh juta, tapi kau tau sendiri tuan muda bukan orang yang rewel dalam meminta sesuatu, untuk orang seperti tuan dan nona muda, uang itu akan cukup untuk biaya hidup mereka berdua satu sampai dua bulan ke depan," jelas Sakti berdasarkan fakta yang ia amati selama kehidupannya bertahun-tahun dengan Ibra.


"Aku akan segera keluar menyisir lapangan," tambah Rafael.


"Tidak, kalian berdua tidak boleh dilihat publik, aku yang akan menyisir lapangan, pantau semua pergerakan dari sini, aku tidak ingin mengacaukan rencana yang sudah kita persiapan sebelumnya dengan terlihatnya kalian ke publik, yang mereka tau sekarang kalian sedang tidak sadarkan diri, jangan membuat opini yang akan membuat kita dalam masalah nanti," tambah Louis menepuk bahu Rafael.


"Aku tidak puas jika tidak mencari mereka sendiri, aishh Ibra emang benar-benar onta, kenapa pake kabur sih," kesal Rafael tidak bisa berhenti memukul dinding sedari tadi.


"El cukup, paman tolong pergi cari mereka terlebih dahulu," ucapnya pada Louis kemudian menghentikan gerakan tangan Rafael yang sudah terluka beberapa.


"Baik paman akan pergi, kalian berdua pantau dari sini, jangan membuat gerakan yang akan merugikan kita nanti oke," ucap Louis sebelum melangkah pergi.


"Tenanglah, tuan muda pasti memiliki alasan El, kau jangan terlalu panik, beliau terlihat gegabah tapi tuan muda tidak sebodoh dan seceroboh itu," ucap Sakti berusaha menenangkan.


"Kau pecat saja mereka yang tadi mengantar Ibra dan Nadia, mereka sudah lalai dalam menjalankan tugas," tegas Rafael.


"Mereka orang-orang mu, aku tidak punya hak menghukum mereka," jelas Sakti tau diri.


"Tidak ada milikku milikmu, itu milik kita sekarang, selama Ibra tidak ada di tempat, aku dan kamu hanya akan membagi wilayah kekuasan sementara untuk mengisi kekosongan Ibra, semua sumber daya kau yang mengurus, aku akan menjaga sistem keamanan dan memantau secara langsung melalui sistem, lalu paman Louis yang akan bergerak di lapangan," jawab Rafael tegas, dia bahkan melupakan sikap tengil yang biasa ia tunjukkan.


Sakti mengamati mimik wajah Rafael yang terlihat serius, "tidak seperti biasa, dia sedang dalam mode serius, aku harus pergi darinya segera, kalo ngamuk bisa lebih ganas dari tuan muda nih," pikir Sakti.


"Oke, aku mengerti, aku akan pergi,"


Tetot tetot tetot tetot tetot


Sebuah lampu berwarna merah terlihat menyala di dalam ruangan itu dengan mengeluarkan suara nyaring, "Ada apa El?" ucap Sakti yang sebelumnya bersiap untuk pergi.


Sakti dan Rafael segera bergegas menuju layar besar yang menjadi center point ruangan itu, sebuah pesan asing berusaha menerobos masuk secara paksa sistem keamanan milik Rafael.


"Buka saja,"


"Bagaiman jika itu orang jahat yang berniat melacak sistem keamanan kita,"

__ADS_1


"Bagaimana jika tuan muda,"


"Aishh... " umpat Rafael meremas rambutnya bingung.


"Kau buka saja dulu El, kita masih memiliki sistem keamanan yang lain, mereka tidak akan mampu menerobos masuk dengan mudah hanya ketika satu pintu sudah terbuka,"


"Tenang lah, kenapa kau sekarang jadi suka marah-marah melebihi tuan muda," tambah Sakti.


"Baiklah baiklah gua buka," ucapnya kemudian menekan beberapa tombol layar yang ada di hadapannya.


Stop Rafael !!!!


Sebuah pesan tiba-tiba muncul di layar besar itu, beberapa saat setelah pesan itu terbaca, muncul kembali sebuah pesan dari sumber yang sama yang hanya berisi seperti sebuah tanda.


Kedua orang itu mengamati tanda itu dengan seksama, Rafael berhasil menyimpan pesan yang dikirim orang asing itu sebelum kemudian menghilang.


Sakti dengan cepat mencetak pesan tersebut kemudian membawanya untuk berdiskusi dengan Rafael.


Di sebuah sofa panjang Sakti memperlihatkan cetakan tersebut kepada Rafael, keduanya masih mengamati dengan seksama.


"Tuan muda...?"


***


Ibra dan Nadia baru saja mendarat di kota A dengan selamat, keduanya terlihat memakai kaca mata hitam sedang berjalan keluar dari bandara.


Ibrahim hanya memakai kaos hitam dengan celana pendek berwarna cream, sedangkan Nadia memakai hem dan celana panjang dengan warna sama seperti yang di pakai oleh Ibra, di tambah dengan pasmina berwarna cream membalut kepalanya.


"Kita akan kemana om ?" tanya Nadia singkat.


Seperti biasa, tanpa menjawab pertanyaan Nadia, Ibra terus berjalan menuju parkiran, sebuah mobil sudah terparkir di sana entah sejak kapan, yang pasti tidak ada seorang pun di sana seolah sudah lama di persiapkan oleh Ibra.


Nadia mengikuti Ibra masuk ke dalam mobil tanpa di perintah, keduanya kini sudah duduk di dalam mobil dengan Ibra yang mengendarainya.


"Bagaimana kode yang tadi ku kirimkan? mereka sudah membukanya?"


"Udah om,"


"Kau yakin tidak akan meninggalkan jejak?"

__ADS_1


"Pesan itu akan terhapus sepuluh detik setelah di buka om, jadi om jangan khawatir,"


"Baiklah, pastikan tidak ada seorang pun yang tau keberadaan kita selama kita disini,"


Nadia menatap Ibra yang sedari tadi bersikap serius, gadis itu tersenyum kemudian mengulurkan tangannya menyentuh lengan Ibra, yang mana sudah pasti membuat Ibra menoleh ke arahnya.


"Ada apa ?"


"Jangan terlalu serius om, kita di sini untuk jalan-jalan dan bersenang-senang, Nadia yakin semua akan baik-baik aja, om kan punya tim yang hebat," senyumnya.


"Berati bukan aku yang hebat?" tanya Ibra memutar pertanyaan.


"Mereka hebat karena punya pemimpin yang hebat juga," jelasnya dengan senyum.


"Dasar bocah, bisa aja kelakuan nya," batin Ibra tersenyum.


Deru ombak air laut sudah terdengar di telinga keduanya, "wah om denger nggak? suaranya? yes yes asik i am coming pantai," ucap Nadia antusias.


"Kita langsung ke penginapan," sanggah Ibra mematahkan harapan Nadia dengan sengaja.


"No, pantai dulu oke,"


"Penginapan Nadia,"


"Pantai om.... "


"Penginapan,"


"Ish nggak asik, mending tadi ikut sama bang El aja, om nggak seru," kesal Nadia.


"Kau selalu memunggungi ku sejak tadi, nggak sopan,"


"Biarin, om juga nggak sopan,"


"Wah udah berani bantah ya sekarang, Hati-hati dosa loh, kualat nanti kamu,"


Nadia semakin memajukan bibirnya setelah mendengar ucapan Ibra, namun tetap tidak memberikan respon apapun pada Ibra, ia hanya memandang lautan yang sudah terpampang jelas di depan matanya.


"Kok berhenti om?" tanya Nadia pada Ibra ketika mobil yang ia kendarai menepi.

__ADS_1


"Seperti yang kau inginkan,"


__ADS_2