
"Paman, anda ?" Ibra menggerakkan tubuhnya untuk mendekati Louis.
"Bagaimana kabarmu ?, kamu menjadi semakin tampan sekarang," puji nya tulus.
"Cyber ?" tanya Ibra yang semakin mengerutkan keningnya.
"Orang di balik layar Cyber yang selama ini di cari semua orang itu paman ?" tanya Ibra lagi.
Laki-laki itu hanya tersenyum, "Aku tidak sehebat itu nak," tambahnya.
"Silahkan duduk tuan," ucap Sakti yang sudah membersihkan meja dari bekal makanan yang di bawakan oleh Nadia.
"Ah iya paman aku sampai kaget hingga membuat paman berdiri, kemari lah silahkan duduk paman," ucap Ibra.
Namun arah pandang mata Louis kini menatap pada sesuatu yang di pegang oleh Sakti. Ya, tas makan yang Sakti bawa sama dengan yang tadi di bawa oleh anak buahnya.
"Kamu juga mendapat bekal dari istrimu, dia sangat pintar memasak untuk anak seusianya," ucapnya tulus pada Ibra kemudian menepuk punggungnya.
"Bagaimana paman tau itu bekal yang di bawakan istriku ?"
"Karena orang-orang yang ku kirim ke rumahmu tadi pagi juga mendapatkannya," ucap Louis.
"Dia bahkan memberi mereka semua makan, apa dia memasak semua bahan makanan yang dikirimkan bibi Audrey semalam ?, kenapa dia memasak banyak sekali ? bahkan orang yang baru saja datang ia beri makanan," tanyanya dalam hati.
"Sangat enak bukan ?"
"Hah apa paman ?" tanya Ibra yang masih larut dalam lamunannya.
"Masakan istrimu," ucapnya sambil tersenyum.
"Jelas. dia sangat pintar memasak, bagaimana dia akan menyenangkanku jika memasak saja tidak bisa," ucap Ibra sedikit besar kepala.
"Haha kau sudah besar rupanya, bagaimana kau bisa mendapatkan seorang istri sepertinya, kau membuat paman cemburu," goda Louis.
"Haha, itu karena mommy dan daddy, paman seperti tidak tau mereka saja," ucapnya.
"Kau bahkan benar-benar berbeda dari rumor yang kudengar nak," ucap Louis lagi.
__ADS_1
"Apa yang paman dengar ?" tanyanya.
"Uhmm, Ibrahim Muhammad Attar, siapa yang tidak mengenal namamu saat ini," pujinya tulus.
"Paman terlalu melebih-lebihkan,"
"Bagaimana kau bisa merajai bisnis ini hanya dalam waktu tiga tahun ?" tanya Louis, pembicaraan mereka kini terdengar mulai serius.
Sakti yang selalu berdiri di belakang Ibra tetap memperhatikan gerak gerik Louis dengan siaga. *"JIka tuan muda mengenalnya semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi," *
"Aku hanya memulainya, tidak ada yang istimewa," ucapnya singkat.
"Apa kau membunuh orang lain untuk mencapai posisimu saat ini ?"
"Aku bukan orang baik, tapi aku bukan pembunuh, dia yang selalu membunuh mereka yang menggangguku, aku tidak pernah memintanya," ucap Ibra santai kemudian menunjuk pada Sakti. Sakti yang ditunjuk hanya diam saja.
*"Benar juga. **Tuan hanya memintaku membereskannya, bukan membunuhnya. Tuan benar-benar cerdas dalam hal ini, tuan top markotop" *batin Sakti.
"Kau mengambil hak orang lain kemudian menjadikannya milikmu ?"
"Aku mudah marah, itu bukan sesuatu yang bisa aku kendalikan paman. Tapi selama dia tidak mengusik kehidupanku sepertinya aku juga tidak akan mengganggu mereka," ucapnya lagi.
"Selama tidak ada yang mengusik tuan muda, saya juga tidak akan mengusik mereka." jawab Sakti tegas.
"Jika Cyber menjadi milikmu apa yang akan kamu lakukan ?" tanya laki-laki itu laki.
"Come on paman, Cyber is already mine," ucapnya dengan seringai menyeramkan di sudut bibirnya.
Sudut kedua bibir Louis terangkat, "Aku masih heran nak, selain sistem keamanan Cyber adalah satu-satunya perusahaan terbaik yang menguasai sistem informasi dan komunikasi di Asia, tapi satu-satunya informasi yang tidak pernah kami dapatkan adalah informasi tentangmu dan perusahaan ini,"
"Tuan muda hanya seorang CEO perusahaan, perusahaan ini juga hanya bergerak di industri hiburan, sangat aneh jika tuan Louis sampai ingin mencari informasi tentang kami, " sela Sakti.
"Kalian benar-benar sangat rendah hati," ucap Louis penuh selidik.
Ibra tersenyum penuh arti dengan masih menatap Louis, "paman hanya menanyai sejak tadi, apa sebenarnya tujuan paman kesini ?" tanya Ibra yang sudah tidak ingin berbasa-basi.
"Menemuimu, kau menyuruhku kesini." balasnya dengan senyuman licik penuh kemenangan.
__ADS_1
"Aku tidak meminta paman datang untuk bertanya tentang ku,"
"Bagaimana tuanku bisa menjadi pemimpin Cyber ?" ucap Sakti yang sejak tadi sudah tidak sabar dengan sikap Louis yang bertele-tele.
"Dia terlalu terburu-buru Ibra, kau tidak pernah di susahkan dengan sikap terburu-burunya itu,"
Sreett
Darah segar mencuat keluar dari leher Louis, Keringat dingin berhamburan keluar dari dahi laki-laki paruh baya itu, "Jika aku bilang aku bukan pembunuh, bukan berarti aku tidak bisa membunuh," Ucap Ibra penuh penekanan di setiap perkataannya.
Dengan tangan masih memegan pisau di leher Louis, Ibra merubah posisinya menjadi memutar tepat di belakang laki-laki paruh baya itu. Louis menelan salivanya berkali-kali, dia selalu dihormati dan ditakuti oleh semua orang. dia hampir tidak pernah berada di posisi ini.
"Aku hanya sedikit memancingnya tapi responnya sudah menggila seperti ini, berita tentang tempramennya benar-benar tidak bisa di anggap angin lalu,"
"Le..pas..kan a..ku Ib..ra" ucapnya terbata-bata.
"Tuanku hanya menakuti anda dengan sebuah pisau, tapi anda sudah penuh keringat seperti itu. Bagaimana jika tuan muda benar-benar menguliti anda," ucap Sakti dengan wajah datar seperti tidak kaget dengan pemandangan di depan matanya itu.
"Kau kaget karena sudah biasa menguliti orang bukan ? bagaimana rasanya mendengar itu dari orang lain ?" ucap Ibra lagi semakin menekankan pisau di leher laki-laki itu dengan sorot mata yang semakin menggelap dan menakutkan
Namun tekanan pisau tiba-tiba melemah hingga sedetik kemudian Ibra melempar pisau itu ke sembarang arah dan membiarkan Louis terjatuh lemas ke lantai,
"Uhuukk, Uhukkk," darah segar semakin deras mengalir di leher Louis.
"Aishh, tanganku harus berlumur darah hanya untuk menyambutmu paman," ucapnya kemudian mengambil sapu tangan dari dalam sakunya dan mengelap pergelangan tangannya dengan sapu tangan itu.
"Pantas saja namamu berkali-kali muncul dalam sistem Cyber, Uhuk aku sudah merawatmu dari kecil tapi kau masih bisa melakukan ini kepada...ku," ucap Louis sembari memegang luka di lehernya.
"Panggil Luna," perintah Ibra.
Tidak ada jawaban dari Sakti, laki-laki itu kini tengah terdiam menatap layar handphonenya yang tengah menyala, "nona muda ?" lirihnya.
"Apa yang kau lakukan, cepat telfon luna !!" bentak Ibra.
"Saya sudah menyambungkan handphone anda dengan cctv di rumah nona muda tuan, kita harus melihat kondisi nona muda terlebih dahulu," ucap Sakti terburu-buru pada Ibra kemudian menerima panggilan telfon Nadia.
Melihat keseriusan Sakti, membuat Ibra benar-benar melihat cctv yang memang sengaja ia pasang di rumah Nadia, ada sedikit kerutan di dahinya ketika melihat dua mobil berada di halaman rumah itu.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaaaaa ?" terdengar teriakan dari dalam telfon itu sesaat setelah Sakti menerima panggilan Nadia.