Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Sebuah pesan


__ADS_3

Nadia duduk di atas meja kerja Ibra dengan beberapa buku yang ia baca, setelah kelelahan berlari mengejar Rafael ia segera kembali ke kamar karena khawatir Ibra mencarinya, namun ternyata Ibra masih berada di dalam kamar mandi.


"Mungkin mas Ibra merendem tubuhnya setelah di sentuh mbak yang tadi,'' pikir Nadia.


" Mas Ibra.... " teriak Nadia.


"Ha.... jangan teriak-teriak di dalam rumah," sahut Ibra dari dalam kamar mandi.


"Mas mandi yang bersih ya," ucapnya lagi sedikit berteriak.


"Kenapa ?"


"Nggak mau ada bekasnya, harus bersih pokoknya ya, berendam aja dulu yang lama mas, biar luntur," ucapnya dengan polos.


"Iya... " jawab Ibra begitu saja.


***


Di dalam kamar mandi


Ibra langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi begitu Sakti membawa wanita itu keluar dari kamar nya, ia merasa jijik pada dirinya sendiri karena sudah di sentuh oleh sembarang orang seperti itu.


"Sudah berapa laki-laki yang di sentuh wanita tadi, aish, aku harus periksa kulit agar tidak iritasi, tadi dia menyentuh wajahku, bagaimana jika muncul jerawat," ucapnya pada diri sendiri.


Cukup lama dirinya berendam di bak mandi, ia menggosok seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala, ia tidak ingin ada bagian yang terlewat sedikitpun dari jangkauan nya.


" Mas Ibra.... " teriak Nadia dari dalam kamar yang mengagetkan nya.


"Ha.... " sahut Ibra dari dalam kamar mandi.


"Mas mandi yang bersih ya," ucapnya lagi sedikit berteriak.


"Kenapa ?" tanya Ibra yang belum faham dengan maksud ucapan Nadia.


"Nggak mau ada bekasnya, harus bersih pokoknya ya, berendam aja dulu yang lama mas, biar luntur," ucapnya dengan polos.


"Iya... " jawab Ibra begitu saja.


Laki-laki itu kini sedang tersenyum, "dia cemburu, dia pasti sedang cemburu," gumamnya dengan senyum mengembang di sudut bibirnya.


***

__ADS_1


Ibra keluar dari dalam kamar mandi masih dengan menggunakan handuk, ia keluar dengan suasana kamar yang berbeda dari sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi, harum wangi parfum Nadia yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya memenuhi rongga hidung dan indra penciuamannya.


Seprai yang baru saja di ganti dengan motif bunga dengan kombinasi warna biru dan abu-abu pilihan Nadia menjadi pusat pandangannya saat ini.


Mood yang sebelumnya berantakan karena kedatangan wanita tadi tiba-tiba menjadi berubah seratus persen tanpa ia duga.


"Ehem..., ada yang lagi bahagia nih kayaknya, senyum-senyum mulu dari tadi mas, jatuh cinta ya...? " ucap Nadia yang sejak tadi mengamati Ibra dengan bersembunyi di sebelah lemari.


"Mana ada, jatuh cinta sama siapa coba hari gini," ucap Ibra memberi alasan.


"Mungkin sama istrinya mas, tapi malu kan kalo ngaku," ucapnya kemudian.


"Mana bajuku? kau belum menyiapkannya?"


"Itu... dari tadi liatin ranjang, tapi nggak tau ada baju di atasnya, orang jatuh cinta emang aneh ya," ucap Nadia menyindir Ibra yangg masih tidak mau mengakui perasaanya sendiri.


"Pakein... "ucap Ibra yang sudah menyodorkan bajunya kepada Nadia.


"Astaghfirullah bayi gedenya aku, untung suami," ucap Nadia geleng-geleng kepala, namun tetap melangkah mengambil baju yang di sodorkan Ibra kepadanya.


"Sini... duduk sini... " ucap Nadia sembari menepuk-nepuk ranjang di sampingnya agar Ibra duduk di sana.


"Kamu belum pernah datang bulan sejak kita melakukannya di malam itu kan?" tanya Ibra penasaran kepada Nadia yang sedang memakaikannya baju.


"Hmmm.... " Nadia berfikir, ia memang belum datang bulan sejak kejadian obat malam itu, namun memang ini bukan jadwalnya, jadi dia tidak merasa terjadi apa-apa.


"Ini memang bukan jadwal haid aku mas, waktu kejadian obat yang dulu itu Nadia baru aja selesai haid, jadi memang belum waktunya," jelas Nadia yang mana membuat wajah Ibra terlihat murung seketika.


"Ternyata memang bukan jadwalnya to, lo suaminya kok lo nggak tau sih dodol," ucap Ibra pada diri sendiri.


"Mas pengen punya anak?" tanya Nadia spontan.


"Cuma nanya, kita kan.. uhm udah deh aku mau siap-siap buat nanti malam," ucap Ibra sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepala yang tidak gatal.


"Emang mas mau bawa apa aja? biar Nadia siapin," tanya Nadia.


"Iya, bawa apa ya?" pikir Ibra.


"Tumben mas Ibra nggak fokus gini,"


"Nggak usah deh, cukup bawa badan aja kayaknya, sekarang coba lihat wajahku, apa ada jerawat atau beruntusan di sana,"

__ADS_1


"Nggak ada mas, masih tampan seperti biasanya," jawabnya dengan masih meneliti wajah Ibra.


"Yakin nggak ada ? tadi di sentuh sembarangan sama ... "


Sebelum menyelesaikan ucapnya, Nadia mengelus lembut pipi Ibra, "aku sudah menyentuhnya, aku sudah menghilangkan jejak perempuan itu di wajah mas Ibra, InsyaAllah nggak akan bisa iritasi oke," ucapnya kemudian.


Ibra tersenyum senang mendapat perlakuan seperti itu dari Nadia, "benarkah? aku takut akan muncul jerawat dan kau jadi tidak menyukaiku lagi," ucap Ibra yang membuat kedua bola mata Nadia nyaris keluar.


"Wah wah mas Ibra, kayaknya ada yang perlu di luruskan di sini.... aku tidak pernah menyukai wajah itu,"


"Nggak mungkin, semua wanita pasti menginginkan wajah, kecerdasan dan kekayaan yang aku miliki,"


"Aku hanya mencintai ini," ucap Nadia dengan tangan yang ia letakkan di dada Ibra sebelah kiri.


Ibra mengerutkan kening tanda tidak mengerti.


"Hatimu... "


"Seperti mas pernah mencintai tante Anna, aku juga ingin di cintai oleh hati ini, hati yang tidak pernah berpaling, hati yang berjuang dengan sekuat-kuatnya cinta, dan hati yang menjaga tanpa kata. Jika hanya wajah, kecerdasan dan kekayaan yang mas sebutkan tadi, aku yakin selalu ada yang lebih baik dan lebih hebat dari kamu," jelasnya.


Ibra tersenyum, "Nadia, dengarkan aku, nanti jangan pernah menangisi apapun, jika harus melukai seseorang, lakukan saja asal kau tidak terluka, aku akan membereskan semua masalah yang kau buat, asal jangan terluka," ucapnya pada Nadia dengan jemari mengelus lembut rambut panjang itu.


"Siap pak bos," ucapnya dengan tangan ke atas seperti hormat pada komandan.


"Bahkan Rafael, jika dia berani membuatku menangis, aku pasti akan menggiling tubuhnya," guraunya.


"Aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya, kali ini aku tidak bisa di kalahkan oleh siapapun, bahkan jika nyawaku taruhannya, dia harus tetap hidup bahagia."


Krucuk krucuk, suara perut Nadia terdengar di antara keduanya.


"Laper....?"


"Hehe.... ketauan deh, kita kan nggak makan dari pagi mas," ucapnya yang langsung berhambur ke pelukan Ibra karena malu.


"Ada satu buku yang cocok untuk mu Nadia,"


"Apa?"


"1001 cara merusak suasana romantis, kau cocok jika membuatnya, ha ha ha ha ha,"


"Mas..... "

__ADS_1


__ADS_2