Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Saat Singa Ngamuk


__ADS_3

Hari itu benar-benar menjadi hari yang memberatkan hati Nadia, Bagaimana tidak, setelah berita tentang kedekatannya dengan Rafael menyebar, semua orang seakan memandang sinis kepadanya, tidak hanya para wanita, beberapa pria juga memandang Nadia dengan tatapan aneh dan mengesalkan menurutnya.


Rafael memang dikenal dengan image sering bergonta-ganti wanita, kebanyakan dari kalangan artis dan public figur yang belum naik daun, semua wanita yang dekat dengannya sudah pasti punya kepentingan untuk memanjat status sosial di dunia hiburan dan berakhir di ranjang. Berbeda dengan Ibra dan Sakti yang sejak awal tidak pernah tergoda dengan hal-hal seperti itu.


"Hanya cleaning servis saja belagu, pakai acara minta di antar sama pak Rafael,"


"Pakai panggil abang abang, ternyata cuma cleaning servis,"


"Jadi cleaning servis sampai harus naik ke ranjang pak Rafael, mending jadi simpanan kita-kita aja kan, hahaha," tawa beberapa orang yang terlihat tidak berdosa sama sekali.


Nadia berusaha tidak mendengarkan suara orang-orang yang terus saja bicara ketika ia berjalan melewati mereka, ia hanya melangkah mengikuti seorang wanita yang diminta menunjukkan tempat bekerjanya mulai hari ini.


"Itu tidak benar Nadia, kamu nggak harus mendengarkan mereka, yang penting kamu nggak pernah melakukan seperti apa yang mereka bicarakan, ayo semangat semangat," batinnya.


Kini wanita yang ada di depannya berhenti di depan pintu sebuah ruangan, beberapa orang masih setia menunggunya, entah berniat ingin tetap menghina dan mengata-ngatainya atau apa Nadia juga tidak tau, "di dalam sini ada alat-alat yang bisa kamu pakai, tugasmu mengerjakan seluruh lantai ini dengan waktu kerja sepuluh jam, dimulai dari jam 07.00 pagi sebelum karyawan datang sampai jam 17.00 sore setelah semua karyawan pulang," ucapnya penuh penekanan dengan nada sama sekali tidak ramah.


"Saya boleh tau siapa saja yang bekerja dengan saya di lantai ini bu ?" tanyanya kepada wanita itu.


"Hanya kamu !" ucapnya kemudian mendapat gelak tawa dari beberapa orang yang berada di sana.


Nadia faham akhirnya, "mereka hanya mengerjai ku saja, rasanya salah aku bertanya kepada bang El tadi, ah aku seharusnya menurut dengan om Ibra saja dan belajar di rumah, Nadia bodoh Nadia bodoh kualat sama suami kan," kesal Nadia dalam hati.


"Masuk dan lihat apalagi yang kamu perlukan," perintahnya. Nadia hanya mengikuti perintah wanita itu dan membuka pintu ruangan yang di maksud.


Byurrr, Plakk.


"Auh..." rintih Nadia ketika sebuah ember mengenai kepalanya.

__ADS_1


"Mereka benar-benar menyiapkan rencana ini dengan matang, pantas saja mereka masih memperhatikan aku sejak tadi, ternyata untuk ini," Tubuh gadis itu sudah basah dengan air bekas mengepel lantai yang sudah mereka siapkan di atas pintu.


"Hahahaha"


"Sumpah konyol banget kan, gue yakin abis ini pak Rafael nggak akan ngelirik lu,"


"Masih bocah aja udah berani menggoda pak Rafael, itulah akibatnya hahaha,"


Suara tawa masih terdengar jelas di telinga Nadia, sungguh ia ingin membalik badan dan pergi dari sini, namun baju putih itu terlihat transparan karena terkena air, "apa yang harus aku lakukan sekarang," ucapnya menggigit bibirnya sendiri.


Suara kegaduhan itu benar-benar membuat semua orang mendekat ke arah di mana Nadia di permalukan, kerumunan orang itu semakin banyak karena ingin melihat apa yang terjadi di sana.


"Itu kan gadis yang tadi di meja resepsionis bersama pak Rafael,"


"Iya benar, kenapa dia jadi seperti itu ?"


"Ho ho," terdengar suara seorang pria yang sangat di kenal Nadia.


"Bang El," lirihnya namun masih tetap tidak berani membalik badannya.


"Aku sudah meminta kalian untuk menjaganya baik-baik, aku tidak akan ikut campur dan membantu kalian kali ini jika pemiliknya benar-benar marah, kalian benar-benar membuatku kesal dan marah hari ini, Reyyy......" geram Rafael setelah mengetahui apa yang terjadi dengan Nadia kali ini.


"Iya tuan ....." ucap laki-laki bernama Rey yang merupakan asisten pribadi Rafael.


Rafael mendekat ke arah Nadia dan melepaskan jas mahal miliknya untuk menutup tubuh istri tuannya itu, semua orang terlihat menunduk karena tidak mengira Rafael akan datang kembali menemui mereka, mereka sudah sering melakukan ini kepada setiap wanita yang dekat dengan Rafael, karena target kali ini hanyalah seorang cleaning servis mereka semakin membabi buta dalam membully Nadia.


"Tuan muda sudah sampai di mana ?" tanya Rafael pada Rey.

__ADS_1


"Kekacauan apa yang kalian lakukan hah ?" geram Ibra tak kalah kesalnya setelah mendapat berita dari mata-mata yang sebelumnya sudah di sebar di seluruh perusahaan.


Tangan laki-laki itu terkepal kuat menahan amarah, urat-urat di leher dan kepalanya terlihat sangat jelas pertanda marah yang sudah sampai di ubun-ubun, terlebih setelah melihat kondisi Nadia yang sudah tidak berbentuk itu, ini pertama kalinya dirinya turun langsung, pandangan matanya melihat satu persatu orang yang ada di depannya.


Sangat menakutkan, itu adalah kata yang cocok untuk mendeskripsikan Ibra saat ini, semua orang bahkan sudah gemetar ketakutan setelah mendengar suara Ibra yang sangat jarang sekali terdengar di telinga para karyawan.


"Om Ibra..." ucap Nadia, dengan menggunakan jas yang sudah dipasangkan Rafael di tubuhnya kemudian berbalik dan mencari sosok yang baru saja dia dengar suaranya, kaki gadis kecil itu secara langsung melangkah dengan sedikit berlari ke arah Ibra.


"Om.... Maaf, Nadia salah karena nggak nurut sama om dan pak Sakti," ucapnya yang kini sudah berada di depan Ibra dengan mata berkaca-kaca dan tangan memegang lengan kemeja Ibra seperti biasa.


Semua orang yang ada di sana benar-benar shock dengan apa yang mereka lihat kali ini, perasaan takut dan menyesal sungguh menyelimuti hati mereka saat ini, semuanya bahkan tidak ada yang berani mengangkat kepala.


"Aku sudah memperingatkan kalian sebelumnya, jika sudah seperti ini memecat kalian saja tidaklah cukup," ucap Rafael dengan serius kemudian pergi dari kerumunan itu diikuti oleh Rey.


"Mereka bahkan membuatmu hampir berdarah ?" tanya Ibra setelah melihat dahi Nadia yang memerah dan sedikit benjol karena ember yang terjatuh tadi.


"Aku hanya tidak hati-hati," ucapnya kemudian menunduk.


"Pecat mereka semua ! dan pastikan tidak ada perusahaan yang mau menerima mereka setelah ini," bentak Ibra pada Sakti kemudian menarik tangan Nadia pergi.


"Hah.." mereka semua melenguh tidak menyangka atas apa yang terjadi dengan mereka saat ini.


Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.


Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.


Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2