
"Uhm... mas Ibra... "
"Kau bangun... apa aku mengganggu mu?" tanya Ibra lembut.
Nadia menggeleng dan mengangkat kedua tangannya, "peluk... "
Ibrahim meninggalkan keranjang bayi dan berjalan mendekati Nadia, "kau ingin bermanja denganku?" tanyanya ketika Nadia sudah berada di pelukannya.
"Hu uhm... " ucap Nadia dengan suara khas bangun tidurnya, matanya bahkan masih mengerjap-ngerjap karena kantuk yang luar biasa.
"Mas Ibra sini... kemari...'' ucap Nadia menepuk-nepuk ranjang kosong di sebelahnya, memberikan kode agar Ibra juga naik bersama nya di atas ranjang.
" Apakah dia sudah tidak apa-apa?" tanya Ibrahim yang masih khawatir dengan kondisi istrinya.
"Tidak apa-apa, kemari naiklah," ucapnya lagi.
"Maaf aku tidak terlalu fokus denganmu, bahkan meninggalkan mu agak lama tadi," ucapnya yang kini sudah berbaring di atas ranjang dengan Nadia yang masih berada di pelukannya.
Nadia masih mencari posisi ternyaman di dada bidang suaminya, beberapa kali ia menggerakkan kepalanya di dada suaminya itu, yang mana membuat Ibra sedikit terusik.
"Nadia... jangan bergerak lagi, aku sangat sensitif jika kau bergerak-gerak di tubuhku," ucap Ibra yang sudah mengatur nafas agar dirinya lebih tenang.
"Hehe... " tawanya ringan tanpa dosa yang membuat Ibra semakin gemas dan meninggalkan kecupan di seluruh wajah istrinya.
"Tidur lah jika mengantuk... aku akan membangunkan mu ketika waktunya makan," ucap Ibra yang sudah menepuk lembut punggung Nadia.
Nadia memang mengantuk berat, ia tidak tau kenapa, sebelumnya tidak pernah Seperti ini, "jangan pergi mas," ucapnya saat itu yang semakin mengeratkan pelukannya pada Ibra.
"Aku bahkan tidak bisa bernafas ketika kau memelukku seperti ini, bagaimana aku bisa pergi, kenapa dia lucu sekali," batin Ibra yang juga mulai memejamkan matanya.
"Aku juga lelah," gumamnya pelan tidak ingin mengganggu Nadia.
***
Luna dan Rafael kali ini sudah berada di sebuah ruangan tepat di sebelah ruangan Nadia, dengan telaten Luna menjahit luka Rafael seorang diri, tanpa di bantu oleh seorang pun perawat.
Luna tidak banyak tanya dan hanya diam sejak tadi, "gua punya salah sama lu? kenapa lu diem aja dari tadi sih?" tanyanya pada Luna, "gua nggak tahan sama yang hening-hening," ucapnya lagi.
"Siapa yang melakukannya?" hanya itu kata yang keluar dari mulut Luna setelah Rafael bertanya padanya.
"Siapa pelakunya?" tanyanya lagi dengan serius.
Wajah Rafael berubah serius saat mimik wajah Luna juga tidak bisa di deskripsi kan, "kenapa lu marah?" tanya Rafael.
"Apa?" ucap Luna menaikkan kepalanya menatap sosok yang saat ini berada di posisi lebih tinggal darinya.
"Kenapa lu heboh?" tanya Rafael lagi.
__ADS_1
"Lu dipukuli dengan luka sayatan sebanyak ini, ini udah nggak normal El, lukanya hampir di seluruh tubuh," tambah Luna dengan nada suara sedikit keras.
"Lalu ? hatimu terluka? atau membuatmu sedih?" ucapnya menatap Luna dengan tatapan aneh, mata itu tidak seperti biasanya.
Luna yang mendengar itu masih tercengang di posisinya dan terdiam menatap Rafael yang kini juga tengah menatapnya.
"Apa perasaanmu sekarang? kau tidak mengerti perasaan yang membuatmu bersikap seperti ini?" tanya Rafael lagi dengan nada bicara sedikit formal dari biasanya.
"Uhm... " ucap Luna dengan bola mata yang sudah tidak terarah.
"Oke lupakan, lu nggak tau, lu nggak tau perasaan yang udah buat lu kayak gini, lu cuman bersuara, jadi... nggak usah bersikap seolah-olah peduli, hati gua juga harus di jaga," ucap Rafael lagi yang mana membuat Luna mematung di tempatnya.
"Selesaikan dan gua bisa istirahat, badan gua capek," ucapnya mengalihkan pembicaraan dengan Luna yang masih menatapnya tidak mengerti.
Rafael kini mulai bersandar pada dinding di belakang tubuhnya, "hah... sekalinya suka sama orang kenapa gini amat," ucap Rafael dengan memejamkan matanya
Hingga Tuk.
Sebuah nampan besi mendarat cantik di kepalanya, "Aw.... "
"Lu nyindir gua hah?"
"Kapan gua nyindir,"
"Udah cepet, keburu Nadia ngomel-ngomel lagi malah panjang urusannya, mana lakinya udah dateng,"
"Gua udah kecium sama bau tuh orang, dia pasti udah tidur di ranjang yang sama dengan Nadia sekarang," ucapnya.
"Kurang satu jahitan lagi, jadi jangan banyak bergerak,"
"Berapa jahitan semua?" tanyanya pada Luna.
"Tujuh puluh dua," jawab Luna singkat.
"What..." teriak Rafael tidak percaya.
"Aish.... " ucap Rafael frustasi sambil menggerakkan kedua kakinya di atas ranjang rumah sakit yang saat ini ia tempati sebagai pelampiasan kekesalannya.
"Takut nggak ada cewek yang mau sama lu dengan tubuh kayak gini?"
"Bukan takut dodol, lu nggak liat tubuh Sakti sama Ibra seseksi dan semulus itu, nggak mau kalah dong gua," ucapnya kesal.
"Astaga... kenapa ada orang bodoh kayak lu di dunia ini," ucap Luna gemas mengetuk kepala Rafael beberapa kali hingga keduanya saling bertatapan.
"Oy... ngapain oy... " ucap Sakti yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu dengan rencana mengganggu mereka berdua.
Keduanya menatap pintu dan bergerak salah tingkah, seperti pasangan muda yang baru saja kepergok oleh ayahnya.
__ADS_1
"Lu yang ngapain dodol, dasar orang-orang an sawah, ganggu gua aja," ucap Rafael yang melempar ponsel miliknya ke arah Sakti.
Namun sayangnya Sakti dengan kerennya malah menangkap ponsel itu dan menggerakkan di udara.
"Ada apa?"
"Are you okay? berapa banyak jahitan nya? nona sampai menangis mengadu kepada tuan muda perihal lukamu, kupikir kau akan mati, tapi luka itu tidak seberapa," ucapnya merendahkan.
"Astaga Sakti mulutmu," ucap Luna menggelengkan kepala.
"Aku menunggu di depan ruangan tuan muda, ada beberapa hal yang harus di bicarakan," ucapnya.
"Kenapa lu nggak ngomong di sini? gua nggak boleh tau?" tanya Luna yang merasa dikucilkan hingga tidak di ajak berdiskusi.
"Ini tentang pria, kau tidak akan faham, jadi jangan marah, aku hanya meminjamnya sebentar," ucap Sakti yang sengaja menggoda.
"Hey... jangan salah faham Sakti... ini nggak kayak yang lu fikirin,"
"Kalo aku wanita, aku tidak akan menolak pesona Rafael begitu saja, bayangkan... kau tidak perlu bekerja karena Rafael punya banyak sekali kekayaan, dia juga sangat populer, bisa di bilang paket lengkap dengan semua kemampuannya yang di atas rata-rata."
"Kalo lu promosi, lu salah orang, gua nggak akan tertarik sama yang model beginian," ucapnya menunjuk pada Rafael.
"Yakin...?" ucap Rafael dengan nada suara percaya diri yang mana membuat luka sedikit memerah hingga pecahlah tawa di antara mereka semua.
***
"Mas Ibra dengar itu?"
"Kau belum tidur?" tanya Ibra ketika Nadia masih bersuara dengan mata yang masih tertutup.
"Bukankah senang mendengar semua orang tertawa dan bercanda seperti itu?" ucapnya.
"Aku tau,"
"Terimakasih sudah memberiku keluarga yang lengkap, dua daddy, satu mommy, empat orang kakak, dua orang anak dan seorang suami yang sangat menyayangiku, kalian semua adalah kado terindah setelah beberapa tahun aku berjuang seorang diri di panti," ucapnya.
"Itu tidak akan terjadi lagi, kau memiliki aku sekarang, aku akan mewujudkan keinginan mu lebih dari yang kau bayangkan, jadi bersiaplah,"
"Love you mas Ibra... " ucap Nadia penuh syukur.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.
Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe
Salam sayang semua.
__ADS_1