Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Attar vs Ibrahim


__ADS_3

Ibra berjalan membuka pintu vila yang langsung tertuju pada ranjang dengan Nadia yang sudah tertidur pulas di atasnya.


Dirinya hampir satu jam berada di vila sebelah, karena Sakti menahannya dan menyodorkan beberapa hal yang di anggap Ibra penting sehingga cukup memakan waktu yang semakin membuat laki-laki itu bertambah kesal.


Laki-laki itu masih berjalan mendekati Nadia yang sudah tidur dengan posisi tubuh meringkuk seperti bayi di bawah selimut.


"Dia masih bocah, gaya tidurnya bahkan masih seperti anak-anak, tapi dia selalu membuat tubuhku panas ketika berada di dekatnya, malam ini aku sudah tidak bisa sabar lagi Nadia," ucapnya berat, tidak seperti biasanya, tubuh Ibra semakin tidak karuan setelah melihat Nadia tertidur dengan pulas, "dia sangat cantik bahkan ketika tidur seperti ini,"


Dengan perasaan yang tidak bisa di ungkapkan, Ibra mulai naik ke atas ranjang, dan mulai mencium harum tubuh Nadia, "kau selalu wangi," lirihnya lembut, memang benar Nadia selalu menjaga kebersihan tubuh nya, ia terbiasa menjaga aroma tubuhnya agar orang di sekelilingnya merasa nyaman, dan hal ini sudah ia lakukan sejak kecil.


Tangan Ibra sudah mulai bergerak bebas di bawah selimut yang mana membuat tubuh Nadia menggeliat, tak berhenti di sana, Ibra mulai mendaratkan ciuman ciuman kecil di leher jenjang Nadia dan beberapa kali meninggalkan gigitan di sana, hasratnya sudah benar-benar tidak bisa ia bendung.


"Ehmm.... " Mata Nadia terbuka perlahan ketika Ibra masih belum berhenti menggerakkan tangan di atas tubuhnya.


"Bangunlah Nadia, aku sudah tidak bisa menunggu lagi," ucap Ibra berat menahan gejolak yang ada di dalam dirinya.


"Apa yang terjadi padaku... aku bisa menahan sebelumnya, kenapa kali ini tidak bisa menahan tubuhku sendiri," pikir Ibra ketika tubuhnya benar-benar di luar kendalinya.


Tubuh Nadia bergetar mendengar ucapan Ibra tepat di telinganya, gadis kecil itu menggeliat geli, di tambah bibir Ibra yang terus mencumbu lehernya.


"Om Ibra.... tunggu om.... " ucap Nadia setelah kesadaran nya penuh seratus persen.


Ibra tidak menghiraukan ucapan Nadia yang hendak mencegahnya, gerakan tangannya semakin tidak karuan yang mana semakin membuat hawa panas di tubuh Nadia.


"Om Ibra kenapa? dia tidak pernah bertindak sejauh ini sebelumnya," batin Nadia yang mulai meronta ketika tangan Ibra sudah mulai me***as dan memainkan p****g p*******a nya.


"Ah... om Ibra... " ucap Nadia sedikit takut dengan sikap Ibra yang sangat agresif.


Peluh sudah memenuhi dahi Ibra, laki-laki itu seperti merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya, padahal AC sudah menyala di ruangan ini, "om Ibra....tunggu " teriak Nadia sedikit keras ketika tangan Ibra mulai bergerak turun.


Tangan itu berhenti ketika Ibra menatap Nadia yang sudah mengeluarkan air mata, "ada apa denganku, aku sampai harus memaksanya seperti ini... " ucap Ibra mulai sadar dan bangkit dari ranjang dengan tubuh bergetar.


Bruk


"Tahan Ibra... aishhhh Rafael ******** itu....ini pasti kerjaannya, " ucap Ibra yang masih menggigil hebat di lantai, kakinya sudah tidak bisa melangkah lebih jauh lagi, ia terjatuh tepat di samping ranjang tempat Nadia berada saat ini.

__ADS_1


"Om Ibra.... " teriak Nadia sesaat ketika Ibra terjatuh di lantai.


"Na..dia... tolong aku... aku sudah tidak kuat lagi," ucap Ibra lirih.


Nadia berlari dengan cepat dari atas ranjang, mencoba memapah Ibra dan membantunya berdiri menuju ranjang, "Om ? kenapa tubuh om Ibra sangat panas? apa yang terjadi," ucap Nadia kaget setelah menyentuh tubuh Ibra.


"Min..ta pena...warnya pa....da Ra...fael ja..ngan mende...ka...ti....ku...," ucap Ibra terbata-bata berusaha mendorong tubuh Nadia menjauh dari tubuhnya, ia sungguh tidak tahan untuk menyentuh tubuh wanita yang sudah menjadi istrinya itu.


''Om ada apa sebenernya ?"


"Argh..... " teriak Ibra kesakitan yang mana semakin membuat Nadia panik, "om ada apa...?" ucap Nadia dengan air mata yang sudah mengalir derasnya karena panik.


"Bang El,"


Nadia meraih ponsel dan menghubungi ponsel Rafael, lama tidak mendapat jawaban dari Rafael, hingga akhirnya ia memilih untuk menghubungi Sakti.


"Halo abang...?"


"Ada apa nona?" tanya Sakti seperti biasa.


"Om Ibra.... "


"Obat apa?"


"Yang pasti, tidak ada penawar selain hubungan sek***l dengan lawan jenis, kali ini stamina tuan muda bertambah berkali-kali lipat nona, beliau akan merasakan sakit yang tidak tertahankan jika tidak menuntaskan hasratnya malam ini," Nadia masih diam menunggu penjelasan selanjutnya dari Sakti.


"Saya akan ke sana dan mengirimkan seorang wanita untuk tuan muda nona, anda .... "


"Nggak perlu bang, Nadia bisa jaga om Ibra sendiri," jawab Nadia cepat.


"Tuan muda nggak bisa di biarkan seperti ini terus menerus nona, telat sedikit saja nyawa tuan muda taruhannya,"


Tanpa menjawab apapun, Nadia menutup ponselnya secara sepihak, sebelumnya ia terlebih dulu berjalan untuk mematikan sakelar lampu dan berjalan mendekati Ibra, dengan hati-hati ia memapah tubuh Ibra untuk naik ke atas ranjang.


"Na... dia... min.. ta... saja... Sak.. ti......mencari wanita untukku. "

__ADS_1


Nadia memberanikan diri mencium bibir Ibra hingga membuat laki-laki itu tidak bisa lagi berbicara, tepat saja, Nadia bahkan tidak perlu melakukan apa-apa lagi, karena Ibra segera mengambil alih komando setelah Nadia mulai bergerak terlebih dulu.


"Aku akan melakukannya, bolehkah ? aku...tidak yakin bisa berhenti setelah ini...." ucap Ibra pelan dengan mata sayu dan gai**h yang sudah tidak tertahankan.


Tanpa menjawab apapun, Nadia mengangguk yakin, "ini miliknya, aku masih memiliki kewajiban untuk melayani nya, ini yang harus kamu lakukan sejak dulu Nadia,"


Di mulai dengan anggukan Nadia itu, keduanya memulai malam panjang penuh cinta di sini, di tempat yang sudah Ibra pilih.


***


"Kau sudah melakukan apa yang saya perintahkan,"


"Sudah tuan besar, Luna bahkan memberi tuan muda dua pil sekaligus, saya yakin tuan muda tidak akan berhenti sampai pagi," jelas Sakti.


"Ha ha ha.... itu yang sayang inginkan, keturunan ku akan segera lahir di dunia ha ha ha," ucap Attar penuh kemenangan.


Tut, Attar mematikan ponsel yang terhubung dengan Sakti setelah mendengar penjelasan laki-laki itu.


"Mommy..... " teriak Attar.


"Mommy kita akan segera mendapatkan cucu, kau harus banyak berdoa malam ini," ucap Attar riang sembari memeluk Aisyah senang.


"Ada apa? sudah ada perkembangan dari Ibra?"


"Dia baru saja meminum obat yang sama yang membuat kita bisa memiliki kedua putra kita," jelas Attar tanpa dosa.


Aisyah melotot, "Kau memberi obat pada putraku hah ??? " teriak Aisyah kesal.


"Ini untuk mereka mom,"


"Lalu bagaimana keadaan menantuku nanti, daddy bahkan tidak berhenti sampai dua hari dua malam, bagaimana nasib Nadia nanti,"


"Hey hey, aku yakin Ibra tidak sekuat aku,"


"Aku bahkan jauh lebih yakin jika Ibra seratus persen lebih kuat, daddy lihat saja ototnya itu, dulu daddy bahkan tidak memiliki nya," sindir Aisyah.

__ADS_1


***


__ADS_2