
"Kalau begitu kemarilah," ucap Ibra yang sudah membentangkan lengannya.
"Kita mau pisah om, nggak boleh deket-deket," ucap Nadia reflek yang mana membuat wajah Ibra berubah dingin seketika.
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri hanya melakukan hubungan seperti itu dengan istriku, jadi jangan bermimpi untuk pergi dariku setelah ini," tegas Ibra.
Nadia yang sebelumnya berniat menggoda Ibra kini malah di buat speechless oleh apa yang Ibra katakan.
"Om tadi bilang apa?" tanya Nadia memastikan lagi.
"Cukup sekali, aku tidak akan mengulang nya lagi," ucap Ibra yang fokus pada jalan raya di luar jendela.
"Perjanjian dengan daddy ?" tanya Nadia.
"Aku bisa membatalkan perjanjian itu, kau tidak perlu khawatir pada sesuatu yang belum terjadi," tegas Ibra.
"Caranya ?"
"Jangan kepo,"
Nadia tersenyum kemudian mendekat kepada Ibra, "love you om Ibra... " lirih Nadia di telinga Ibra.
Ibra yang sebelumnya menghadap jendela mobil, mendadak menoleh ke arah Nadia yang tepat berada di sampingnya, sangat jelas sekali Ibra menahan hasrat yang lagi-lagi datang tanpa di minta itu, "ehem, aku ingin kau segera hamil dan kita mengakhiri drama yang sudah di rencanakan daddy, aku akan terus melakukannya sampai dia tumbuh menjadi bayi, jadi... jangan pura-pura bodoh dan tidak peka mulai sekarang, aku tau kau tidak sebodoh itu dalam hubungan seperti ini," ucap Ibra lirih dengan tetap penuh penekanan.
Nadia cemberut, "siapa yang pura-pura bodoh coba, om Ibra nyebelin," sahutnya.
"Kau punya salah seorang mantan yang meninggalkanmu karena kau tidak mau memenuhi nafsunya kan? jadi aku yakin kau pasti tau apa yang di butuhkan semua pria, terlebih seorang pria dengan usia matang seperti ku,"
Nadia terbelalak, ''ini adalah kisah yang paling ingin aku sembunyikan di dalam hidupku, tapi om Ibra masih saja bisa tau, menyebalkan, terus usia matang apa lagi coba, bilang aja usia tua, hahaha," kesal Nadia dalam hati.
"Hm.... " jawab Nadia malas menyahuti.
"Lalu bapak itu siapa om?"
"Bapak?" tanya Ibra mengkerut dengan tatapan tertuju pada ujung jari Nadia yang mengarah ke arah kursi pengemudi.
__ADS_1
"Ada-ada aja ini bocah, manggil aku om, Rafael sama Sakti di panggil abang, padahal usiaku sama dengan mereka berdua, lah Aga yang jelas-jelas lebih muda dari kita bertiga malah di panggil bapak, untung istri Ibrahim, coba kalo bukan mungkin udah ada yang buang dia ke kandang buaya saking kesalnya," batin Ibra.
"Saya Aga nyonya," jawabnya.
"Bapak sejak kapan ikut suami saya, kok saya nggak pernah lihat,"
"Saya sudah mengikuti tuan sejak kecil nyonya,"
"Hah? kok nggak pernah ketemu kita," ucap Nadia antusias.
"Dia salah satu orang terbaik yang nggak perlu di kenal orang lain, salah satu orang kepercayaan ku, berbeda dengan Sakti dan Rafael yang harus di kenal publik," jawab Ibra.
"Karena om marah ya? jadi pergi sama pak Aga, nggak nyari abang-abang,"
Ibra melirik Nadia kesal, "aku sudah bilang aku tidak ingin di ganggu oleh orang lain termasuk pekerjaan, aku sedang bangkrut saat ini,"
"Tapi om kan nggak bangkrut, mereka juga dateng bukan karena pekerjaan, mereka mau bantuin om kan?" bela Nadia.
"Pura-pura bangkrut Nadia, kita harus totalitas, nggak lucu kalo semua media memberitakan kebangkrutan tapi kita berkeliaran pakai helikopter dan jet pribadi. Kalau kamu lebih milih mereka, ya udah pergi sana, Rafael akan membawamu," kesal Ibra.
"Ish om Ibra mah, sensian kayak cewek," ucap Nadia.
"Om Ibra..... " manja Nadia memegang erat lengan Ibra sambil memencak mencakkan kakinya di atas alas mobil.
"Ya udah sana, ngapain masih pegang-pegang, bela terus aja Rafael," ucapnya.
"Nadia nggak bela bang El, fakta kok," ucap Nadia.
"Masih ngomong lagi?"
Nadia menatap Ibra, "enggak, ini udah diam," ucapnya mengatupkan mulutnya ke dalam, dengan tubuh masih tetap bergelayut manja di lengan Ibra.
Ibra hanya tersenyum dengan tingkah Nadia yang tidak ingin lepas dari lengannya meskipun beberapa kali Ibra menjauhkan dirinya agar Nadia terlepas dari lengannya.
Aga yang sedari tadi menatap kedua orang dari kaca spion kini ikut tersenyum melihat tingkah kedua orang yang sedang bersikap tarik ulur itu.
__ADS_1
"Om kenapa milih pakai mobil ini?" tanya Nadia yang sejak tadi sudah membatin dalam hati dengan mobil yang ia naiki saat ini, ini seratus persen bukan style Ibra.
"Di depan ada pantai, kita berhenti di sana," perintah Ibra tanpa menjawab pertanyaan Nadia.
"Ngapain om? Nadia nggak pengen ke sana kok, kan kemaren udah, kata om nggak boleh serakah,"
"Aku sedang ingin minum air kelapa muda, bukan untukmu," ucap Ibra spontan, sebenarnya memang ia ke sana ingin menyenangkan Nadia, tapi rasanya malu untuk mengatakannya.
"Ini sudah sampai tuanku," ucap Aga ketika sudah sampai di depan pedagang kelapa.
"Pergilah, aku malas turun," jawab Ibra.
"Udah ayo turun om, udah di dekat pantai juga ini, kapan lagi coba, ayo turun sekalian main," ucap Nadia yang kini semakin antusias melihat deburan ombak yang beberapa kali menabrak batu batu besar di tepi pantai.
Nadia dengan ceria melepas sandalnya di dalam mobil dan berlari ke sana kemari, Ibra melihat keadaan pantai yang ramai, kemudian mencari Aga yang sedang membeli kelapa muda untuknya.
"Kosong kan pantainya, aku tidak ingin ada seorangpun ada di sini dan terjadi hal seperti kemaren," perintah Ibra dengan mata masih menatap Nadia.
Tak berselang lama, pantai sudah sepi dari hilir mudik orang, tidak ada satu pengunjung pun yang ada di sana, Nadia masih saja bergerak, berlari bahkan sesekali melompat-lompat di atas pasir, ia bahkan tidak sadar ketika satu persatu orang meninggalkan nya di sana seorang diri.
"Kau senang?" sapa Ibra dari belakang.
Nadia menoleh dan mengangguk dengan polosnya, "kemari om, duduk sini," ucap Nadia yang sudah lebih dulu duduk di atas pasir.
"Kotor Nadia, bangunlah, kau akan mengotori mobilku dengan pasir-pasir ini nanti,"
"Om punya sangat banyak mobil, kehilangan satu mobil nggak akan buat om Ibra ... "
"Stop, berhenti memanggil ku seperti itu Nadia," ucap Ibra kesal.
"Terus manggil apa dong om? om mah Nggak di rumah, nggak di sini, marah-marah mulu sih," ucap Nadia kemudian.
"Om Ibra itu harus banyak-banyak bersyukur karena udah di kasih hidup yang sangat sempurna, kaya, cerdas, tamvan maksimal, terus di kelilingi oleh banyak banget orang baik yang selalu bantu gimanapun kondisinya, jadi om jangan marah-marah terus, biar nggak cepet tua, ha ha ha," ucap Nadia sumringah.
Ibra hanya menatap istri kecil yang sekarang sudah duduk manis dengan senyum menawan menghadap laut yang terbentang luas di depan matanya.
__ADS_1
Tanpa sadar Ibra menatap nya juga,
"Sejak kapan kau menjadi dewasa seperti ini, apa dan bagaimana kehidupan yang sudah kau lalui hingga bisa membentuk dirimu yang sekarang, hampir satu tahun, tapi rasanya masih banyak hal yang tidak aku ketahui tentang mu, bahagia lah seperti itu selamanya, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi, karena ada aku sekarang."