
"Mas Ibra.. nanti begitu anak ini lahir, Nadia boleh ikut bantu abang El di Cyber... " tanyanya polos yang reflek mendapat tatapan sinis Ibra tidak suka.
Melihat tatapan sinis itu membuat Nadia faham bahwa ia mengucapkan perkataan yang salah, "matilah kau Nadia, suamimu masih ganas seperti biasanya," batin gadis itu pelan.
"Bekerjalah, aku yang akan menjaga anak kita nanti bersama ibu barunya," jawab Ibra begitu saja dan langsung berjalan menuju lemari hendak mengambil baju.
Mendengar perkataan itu membuat tubuh Nadia bergerak seketika, "he he.... becanda aja mas Ibra sayang, kok jadi bawa perasaan sih, udh cinta banget ya, nggak mau jauh-jauh dari aku?," candanya berusaha mencairkan suasana.
Dengan tangan yang masih bergelayut manja pada lengan kokoh Ibra, Nadia mengedipkan matanya beberapa kali, "aish...dia memang masih bocah bagaimana pun aku memperlakukannya, aku berkata ingin menikah lagi tapi dia tidak marah sama sekali," batin laki-laki itu yang juga kesal.
"Jangan mendekatiku, aku akan menikah lagi dan kau bisa ikut Rafael bekerja," ucapnya.
"Mas Ibra mah... baperan... nggak malu apa sama dedek," ucap Nadia masih dengan gaya manjanya.
"Pergilah aku mau mandi, kau membuat mood ku berantakan sekarang," ucapnya ingin bergegas ke kamar mandi.
Nadia masih menarik tangan Ibra menghalangi suaminya itu masuk ke dalam kamar mandi, "ada apa lagi Nadia?" tanya Ibra dengan wajah kesalnya.
"Masih ada mbak mbaknya di dalam, nggak rela kalo ada yang liat mas Ibra mandi, hanya aku... hanya aku yang bisa liat," jawab Nadia sambil sesekali melirik ke dalam kamar mandi, melihat dua orang yang ada di dalam sedang memperhatikan mereka berdua di tengah kesibukan menyiapkan air untuk Ibra mandi.
"Lihatlah, mereka bahkan masih terpesona dengan mas Ibra yang masih memakai baju, bagaimana jika mas Ibra sudah tidak memakai baju, aku yakin semua wanita akan dengan suka rela menawarkan diri," bisik Nadia tidak suka.
"Itu karena aku terlalu tampan dan kaya, jangan menyalahkan ku untuk itu," sanggah Ibra.
"Aku akan meminta bang Sakti untuk mengganti pelayan yang sedikit lebih tua,"
"Bahkan orang tua juga menyukai aku," tambah Ibra yang mana membuat bibir Nadia mengerucut panjang meskipun yang di ucapkan Ibra seratus persen benar.
"Mbak... sudah belum...?" teriaknya.
"Sebentar lagi nyonya," jawab salah seorang pelayan itu.
"Sabar... kenapa jadi tidak sabar begini?" ucap Ibra mengelus lembut rambut kepala Nadia.
"Kata orang, ibu hamil memiliki tempramen yang buruk, tapi Nadia tidak buruk sama sekali, ia bahkan hanya memiliki sedikit permintaan, uhmm...." batin Ibra.
Tak lama kedua orang yang sedang berada di kamar mandi itu keluar secara bersamaan, "sudah selesai?" tanya Nadia.
"Sudah nyonya," jawab keduanya serempak.
__ADS_1
"Terimakasih,"
"Kalian bisa keluar sekarang," ucap Ibra kemudian.
Setelah kedua orang itu keluar, "udah ya, aku mandi dulu," ucap Ibra.
"Iya mas," ucap Nadia tanpa bisa Ibra tau apa yang sedang istrinya itu pikirkan.
"Sudahlah, mungkin ini drama bumil seperti yang di ceritakan orang-orang," batin Ibra yang kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi setelah mencium lembut kening Nadia.
***
Satu bulan kemudian
Ibrahim dengan banyak sekali pekerjaan di Delta, kini masih harus berada di kantor meskipun tau bahwa beberapa hari ini di prediksi mejadi hari kelahiran buah hatinya.
"Kenapa kau masih membuatku bekerja di saat-saat seperti ini Sakti," ucapnya kesal sembari melonggarkan dasinya.
"Aish.... dimana Rafael, dia sudah menghilang sejak sore tadi," gerutu Ibra tiada henti pada Sakti yang tidak bisa melakukan apapun selain mendengar curahan hati Ibra pada saat itu.
"Kemana Rafael? kau tau kemana perginya?" tanya Ibra lagi dengan keras karena tidak berhasil mendapatkan jawaban dari Sakti.
"Siapkan peralatan medis dan semua kebutuhan lain, dia pasti tidak pulang dengan baik-baik saja," tambahnya.
"Baik tuan muda,"
"Tapi berapa rapat lagi yang harus aku hadiri di saat malam begini?" tanyanya lagi dengan kesal.
"Kurang tiga rapat lagi tuan,"
"Astaga.... kau tidak tau jika beberapa hari ini adalah rencana prediksi kehamilan istriku, kenapa kau membuatku masih bekerja di sini sekarang, aish.... kau membuatku hampir gila, buat apa aku memiliki kalian semua di sampingku," gerutu Ibra tidak selesai-selesai, ia benar-benar ingin segera pulang dan menemui istrinya.
***
Di sisi lain, Nadia kini tengah makan sebuah apel dengan santainya di halaman belakang rumahnya, tentu saja di temani oleh Luna yang di minta Sakti secara langsung agar tetap di sisi Nadia agar Ibrahim tidak khawatir.
"Nadia tidak terlihat memiliki tanda apapun, mungkin dia tidak melahirkan hari ini, paling tidak kita semua akan aman dari amukan Ibra karena tidak ada di sisi Nadia saat ia melahirkan."
"Apakah enak?" tanya Luna melihat nafsu makan Nadia.
__ADS_1
Nadia menganggukkan kepala pelan dengan mulut penuh, "jangan buru-buru, kunyah dengan lembut agar bayimu juga tidak tersedak,"
"Apakah bisa?" tanya Nadia menghentikan gerakan mulutnya dengan polos menghadapi gurauan Luna, "hehe bagaimana mungkin bayi itu tersedak, dia terlalu polos mempercayaiku begitu saja," gumam Luna dalam hati sengaja menggoda gadis kecil polos di depannya ini.
Nadia menghentikan makannya dan hendak berdiri dari kursi yang ia tempati kini, namun rasa sakit memenuhi perutnya, "ah... aduh.... kak Luna.... " ucapnya menatap Luna begitu melihat darah menetes hingga pangkal kakinya.
"Cepat bawa nyonya dan lakukan sesuai petunjuk," perintah Luna pada perawat yang secara khusus menjaga Nadia.
***
Sebuah pesan singkat yang secara otomatis langsung terkirim kepada semua orang yang di inginkan Luna.
"NADIA MELAHIRKAN!!!!"
Sakti yang saat itu tengah berdiri di belakang Ibra yang sedang rapat bersama client penting membuka ponselnya begitu mendengar nada dering khusus.
Ponsel itu langsung tergelincir jatuh begitu saja sesaat setelah ia membaca pesan di dalam sana yang mana membuat semua orang melihat ke arah Sakti.
"Matilah, tuan muda masih harus bertemu dengan satu client lagi," batin Sakti.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa tuan muda, silahkan di lanjutkan, saya mohon maaf," ucapnya dengan membungkuk kepada semua orang.
Di tempat lain Rafael sedang bermain dengan buruannya kali ini, tentu saja Luke yang baru saja berhasil ia kalahkan, "tuan... nyonya Nadia akan melahirkan, kita harus segera kembali sekarang," ucap Aga pada Rafael dengan baju yang terkena banyak sekali cipratan darah.
Laki-laki itu shock, hingga terlihat wajah ling lung di sana, "benarkah.... " ucapnya dengan menghitung jemari tangan hendak memastikan apakah ini benar tanggalnya.
"Ayo cepat pulang, kalian semua pastikan semua habis tanpa sisa, jangan sisakan satu pun nyawa, atau aku yang akan mengambil nyawa kalian," teriaknya sebelum pergi dengan berlari.
"Tenang tuan, anda jangan berlari seperti itu," ucap Aga yang sudah kuwalahan dengan gerakan kaki Rafael yang dengan lincah melompat kesana-kemari dengan mudah.
"Ayo cepat... keponakan gua bakal lahir nih, gua nggak boleh kehilangan momen langka di hari kelahiran nya," tambah laki-laki itu masih dengan langkah yang semakin cepat.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.
Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe
__ADS_1
Salam sayang semua.