
"Eh abang, kok kita jadi mellow gini," ucap Nadia yang melihat Rafael sudah tidak bisa membendung air matanya.
"Nggak papa sekali-sekali," ucap Rafael yang masih sesenggukan saking bahagianya.
"Ibra nggak sedang ngintip kita kan?" tanya Rafael yang sedang membalik badannya menghadap pintu.
"Tadi di bawah sama bang Sakti," jawab Nadia yang nggak faham dengan pertanyaan Rafael.
"Kenapa bang?"
Rafael melepas pelukannya pada Nadia, "Ibra... di balik sikap dinginnya, dia adalah orang dengan hati yang paling lembut, dia mudah merasa bersalah terhadap orang yang dia sayang, setelah Anna, paman Abrar, tidak menutup kemungkinan nanti giliran kita,'"
"Maksud abang, Nadia nggak faham,"
Rafael tersenyum, ia tidak ingin merusak kebahagiaan nya sekarang ini dengan hal-hal yang belum tentu terjadi, "haha, panik banget wajah lu dek, wkwkwkw,"
"Abang.... udah serius serius juga," kesal Nadia.
"Pokoknya jangan sampek Ibra liat kita nangis dan pelukan kayak tadi, oke..anggap aja biasa, lu adek gua, gua abang lu kayak biasanya aja," jelas Rafael.
"Kenapa sih? Nadia nggak faham,"
"Oke oke, jadi gini, suami lu itu orang paling baper sedunia, gua nggak bisa bayangin apa yang bakal dia lakuin kalo dia merasa bersalah dengan keadaan keluarga kita," jelasnya lagi sedikit memberi gambaran.
"Nggak mungkin abang, mas Ibra nggak mungkin baperan, toh yang buat keluarga kita pisah kayak gini bukan mas Ibra,"
"Bapernya Ibra nggak kayak yang ada di pikiran lu saat ini dodol," ucap Rafael sambil sedikit memukul kepala Nadia.
"Abang.... " teriak Nadia kesal, namun Rafael sudah terlebih dahulu berlari keluar dari kamar Menghindari kejaran Nadia.
Semakin kesal karena Rafael meninggalkan nya, ia semakin berteriak dan berlari mengejarnya dengan cepat.
"Abang...jangan lari.... " teriaknya menuruni anak tangga yang sudah di lewati Rafael.
Ibra yang berada di lantai dasar bersama Sakti langsung menoleh ke sumber suara, dia was was melihat cara Nadia menuruni anak tangga dengan berlari, "Nadia... jangan lari.... " teriak Ibra yang ngeri sendiri melihat istrinya itu berlari.
"Ibra.... bini lu kalo ngamuk kayak singa..... lu bantu gua dong,"
__ADS_1
"Bocah... "
"Biarin.... "
Ibra memutar bola matanya malas, namun kakinya tetap beranjak mendekati ujung akhir anak tangga, tepat saja perkiraannya, Nadia terpeleset ketika hendak mendaratkan kakinya di anak tangga terakhir.
"Aw..... " teriaknya reflek ketika tubuhnya limbung.
"Aku sudah bilang jangan lari, kenapa masih lari, kau ingin kakimu ku patahkan agar bisa berhenti hah?" ucap Ibra ketika berhasil menangkap tubuh mungil istrinya itu.
"Hehe, maaf mas, itu si abang nakal abis jitak kepala aku," jelasnya yang sontak membuat Ibra menoleh ke arah Rafael yang hanya tersenyum tanpa dosa.
"Mandi... ganti baju, masuk kamar sekarang," perintahnya.
"Iya... iya... dimana kamarnya?" jawab Nadia menunduk.
"Udah sana mandi dek, noh noh kamar utama noh" sahut Rafael ikut-ikutan bicara sambil menunjuk ke sembarang arah.
Nadia melihat Rafael kesal, "awas aja nanti abang, " ancam nya pada Rafael yang malah menjulurkan lidahnya.
"Kan abang yang jahat mas, tuh liat.... " tunjuk Nadia pada Rafael.
"Tu.... an.... muda.. Rafa..." ucap seseorang tak jauh dari mereka.
Semua orang yang berada di sana langsung melihat sumber suara yang asing menurut mereka, salah seorang wanita berusia hampir lima puluh tahunan berdiri tak jauh dari Nadia dan sedang mematung melihat Rafael.
Pakaian pembantu rumah tangga melekat di tubuh wanita itu, dengan rambut di sanggul rapi ke atas, ia melihat Rafael dengan mata berkaca-kaca.
"Bu...bu Ani bekerja di sini ?" tanya Rafael yang juga bingung melihat kepala pembantu yang bekerja di rumahnya dulu berada di sini, Laki-laki yang sebelumnya cengengesan menggoda Nadia kini berwajah serius menatap wanita yang berada di hadapannya.
Wanita itu mendekat ke arah Rafael, menyentuh tangan Rafael yang masih menggantung di udara, "anda baik-baik saja tuan muda, syukurlah anda selamat, asisten yang di tugaskan bersama anda saat itu sudah meninggal dengan bekas tembakan, anda...anda.." ucapnya yang sudah tidak bisa menahan tangisnya.
Rafael tersenyum, kemudian memeluk wanita yang sudah merawatnya sedari kecil itu, "sudah bu, ada orang baik yang menyelamatkan dan membantuku hingga sekarang, ibu nggak perlu khawatir lagi," ucapnya menenangkan, dia sesekali melihat ke arah Ibra, dia tidak ingin Ibra berfikir macam-macam dan merasa bahwa semua ini terjadi karena nya.
"syukurlah nak, syukurlah,"
Ibra melihat ke arah Sakti meminta penjelasan, namun Sakti hanya mengangguk seolah mengiyakan apa yang saat ini sedang berada di pikiran Ibra.
__ADS_1
"Rumah ini...?" tanya Ibra lirih yang hanya terdengar oleh Nadia yang berada di sampingnya.
"Ini rumah anda tuan muda, ini milik anda," ucap bu Ani dengan cucuran air mata menatap Rafael di di hadapannya.
"Ini pasti rumah yang dibangun ulang di atas rumah keluarga El yang sudah di hancurkan oma, aku ingat sekarang, ini adalah rumah yang dulu mati-matian harus ku dapatkan bersama perusahaan keluarga Rafael itu, kenapa bisa lupa kayak gini Ibra..." gerutu Ibra dalam hati, ada perasaan aneh yang mengganggu hati dan pikirannya saat ini.
"Rumah ini sangat berubah total hingga tuan muda tidak mengenalinya, bahkan nama jalannya pun berbeda, tuan muda terlalu fokus untuk mengembalikan Harbank ke posisi semula sehingga tidak fokus pada rumah ini,"
Rafael yang sempat bingung dengan ucapan bu Ani tentang rumah ini, kini mulai faham setelah melihat wajah bersalah Sakti yang sedari tadi menatap Ibra.
"Saat ini rumah ini masih milikku bu, semua miliknya adalah milikku juga," tunjuk Rafael pada Ibra yang masih mematung di bawah anak tangga terakhir.
Nadia melihat ke ganjalan semua orang yang ada di sana saat itu, "apakah ini maksud dari ucapan ambigu bang El tadi ya," pikirnya.
"Uhm... bu Ani... Nadia lapar, boleh minta tolong di siapkan makanan terlebih dulu, kita semua belum ada yang makan sejak pagi," ucap Nadia lembut.
"Ah... iya nona.. akan segera siap, saya pamit undur diri dulu," ucap bu Ani sambil mengelus pipi Rafael pelan, terlihat jelas sekali kebahagiaan di wajah wanita tua itu sebelum pergi.
"Posisi kamar utama di mana bu?" tanya Nadia lagi.
"Saya akan mengantarkan anda dan tuan muda nona, bu Ani bisa melanjutkan pekerjaannya," jawab Sakti.
"Oh... oke bang,"
"Silahkan tuan muda,"
"Rafael... dia yang lebih berhak atas kamar utama, sampai kapanpun rumah ini adalah miliknya, kau tentu ingat betul aku susah payah mendapatkannya untuk ku kembalikan padanya,"
"Ibra... "
"Kau pindah lah ke kamar utama, rumah ini milikmu," Ucapnya lagi pada Rafael.
"Apaan sih, gua udah nyaman sama kamar gua di atas, gua nggak mau pindah, udah gih lu mandi-mandi sana, istirahat," ucapnya lagi.
"Udah mas, bang El gpp kok, ayo pergi, Nadia udah capek pengen bobok," ucapnya dengan bergelayut manja pada lengan Ibra.
"Good job dek," ucap Rafael mengulurkan jempol secara sembunyi-sembunyi pada Nadia.
__ADS_1