
"Kita akan berpindah setiap beberapa hari sekali tuan muda," ucap Sakti lagi.
"Tanyakan pada Nadia tentang itu," ucap Ibra yang dengan cool nya melenggang pergi meninggalkan Sakti.
"Nona terlihat sangat pintar, apa yang harus aku katakan,," gusar Sakti meremas rambutnya.
"Sudahlah sebaiknya aku mencari nona terlebih dahulu." ucap Sakti kemudian melangkah mencari keberadaan Nadia.
Nadia sedang berada di sisi kolam renang, separuh kakinya masuk ke dalam air dan bermain di sana. ia bersenandung kecil dengan masih menggoyang-goyangkan kakinya di dalam air.
"ehem nona muda," panggil Sakti.
Nadia menoleh ke arah sumber suara, "ah iya pak Sakti ada apa ?" tanya Nadia yang segera mengangkat kedua kakinya dan berdiri di sisi kolam renang.
"Bisa kita bicara sebentar nona ?" ucap Sakti.
"Katakan, jangan bersikap sungkan seperti itu." ucap Nadia lembut.
"Kita tidak akan tinggal di sini nona, kita akan sering berpindah setiap beberapa hari sekali," jelas Sakti dengan hati-hati.
"Tidak masalah aku akan mengikuti keinginan om Ibra," ucap Nadia lagi cepat seakan tidak berfikir.
"Ah baiklah nona, karena tuan muda ingin saya menanyakan itu terlebih dahulu kepada nona sebelum kita pindah," jelas Sakti lagi bernafas lega karena Nadia tidak memiliki banyak pertanyaan.
Om membuat aku merasa sedikit di hargai olehnya, batin Nadia tersenyum.
"Mohon jangan salah faham terhadap tuan muda nona, tuan sudah mencintai wanita lain sejak sepuluh tahun yang lalu, ini demi kebaikan anda," ucap Sakti ketika melihat senyum Nadia.
"Aku tau pak, aku hanya merasa di hargai olehnya," jawab Nadia.
Ada sedikit pertanyaan di hati Nadia, namun ia sengaja tidak menanyakannya kepada Sakti, aku tidak perlu ikut campur terlalu jauh. batinnya.
"Nadiaaa Nadiiiaaa..... " teriakan Ibra terdengar di seluruh rumah.
"Haa om apa-apaan sih, nganggur banget pake teriak-teriak, " ucap Nadia yang langsung meninggalkan Sakti sambil berlari begitu saja.
"Tuan muda selalu membuat nona kesulitan, tapi nona selalu santai tanpa beban jika berhadapan dengan tuan muda, mereka terlihat seperti pasangan, " kekeh Sakti
Nadia berlari dengan tergopoh-gopoh karena teriakan Ibra semakin keras memanggilnya, "iya om, jangan teriak teriak, Nadia masih jalan," ucap gadis itu sambil berusaha berlari menaiki tangga.
__ADS_1
Para pelayan yang mendengar juga di buat ternganga, pasalnya selama di rumah ini Ibra sangat jarang sekali berteriak seperti ini bahkan hampir tidak pernah, ia hanya diam sepanjang waktu.
"Iya om, ada apa hosh hosh hosh?" tanya Nadia dengan nafas tidak teratur karena berusaha berlari dengan kaki pincang menaiki tangga menuju kamar Ibra.
"Pilihlah, untuk sementara waktu kau akan tinggal di salah satu rumah itu," ucap Ibra menyodorkan beberapa foto rumah.
Nadia yang masih tidak faham hanya melongo tanpa merespon ucapan Ibra, "Hey Gadis kecil kau tidak mendengar ku, cepatlah kita sudah tidak punya banyak waktu ?" bentak Ibra kasar.
"Bukankah kita akan berpindah dalam beberapa hari sekali, kenapa aku harus memilih," tanya Nadia yang masih tidak faham apa yang terjadi.
"Hanya aku, kau tinggallah di salah satu rumah itu," jelas Ibra.
Nadia mengerutkan dahinya, "kita tidak tinggal bersama om," pertanyaan itu sungguh mengganjal pikiran Nadia sedari tadi.
"Jangan bermimpi untuk tinggal denganku, aku tidak bisa tinggal bersama gadis yang tidak bisa ku sentuh, aku laki-laki normal," ucap Ibra cepat.
Nadia terdiam, ia masih berusaha mencerna perkataan Ibra, tak lama kemudian muncul sebuah senyum dari bibir mungilnya, "baiklah aku memilih tinggal disini." ucapnya sambil menunjuk sebuah rumah yang paling kecil.
"Ada yang lebih besar dari itu, kenapa kau memilih yang paling kecil," tanya Ibra heran.
"Ini sudah besar om, apalagi Nadia hanya tinggal sendiri," ucap Nadia lagi.
"Aku bukan kekasihmu om, jadi biarkan aku memilih yang paling kecil, itu sudah cukup untukku," ucap Nadia lagi.
"Dasar gadis aneh, sudah pergilah bersiap, kita pergi 10 menit lagi," ucap Ibra.
"Hahh om, Nadia bahkan belum mandi," gerutu gadis itu sambil memencak mencak kan kakinya di lantai. "Aw aww kakiku," rintihnya.
"Cepat bersiaplah, kau semakin membuang banyak waktu," bentak Ibra.
Gadis itu melompat keluar kamar dengan satu kaki, dan membuat Ibra terus geleng-geleng kepala melihat tingkahnya, "selalu ada saja tingkah aneh gadis itu setiap hari,"
Ibra berjalan menatap jendela kaca yang langsung menghadap taman belakang rumahnya, Tak lama Sakti masuk kedalam kamar Ibra yang terbuka, "tuan.."
Ibra hanya diam tanpa menoleh ke arah asistennya itu, namun Sakti tetap memberanikan diri bertanya, "boleh saya bertanya tuan ?" tanya Sakti.
"Katakan." ucapnya lagi.
"Alasan anda meminta nona muda memilih rumahnya sendiri dan tidak membawanya dengan kita?" tanya Sakti dengan hati-hati.
__ADS_1
"Ck ck ck Kau sudah berani menanyakan alasanku rupanya, apa gadis cilik itu yang memberi tahu mu ?" ucap Ibra sambil berdecak.
"Bukan seperti itu tuan, nona bisa tinggal di rumah ini jika anda tidak ingin membawanya," jelas Sakti.
"Alasan aku membangun rumah ini karena aku ingin menepati janjiku menjadikan Anna sebagai ratu di dalamnya, tempat aku pulang ketika lelah dan menjadikannya rumah, aku tidak menginginkan wanita lain menjadi nyonya rumah ini selain dia," ucap Ibra dengan tetap membelakangi Sakti.
Sakti terdiam, "anda masih sangat mencintainya tuan muda ?" tanya Sakti.
"Selalu," ucap Ibra singkat.
***
Kamar Nadia
Nadia bergegas menata barangnya yang tidak banyak, kakinya yang masih sedikit sakit itu tetap bergerak lincah meskipun sedikit pincang dan melompat-lompat, ia memutuskan untuk tidak mandi karena takut di tinggal oleh Ibra, hehe.
"Om juga nggak akan tau kalo aku belum mandi kan, hehe" ucapnya sambil tersenyum sendiri.
"Oke sudah siap semua, aku hanya perlu waktu tiga menit untuk membereskan barang ku, waktu sepuluh menit terlalu banyak om," gumamnya.
Setelah di rasa siap, Nadia mengambil tas ransel buluk miliknya kemudian berjalan ke arah pintu dan menutupnya pelan, gadis itu berjalan menuju kamar Ibra dengan bersenandung kecil dan sesekali muncul senyum di sudut bibirnya.
Namun langkahnya berhenti tepat di depan kamar Ibra ketika ia tau bahwa ada Sakti di dalam, "sepertinya serius lebih baik aku menunggu di bawah," gumam Nadia.
Nadia baru berjalan satu langkah dari tempatnya berdiri, namun langkah itu terhenti karena mendengar namanya sedang di sebut-sebut, Nadia memilih menunggu di balik dinding.
Perkataan Ibra tadi pagi kembali terngiang di kepala Nadia, "Kau sedang berperan seperti nyonya rumah ini Nadia ?"
.
.
.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.
__ADS_1