
"Aku tidak tau dengan perasaan ku saat ini, aku tiba-tiba menjadi sangat marah tidak jelas , Tiba-tiba bahagia, tiba-tiba merasa bersalah, dan tiba-tiba ingin bermanja bersama mu, aku juga tidak tau apa yang terjadi dengan diriku, aku tidak seperti ini sebelumnya,"
Ibra membawa Nadia masuk ke dalam kamar mandi, hampir satu jam mereka berdua beraktivitas di dalam sanasana.
"Terimakasih Nadia.... " itu adalah ucapan pertama yang keluar dari mulut Ibra ketika baru keluar dari dalam kamar mandi.
Berbeda dengan Ibra yang terlihat sangat bahagia, Nadia terlihat sangat-sangat kelelahan dengan aktifitas yang baru saja ia lakukan.
"Baru semalam, tapi mas Ibra masih punya tenaga sebesar itu, dia bahkan tidur lebih sedikit dari pada aku, ahh aku lelah, aku ingin langsung tidur saja," batin Nadia yang langsung naik dan berbaring di atas ranjang dengan rambut basah yang masih tertutup handuk putih dan baju bersih yang masih melekat di tubuhnya.
"Mas sini... ayo bobok, ngantuk akunya... " ucapnya dengan meraih guling dan memeluknya seperti biasa, sebelum gadis itu memejamkan mata, ia sempat menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya agar Ibra juga tidur di sisiNya seperti biasa.
Ibrahim mendekati Nadia, laki-laki itu menatap istri kecil yang ada di hadapannya ini, dengan pelan ia mengambil handuk putih yang masih menutup seluruh rambut basahnya.
"Dia seharusnya mengeringkan rambutnya lebih dulu, Nadia... Nadia.... " ucap Ibra pelan menepuk pipi Nadia, namun tidak mendapat sahutan dari Nadia, istri kecilnya itu sudah hanyut ke alam bawah sadar dan dunia mimpinya.
"Baiklah, kau tidak perlu bangun... aku bisa melakukannya... " ucapnya yang kemudian bangkit mengambil hair dryer yang berada di dalam laci.
Dengan hair dryer di tangannya, Ibra menggerakkan mesin itu pelan, mengarahkan mesin dengan uap panas ke arah rambut Nadia dengan hati-hati seolah itu sesuatu berharga yang harus di jaga.
"Aku bahkan harus hati-hati menyentuhmu agar kau tidak terluka, jadi aku juga tidak akan membiarkan orang lain untuk membuat luka yang akan menyakitimu kedepannya,"
***
Rafael berjalan mondar mandir di depan kamar Ibra dan Nadia, mimik wajah jahil yang biasanya terlihat, saat ini berubah, laki-laki itu seperti sedang gelisah dan bingung harus apa.
"Sudahlah El, mereka hanya sedang istirahat, kenapa kau gelisah seperti itu, toh tuan muda tidak tidur bersama dengan kekasih mu,"
"Ini udah tiga jam sejak mereka masuk, tapi mereka masih belum keluar juga, siapa yang nggak khawatir coba kalo adek lu ada di dalam sana, dia masuk ke kandang singa dodol, gimana gua bisa tenang," ucapnya khawatir.
"Dia di dalam bersama suaminya, kenapa kau khawatir seperti ini, ayo kita makan lebih dulu, jangan bersikap berlebihan dan membuat keributan di sini yang akan membuat mereka berdua terganggu,"
Rafael masih tidak beranjak dan hanya menatap pintu kamar Ibra dan Nadia, laki-laki itu khawatir dengan kondisi Ibra, trauma Ibra bisa kambuh kapan saja, ia tidak akan mengingat siapa pun jika itu terjadi, bahkan Nadia.
"Lu yakin mereka baik-baik aja? Ibra...maksud gua kondisi mental Ibra..." tanya Rafael lagi memastikan.
"Tuan muda selalu rutin melakukan pengobatan, ia tidak akan kambuh seperti dulu, tuan sudah jauh lebih baik dalam mengontrol emosi dan perasaannya, jadi kau tidak perlu khawatir,"
"Kita berdua nggak tau apa yang terjadi dengan Ibra akhir-akhir ini, jangan terlalu percaya diri,"
__ADS_1
"Aku juga menyangsikan tentang kondisi tuan muda, tapi aku tidak ingin mempercayainya, tuan muda hanya butuh orang-orang yang bisa di percaya dan ada di sampingnya, terlepas dari semua luka dan perasaan bersalah itu,"
"Gua yakin lu juga ragu kan?" tebak Rafael.
Sakti menatap Rafael, terlihat jelas kecemasan di mata laki-laki itu, Rafael masih bergerak mondar-mandir untuk menghilangkan kecemasan nya.
"Aish... mending gua jinakin bom dalam waktu lima menit dari pada gua mikir kayak gini, ini bukan passion gua, gua lagi nggk pengen mikir Sakti..." gumamnya kesal entah pada siapa.
Praaaaakkkk
Suara sebuah barang yang terjatuh menyentuh lantai terdengar jelas di telinga Sakti dan Rafael, keduanya menoleh ke sumber suara secara bersamaan.
"Apa yang terjadi...? " ucap Rafael semakin panik.
"Tuan muda.... nona.... tuan muda.... " teriak Sakti di depan pintu kamar.
Karena tidak mendapat sahutan, "kita dobrak saja," ucap Rafael.
"Oke."
Kedua laki-laki itu sudah mulai menjauh dari pintu, memberi jarak bersiap-siap mendobrak pintu yang ada di depannya.
Dan, "Awasssss....... " teriak mereka berdua ketika kaki keduanya tidak bisa berhenti, hingga brukk.
"Awwwww"
Keduanya menabrak ranjang dan jatuh di atas sana, di atas tubuh Ibra yang masih tidur nyenyak di ranjang besar itu.
"Aish..... ada apa sih... " teriaknya kesal.
"Tuanku... " teriak Aga yang panik mendengar keributan dan suara teriakan Ibra.
"Hehe sorry sorry.... " ucap Rafael malu, tapi masih memegang hidungnya yang menabrak kaki Ibra.
"Saya minta maaf tuan muda.... "
"Hihihi.... " tawa Nadia sepelan mungkin agar Ibra tidak semakin marah.
"Abang ngapain sih pake lari kenceng banget kayak gitu, hehehe,"
__ADS_1
"Ya kalian juga ngapain aja di dalem nggak keluar keluar, pake ada apa tadi yang jatoh, bikin tambah panik aja sih," jelas Rafael.
"Itu hanya gelas abangku sayang, tadi Nadia haus, pengen minum tapi masih ngantuk, jadi ngambil gelasnya sambil merem, eh tiba-tiba jatoh hehe," ucap Nadia.
Namun, bukan mendengar penjelasan Nadia, Rafael malah fokus pada baju tidur Nadia bagian atas yang dua kancingnya terbuka.
"Kalian abis ngapain?"
Bukannya menjawab, semua orang di sana hanya menatap tidak faham dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Rafael.
"Kenapa kancing baju lu kebuka kayak gitu?"
Mendengar itu, Ibra yang tadinya berpindah posisi tidur dengan membelakangi mereka semua segera duduk dan melihat Nadia, ''kok gua bisa lupa nggak pasang kancing bajunya," sesal Ibra.
Tanpa menunggu lama, Ibra langsung melompat dari atas ranjang dan menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukan nya agar tidak terlihat oleh siapapun, meskipun tidak akan terlihat apa-apa karena jarak kancing baju Nadia saat itu jaraknya dekat, "apapun yang kita berdua lakukan , itu hak kita sebagai suami istri, sekarang keluar semua," perintahnya tanpa basa basi.
"Tunggu tunggu, tapi dia adek gua,"
"Salahin diri sendiri karena obat itu oke, sekarang semua keluar, ke... lu... ar... " ucapnya lagi penuh penekanan.
"Awas aja lu...?"
"Salahkan dirimu sendiri El.. " teriak Ibra menggiring mereka bertiga keluar dari kamar.
Ceklik.
"Mulai sekarang, jangan buka pintu sembarangan, kau harus memperhatikan pakaianmu dulu," ucap Ibra kesal, ia tidak rela jika ada orang lain yang melihat miliknya.
"Tadi semua kancingnya kepasang kok, mas Ibra kan? mas Ibra yang buka dan mainin kan?" tebak Nadia, karena ini adalah spot favorit Ibra ketika berada di dekatnya akhir-akhir ini.
"Enggak, ngapain main sama kamu yang lagi tidur, "
Nadia menatap penuh selidik, "oke fix, pasti tadi ada hantu yang buka kancing baju aku,"
"Kau menyebutku hantu," ucap Ibra kelepasan.
Nadia melirik Ibra yang masih menatap nya tanpa dosa, "dasar om om genit....nyebelin, ngaku juga kan kalo om yang buka, " ucapnya kesal.
"Kau berani memanggilku seperti itu lagi..... " kesal Ibra mengejar Nadia yang lebih dulu berhasil melarikan diri.
__ADS_1