
"Ponakan uncle yang lucu-lucu di mana kalian.... '' teriaknya sembari melihat sekeliling ruangan.
"Astaga... dia seperti dua sisi koin, baru saja hampir membunuh orang-orang dengan beringasnya, sekarang udah berubah jadi hello kitty," gumam Abrar begitu Rafael langsung bergerak ke sana kemari dengan bahagia melihat kedua keponakannya.
"Hey... kemeja mu bahkan masih penuh dengan darah, jangan mendekati cucuku," teriak Abrar.
"Cih... kakek tua cuma bisa omong doang," ketusnya.
"Aku memang tua, lalu kenapa?"
"Mereka bahkan masih diam di tempatnya, kenapa bapak tua ini selalu ngajak ribut,"
"Abang... kemari... " panggil Nadia agar Rafael mendekat padanya.
Mimik wajah Rafael berubah ceria seketika, "Are you okey Nadia? sorry abang telat datang," tanyanya mengacak rambut adik kecilnya itu dengan perasaan bersalah karena belum menemuinya.
Nadia tidak menjawab, tangannya justru menggapai kancing kemeja Rafael yang memang benar kata Abrar, banyak sekali bercak darah.
"Ada apa?" tanya Rafael bingung.
"Aku hanya ingin memastikan, darah ini milik siapa?" ucap Nadia yang khawatir.
"Gua nggak apa-apa dek, lu kan tau gua abis ngapain, gua ganti di kamar mandi deh, pinjem kemeja Ibra mana?"
Nadia tetap bersikukuh menarik kemeja yang sudah terbuka bagian atasnya itu.
"Ah... " ucapnya merintih kesakitan ketika Nadia menarik kemeja itu terlalu keras hingga mengenai bagian tubuh Rafael yang terluka.
Tubuh Rafael penuh dengan luka sayatan yang masih memerah dan itu tidak hanya satu, "pak Aga.... " teriak Nadia.
"Nak... jangan berteriak... kondisimu juga sedang dalam masa perawatan sekarang... " ucap Aisyah menenangkan.
"Hey... dek... abang gak papa kok, ini udah biasa, gua udah biasa kek gini, calm oke..." jawabnya panik melihat ekspresi adiknya ini.
Semua orang menelan lidah melihat luka itu, ia bahkan masih bisa menghajar William setelah mendapatkan luka itu, tubuhnya bahkan hampir penuh dengan luka.
"Aku bahkan sempat memeluknya dengan erat, bagaimana mungkin aku tidak tau Rafael terluka separah itu, bagaimana ia bisa menahannya tadi, ia bahkan tidak merintih sama sekali, " batin Luna menyesal namun tetap tidak bergeming.
"Rafael... nak... "tambah Aisyah yang ikut pedih dengan semua luka putranya itu.
" Pak Agaaa..... " teriak Nadia lagi.
Abrar yang saat itu duduk di sebuah sofa meringis melihat luka-luka di tubuh Rafael, "tidak salah Ibra memberinya tanggung jawab Cyber pada dia,"
"Maaf nyonya... " ucap Aga dengan nafas ngos ngosan karena terburu-buru berlari.
__ADS_1
"Aku sudah meminta pak Aga menjaga abang El kan? kenapa dia sampai terluka seperti ini tanpa ada laporan padaku," tanyanya menginterogasi.
Aga mengamati seluruh tubuh tuanya yang sudah berlumur darah, "saya minta maaf nyonya, tuan Rafael bahkan berlari sangat cepat dari atas bukit untuk segera bisa melihat anda, saya tidak tau jika beliau berlari dengan luka sebanyak itu, saya minta maaf nyonya," ucap Aga penuh penyesalan, laki-laki itu bahkan menunduk dan tidak berani menatap Nadia.
"Abang kenapa berlari? kenapa berlari dengan..... " ucapnya terhenti karena sudah tidak sanggup lagi berbicara.
"Nadia dengerin abang, hey... lihat abang," ucap Rafael sembari menggerakkan kepala Nadia agar melihat padanya.
"Kita saudara, cuma kamu keluarga abang sekarang, abang nggak pengen dong adek abang berjuang sendirian di sini, yang ada di pikiran abang saat itu, cuma cepet balik ketemu lu sama para ponakan abang itu," ucap Rafael menenangkan.
"Tapi ini...Kak Luna, bisa minta tolong rawat abang El," ucapnya dengan tetap menatap Rafael dengan pasrah.
"Ibra mana? nggak keliatan dari tadi" tanya Rafael.
"Membersihkan sampah untuk abang dan kak Luna," jawab Nadia tegas.
"Nadia... "lirih Luna tidak percaya.
"Kak Luna bantu merawat bang El saja, mas Ibra akan mengurus mereka," ucapnya saat itu.
***
Ibrahim dan Sakti sudah berada di sebuah gedung yang masih dalam tahap pembangunan itu, aktifitas pembangunannya sengaja di hentikan sementara atas permintaan langsung dari Sakti.
Kakinya melangkah menuju lift transparan seperti pada tempat pembangunan pada umumnya.
"Kau menemukan mereka sendiri?" tanya Ibrahim.
"Orang-orang paman Louis menghadang mereka ketika mereka hendak keluar dari gedung rumah sakit,"
Ibra terus berjalan tanpa memberi komentar seperti biasa, hingga tampak dua orang sedang duduk saling membelakangi dengan tangan terikat.
"Tuan muda... " ucap beberapa orang yang saat ini tengah menunggu dokter William dan dokter Clarissa.
"Tu... tuan muda... '' ucap seseorang yang lain terbata.
Ibra mengangkat jari telunjuknya pada bibir, meminta mereka agar tidak bersuara, kemudian ia duduk di atas sebuah kursi lipat menghadap kedua orang yang masih belum sadarkan diri itu.
Ibra kemudian melihat ke layar ponselnya, ada sebuah pesan dengan banyak sekali stiker menangis di sana, yups, Nadia... istrinya itu bercerita tentang luka di seluruh tubuh Rafael dengan panjang lebar.
Ibra hanya tersenyum simpul melihat sikap istrinya itu, kemudian beralih menatap Sakti, "untuk pertama kalinya aku bahagia mendengar Rafael terluka," ucapnya.
"Apa ini bisa membuka kesempatannya untuk lebih dekat dengan Luna tuan muda?"
"Apa aku melepaskan mereka saja? mereka sudah membantu Rafael lebih dekat dengan Luna bukan?" ucap Ibra dengan sebuah senyuman aneh.
__ADS_1
"Apakah itu harga yang pantas membuat orang-orang kita menangis tuan muda? jika kita membiarkan mereka saat ini, kedepannya hal ini pasti akan terjadi lagi," ucap Sakti yang lebih keras kepala.
"Kayaknya kau lebih bernafsu untuk membunuh mereka," ucap Ibra kembali lagi fokus pada ponsel di tangannya.
"Mereka terlalu lelap tertidur tuan muda, apa perlu kita menyiram mereka dengan disinfektan hama?" tanya Sakti.
"Hah? janganlah terlalu kejam, hal ini juga berdampak baik bagi Rafael kita," ucap Ibra lagi.
"Apa anda sebaiknya pulang tuan, saya akan mengatasi mereka sendiri," ucap Sakti yang gemas dengan Ibra sejak tadi.
"Kau mengusir ku?" ucapnya.
"Anda terlalu baik tuan muda, dunia ini tidak cocok dengan kebaikan hati anda," jawab Sakti enteng seolah tidak takut sama sekali.
"Kau sudah berani melawan ku sekarang?" tanya Ibra lagi.
"Bukan melawan anda tuan muda, tapi Luna juga teman saya, seperti Rafael, saya juga tidak terima jika Luna di perlakuan seperti itu,"
"Tapi Rafael dan Luna tidak berteman, dia menyukainya, jadi kau tidak bisa menyamakan dirimu dengan Rafael,"
"Lalu apakah anda juga mencintai Luna?"
"Hey.... apa maksud perkataan mu itu, kau tau siapa yang ku cintai," ketus Ibra.
"Bukankah alasan anda berada di sini juga karena tidak terima Luna di perlakukan seperti itu,"
"Astaga, kau membuat perumpamaan yang ambigu Sakti, sudah cukup cukup, jangan banyak bicara lagi, lihat kan ? mereka jadi tertidur semakin pulas karena kau bercerita panjang lebar sejak tadi," ucap Ibra dengan runtutan kalimat panjang.
"Karena mu aku menjadi semakin kesal," ucapnya kemudian meletakkan ponsel nya di saku jas miliknya dan mengganti mengambil benda yang ada di dalam sana.
Dor dor
Sebuah tembakan melesat sempurna di kedua kaki dokter Clarissa dan dokter William, yang mana langsung membangunkan mereka berdua.
"Ah.... ah.... " teriak Clarissa yang tersadar lebih dulu setelah peluru Ibra mengenai kakinya.
"Akhirnya kalian bangun juga," senyum Ibra.
"Anda mengatai saya kejam karena hendak membangunkan mereka dengan disinfektan hama, tapi anda langsung menembak kaki mereka agar mereka bangun, saya menyerah, saya sudah tidak bisa berkata-kata lagi tuan muda,"
***
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.
Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe
__ADS_1
Salam sayang semua.