Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Masa Lalu


__ADS_3

Rafael Adiwijaya


Flashback On


Dor dor dor


Suara tembakan demi tembakan terdengar nyaring malam itu, satu persatu benteng pertahanan yang disiapkan oleh ayahnya berguguran ke lantai, darah sudah menyatu dengan lantai sejak gerbang depan rumahnya, laki-laki yang beranjak dewasa itu kini tengah berada di sebuah rumah besar dengan interior yang menakjubkan dengan sebuah pistol di tangan kanannya, rumah yang selalu ceria dan bahagia itu kini diliputi kegelapan .


"Larilah nak, selamatkan dirimu, apapun yang terjadi kau harus selamat, kau harus hidup." ucap wanita berusia empat puluhan dengan memegang bahu miliknya.


"No mom, kita harus bersama kita masih harus menunggu daddy, kenapa kita yang menjadi target mereka ?"


"Dengarkan mommy, ada mommy di sini yang menunggu daddy, pergilah sekarang ! keahlian, kecerdasan dan bakat yang kamu miliki yang mereka incar nak, pergi dan jangan menoleh ke belakang, jangan sampai mereka menemukanmu."


"Nggak akan mom, Rafa bakal tetap di sini dan jaga kalian, itu udah jadi tugas Rafael,"


"Rafael Adiwijaya !!!" teriak seorang pria paruh baya yang tengan berjalan ke arahnya dengan tubuh


penuh darah.


Dengan sangat cepat Rafael berlari dan bergerak menjemput ayahnya, perasaannya kini sunggu tidak menentu, antara marah, kesal, kecewa dan penyesalan menyatu jadi satu di dalam dirinya saat


ini, mata itu sudah tidak bisa lagi membendung genangan air yang berusaha keluar sejak tadi, butiran-butiran kristal bening mengalir deras di sela-sela bulu matanya, "Daddy......" suara serak keluar dari bibirnya, ternggorokannya tercekat seperti tertahan oleh sesuatu melihat keadaan orang yang sangat ia hormati terjatuh di tanah bersimbah darah.


"Pergi, cari tempat perlindungan yang aman, pergi !!" teriak laki-laki paruh baya itu dengan keras sembari mendorong tubuh Rafael yang berusaha mendekat ke arahnya.


"Kita sudah tidak memiliki waktu tuan muda, kita harus pergi sekarang, " ucap salah seorang sekertarisnya di perusahaan. Laki-laki itu menarik lengannya hendak membawanya pergi.


"Dad..." teriak Rafael yang tubuhnya kini di tarik paksa oleh seseorang.


"Pergi nak, cepat !!" ucap wanita kesayangannya itu.


Dor dor dor


"Mommm....." teriak Rafael membabi buta melihat beberapa tembakan mengenai tubuh ibunya..


"Per.....gi !!!!" teriak ibu Rafael dengan sisa-sisa kekuatan yang ada di tubuhnya.


"Kita harus cepat tuan muda, sudah tidak ada waktu, anda harus selamat," ucap laki-laki yang membawanya.


Dengan sedikit meronta Rafael berjalan menjauh, kakinya sungguh berat dan enggan untuk pergi, namun tubuhnya


di tarik paksa oleh seseorang sehingga membuat tubuhnya juga tidak berdaya, mata itu masih di banjiri dengan air mata melihat keadaan kedua orang tuanya.


Dor dor dor


Suara tembakan masih terdengar jelas sekalipun Rafael sudah berada di halaman belakang rumahnya, banyak sekali tubuh berjatuhan di sana. Kakinya sudah lemas setelah melihat peluru-peluru itu melesat masuk ke dalam tubuh orang tuanya, namun ia tetap berjalan karena ia masih harus hidup seperti keinginan  kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi sebenarnya, apa yang mereka inginkan hingga membantai keluargaku seperti ini ?" tanyanya pada laki-laki itu.


Dor dor dor


Ledakan itu tepat mengenai kepala laki-laki yang membawanya keluar rumah hari ini, dengan banyaknya peluru yang masih melesat tidak tentu arah ia berlari meninggalkan laki-laki itu dan berjalan sesuai instingnya, "Aku harus selamat dan mencari tahu semuanya, aku harus hidup,"


"Aww.." rintihnya ketika sebuah peluru melesat mulus mengenai lengan kirinya.


Dengan tidak memperdulikan rasa sakit di lengannya, Rafael masih terus berlari tidak tentu arah, benar-benar


hanya mengikuti insting saja karena beberapa orang yang masih berusaha mengejarnya. Hingga sebuah mobil berhenti di sampingnya.


"Masuklah," ucap salah seorang di dalamnya.


Sempat ragu awalnya, namun karena beberapa orang yang mengejarnya semakin mendekat, membuatnya mau tidak mau melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam mobil itu.


"Ibrahim Muhammad Attar, kau bisa memanggilku Ibra" ucap laki-laki yang duduk di sampingnya itu tak lama setelah ia menutup pintu mobil.


"Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai kalian dengan ,mudah," ucapnya penuh selidik.


"Sejak kamu masuk ke dalam mobil rongsokan ini kamu sudah membuat keputusan untuk mempercayai kami,


bukankah begitu ?" ucap laki-laki yang menyebut dirinya Ibrahim Muhammad Attar itu.


"Kenapa kalian menolongku ?" tanya Rafael.


Rafael mengerutkan keningnya, masih sedikit tidak faham dengan arah pembicaraan Ibra padanya, "orang-orang


itu, hidupku juga sempat di hancurkan olehnya,"


"Apa yang dia lakukan kepadamu ?"


"Dia nenekku, dia tidak ingin siapapun membuatnya tersaingi, itu salah satu alasan ia mencarimu, bahkan


sampai membunuh saudara kembarku Abraham, yang tak lain adalah cucunya sendiri." jelas Ibra dengan mata masih menatap ke depan.


Rafael menelan salivanya berkali-kali, seolah pernyataan yang baru saja diungkapkan Ibra adalah sesuatu


yang sangat sulit ia cerna, "Bagaimana mungkin ada seseorang yang tega membunuh cucunya sendiri ?" batinnya.


"Ikut denganku, kita akan menghancurkan mereka bersama-sama, aku berjanji akan mengembalikan semua yang


sejak awal menjadi milikmu," ucapnya.


"Aku masih mencoba, aku tidak mudah menerima," jawabnya singkat.


Flashback Off

__ADS_1


Rafael terlihat termenung di ruangannya sejak kejadian yang menimpa Nadia, pikirannya melalang buana hingga


pada saat kejadian pertemuan pertamanya dengan Ibra penyelamatnya. Rasa kecewa pada diri sendiri dan penyesalan bergelayut di hati dan pikirannya.


"Ibra benar-benar memberikan aku kedudukan dan menjadikanku sangat di hormati, bahkan ia memberiku


orang-orang yang sangat kompeten dan hanya aku yang bisa memerintah, aku bahkan tidak bisa memberinya apapun bahkan hanya menjaga istrinya saja tidak bisa Aisssh," ucapnya kesal sembari meremas ujung rambutnya.


"Gak usah kepikiran yang enggak-enggak, tuan muda nggak akan menyalahkanmu hanya karena ini, semuanya


juga sudah beres, ambil sisi positifnya saja," ucap Sakti yang baru datang dan kini bersandar di meja kerja miliknya.


"Aku hanya berharap Ibra bisa membuka hatinya untuk Nadia, dia sangat berhak bahagia dengan orang yang dia


cintai," ucapnya mengalihkan.


"Gak cuma tuan muda, tuan juga menginginkan kebahagiaan kita, jadi jangan pernah memiliki perasaan seperti ini


lagi,"


"Itu yang gue gak bisa terima bodoh," ucapnya mendorong kaki Sakti hingga membuat tubuh laki-laki itu


limbung.


"Ini baru El yang ku kenal," ucap Sakti kemudian.


"Lu udah ketemu Ibra ?"


"Kayaknya hubungan tuan muda dengan nona semakin baik, jangan mengganggunya."


Mata Rafael melotot campur bahagia mendengar ucapan sakti, " mereka sedang....." Rafael mengangkat


tangannya dengan jari membentuk huruf V dan menggerak-gerakannya, mata laki-laki itu kini sudah berbinar-binar seakan ada cahaya di sana.


"Sedang apa hah ?" tanya Ibra yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam ruanganya bersama Nadia.


 .


.


.


Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.


Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.


Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2