Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Modus


__ADS_3

Ibra masih menatap nanar ke sembarang arah, tanpa sepengetahuan Sakti dan Rafael ia sengaja diam-diam menyelidiki tentang Anna seorang diri, sama seperti Sakti dan Rafael, ia mengetahui semuanya tanpa terkecuali.


Ingatan Ibra melalang buana tidak pada tempat ia duduk saat ini, ia teringat pertemuannya dengan sosok yang selama ini ia cari beberapa tahun terakhir.


Flashback On


Ibra sengaja melangkahkan kakinya seorang diri ke dalam sebuah gang kecil, tanpa pengaman, tanpa pengawal dan tanpa mobil mewah miliknya, beberapa anak kecil berlarian mengenai tubuhnya, namun tetap tidak membuat laki-laki itu kehilangan fokus dengan sebuah alamat yang kini ada di genggaman tangannya.


"Ini sudah pasti rumahnya," ucapnya ketika sudah berhasil menemukan rumah yang ia cari.


Ibra masih ragu untuk mengetuk pintu pagar, tangan itu sudah beberapa kali di urungkan ketika hendak menyentuh pagar besi dingin di depannya.


"Huft," Ibra menghela nafas panjang kemudian tangannya bergerak menyentuh pagar besi di depannya.


Tok tok tok


Tok tok tok


Beberapa kali Ibra mengetuk pintu pagar besi itu, namun masih belum mendapat respon dari pemilik rumah.


Ibra menunggu lebih lama dari perkiraannya, sudah sepuluh menit ia berdiri di depan pagar besi itu, namun masih belum ada tanda-tanda seorang pun akan muncul.


"Siapa ?" hingga kemudian kepalanya mendongak ketika terdengar suara seseorang menyahut dari dalam. Tak lama pintu itu pun terbuka.


"Anda siapa?" tanya wanita yang hanya terlihat kepalanya saja dari pagar besi.


Sudut mata Ibra berkaca-kaca melihat sosok yang berdiri di depannya, perasaan aneh menjalar di seluruh tubuhnya, ia bisa mendengar suara ini lagi, suara yang selalu menyambut bahagia kedatangannya.


"Anda sedang mencari siapa pak ?" tanya wanita itu lagi karena tidak mendapat jawaban dari Ibra.


Jelas saja ia tidak dapat mengenali Ibra, laki-laki itu kini sedang memakai rambut pasangan dengan sebuah kaca mata dan tahi lalat lumayan besar di hidung sebelah kirinya.


"Ah, aku hanya sedang mencari sebuah alamat, aku berfikir rumah ini tempatnya, apa anda tau jl. xx nomor yy nona ?"


"Maaf Pak, saya juga pendatang baru di sini, jadi tidak terlalu faham dengan lingkungan ini juga," ucapnya lembut.


"Terimakasih, maaf sudah mengganggu waktu anda nona," senyum Ibra.


"Annaaaa, Annaaa....." terdengar suara laki-laki dari dalam rumah itu sedang berteriak. Tak lama, laki-laki itu muncul dengan membuka seluruh pintu pagar besi itu.


Laki-laki itu memiliki tinggi badan seperti laki-laki pada umumnya, bahkan kulit hitamnya benar-benar sangat exotis, memang tidak setampan Ibra, namun tidak bisa dikatakan jelek juga. Laki-laki itu memiliki pesonanya sendiri.


"Siapa dia ?"

__ADS_1


"Hanya seseorang yang sedang mencari alamat,"


"Masuklah, kita masih harus waspada dengan siapapun okee," ucap laki-laki itu dengan senyum kemudian keduanya menghilang di balik pintu pagar.


Ibra masih mematung di depan rumah itu, antara bahagia, kecewa, cemburu, marah dan syukur bercampur jadi satu, ia tidak bisa mendefinisikan bagaimana perasaannya saat ini.


Flashback Off


***


Ruangan Rafael


Rafael berusaha semaksimal mungkin mengajari Nadia dengan cepat, ia merasa tidak memiliki banyak waktu dan harus memberikan yang terbaik yang ia miliki untuk kemajuan Nadia kedepannya.


"Lu bikin apa ?" tanya Rafael pada Nadia yang sejak tadi fokus dengan layar komputer di hadapannya.


"Uhm, hanya sebuah pelacak jarak jauh bang," jawab Nadia yang masih terus menatap layar komputer itu.


"Pelacak ? udah biasa kan ? kenapa pengen bikin itu ? apa perbedaannya dengan milik orang lain ?" tanya Rafael lagi.


"Ini istimewa bang,"


"Istimewanya di ? gua masih nggak faham,"


"Kita semua udah pakai alat untuk melacak keberadaan satu sama lain," jelas Rafael.


"Pakai apa bang ?"


"Ponsel, punya lu pakai ponsel juga kan ?"


"Gimana kalo ponselnya low baterai ? mati juga ?"


"Iya lah,"


"Nah ini istimewanya, ponsel kalian nggak akan low baterai selama masih terhubung dengan sistem yang Nadia buat ini, jadi alat yang abang tanam akan selalu berguna, hehe," jelasnya kemudian.


"Alasannya lu bikin ini ? karena liat Ibra kehabisan baterai waktu pencarian Anna dulu ya ?" tanya Rafael serius.


"Yups betul," ucapnya senang.


"Nah jadi istimewanya, apa yang Nadia temukan ini masuk dalam kategori menyempurnakan sistem yang sudah abang tanam, bener kan?" ucapnya bangga dengan mengedipkan matanya.


"Halah lu mah cuma nempong nempong hasil karya gua, mau sok-sokan menyempurnakan," tambah Rafael di buat seketus mungkin.

__ADS_1


"wk wk wk," tawa Nadia membahana di seluruh ruangan Rafael.


"Tetap senyum kayak gitu, mau nanti Ada atau nggak ada Ibra di hidup lu, yang pasti lu harus bahagia," batin Rafael.


"Lanjutin dulu, jangan ketawa mulu, gua mau lu nanti presentasi juga ke Ibra dan Sakti,"


"Gampang itu bang, bisa di atur," ucap Nadia kembali fokus pada apa yang ia kerjakan.


Rafael masih mengotak-atik ponsel miliknya, ia menulis pesan pada beberapa orang yang ia andalkan.


"Cari sebuah rumah dengan view kota, bisa apartemen atau penthouse di tengah kota, harus bisa di tempati sebelum dua minggu," send.


"Akuisisi beberapa perusahaan yang berkembang di dunia game online, dan cari tau nilai pasar serta keuntungannya, kita akan bergerak di dunia game online setelah ini," send.


"Rafael," ucap Sakti yang baru saja masuk ke dalam ruangan Rafael yang tidak di tutup sebelumnya.


Rafael melihat ke arah Sakti yang saat ini berdiri di depannya tanpa menjawab ataupun membalas ucapan sahabatnya itu


"Kita ngobrol sebentar,"


"Ngomong aja,"


"Ini tentang bisnis, di ruangan tuan muda," ucapnya berbohong.


"Ibra yang nyuruh ?" tanyanya lagi.


Sakti terdiam, lebih tepatnya tidak bisa menjawab, "gua masih bantu dia buat versi sempurna alat lacak jarak jauh yang tertanam di ponsel kita,"


"Aku bisa sendiri bang, kalo abang sibuk pergi aja, Nadia santuy kok," tambahnya lagi dengan bola mata masih menatap layar komputer dan tidak menoleh pada mereka.


"Come on El,"


Karena tidak ingin Nadia curiga terlalu jauh dengan sikapnya, ia akhirnya menuruti ajakan Sakti dan mengikutinya, namun langkah kaki Sakti hanya berhenti di depan ruangan nya yang tepat berada di samping ruangan Ibra.


"Di ruangan lu ?" tanya Rafael.


"Iya," jawabnya singkat.


Tanpa menunggu di persilahkan oleh si empunya ruangan, Rafael langsung menghempaskan tubuhnya di sebuah sofa empuk berukuran panjang itu.


"Ada apa lu mau ngomong sama gua," ucapnya.


"Jangan pernah berfikir buat bawa nona muda pergi dari sisi tuan muda,"

__ADS_1


"Gua nggak pernah mikir kayak gitu, perasaan gua ke Nadia murni rasa sayang abang ke adik perempuannya, nggak modus kayak lu,"


__ADS_2