
Nadia belum juga keluar dari kamarnya setelah ia berpamitan untuk berganti baju, sedikit lama ia bingung di depan sebuah lemari yang sudah di isi penuh oleh Sakti yang tentunya atas perintah Ibra dengan baju-baju Nadia.
"Aishh semua baju ini bukan style ku, seperti nya aku nggak pantas juga pakai pakaian mahal ini, Ahh bingung bingung," gerutunya tidak percaya diri.
"Gacilll cepatlah, sampai kapan kau mau membuatku menunggu hah?" teriak Ibra yang mulai tidak sabar menunggu Nadia terlalu lama, padahal Nadia baru saja masuk ke dalam kamar tidak sampai lima menit.
"Iya om," jawabnya tak kalah berteriak, kemudian gadis itu mengambil baju sekenanya, memilih pun semakin membuatnya bingung pikirnya.
Setelah menata rambut sekedarnya ia langsung berlari keluar menyusul Ibra yang sejak tadi menunggunya.
Laki-laki itu seperti biasa, berdiri di apit oleh dua pengawal setianya, ketiganya menatap pintu menunggu kedatangan Nadia.
"Aku harus menunggu lama hanya untuk melihat penampilanmu seperti ini hah ?" teriak Ibra kesal kemudian berbalik dan membuka pintu mobil.
"Hos hos hos," helaan nafas Nadia terdengar berat.
"Cepat masuk, kau masih mau menungguku," teriak Ibra lagi dari dalam mobil.
"Iya iya om, marah-marah mulu," ucapnya kemudian masuk ke dalam mobil.
Semuanya sudah masuk ke dalam mobil, "Kenapa ikut masuk juga ?" tanya Ibra pada Rafael setelah masuk kedalam mobil tepat di sebelah Sakti.
"Males nyetir,"
"Bilang aja nggak mau keluar duit buat beli bensin kan," ucap Sakti kemudian dengan mengendarai mobil yang mulai keluar dari halaman rumah.
"Lu kira gua nggak mampu buat beli bensin, semua kura-kura lu gua beli juga gua mampu,"
"Halah omong doang," tambah Sakti.
"Wah nggak percaya nih bocah, lu mau bukti apa hah ?" ucap Rafael tidak terima.
"Emang berapa semua harga kura-kura bang Sakti ?" tanya Nadia polos.
"Tergantung nona, ada banyak jenisnya, kalau sulcata normal yang masih bayi bisa 1.5 juta sampai 3 juta," jelas Sakti.
Mata Nadia melotot tidak percaya dengan perkataan Sakti yang menurutnya tidak masuk akal itu, pasalnya dia tau sendiri berapa bayi kura-kura yang sudah lahir maraton beberapa hari ini, ditambah bayi-bayi itu masih sangat kecil.
__ADS_1
"Bukannya abang punya ratusan kura-kura mini yang masih bayi, banyak banget dong,"
"Dia punya dua ratus empat puluh tujuh ekor yang baru saja menetas dari telurnya, itu hanya yang normal, belum Albino, Ivory, Indian Star dan Aldabra yang sudah bertahun-tahun lalu ia pelihara di rumahnya sendiri, dan sudah pasti harganya juga akan jauh lebih mahal karena ukurannya sudah semakin besar, jadi jangan pernah ngebayangin berapa banyak uang yang ia dapatkan ketika ia sudah bertekad untuk menjual semua kura-kura yang membuatmu sakit kepala itu," jelas Ibra yang tidak biasanya berbicara panjang lebar.
Nadia hanya bisa melongo dan semakin tidak percaya, "tunggu-tunggu, tadi bang El bilang mampu beli, berarti bang El kaya banget dong,"
"Rafael, udah pasti milyader dong," pluk pluk pluk, laki-laki itu menepuk dadanya dengan bangga.
"Kalau kalian sekaya itu, kenapa masih ikut om Ibra ? bukannya jadi bos lebih seru," tanya Nadia kepo.
"Ibra my Everything,"
"Tuan number one,"
"Kok jadi geli dengernya," ucap Ibra bergidik secara reflek setelah mendengar pembicaraan mereka.
"Hahahaha," tawa mereka serentak memenuhi seluruh mobil.
"Nggak dijual aja bang ?" tanya Nadia lagi.
"Wah wah, penghinaan ini namanya Ibra, di mau hidupin lu loh, wah wah lu kira gua sama Ibra nggak bisa hidupin dirinya sendiri,"
"Kau masih selalu meminta makan pada istriku,"
"Eh iya ya, ha ha ha,"
"Setelah beberapa bulan bersama mereka, aku baru sadar jika hal-hal seperti ini sangat berharga, inilah cara mereka saling menyayangi satu sama lain," senyum Nadia.
***
Mobil yang di kendarai oleh Sakti sudah sampai di perusahaan, biasanya Ibra hanya datang satu mobil dengan Sakti dan Rafael akan membawa mobil sendiri, tapi khusus jika bepergian bersama Nadia ia akan berada satu mobil bersama.
Saat ini Rafael dan Sakti sudah keluar dari mobil terlebih dahulu, kemudian mereka sudah berdiri di samping mobil menunggu beberapa petugas keamanan membuka pintu mobil untuk Ibra dan Nadia.
"Jangan membuatku malu seperti dulu, dan bersikap seperti pasangan suami istri pada umumnya,"
"Kita selalu bersikap seperti pasangan suami istri om," jawab Nadia.
__ADS_1
Ibra terdiam menatap Nadia, "coba bersikap seperti pasangan suami istri pada umumnya ketika di kamar juga, ketika kamu sudah melakukannya maka kita sudah seperti pasangan suami istri sungguhan," goda Ibra dengan berbisik pelan di telinganya Nadia.
Hembusan pelan nafas Ibra menerpa daun telinganya, membuat bulunya merinding dan sedikit merasakan sensasi aneh di tubuhnya hingga kemudian ia tersadar, "Om, jangan nakal !!" teriaknya kemudian.
"Ha ha ha ha, mukamu merah," ucap Ibra dengan tawa tanpa henti.
Beberapa petugas sudah bersiap hendak membuka pintu mobil Ibra, namun tangan Ibra terlihat ke atas untuk memberikan kode agar menunggunya sebentar.
Ibra terlebih dahulu menyiapkan wibawanya sebelum menghadapi beberapa karyawan yang kini sudah menunggu di depan sana, sangat lucu bukan jika para karyawan itu tau dia tertawa seperti itu.
"Silahkan tuan muda," ucap salah seorang petugas ketika Ibra sudah menurunkan tangannya.
Tak lama Ibra turun dari mobil, kemudian di susul oleh Nadia, Ibra dengan hati-hati membantu Nadia keluar dari dalam mobil kemudian menggenggam tangan gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu.
"Selamat pagi tuan dan nona muda," ucap mereka serentak setelah Ibra dan Nadia sudah mulai melangkah di depan mereka.
Nadia tanpa sengaja memakai dress yang senada dengan kemeja yang di kenakan oleh Ibra, dengan tubuh kecilnya ia menggunakan sepatu yang sedikit tinggi agar tidak terpaut jauh tingginya dengan Ibra.
Keduanya terlihat serasi, tubuhnya memang tidak seproporsional para model dan artis yang berada di bawah naungan perusahaan Ibra, namun kulit bersih dan wajah imut manisnya yang membuat dirinya serasi dengan wajah tampan dan sempurna milik Ibra.
"Istri CEO kita terlihat berbeda kali ini, dia sangat serasi dan cocok bersanding dengan pak Ibra,"
"Sekarang aja lu pada ngomong gitu, dulu aja lu bully,"
"Siapa sekarang yang berani bully istri bos gaes, lu tau nggak kabar semua orang yang udah di pecat waktu itu, mereka benar-benar nggak dapat pekerjaan lagi sampai sekarang," jelasnya.
"Duh udah yuk, mending kita kerja aja dari pada rumpi yang malah bikin kita kehilangan pekerjaan, mendadak merinding gua," ucap sekumpulan orang yang kemudian berpisah karena takut ada sesuatu yang buruk yang akan mengancam mereka jika bicara terlalu jauh.
Keempat orang itu saat ini sudah berada di dalam lift, Ibra masih setia menggandeng tangan Nadia meskipun sudah tidak ada orang yang mengawasi mereka.
Ting, pintu lift terbuka.
Ibra dan Nadia keluar dari lift terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh Sakti dan Rafael seperti biasa.
"Ibra, Honey... " ucap salah seorang perempuan yang tiba-tiba datang entah dari mana dan sudah menyeruduk tubuh Ibra hingga membuat tautan tangan Ibra dan Nadia terlepas.
"Ada lagi satu ulat bulu,"
__ADS_1