
Nadia memutuskan menunggu Ibra di bawah, rasanya ia tidak akan kuat mendengar topik pembicaraan mereka berdua, entah kenapa ada sedikit perasaan aneh menjalar di hatinya.
Gadis itu menunggu sambil memainkan handphone miliknya, meskipun pikirannya sedang berjalan entah kemana, dia sedang tidak fokus saat ini.
Ibra yang sudah tampak gagah dan rapi memakai setelan jas berwarna navy berjalan menuruni anak tangga dengan Sakti yang juga berjalan di belakangnya, melihat Nadia sudah duduk manis menunggunya di anak tangga paling bawah membuat sedikit raut muka Ibra berubah, ya laki-laki itu tersenyum meskipun tidak terlihat jelas. Apa yang ada di pikirannya saat ini ? hanya Ibra yang tau.
Ibra berjalan semakin pelan mendekati Nadia, hingga "pletakkkkkk"
"Awww om sakitt," ucap Nadia yang langsung membalikkan badan menatap Ibra yang wajahnya masih tetap tanpa dosa, berbeda dengan Sakti yang sudah tidak kuat menahan tawanya karena ekspresi Nadia.
"Itu ada sofa buat duduk, ngapain duduk di sini kayak pengemis," ucap Ibra yang tetap tidak memperdulikan rengekan Nadia.
"Om selalu mengata-ngatai ku, hiiiii" ucap Nadia gemas sambil mengepalkan tangannya dan meninju angin ke arah tubuh Ibra.
Laki-laki itu hanya berjalan mendekati mobilnya, kemudian menoleh ke arah Nadia, "kau ikut aku atau mau ku tinggal ?" teriak Ibra.
"Ishh dasar om om ngeselin," dengus Nadia sambil masih menggosok kepalanya.
"Cepat masuk, kau semakin cerewet saja," ucap Ibra yang sudah berada di dalam mobil.
Tanpa mereka sadari beberapa pelayan sedang melihat mereka bertiga di balik tanaman dan tiang tiang penyangga rumah, "Tuan muda dan nona terlihat sangat lucu," ucap salah seorang pelayan.
"Benar, mereka sangat serasi dan selalu bertengkar," tambah pelayan yang lain.
"Tuan muda benar-benar sangat tampan, nona juga sangat cantik dan natural, benar-benar pasangan yang cucok meong" ucap pelayan yang lain dengan gemas.
Mereka masih tetap membicarakan Ibra dan Nadia sama mobil yang di kendarai Sakti keluar dari halaman.
"Sejak kapan ada orang yang berani membicarakan tuan muda di rumah ini," tanya bibi Audrey kepada pelayan dengan nada tak suka.
***
__ADS_1
Di dalam Mobil Ibra
Seperti biasa mobil itu di kendarai oleh Sakti dengan tuan dan nona muda duduk di kursi belakang, awalnya tidak ada pembicaraan pagi itu seperti pagi-pagi biasanya, namun sesuatu mulai terasa berbeda ketika Sakti mempercepat gerakan mobilnya hingga membuat Ibra dan Nadia hampir terpentuk jok kursi mobil bagian depan.
"Kenapa kau mempercepat mobilnya, kau mau membuatku mati ?" bentak Ibra.
"Lihat ke arah spion tuan muda, ada mobil yang mengikuti kita sejak kita keluar dari rumah, " jelas Sakti yang masih fokus untuk mempercepat mobilnya.
Ada dua mobil jeep berukuran besar sedang mengikuti mereka, beberapa kali Sakti kehilangan kendali atas mobil karena sudah berhasil di retas oleh mereka, terbukti kedua mobil itu semakin ugal-ugalan mengejarnya ketika jarak di antara mobil mereka terpaut jauh.
Nadia yang juga melihat ke arah spion dengan cepat tanggap dengan apa yang terjadi, "om jika mobil ini rusak apa om akan marah ?" tanya Nadia.
"Apa maksud mu gadis kecil ?" tanya Ibra dengan sedikit tekanan.
"Nadia tau cara untuk lepas dari kejaran mereka, tapi mungkin mobil ini akan sedikit hancur," ucap Nadia dengan menggerakkan tangannya seperti seorang guru yang menjelaskan kepada siswa taman anak-anak.
"Cepat katakan nona, kita sudah tidak punya banyak waktu, semakin dekat dengan mobil kita mereka mampu menyadap dan mengendalikan mobil ini, satu-satunya cara kita harus mencari jalan untuk lepas dari kejaran mereka," jelas Sakti terburu-buru.
Nadia masih memandang Ibra meminta persetujuan, tak lama Ibra menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Pak Sakti tetap lurus, nanti akan ada jalan kecil di kiri jalan, kurang lebih 500 meter lagi dari sini, di sana ada gang kecil ukurannya kurang lebih sama dengan lebar mobil ini,,,," ucap Nadia.
"Kau gila ? kau mau meledakkan kita semua ?" bentak Sakti lagi dengan tatapan lebih horor dari sebelumnya.
"Percaya padaku om, Nadia gak mungkin membahayakan nyaman Nadia sendiri, " ucap Nadia meyakinkan.
"Sudah nona, saya harus ke arah mana," tanya Sakti lagi karena ia sudah berada di jalan sempit yang di tunjukkan Nadia. Jalan itu tidak hanya sempit, namun juga tidak terawat banyak tumpukan sampah yang beberapa kali di tabrak dan di lindas oleh mobil Sakti.
"Ikuti jalan pak Sakti, kedua mobil jeep itu tidak akan muat masuk di gang ini tapi kita tetap tidak bisa memperlambat kecepatan, di sana ada sebuah jalan menuju hutan kita bisa menerobos lewat sana," jelas Nadia.
Sakti hanya mengikuti petunjuk dan arahan Nadia.
__ADS_1
Srakkkk sreeettt sreeettt
Suara gesekan gerakan antara dinding gang dan mobil itu terdengar sangat jelas di telinga. Namun tidak ada yang mengeluh sama sekali, Ibra tetap duduk di atas kursinya dengan diam, tidak terlihat sedikitpun kegelisahan dan kekhawatiran di matanya.
Laki-laki itu memainkan gadget miliknya dengan santai, sesekali muncul mimik serius di wajah tampannya namun beberapa saat terlihat senyum simpul di bibirnya.
Duarrrrr
Suara ledakan terdengar nyaring di telinga mereka bertiga, tidak hanya satu, ledakan itu terdengar hingga dua kali, Nadia yang mendengarnya menjerit ketakutan karena kaget.
Tidak seperti sebelumnya yang terlihat santai dan biasa saja, kali ini Nadia benar-benar takut, bayangan mobil meledak terlintas di fikirannya, meskipun ia sendiri tidak tau suara apa yang barusan ia dengar, yang ada di fikiran nya hanya itu.
"Jangan terburu-buru Sakti, kau membuatku tampak tidak elegan sama sekali," ucap Ibra yang kemudian memasukkan gadget yang sedari tadi di pegang nya ke dalam saku jas miliknya di bagian dalam.
Nadia seketika melihat ke arah Ibra dengan bingung, bagaimana dia bisa begitu tenang setelah mendengar suara ledakan itu. Batin Nadia dengan masih menatap wajah tampan Ibra yang tetap saja datar tanpa ekspresi.
Sakti yang sudah faham maksud tuannya segera melambatkan kecepatan mobilnya dan berkendara dengan tenang. Mobil itu sudah masuk ke dalam area hutan yang di maksud oleh Nadia.
"Kita harus ke arah mana nona muda," tanya Sakti pada Nadia.
Namun Nadia hanya diam dengan masih menatap Ibra, "Nona kita harus ke arah mana ?" tanya Sakti lagi.
"Om yang meledakkan mobil mereka kan?" tanya Nadia serius.
.
.
.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.