Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Andai


__ADS_3

"Aku ingin minum teh itu lagi, aku akan mandi dulu," ucapnya kemudian berbalik dan pergi menyisakan gurat aneh di wajah Sakti.


"Tuan muda mau minum Chamomile ?"


Rafael melotot setelah mendengar ucapan Sakti, " Chamomile ? Ibra ?"


"Siapa dulu bang ? Nadia," ucapnya bangga.


"Cepat buatin dulu dia dek, jarang-jarang dia mau minum Chamomile tanpa drama kan, sebelum tuh orang berbah pikiran wk wk wk," ucap Rafael senang.


"Siap bang," ucapnya.


Sangat jelas sekali di ingatan Rafael ketika Ibra benar-benar mual ketika hanya mencium aroma teh chamomile, ia bahkan sangat marah hanya jika ada seseorang yang mendekat ke arahnya dengan di tempeli aroma itu, tak hanya itu kadar kemarahan Ibra akan meningkat tajam bahkan bisa dia berhari-hari ketika sudah berhubungan dengan teh itu.


"Uhm nona," dehem Sakti membuyarkan lamunan Rafael yang kini juga turut mendengarkan kelanjutan pembicaraan Sakti dan Nadia dengan serius.


"Kenapa bang ?" tanya Nadia dengan tangan menumbuk.


"Saya hanya ingin minta tolong kepada anda nona," ucapnya


"Apa ?" ucap Nadia mengangkat wajahnya dan mulai memperhatikan Sakti.


"Kenapa wajah bang Sakti jadi tegang gitu, kayak mau lamar anak orang aja, hi hi hi," senyum Nadia dalam hati.


"Masalah hari ini nona,"


"Iya kenapa bang ?" tanya Nadia lagi.


"Tolong untuk tidak pernah membahasnya, apalagi menanyakannya," jelas Sakti.


Kening Nadia berkerut, "mereka berdua sangat menyayangi om Ibra, jika hanya karena uang mereka tidak mungkin menjaga perasaan om Ibra sampai seperti ini," 


*"*Don't worry bang\, nggak ada yang terjadi hari ini kan\, yang penting sekarang gimana kita bisa menjalani hidup ini lebih baik kedepannya\, mengisi memori yang buruk itu dengan memori baru yang lebih indah\, lagi pula waktuku sudah tidak sampai satu tahun sekarang\, jadi ayo buat kenangan indah selama kita berempat masih bisa bareng kayak gini\," jawab Nadia kemudian.


"Selama ini tuan muda memang hanya mengisi waktunya untuk bekerja-bekerja dan bekerja, yang ada di pikiran beliau hanya bagaimana cara menjadi sukses dan bisa menyelamatkan nona Anna hingga lupa dengan ketenangan dan kebahagiaan dirinya sendiri, beliau tidak pernah menimpa kenangan-kenangan indah dengan nona Anna dengan sesuatu yang baru yang lebih membahagiakan, mungkin itu yang membuat tuan muda semakin depresi dari hari ke hari."

__ADS_1


"Gila nih bocah delapan belas tahun tapi bisa mikir kayak gini, bener-bener nggak sia-sia hidupnya selama ini,"


***


Beberapa bulan sudah berlalu, tidak ada yang membahas apalagi menanyakan masalah ini di media, bahkan Cyber juga bungkam setelah mendapat perintah dari Sakti.


Sejak malam itu Ibra selalu mengkonsumsi Teh Chamomile versi Nadia hampir setiap hari, ia bahkan akan kesulitan tidur jika belum meminumnya, rasanya sudah seperti candu yang enggan ia lewatkan setiap hari.


Rumah kecil yang dipilih Nadia hari itu sungguh menjadi rumah yang resmi di tinggali oleh Ibra, Sakti dan juga Rafael, mereka tidak ingin beranjak dari rumah itu bahkan ketika masing-masing dari mereka memiliki rumah yang sepuluh kali lipat lebih besar dari pada rumah ini.


"Bang, kenapa semuanya malah di pindah kesini ?" tanya Nadia bingung ketika melihat beberapa alat elektronik yang terlihat sangat canggih memasuki pintu rumahnya tanpa henti, hari ini sudah banyak sekali barang yang dimasukkan ke dalam rumahnya, dan semuanya adalah alat tempur milik Rafael.


"Gua butuh alat-alat ini buat ngasah kemampuan gue, biar nggak mandek di jalan kayak motor butut nggak di kasih oli, keren semua kan ? gua nanti ajarin lu juga,"


"Loh, bentar-bentar bang, ini bukan masalah bantu bantuan abang El, tapi semua sudut rumah ini sudah penuh dengan barang-barang kalian bertiga, mau di taruh mana ini semua,"


"Kamar abang dong," jawabnya cepat tanpa dosa.


"Hah ? muat ? mau di taruh sebelah mana ?" tanya Nadia melongo, pasalnya ia sangat tau luas kamar yang di tempati Rafael, karena setiap hari ialah yang membersihkan setiap sudut rumah ini. Entah kenapa ia tidak bisa mempercayakannya ke pembantu rumah tangga, padahal Ibra sudah berkali-kali menawarkannya.


"Tapi gimana Nadia bisa belajar kalo kayak gini ceritanya om, Nadia mau belajar dimana ? semua udah penuh sama perabot mereka, termasuk punya om juga" ucap Nadia sedih.


"Kan bisa di taman belakang sih dek, udah ada lampunya kan" tambah Rafael,


"Semua udah penuh sama kura-kura dan para baby kura-kura milik bang Sakti, lagian lampunya juga buat kura-kura," ucap Nadia lagi.


Semua orang seketika langsung menoleh ke arah Sakti setelah mendengar pernyataan Nadia, pasalnya Sakti sejak awal memang sangat menyukai kura-kura, sudah ratusan ekor kura-kura bayi yang ada di taman belakang saat ini, ini juga yang menyebabkan Ibra berolahraga di dalam ruangan dan membeli alat-alat gym untuk ia pakai di dalam rumah ini. Alhasil beginilah hasilnya, bahkan sudah tidak ada tempat di rumah ini untuk menaruh beberapa barang lagi, namun Rafael tetap bersikeras untuk memindahkan barangnya juga.


"Hehe, saya minta maaf nona," ucap Sakti  meringis sembari menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Yaudahlah Nadia nanti belajar di luar aja boleh ya om, sekalian biar bisa jajan he he,"


"Nggak boleh," jawab Ibra singkat.


"Om, boleh dong, kan yang menuhin rumah Nadia kalian juga,"

__ADS_1


"Gak ada Nadia, kamu tuh udah jadi artis sekarang, siapa di negara ini yang nggak kenal sama kamu hah ?"


"Om,,,"


"Gak boleh, sekali nggak boleh tetep nggak boleh," bentaknya.


"Panggil sebanyak mungkin arsitek untuk merenovasi rumah ini, aku ingin selesai dalam waktu empat hari berapapun biayanya," ucapnya kemudian.


"Baik tuan muda,"


"Aku bisa ngasih apapun yang kamu mau, semua yang kamu butuhkan, tapi tetap di rumah ini," tegas Ibra kemudian berlalu.


Nadia hendak bicara, namun pergelangan tangannya di tarik oleh seseorang, Nadia menoleh ke arah Rafael yang tadi menarik pergelangan tangannya, Rafael terlihat mendekatkan jari telunjuk di depan bibirnya seolah memberi isyarat, "udah cukup nggak usah bantah Ibra lagi,"


"Ada sebuah ruangan yang lu nggak tau di kamar gue, ini cukup kok, bisa masuk semua" ucap Rafael.


"Anda ingin makan jajanan apa nona, akan saya pesankan," tanya Sakti.


"Aku hanya ingin cilok dan batagor bang, cabenya dikit aja ya," ucapnya dengan gaya imut karena senang.


"Baik nona, anda hanya perlu belajar setelah ini, saya pergi dulu,"


"Heh lu nggak nanyain gua hah ? heh main pergi aja lu dasar,"


"Hati-hati bang," teriak Nadia.


"Dek," ucap Rafael sepeninggal Sakti.


"Hm, kenapa bang ?"


"Ibra nggak ngasih lu keluar karena dia tau di luar sana nggak aman buat lu sendirian, dia udah banyak kehilangan, mungkin aja dia nggak ingin kehilangan orang-orang di sekelilingnya lagi," jelas Rafael yang hanya di balas anggukan kepala oleh Nadia.


Pasalnya setelah kejadian malam itu, Nadia benar-benar tidak di beri izin oleh Ibra keluar dari rumah, bahkan hanya untuk membeli barang-barang dapur, ia harus mencatat semua hal yang di butuhkan dan memberikannya pada bibi Audrey.


"Andai yang di katakan bang El bener, pasti seneng banget,"

__ADS_1


__ADS_2