
Malam semua pembaca kesayangan author.
Author minta maaf kemaren belum bisa update karena sedang ada acara keluarga di luar kota.
Selamat membaca.
***
Ibra hendak masuk kedalam mobil dengan pintu di sisi mobil yang lain, "Tuan Ibrahim... " sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Urus saja Sakti, aku juga lelah menunggu, ini sudah larut," itu adalah ucapan yang terbaca oleh Sakti dari tatapan mata Ibra.
Ibra yang sudah berada di sisi pintu dengan sudah memasukkan satu kakinya ke dalam mobil bahkan justru tidak menoleh sedikitpun untuk mengetahui orang yang memanggilnya saat itu.
"Anda tidak ingin melihatnya lebih dulu tuan muda?" tanya Sakti memastikan sekali lagi.
"Iya, jika masih ingin melakukan kerjasama dengan Delta, maka dia harus melakukan prosedur kerjasama mulai dari awal lagi, kesan pertama ku dengannya sudah tidak baik," ucapnya yang tidak mempedulikan orang tersebut mendengarnya.
"Baik tuan, ini kunci mobilnya, tolong berkendara dengan aman tuan muda," ucap Sakti sedikit khawatir ketika harus memberikan kunci mobil pada tuan mudanya.
"Tentu saja," ucapnya dengan yakin.
Ibrahim segera masuk ke pintu pengemudi, membiarkan Nadia tetap tertidur pulas di jok kursi bagian belakang.
Laki-laki itu membawa mobil segera setelah mesin mobil menyala, "Hati-hati tuan muda," ucap Sakti yang mungkin hanya terdengar oleh angin karena saking liriknya.
"Tuan Sakti... saya minta maaf... "
Sakti teringat akan sosok orang di belakangnya ini, "kita bisa bicarakan di dalam," ucapnya dengan tenang namun tetap mendominasi.
***
Nadia masih tertidur lelap, gadis itu tidak terbangun sama sekali bahkan ketika Ibra menggendongnya turun dari mobil dan memindahkannya ke ranjang.
"Nadia ketiduran?" sapa Rafael ketika tidak sengaja melihat Ibra masuk ke dalam kamar dengan Nadia berada di dalam gendongannya.
__ADS_1
"Iya, uhm El tolong panggil Luna," ucap Ibra kemudian.
"Oke," ucapnya santai dan melenggang pergi begitu saja tanpa banyak kata lagi
Ibra masih memperhatikan wajah Nadia yang polos saat tertidur, perempuan di depannya ini memang sejak awal tidak menarik secara fisik, sangat jauh dari ekspektasi dan kriteria calon istri yang ia inginkan.
Namun kembali lagi, hanya sosok ini yang membuatnya merasa nyaman, merasa menjadi seorang pria seutuhnya dengan semua perlakuan baik dan tulus yang di tujukan Nadia kepadanya.
Kadang ia merasa malu, sejak awal sudah membuat gadis belia yang masih berusia belasan tahun kesulitan dengan semua sikap nya, "dia masih belum genap dua puluh tahun bahkan sampai hari ini, tapi kedewasaan di balik sikap polosnya selalu mencengangkan,"
"Tetap menjadi gadis kecilku Nadia," bisik Ibra pelan tepat di telinga Nadia yang mana membuat tubuh Nadia bergerak pelan karena merasa terganggu.
"Kenapa Ibra?" tanya Luna bersama Rafael dengan sebuah snack ciki ciki an di tangannya.
''Tolong periksa Nadia, dia selalu mengikuti kemanapun aku pergi sampai hari ini, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengannya atau dengan bayi yang ada di dalam kandungannya," jelas Ibra.
"Dia masih tidur, eh tunggu tunggu....," ucapnya terhenti.
"Nggak masalah kan, apa bedanya dia tidur dan bangun?" ucapnya lagi.
Rafael yang saat itu sedang memenuhi mulutnya dengan snack ciki cikian itu kini juga mulai berfikir, mengingat kembali ucapan Ibra saat meminta bantuannya tadi.
"Iya, uhm El tolong panggil Luna," ucapan Ibra itu berulang-ulang kembali berputar di kepalanya.
"Iya, sejak kapan lu pake tolong, biasanya El.. kerjakan ini, El panggilkan ini, El datang ke ruangan ku sekarang!!! " ucap Rafael menirukan gaya Ibra ketika berbicara.
Ibra menghela nafas, "jadi mau memeriksanya atau tidak? kalian berdua terlalu banyak bicara," ucap Ibra kemudian.
Rafael dan Luna terdiam, "cih, ternyata dia tetap tidak sabaran," ucap Luna kemudian.
Perempuan yang selalu tampil cantik dengan gaya busana anggun itu kemudian melangkah mendekati Nadia yang sudah mulai tidak nyenyak tidur karena suara berisik di sekitarnya.
Namun dengan telaten, Ibra mengelus lembut rambut kepala sembari menepuk lembut lengan istri kecilnya itu agar kembali merasa nyaman.
Mendapat perlakuan itu Nadia segera memeluk tubuh suaminya mencari posisi ternyaman untuknya tidur.
__ADS_1
"Kenapa dia bertingkah seperti kucing, bagaimana bisa dia kembali tertidur dengan nyenyak begitu Ibra mengelus kepalanya, bocah ini bahkan tidak harus menjaga image agar tetap cantik meskipun dalam keadaan tidur, tidak seperti semua wanita yang sudah biasa tidur bersamaku," batinnya.
"Kenapa kau melihat istriku seperti itu," ucap Ibra dengan kesal menatap sengit pada Rafael.
"Gua cuma lihat dia, kenapa lu yang sewot sih, astaga pak mil, lu beneran semakin sensitif abis bangun, gua pergi lah kalo gitu, emosi lu rada-rada," ucap Rafael yang langsung pergi begitu menyelesaikan ucapannya.
"Nggak usah terlalu peduli dia apa yang dia lihat dan ucapkan Ibra, kayak nggak faham sama Rafael aja, dia hanya belum menemukan sosok seperti Nadia di diri perempuan lain yang biasa ia temui,"
"Cih, selama aku pergi bahkan istriku di anggap sebagai simpanannya, bagaimana aku bisa percaya dia tidak punya perasaan apapun padanya," tambahnya kemudian.
"Orang normal pun pasti akan punya pikiran yang sama lah, coba bayangin misal ada yang membuntuti salah satu dari mereka berdua, Rafael dan Nadia tinggal serumah, dan Rafael hanya memperhatikan Nadia ketika di perusahaan, baik dalam sebuah rapat atau dalam hal apapun, pastilah ada pikiran buruk, itu manusiawi," jelas Luna yang sudah membereskan semua peralatan medis yang baru saja ia gunakan untuk melakukan pemeriksaan pada Nadia.
"Bagaimana?" tanya Ibra.
"Sudah tidak ada masalah apapun, ibu dan bayinya sehat, meskipun kelelahan, tapi Nadia kuat, tetap minum vitamin dan susu yang sudah di berikan, dua minggu lagi jadwal kontrol berikutnya," ucapnya yang sudah bersiap pergi.
"Oke lun, thanks ya," ucapnya
"Oke," ucap Luna yang sudah berjalan di ambang pintu.
"Ah... " tambah Luna yang kembali berbalik menatap Ibra.
"Ada apa?" tanyanya lagi.
"Di usia kandungan dan kondisinya sekarang, tidak masalah jika kalian melakukannya, mungkin kau ingin bertemu anak yang ada di dalam sana, tapi ingat, lakukan perlahan, jangan sampai mengganggu dan mengagetkan si utun oke," jelas Luna kemudian pergi tanpa menunggu respon Ibra.
Melihat pintu yang sudah tertutup sempurna, mengalikan Ibra untuk segera menatap Nadia, "aku akan mandi terlebih dahulu, biarkan dia tidur sampai aku selesai mandi baru aku akan menemui si utun," ucapnya senang.
Namun sayang, Nadia tidak melepaskan Ibra bahkan untuk berdiri, Ibra sudah berusaha melepaskan diri namun tetap tidak bisa juga, sebuah seringai muncul di bibir Ibra, "Nadia kau sudah bangun?"
"Sudah boleh kan? jadi jangan pergi," ucapnya.
Gadis itu dengan nakalnya bahkan langsung membuka kancing kemeja Ibra, "kau tidak ingin aku mandi terlebih dulu?" tanya Ibra.
"Nanti kita akan mandi bersama," ucap Nadia lagi yang mana membuat Ibra segera ... (tittttt)
__ADS_1