Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Hanya Ibra


__ADS_3

Tidak semudah itu ferguso hahaha," ucap Rafael membahana di ruangan tersebut.


"Kemari dan tangkap kami," teriak Rafael.


Rafael dan Sakti sedang berdiri saling memunggungi bersiap melawan semua orang yang saat ini sudah memutari mereka berdua, tapi bukan Rafael jika tidak mempersiapkan semua dengan matang, ia tidak datang sendiri ke tempat ini, beberapa orang nya sudah stand by di beberapa titik strategis yang sudah di pilih, terlebih dengan kamera yang terletak di tindik telinganya, sehingga membuat semua orang-orang nya bergerak dengan cepat.


Hanya selang beberapa menit saja seluruh pasukan yang di utus Delta Internasional sudah rubuh ke lantai, saat ini pemimpin mereka bahkan sudah ada di bawah telapak kaki Rafael dalam kondisi terluka cukup parah.


"Mulai sekarang jangan pernah meremehkan kami,


Ibra diam karena dia masih menghormati nyonya kalian sebagai neneknya, kali ini dia udah nggak bisa mentolerir tindakan seperti ini lagi, Ibra bukan orang yang bisa kalian sentuh dengan mudah, jadi berhenti mendekatinya,"


"Kalian belum tau seperti apa Delta sebenernya, kalian akan menyesal melakukan ini," ucapnya parau.


"Ah........... " teriak laki-laki itu sangat keras.


Sakti menarik pisau yang tadi sempat di tancapkan Rafael di tubuh laki-laki itu, "Kau yang tidak tau siapa kami sebenarnya," ucap Sakti tegas penuh penekanan.


Flashback Off


"Begitulah yang terjadi tuan muda," jelas Sakti.


"Apa yang kalian temukan di sana?" tanya Ibra pada Sakti lagi.


"Hanya sekumpulan pecundang sombong tidak berguna," jawab Rafael yang saat ini duduk di atas sofa kursi rumah sakit setelah lelah bermain kejar-kejaran dengan Nadia.


"Mereka sudah terlalu lama berada di zona nyaman di balik nama Delta Internasional tuan muda, penjagaan mereka lemah, pasukan yang mereka kirim tidak sebanding dengan satu pasukan milik Rafael, mereka juga tidak waspada terhadap siapapun karena merasa sudah paling unggul dan yakin bisa mengalahkan yang lain dengan mudah," tambah Sakti.


"Latihan mereka kurang, gerakan dan serangannya pasif... "


"Cukup aku sudah bisa menarik kesimpulan," ucap Ibra.


"Apa om ?" tanya Nadia.


"Kepo !" bentak Ibra.

__ADS_1


"Ish, om jahat banget dari tadi," kesal Nadia.


Kini Rafael melihat pakaian Ibra dengan seksama dari atas hingga bawah, ia baru sadar jika Ibra hanya mengenakan pakaian rumah sederhana.


"Lu buru-buru kesini dari rumah sampai sini cuma pakai pakaian kayak gini, ini bukan lu banget, lu khawatir sama gua kan? ngaku lu? hayo......" ucap Rafael senang menggoda Ibra yang ternyata sangat perduli dengannya.


"Abang tau tadi om Ibra bawa mobil gimana? rasanya udah kayak naik roller coster tau nggak," ucap Nadia.


"Luna sedang mengoperasi siapa?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Gue tadi agak kepeleset, jadi kena jantungnya deh," tambah Rafael.


"Oke good, kita memang butuh sandera dengan luka seperti itu agar dia susah untuk kabur," ucap Ibra.


Nadia memandang ke arah mereka bertiga, "kalo udah kumpul bertiga mesti Nadia jadi orang yang paling nggak ngerti sama topik yang kalian bahas, hmmm nasib anak tiri," sindir Nadia.


Semua menatap ke arah Nadia, "besok mereka akan kembali ke rumah kamu, permainan akan segera di mulai,"


"Main apa om? ikutan dong," ucap Nadia, gadis itu sangat tau jika permainan yang Ibra maksud bukan permainan biasa, Nadia merasa strategi dan jam terbangnya mengikuti Ibra akan sangat berguna untuk kehidupannya ke depan.


Nadia berfikir, "akan ada apa besok pagi? semoga bukan berita tentang pernikahan kedua om Ibra dengan tante Anna," batin Nadia.


***


Ibra dan Nadia saat ini memilih untuk tinggal di rumah sakit menemani Sakti dan Rafael, meskipun mereka berdua baik-baik saja tanpa kurang satu apapun, tapi entah apa yang ada di fikiran Ibra hingga memintanya untuk menginap di sini malam ini.


Luna terlihat keluar dari ruangan, setelah Luna menyiapkan sebuah ruangan yang di sulap menjadi kamar tidur Ibra dan Nadia, "untung masih ada kamar pasien yang kosong, coba kalo enggak pasti ruangan gua yang jadi korban kedua pasangan itu, hmm."


Luna berjalan untuk menemui Sakti dan Rafael yang ada di ruangan sebelah, perempuan yang selalu berpenampilan cantik itu berjalan anggun dengan high heels yang di pakainya.


Suara pintu terbuka, Sakti dan Rafael menatap Luna yang baru saja masuk di dalam ruangan tempat mereka beristirahat.


"Apa yang di rencanakan Ibra?"


"Eh busyet, lu dateng nggak salam nggak apa langsung nanya to the point bae," ucap Rafael.

__ADS_1


"Kenapa kalian di sini sih, nambah-nambahin kerjaan gua aja," gerutunya.


"Tampang lu doang ya anggun, ternyata bar-bar juga, hahaha,"


"Au... " rintih Rafael ketika Luna meremas erat lengannya, memang ada luka memar bekas sayatan pisau di sana, namun sengaja di sembunyikan oleh Rafael karena Ibra pasti tidak akan tinggal diam ketika melihat dia atau Sakti terluka.


"Apa? berani lu ngomong lagi sama gua hah?" ucapnya.


"Hadeh, ada juga yang lebih kejam dari Nadia ternyata, perempuan emang istimewa, " ucapnya lagi.


Luna tidak menghiraukan perkataan Rafael padanya, ia saat ini sedang menghadap Sakti dan duduk di samping laki-laki itu.


"Udah mati rasa belum?" tanyanya pada Sakti.


"Udah dari dulu,"


"Kemaren gua denger dari El... "


"Misi dari tuan muda, aku harus mendekatinya untuk tau apa yang dia inginkan," jelas Sakti.


Ia teringat apa yang di ucapkan Ibra padanya saat itu.


"Perlu kau tau, aku sudah memberi kalian waktu untuk berbicara dan menyelesaikan masalah kalian sebelumnya, setelah ini jangan menyesal jika aku tidak akan memberimu kesempatan untuk mendekatinya lagi." ucap Ibra kemudian memotong ucapan Sakti sebelumnya.


"Saya minta maaf tidak bisa memahami maksud anda dengan baik sebelumnya," ucap Sakti tegas.


"Aishh dosa apa gua di kehidupan gua sebelumnya sampek harus hidup sama orang-orang kuno kek kalian, nggak asik bener-bener berasa hidup di jaman bung Karno," ucap Rafael jengah mendengar gaya bicara mereka berdua.


"*Lalu apa yang kamu dapatkan dari pembicaraan mu dengannya?" tanya Ibra pada Sakti.


"Anda, hanya Anda yang menjadi prioritas mereka saat ini tuan muda,"


"Dulu aku menggilainya karena dia harus menanggung beban yang aku sendiri tidak tau beratnya karena aku adalah penerus Delta Internasional, tapi setelah aku tau apa yang dia alami dan kerjakan di sana langsung membuat semua perasaan ku hilang tanpa sisa, setelah ini aku tidak akan memperdulikan perasaanmu juga, jadi jangan menyalahkan ku jika aku hendak melakukan sesuatu padanya, karena aku sudah memberimu kesempatan," ucap Ibra saat itu*.


Kata-kata Ibra saat itu masih terdengar jelas di telinga Sakti hingga saat ini, "apapun yang terjadi, jika itu menyangkut tuan muda, aku sudah tidak memiliki rasa apapun," batinnya.

__ADS_1


***


__ADS_2