Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Obsesi Ibra


__ADS_3

"Siapa nama mereka berdua?" tanya Luna yang gemas dengan bayi perempuan yang baru saja membuka matanya itu.


"Kanaka Arsyanendra Ibrahim dan Kanaya Arsyakayla Ibrahim,"


Nadia bahkan tidak percaya dengan nama kedua anaknya itu, "Kanaka....? Kanaya....?" ucapnya mengulangi nama kedua anaknya.


"Kanaka Arsyanendra, anak laki-laki tampan yang cerdas, kelak akan menjadi orang sukses dan di hormati orang lain,"


"Lalu Kanaya?" tanya Rafael penasaran sembari menoel kedua pipi keponakan perempuan yang masih terlelap itu.


"Kanaya Arsyakayla, anak perempuan suci yang cantik, mempunyai jalan kehidupan tentram dan bahagia," jawab Ibra memberikan penjelasan.


"Mas Ibra sejak kapan memikirkannya?" tanya Nadia yang sangat menyukai nama itu.


"Tuan muda sudah memikirkan nama ini sebelum anda hamil nona," jawab Sakti.


Uhuk uhuk


"Pelan lah... jangan minum dengan terburu-buru, tidak ada yang akan mengambil minuman mu," ucap Ibra sembari mengelus lembut punggung Nadia.


"Bagaimana mas Ibra tahu kita akan memiliki dua bayi?" tanya Nadia lagi antusias.


"Aku hanya mendapat firasat," jawab Ibra yang sudah memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya.


"Ah.... pantesan lu nanya ada yang nyempil nggak, karena udah feeling ternyata," tambah Luna.


"Feeling so good," tambah Rafael.


"Sudah sudah ayo makan dulu...memang tidak akan ada yang bisa mengalahkan perkiraan dan prediksi nya," ucap Aisyah.


"Kalian berdua bawa cucu-cucuku beristirahat, jangan sembrono dan membuat kesalahan," perintah Aisyah kemudian.


"Baik nyonya... " ucap mereka bersamaan.


"Siapkan makanannya," perintah Aisyah lagi, makanan sebenarnya sudah tersedia, tapi namanya orang kaya, semua ingin serba di layani.


"Aku akan mengambilkan makanan untuk mas Ibra dulu," ucap Nadia kemudian bangkit dari duduknya ingin menggapai sebuah menu seafood favorit suaminya.


Tangan Ibra dengan segera menggapai tangan istrinya itu, "duduk manis dan nikmati makanannya, mereka di bayar untuk melayani kita,"


"Tapi ma... "


"Atau kau mau aku memecat mereka semua," ucapnya menunjuk pada semua pelayan yang saat ini berdiri di belakang setiap kursi untuk melayani masing-masing dari orang yang ada di sana.


Nyali Nadia menciut seketika, "Jangan pecat mereka, aku akan duduk," ucapnya kemudian kembali duduk.


"Jangan bersikap seperti itu kepada menantu daddy Ibra," tegur Abrar

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin dia lelah dad, daddy tidak tau dia bahkan bisa membersihan rumah ini sendiri dengan kedua tangan kecilnya itu," jelas Ibra.


"Dan kau istriku yang manis, jangan mengerjakan apapun, mommy akan membantuku mengawasi mu, jadi jangan bergerak berlebihan atau kau akan lelah," ucapnya sembari menepuk pelan pucuk kepala Nadia.


"Hah? kenapa mommy jadi ikut campur dengan urusan kalian, Ibra... istrimu sudah besar, biarkan ia melakukan apapun yang dia inginkan, jangan terlalu mengekangnya nak," tambah Aisyah.


"Ibra benar mom, dia selalu melayani kami semua, rumah ini bahkan selalu berada dalam pengawasan nya, ia suka gemas dengan sesuatu yang tidak enak di lihat, ditambah dengan dua bayi maka pasti akan sulit, jadi Nadia... abang setuju dengan perkataan Ibra, nggak usah ngelakuin apapun, pengen apa tinggal call abang, oke?" tambah Rafael yang setuju seratus persen.


"Sudah mom, mereka hanya terlalu menyayangiku, aku tidak keberatan," ucapnya ringan menyenangkan semua orang.


"Jangan terlalu terbebani dengan tingkah aneh mereka Nadia, santai saja oke," bisik Luna menghibur Nadia dengan pelan.


"Siapkan makanannya," perintah Rafael kini.


"Baik tuan,"


Dengan sigap semua pelayan itu bergerak mengambilkan makanan ke piring semua orang di sana.


Pyar


Tanpa sadar ada salah seorang pelayan yang tersandung kaki kursi hingga menumpahkan sebuah lauk panas tepat di paha Sakti, bahkan piring itu sudah jatuh di lantai.


"Ssss..... saya minta maaf tuan... saaaaya.... "


Sakti dengan tatapan membunuhnya menatap pelayan tersebut, Rafael mencelupkan jari telunjuk nya kedalam sebuah mangkok berisi kuah yang sama yang sudah terjatuh di pangkuan Sakti.


"Saya minta maaf tuan... " ucap gadis itu yang sudah penuh dengan keringat dingin di sana sini.


Sakti menghela nafas, mengatur emosinya yang sudah berada di ubun-ubun, "jika tidak ada tuan dan nyonya besar, aku pasti sudah menelan hidup wanita ini," gerutu Sakti.


"Saya pamit mengganti baju terlebih dahulu tuan muda,"


"Ayo... gua bantu lu periksa," ucap Luna memberi penawaran.


"Hey... " tarik Rafael ketika Luna sudah berdiri dari duduknya.


"Apa yang mau lu periksa?" tanya Rafael menahan agar Luna tidak pergi.


"Lu tau itu kuah panas, kan lu yang bilang itu hampir menghancurkan masa depannya,"


"Tapi lu nggak harus ngecek Luna,"


"Come on Lun... " ucapnya tanpa bersuara dan hanya memberikan kode.


"Siapa lagi dokter di sini yang bisa ngecek?"


"Nggak ada El, cuma gua,"

__ADS_1


"Saya pamit tuan muda," ucapnya yang segera beranjak diikuti Luna tanpa menghiraukan Rafael yang masih saja cemberut di tempat duduknya.


"Kau....ikuti aku... " perintah Rafael.


"Jangan terlalu keras El," teriak Ibra.


"Anak muda memang masih penuh gairah," ucap Abrar dengan mulut masih mengunyah beberapa daging di depannya.


"Makanlah," ucap Ibra pada Nadia.


"Mas Ibra tidak ingin melihat abang Sakti?" tanyanya pada Ibra.


"Ada Luna,"


"Lalu tidak melihat abang El?"


"Dia butuh waktu sendiri," jawabnya.


Nadia mengangguk dan memutuskan melanjutkan makanan nya dengan tenang di mejanya, "penyambutan yang sangat tidak bisa dilupakan,ini akan menjadi sesuatu yang selalu kupikirkan di memori ku, hihi...abang El kualat kan...apa jangan-jangan abang Sakti yang nantinya berhasil menaklukkan hati kak Luna, aku tidak sabar dengan akhirnya," pikirnya.


***


Setelah makanan selesai ketiga orang yang pergi itu masih belum juga kembali, Ibra dan Nadia memutuskan untuk kembali ke kamar dan beristirahat sementara.


"Mas Ibra... bagaimana jika kak Luna lebih memilih abang Sakti?"


"Maka ku pastikan mereka berdua bahagia di bawah kuasaku," jawab Ibra yakin.


"Lalu abang El?" tanya Nadia sedih.


"Jangan khawatir, aku akan mencarikan jodoh yang lebih baik dari Luna, dia sudah di tolak sejak awal," jelas Ibra lagi yang mulai memberikan kecupan kecil di pucuk kepala istrinya itu.


"Bagaimana jika bang El tidak tertarik dengan yang lebih baik mas, bagaimana jika nanti dia berjodoh dengan pelayan ta... "


"Hus... jangan berbicara yang tidak-tidak, bagaimana jika benar-benar menjadi nyata,"


"Tidak apa-apa mas, hihi... "


"Jika benar begitu maka aku juga akan membuat. mereka bahagia di bawah kuasaku,"


Nadia melihat suami yang duduk di sampingnya itu, "kenapa mas Ibra terobsesi untuk membahagiakan semua orang ?"


***


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.


Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe

__ADS_1


Salam sayang semua.


__ADS_2