Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Selamat Datang Kembali


__ADS_3

Dengan pasti gadis itu keluar dari kerumunan, ia harus menemui Ibra, ia harus datang menemui suaminya itu, "Nadia... kerjakan dulu pekerjaanku, jangan karena bos selalu memberi perhatian padamu lalu kau jadi seenaknya di sini," teriak salah satu seniornya dengan menjamabak rambutnya.


"Aawww," rintihnya.


Nadia memegang rambutnya yang tertarik di depan umum, tubuhnya tidak bisa bergerak karena kepalanya di tarik seperti ini, "rasanya sakit sekali, aku bisa saja mengalahkan wanita ini, tapi aku sedang tidak dalam waktu dan kondisi yang bisa melakukannya, ini di tempat umum," pikirnya.


Mata Nadia melihat sosok laki-laki berpakaian hitam di sekeliling nya yang tidak jauh dari sana, ia sangat ingat Rafael pernah bilang, "jika membutuhkan bantuan, hanya anggukkan kepala,"


Ia bukan orang yang mudah untuk melakukan ini, namun keinginannya untuk segera bertemu Ibra memaksanya untuk harus melakukan ini, dengan yakin kepala itu mengangguk tanda setuju.


Beberapa orang laki-laki berpakaian hitam mulai mendekat ke arahnya, sesuai instruksi Rafael agar penyamaran Nadia tidak terbongkar sampai adiknya itu menginginkan nya, maka laki-laki itu hanya meletakkan semacam bom asap untuk mengecoh semua orang yang ada di sana.


"Ah... apa ini... kenapa mendadak ada asap tebal di sini?" tanya seorang yang lain.


"Adakah yang menyalakan api?" tanya yang lain.


"Kebakaran.... kebakaran... cepat pergi dan keluar dari gedung," teriak orang sengaja mengalihkan orang-orang agar segera keluar dari sana.


Semua orang berhamburan keluar, tak terkecuali orang yang tadi menarik rambut Nadia, "Awww... " rintihan berhasil lolos dari mulut Nadia ketika rambutnya terlepas dari tangan wanita itu.


Ketika di pastikan tidak ada seorang pun di sana, seorang Pengawal pun mendekati Nadia, "anda baik-baik saja nyonya?" tanyanya khawatir, pasalnya Rafael tidak segan-segan memberi pelajaran jika terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya itu.


"Tolong beri aku jalan untuk keluar dari sini, ingat, cukup beri aku jalan, kalian masih harus menjaga perusahaan ini selama aku dan bang Rafael tidak ada di tempat,"


"Baik nyonya,"


"Aku harus pergi kemana untuk keluar?" tanya Nadia sopan.


"Anda bisa mengikutinya, dia akan menunjukkan jalan kepada anda," ucap laki-laki itu menunjuk kepada salah seorang temannya yang lain.


Nadia berjalan dengan cepat mengikuti langkah kecil laki-laki di depannya, melihat Nadia yang seperti berjalan terburu-buru membuat laki-laki itu menoleh ke belakang, "jangan terburu-buru nyonya, anda harus lebih berhati-hati," ucapnya khawatir kepalanya putus jika terjadi sesuatu dengan nyonya kecil di belakangnya ini.


"Ah.. iya, aku minta maaf," ucapnya yang kemudian berjalan sedikit pelan.


Wajah datar yang sudah satu bulan ini kehilangan senyumnya kini mulai ceria lagi, ia bahkan tidak merasakan sakit di kepalanya karena jambakan wanita tadi.


Raut wajahnya benar-benar terlihat bahagia, ia hanya bersyukur atas kembalinya Ibra, tidak ada perasaan kesal sedikitpun ketika ia harus melihat Ibra lebih dulu di layar kaca, atau ketika Ibra tidak lebih dulu menemuinya, yang ia syukuri adalah Ibra kembali bangun dan sehat seperti sedia kala.

__ADS_1


"Silahkan nyonya," ucap pengawal yang sudah membukakan pintu untuk Nadia ketika sudah berada di sebuah parkiran bawah tanah.


"Makasih ya pak," ucapnya dengan senyum.


"Wah ini pertama kalinya nyonya memperlihatkan senyumnya, beliau sangat manis," puji laki-laki itu sembari memperhatikan mobil Nadia yang sudah mulai keluar dari area parkir.


***


Ibra dan Sakti sudah berada di depan pintu sebuah ruangan, Luna yang sejak tadi menghilang entah dimana kini sudah berada tepat di sampingnya.


"Dari mana?"


"Cek lokasi, di sini terlalu ramai, kita belum melakukan tes pasca lu siuman, gua masih harus pantau lu langsung," jawab Luna.


Sakti membuka pintu ruangan tersebut lebih dulu, terlihat semua orang yang hadir di sana kini sudah duduk berjajar rapi, Rafael melihat sosok yang berada di pintu itu, "Sakti?, kenapa dia datang bersama daddy?" ucapnya dengan pikirannya sendiri.


Namun tak lama Ibra dan Luna masuk ke dalam ruangan secara bersamaan yang mana semua orang yang ada di sana langsung menunduk seketika.


Klunting


"Silahkan duduk," ucap Ibra mempersilahkan.


"Saya mohon maaf agar dokter pribadi saya di izinkan untuk berada di sisi sebelah kiri saya dalam forum ini," ucap Ibra meminta izin kepada semuanya yang hadir di sana.


Rafael yang berada di sisi kanan Ibra several menyenggol lengan Ibra pelan, "pantes aja daddy di tanya jawabnya ambigu, ternyata dalangnya lu toh," ucap Rafael.


"Kalo udah lu yang turun tangan kelar dah semua masalah, gua udah nggak perlu ada di sini lagi," ucapnya santai.


"Terpesona? sampai harus jatuhin ponsel gitu" tanya Ibra pada Rafael dengan masih melihat ke arah depan.


"Oh... awas aja lu, lu masih punya hutang penjelasan ama gua," ketus Rafael.


"Fokus El, jangan membuat keributan," ucap Ibra lirih.


Akhirnya forum di mulai dan disiarkan secara live di seluruh penjuru perusahaan baik Delta maupun Harbank, semua orang tidak boleh ada yang melewatkan momen ini.


Berbeda dengan suasana hening di dalam ruangan, saat ini Nadia sedang berpacu dengan kecepatan mobil dan kepadatan kendaraan di jalan raya pada jam kerja seperti ini.

__ADS_1


Nadia berkali-kali membunyikan klakson mobil karena tidak sabar untuk menunggu lebih lama lagi, hingga beberapa menit kemudian ia sudah sampai di Gedung Pertemuan Delta Internasional tempat acara Ibra berlangsung.


Nadia lolos masuk ketika ada pemeriksaan di lobby, namun langkahnya terhenti ketika seorang penjaga menghalangi jalannya saat hendak masuk ke dalam ruangan dimana Ibra saat ini berada.


"Pak tolong pak, saya harus bertemu tuan Ibra di dalam, saya istrinya, saya harus menemuinya sekarang,"


"Bu, saya mohon, banyak sekali yang mengaku menjadi istri para pimpinan di sini, terlebih tuan Ibra yang saat ini namanya sedang naik daun, siapapun akan sangat pandai jika mengarang cerita menjadi istri presdir, tolong jangan mempersulit kerja kami dan pergi dari sini bu,"


"Pak, saya nggak bohong, kalau bapak tidak percaya saya akan mencoba menghubungi bang El atau bang Sakti, mereka berdua sedang ada di dalam bukan," ucapnya kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


"Bu cukup, kami sedang bekerja, anda tidak tau seberapa kejamnya tuan Ibrahim, tolong jangan membuat kami bertindak kasar," ucapnya yang dengan segera membanting ponsel Nadia.


Prak


Ponsel Nadia terbagi menjadi tiga bagian saking kerasnya di hantamkan ke lantai, mata itu sudah mulai berkaca-kaca, "aku hanya ingin bertemu mas Ibra sebentar saja, aku ingin memastikan sendiri dia baik-baik saja," ucapnya, sesungguhnya yang membuat semua keamanan Delta tidak percaya dengan ucapan Nadia adalah karena rambut gadis ini yang acak-acakan pasca cerita penjambakan rambut yang terjadi sebelumnya.


Nadia bahkan tidak sempat merapikan dirinya sendiri karena terlalu antusias ingin bertemu dengan Ibra.


"Ada keributan apa di luar?" teriak Ibra keras yang mana membuat semua orang yang ada di dalam merasa kaget.


"Kau dengar? bukankah aku sudah bilang tuan Ibrahim sangat kejam, masuklah!! kami tidak ingin di salahkan karena memang kau yang membuat keributan di sini, tamatlah riwayat mu," ucap orang tersebut yang mana menarik paksa Nadia masuk ke dalam ruangan dengan keras.


Ibra melihat siapa yang di seret masuk oleh tim keamanan gedung ini, Nadia, istrinya, melihat Nadia di perlakukan seperti itu di perusahaanya sendiri seketika membuat darahnya mendidik, ia menggenggam gelas kaca bening yang ia pegang dengan sangat keras saking marahnya.


Pyar...


"Mas Ibra... " lirih Nadia sembari memandangi sosok yang benar-benar ia rindukan selama ini, sosok yang harum tubuhnya menjadi candu yang membuatnya gila hingga tak bisa tidur di malam hari, Ibra... Ibrahim Muhammad Attar, orang yang kini ada di depan matanya.


Darah bercucuran menetes dari pergelangan tangan Ibra, melihat itu semua orang menjadi panik, "BERANI KAU MENYENTUHNYA SEPERTI ITU!!!!! "bentaknya marah.


" Ma...aaf tuan muda, wanita ini memaksa masuk, kami sudah melarang namun dia tetap memaksa,"


"Sebagai istriku, dia berhak keluar masuk perusahaan dan semua properti yang aku miliki, dan Kau.... " belum sempat Ibra menyelesaikan ucapnya nya, Nadia segera berlari ke dalam pelukan suaminya itu.


Emosi yang meledak-ledak itu seketika luruh ketika Nadia berhambur ke pelukannya, Nadia menjauhkan sedikit tubuhnya agar bisa melihat dengan jelas wajah Ibra.


"Selamat datang kembali mas," ucapnya dengan senyum mengembang di sudut bibirnya dan langsung kembali memeluk Ibra.

__ADS_1


__ADS_2