Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Kekesalan Ibra


__ADS_3

Setelah perbincangan mengenai Rafael dan wanita itu selesai, Ibra beranjak dari perusahaan, ia memutuskan untuk kembali ke rumah karena kakinya sudah sangat sulit untuk berjalan.


Sakti sudah membujuk agar Ibra mau menggunakan kursi roda, namun ia tidak ingin terlihat lemah di mata orang lain, ia menolak bagaimanapun keadaannya.


"Tuan... anda hanya perlu duduk di sana," ucap Sakti merendah agar Ibra tidak kesulitan berjalan.


"Aku bukan bayi," ucapnya ketus.


Nadia yang sudah mulai faham dengan sikap dan kepribadian suaminya itu merasa harus mengambil alih agar Sakti tidak terus memaksa Ibra yang mana hanya akan menimbulkan amarah Ibra yang semakin menjadi-jadi.


"Nadia akan membawa mas Ibra dengan hati-hati bang," ucapnya dengan mengedipkan matanya agar Sakti tidak berbicara lagi yang akan membuat Ibra semakin marah.


Kondisi suaminya pasca sadar memang terlihat jelas di matanya bahwa ia tidak baik-baik saja, Ibra hanya berusaha tetap berdiri dengan kedua kalinya meski dengan bersusah payah.


"Baik nona," ucapnya tidak ingin membantah lebih jauh lagi.


"Nanti jadikan rumah Nadia, yang kita tempati sebelumnya menjadi rumah utama ku, rumah yang sebelumnya menjadi rumah utama CEO Delta, mulai saat ini hanya akan menjadi rumah pertemuan-pertemuan resmi relasi bisnis kita," perintah Ibra yang saat ini sudah mulai berjalan dengan Nadia di sampingnya.


"Oh ya... mommy daddy masih di rumah kan?"


"Beliau semua menunggu anda, bahkan kedua paman anda juga sudah sampai di negara ini," ucapnya yang mana membuat Ibra berhenti seketika.


"Kenapa mas? sakit?" tanya Nadia khawatir.


Ibra masih terlihat berfikir, "Sakti... nanti malam buat mereka semua kembali ke negara mereka masing-masing," perintah Ibra yang kembali menggerakkan kakinya.


"Baik tuan," jawab Sakti yang faham dengan apa yang di katakan Ibra.


"Tuan sangat tidak suka dengan keributan, jika keempat tuan itu berkumpul, maka hanya akan terjadi kehebohan dengan kondisi kaki tuan muda seperti ini, mereka semua pasti akan menjadi semakin cerewet, yang tuan muda butuhkan saat ini adalah istirahat dan nona muda," batin Sakti senang, pasalnya ini adalah kali pertama tuannya itu kembali bertemu Nadia.


Ibra, Nadia dan seluruh orang kepercayaannya kini sedang berjalan di lobby utama perusahaan, semua orang menunduk, tidak ada yang berani berucap bahkan menatap, hingga sampai mobil Ibra benar-benar meninggalkan perusahaan, semua orang di sana tidak ada yang berani mengangkat kepala mereka.


"Huft....aku sampai berkeringat dingin, tuan muda yang sekarang lebih menyeramkan dari presiden dikrektur sebelumnya," ucap beberapa orang saat merasa lega.


Atmosfir dingin yang terpancar di sekeliling keberadaan Ibra ikut menghilang setelah kepergian Ibra.


***


Jajaran mobil mewah sudah memasuki halaman rumah megah yang saat ini sudah siap menyambut kedatangan mereka, dengan tetap dibantu Nadia, Ibra keluar perlahan dari mobil, meskipun tampak menahan sakit, tapi karisma dan ketampanan wajahnya tetap menarik siapapun yang melihatnya.


"Hati-hati mas," ucap Nadia.


"apa tidak apa-apa jika kau membawaku seperti ini?" tanya Ibra melihat Nadia dan perutnya bergantian.

__ADS_1


"Biar saya nona... " ucap Sakti yang dengan siaga langsung menggantikan posisi Nadia di sebelah Ibra.


Nadia melepaskan tubuhnya dari tubuh suaminya itu pelan, "Hati-hati bang," ucapnya.


"Don't worry honey, i am okey," ucapnya mengelus rambut panjang bergelombang milik Nadia.


Rafael menggenggam tangan adiknya, bersama-sama masuk ke dalam rumah terlebih dahulu diikuti Ibra dan Sakti di belakang mereka.


"Mommy..... mommy.... Rafael datang.... " teriaknya memenuhi rumah yang sebelumnya hening tanpa suara.


"Mommy... mommy... " teriaknya lagi ketika masih tidak ada sahutan apapun yang ia dengar.


"Mom...... ah.... ah.... ah..... " rintihan berhasil lolos dari mulut Rafael yang belum menyelesaikan ucapannya.


Aisyah datang dengan kesal kemudian menarik salah satu telinga putranya itu, "hey anak nakal ini sudah pulang rupanya... bukannya salam malah teriak-teriak, keluar... ayo keluar dan masuk lagi dengan benar," ucapnya dengan manarik telinga Rafael hingga laki-laki itu berada di luar pintu.


"Ah..... mommy... ahh... mom telinga El putus ini," ucapnya masih merintih kesakitan dengan memegang telinga yang baru saja di lepaskan oleh Aisyah.


"Ayo sekarang salam yang bener baru masuk," ucap Aisyah seolah mengajari anak SD.


Rafael yang saat itu sedang kesal hanya semakin memajukan bibirnya seperti anak kecil yang kehilangan permen.


"Come on El.... " ucap Aisyah menunggu, tidak menghiraukan Attar dan Abrar yang baru saja sampai di ujung tangga melihat keributan yang terjadi di lantai bawah.


"Bocah lagi di marahin mamanya," sahut Ibra santai setelah melepaskan diri dari Sakti dan menarik tangan Nadia agar mengikutinya.


"Oh... " gumam Abrar, bukannya melihat pada Rafael, malah melihat Ibra yang dengan tanpa dosanya masuk ke dalam kamar bersama istrinya di tengah-tengah drama Aisyah dan Rafael.


''Biasa... pengantin baru," ucap Attar yang tau arah pikiran saudaranya itu.


"Assalamu'alaikum mom, udah puas?" ucap Rafael yang masih kesal.


"Waalaikum salam, pinter nya anak mommy... " puji Aisyah dengan senyum memegang kedua pipi Rafael.


"Ah.. males ah, nggak ada yang asik," ucapnya kemudian pergi begitu saja ke dalam sebuah ruangan.


***


Kamar Nadia dan Ibra


Nadia masih mengikuti kemanapun Ibrahim pergi, laki-laki itu bahkan tidak melepas sedikitpun tangannya dari Nadia.


"Mas nggak pengen rebahan?" tanya Nadia yang sejak tadi hanya memperhatikan suaminya terlihat aneh.

__ADS_1


"Apakah ACnya mati? kenapa aku merasa sangat panas? apa kau juga ? ini benar-benar panas Nadia," ucapnya dengan melepas kemeja yang di pakainya dengan tetap tidak melepas genggaman tangannya itu.


Nadia hanya tersenyum melihat tingkah suaminya itu, "kenapa tersenyum seperti itu?" ucap Ibra kesal seperti biasanya.


"Nadia nggak senyum kok? kapan senyum?" sanggah nya.


Cetik


"Aw.... "


"Kenapa menangis seperti itu untukku, aku sudah bilang jangan menangisi siapapun, kau bahkan hampir membahayakan anakku," kesal Ibra.


Nadia mendekatkan wajahnya pada telinga Ibra, "anak kita, ini anak kita," ucap Nadia tepat di telinga Ibra yang mana membuat Ibra merinding merasakan hembusan nafas lembut Nadia.


"Ehem.... " Ibra kikuk di buatnya, Nadia hanya terkekeh ketika berhasil membuat laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu salah tingkah.


"Aku ingin mandi, tolong siapkan airnya," perintah Ibra.


Namun dengan cepat Nadia mengangkat tangannya yang masih berpautan dengan jari jemari milik Ibra, "bagaimana aku bisa pergi? hehe" tanyanya.


Ibrahim melepas genggaman tangan itu dengan spontan, "ah... maaf maaf," ucapnya kemudian dengan memalingkan wajah yang sudah memerah.


"Aih... gua kenapa sih ? tenang Ibra... tenang... ini cuma karena kita udah lama nggak ketemu, mana panas banget lagi ini," ucapnya dalam hati.


"Mas, peluk dulu dong," goda Nadia dengan menarik lembut kemeja Ibra dari belakang.


"Mas Ibra, pengen peluk," ucapnya bermanja, gadis itu langsung berubah seratus persen setelah melihat Ibra, sikap manja dan jahilnya langsung dalam mode aktif ketika Ibra berada di sekelilingnya.


"Iya nanti, siapkan airnya dulu," ucap Ibra tanpa berfikir.


"Oke, nanti peluk di kamar mandi ya... " ucap Nadia langsung masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Ibra dengan mata melotot melihatnya.


"Nadia.... jangan berfikir mesum.... " teriaknya keras.


"Hihihi... mas Ibra lucu kalo malu," ucap Nadia senang berhasil menggoda suaminya.


Di dalam kamar Ibra baru saja ingat bahwa Nadia belum makan dan berkata lapar tadi ketika berada di perjalanan.


Seperti biasa, ia hendak menghubungi Sakti untuk segera menyiapkan makanan, namun tangannya berhenti pada nomor kontak seseorang di sana.


Setelah berfikir sedikit lama, ia memutuskan untuk menghubunginya, "halo... "


"Jangan coba-coba nyentuh Nadia...kalian berdua harus fit du..." teriak wanita itu dengan bar-bar seolah tau apa yang ada di pikiran Ibra.

__ADS_1


"Aish... " kesal Ibra yang langsung menutup panggilan telfon Luna begitu saja.


__ADS_2