
Hujan deras masih mengguyur seluruh kota dengan setia, Ibra dan Nadia masih berada di dalam mobil karena penginapan yang sudah di pilih Ibra cukup jauh sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai.
"Om laper, hehe.... " ucap Nadia yang seperti biasa, hanya mendapat lirikan dari Ibra.
"Makan dulu ya.... " rayu Nadia lagi namun tetap tidak mendapat jawaban dari Ibra.
"Om marah?"
"Tidak bisakah kau menjaga dirimu? bagaimana mungkin kau bisa berurusan dengan orang menjengkelkan seperti mereka tadi," ketus Ibra.
"Ya maaf om, mbaknya yang duluan nabrak Nadia tadi, malah Nadia yang di salahin," jelas Nadia.
"Kenapa tidak kau tinju saja kepala gadis itu, rasanya aku ingin memecahkannya," geram Ibra tanpa henti.
"Kan udah berlalu om, sekarang ayo makan dulu ya... ya... " ucap Nadia mulai menggoyangkan lengan Ibra dengan tangannya.
Kebetulan di depan ada sebuah restoran yang masih buka dan cukup ramai pengunjung, memang tidak terlihat seperti restoran bintang tujuh yang di kunjungi Ibra biasanya, tapi entah kenapa Ibra mulai berbelok dan berhenti di sana.
"Om yakin makan di sini?"
"Kau tidak suka? kita bisa cari yang lain," ucapnya mulai menyalakan mobil kembali.
"Tidak, tidak, kita makan di sini saja om, aku sudah lapar," ucapnya meringis menatap Ibra.
"Turunlah,"
"Aku bahkan masih kesal dengan orang yang sudah memperlakukannya seperti itu, tapi kenapa dia bisa bersikap biasa, dasar aneh," batin Ibra.
Nadia turun dari mobil terlebih dahulu di ikuti oleh Ibra setelahnya, keduanya bergandengan tangan berjalan menuju restoran yang meskipun kecil namun lumayan banyak pengunjung itu.
"Wah ada cowok keren nih, keliatannya tajir melintir," batin salah seorang pelayan.
"Apakah ada ruangan VIP?" tanya Ibra.
"Ah ada tuan, silahkan ikut kami," jawab pelayan itu kemudian mengantarkan Ibra ke dalam sebuah ruangan.
__ADS_1
Ibra mengikuti pelayan perempuan itu dengan menggenggam tangan Nadia, "jangan berjalan kemana-mana dan membuat masalah lagi," ucapnya.
Keduanya berjalan beriringan hingga masuk kedalam sebuah ruangan, "Ah akhirnya bisa istirahat, kakiku rasanya udah mau patah," ucapnya dengan merubuhkan tubuhnya di matras.
"Sejak tadi kau hanya duduk manis di mobil Nadia, apa yang membuatmu lelah," ketus Ibra lagi.
"Om ih, itu namanya kode om, artinya Nadia minta pijitin om Ibra, gitu," jelas Nadia mode manja.
"Jadi pesan apa pak?" tanya seorang pelayan dengan menampilkan senyum semanis mungkin kepada Ibra.
"Kau mau makan apa?" tanya Ibra pada Nadia lebih dulu.
Mendapat pertanyaan seperti itu dari Ibra, Nadia mengambil buku menu yang sebelumnya berada di depan Ibra, kemudian gadis itu terlihat fokus memilih sesuatu yang akan ia makan.
"Cumi sama lobster ya mbak, minumnya jahe hangat," ucap Nadia menatap pelayan itu yang masih saja menatap Ibra penuh damba, mungkin kalo di jadikan film kartun udah netes netes itu liurnya, wkwkwkw.
"Masnya?" tanya pelayan itu pada Ibra tanpa merespon Nadia.
"Saya ingin makanan yang paling banyak di jual di restoran ini," jelas Ibra.
"Biasa aja sama suami saya mbak, gitu banget liatnya," sindir Nadia masih menampakkan senyum manis di bibirnya.
"Hah, oh iya mbak maaf, saya akan mencatat pesanan anda," ucap pelayan itu gelagapan karena sudah ketahuan memandangi Ibra.
"Yaudah sana pergi mbak, masih mau liatin suami saya di sini? suami saya buka pameran," ketus nya lagi dengan tatapan tajam hingga pelayan tersebut keluar dari ruangan dengan wajah malu tentu saja.
Ibra tersenyum menatap Nadia yang saat ini sedang cemberut setelah kepergian pelayan itu, "semua wanita akan selalu terpesona setelah melihat wajah ini, kau hanya buang-buang waktu untuk cemburu Nadia," ejek Ibra.
"Siapa juga yang cemburu, orang lagi main HP kok, lagian om, cincin nikah itu di pake jangan di simpan aja, bikin orang salah faham kan,"
"Itu bukan masalahku, itu masalahnya karena sudah salah faham dengan statusku, orang seluruh negeri ini sudah mengetahui aku sudah menikah, kamu yang salah karena memiliki suami seperfect aku," ucap Ibra percaya diri.
"Lah, udah ah Nadia mau ke kamar mandi dulu,"
"Jangan lama-lama Nadia, jangan membuat masalah lagi," teriak Ibra.
__ADS_1
Sepeninggal Nadia Ibra memainkan ponsel dengan game favoritnya, selama ini dia selalu fokus dengan rutinitas sehari-hari dan target-target yang harus ia capai, ini adalah salah satu alasan ia ingin kabur dan melepaskan semuanya untuk sementara, perasaan kabur dan lari dari kehidupannya selama ini adalah hal yang sangat ia inginkan sejak dulu.
"Hidup seperti ini sangat menyenangkan, ini seperti kehidupan orang biasa pada umumnya," senyum Ibra masih fokus dengan game di ponselnya.
Makanan sudah siap di atas meja, namun Nadia belum juga datang, ini hampir dua puluh menit sejak Nadia meninggalkan ruangan ini dan pamit pergi ke kamar mandi.
"Kemana dia pergi, dia selalu membuat masalah," gerutu Ibra yang kemudian tetap bangkit karena khawatir dengan Nadia.
Ia mencari ke kamar mandi dan seluruh restoran, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Nadia di sana, "kemana dia pergi?" pikir Ibra.
Karena Nadia tadi hendak pamit ke kamar mandi, akhirnya Ibra kembali ke kamar mandi untuk mencari keberadaan Nadia sekali lagi, ia hendak membuka pintu kamar mandi namun gerakannya terhenti karena itu adalah toilet perempuan, "bagaimana mungkin aku masuk ke dalam, bisa di bunuh hidup-hidup kalo ada emak-emak di dalam sana," pikirnya.
Ibra hendak kembali, namun langkahnya terhenti setelah melihat sebuah tas kecil jatuh di sana, "Nadia.... ini tas yang ia pakai tadi,"
Sebuah seringai menyeramkan terlihat di sudut bibir Ibra, "mereka hendak bermain-main dengan ku ?" geram Ibra dengan tangan yang sudah mengepal kesal, setelah membayar ia segera masuk ke dalam mobil mencari keberadaan Nadia.
Ibra mengeluarkan sebuah kalung dengan bandul cincin yang selama ini sengaja ia sembunyikan, Ibra mengambil sebuah jarum yang ia simpan di setiap laci mobilnya, kemudian memasukkannya ke dalam cincin itu.
Bip
Sebuah suara terdengar setelah kode di Verifikasi, lokasi cincin yang di pakai Ibra dan lokasi cincin pasangannya sudah otomatis tersambung.
***
Seorang pria berpakaian hitam berlari dengan terburu-buru menuju sebuah ruangan, "Tuan.... tuan.... " teriaknya dengan nafas terburu.
"Kenapa kau teriak-teriak, katakan ada apa? jangan membuat keributan,"
"Tuan muda... beliau mengaktifkan sistem GPS di cincin pasangan, sepertinya untuk mencari lokasi nona muda,"
"Cari tau apa yang terjadi dan siapkan helikopter sekarang juga," perintah Sakti tanpa basi-basi.
"Paman, kami harus pergi, jaga tempat ini," pamit Rafael yang sudah menyambar jas miliknya dan berlari keluar di ikuti oleh Sakti di belakangnya.
"Hati-hati"
__ADS_1