Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Ibra tidak sendiri


__ADS_3

"Huft... " respon Nadia lega ketika dirinya sudah berada di dalam mobil.


"Rileks, selama ada daddy nggak akan ada yang bisa sentuh kita,"


"Om kalo misalkan dengan daddy bantu kita malah bikin masalah untuk daddy kedepannya gimana?'' tanya Nadia.


"Kalo oma mau, dia udah ngelakuin itu dari dulu, sejak daddy memaksa menikah dengan mommy atau setelah kami memutuskan buat pindah ke negara ini, tapi faktanya yang dia incar hanya aku sejak dulu," jelas Ibra.


"Oh.... sekarang kita ke ?"


"Istirahat sejenak dari kehidupan yang membingungkan ini," ucap Ibra lagi.


"Bang Sakti dan bang El ? ikut juga ?" tanya Nadia lagi.


Bukannya menjawab, Ibra justru menatap Nadia yang juga tengah memandang nya, "aku sedang ingin sendiri," jawabnya kemudian.


"Lah aku ?" tunjuk Nadia pada dirinya sendiri.


"Hanya kamu, kita," Ucapnya lagi pelan, saat ini dengan tidak menatap Nadia.


Mendengar jawaban itu, hati Nadia rasanya mau lompat-lompat entah karena apa, sebuah senyum merekah terlihat jelas di bibirnya, Ibra melihat Nadia namun tidak bersuara, mereka sama-sama tenggelam dengan perasaan masing-masing.


"Ahhh, akhir-akhir ini memang melelahkan, kita butuh liburan," ucap Nadia dengan memejamkan kedua matanya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi jok mobil yang ia tempati.


"Tidur lah, aku akan membangunkan mu nanti," ucap Ibra.


Laki-laki itu kini kembali sibuk dengan ponsel yang sudah ada di genggamannya, ia mengetik beberapa kali entah siapa yang dia hubungi.


Tut tut tut


Beberapa kali ia mencoba menghubungi Sakti dan Rafael namun masih belum mendapat jawaban dari keduanya, ''Udah berani mereka nggak menjawab panggilan ku sekarang," kesal Ibra.


"Tuan Sakti dan tuan Rafael masih dalam pengaruh obat tidur tuan, mungkin akan terbangun satu hingga dua jam ke depan," jelas kedua orang yang sejak tadi mengawalnya, dan saat ini berada di kursi mobil bagian depan.


"Bagaimana mungkin Luna sembrono di situasi seperti ini, seharusnya dia bisa tau dan faham kita butuh Sakti dan Rafael secepatnya,"


Nadia yang sejak tadi hanya memejamkan mata mendengar keributan yang di buat suaminya, "om Ibra masih suka marah-marah seperti ini, meskipun udah gak terlalu sering kayak dulu sih," batinnya dengan mata yang masih terpejam.


Ibra masih mencoba menghubungi Luna meminta agar Sakti dan Rafael segera di bangunkan, tapi sama seperti Sakti dan Rafael, wanita itu juga tak kunjung menerima panggilan telfonnya.


"Apa-apaan mereka ini? kenapa tidak ada satupun yang menerima panggilan telfon ku," kesalnya lagi.


"Kita putar balik ke tempat Sakti dan Rafael sekarang," perintah Ibra tegas.

__ADS_1


"Pesawatnya tuan muda,"


"Kau membantah ku ?" ucap Ibra semakin kesal.


Merasa tidak tahan dengan Ibra yang mulai kehilangan kendali seperti biasa, Nadia membuka matanya perlahan, urat di leher laki-laki yang sudah ia cintai itu mulai terlihat jelas, "om Ibra om Ibra," ucap Nadia dengan geleng-geleng kepala.


Gadis kecil itu meraih tangan Ibra lembut, Ibra yang kaget tiba-tiba mendapat sentuhan itu langsung menoleh ke arah Nadia.


"Ada apa?" tanyanya.


"Lagi pengen cari sandaran," jawabnya kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Ibra dengan tangan merangkul lengan kanan Ibra.


"Kau bisa bersandar di kursi mu sendiri Nadia," ucap Ibra yang sedang tidak ingin di ganggu.


"Om, selama ini om percaya sama abang-abang kan? kenapa hari ini enggak?" tanya Nadia kemudian dengan memainkan jari jemari Ibra dengan tangannya.


"Dengan om bersikap kayak gini, om malah semakin membuat bang Sakti dan bang El nggak bisa menyelesaikan masalah ini dengan maksimal, jadi percaya sama mereka oke?" ucap Luna dengan masih memejamkan mata.


Ibra melihat Nadia yang masih bersandar kepadanya, "dengan dia bersikap kayak gini justru malah semakin membuatku ingin menerkamnya saja, aishh, sabar Ibra sabar," batinnya kesal.


Tring Tring Tririring


Layar ponsel Ibra menyala memperlihatkan ada panggilan masuk atas nama Sakti di sana, Ibra menggeser layar ponsel icon berwarna hijau ke samping.


"Tuan muda,"


"Kami sedang menuju perusahaan tuan muda,"


"Paman Louis ?"


"Sedang meeting untuk solusi sistem keamanan kita di perusahaan yang baru, setelah ini Rafael langsung yang akan memberi pengarahan kepada mereka tuan muda," jelas Sakti.


"Baiklah, aku menuju bandara sekarang," ucapnya.


"Anda memang harus pergi untuk mengecoh semua orang tuan muda, jangan khawatirkan kami yang ada di sini, bermain dan bersenang-senang bersama nona muda beberapa waktu, saya dan Rafael yang akan mengurus semua hal yang ada di sini dengan baik," ucap Sakti lagi.


"Kalian jangan bekerja terlalu keras, aku tau kalian sedang tidak baik-baik saja dengan pertempuran terakhir kali, jangan lupa bersihkan luka kalian setiap hari, jangan sampai infeksi," ucap Ibra sebelum kemudian menutup sambungan telfonnya.


Nadia membuka matanya menatap laki-laki yang ada di depannya, "ternyata om Ibra kesal karena khawatir dengan keadaan bang Sakti dan bang Rafael,"


''Kenapa senyum-senyum, udah tidur lagi sana," ucap Rafael lagi.


"Terimakasih udah jadi suami Nadia om," ucapnya lagi kemudian semakin mengeratkan pelukannya di lengan Ibra.

__ADS_1


"Kau tidak lihat ada mereka di dalam sini hah?" tunjuk Ibra pada dua pengawal yang berada di depan mereka.


"Mereka tidak melihat kita om, mereka kan liat jalan," ucap gadis itu polos.


Pletak


"Awww..... " pekik Nadia ketika Ibra menyentil dahinya.


"Diam, duduk dan jangan bergerak-gerak," ucapnya tegas melihat Nadia yang tengah menggosok-gosok dahinya.


"Diam Nadia!!!!" bentak Ibra lagi ketika Nadia masih tidak menuruti perintahnya.


"Ish, bilang aja salting karena ketahuan khawatir sama abang-abang kan?, pake marah-marah segala," ucap Nadia pura-pura kesal kemudian menjauh dari Ibra dan beralih menatap jendela mobil.


***


Sakti berada di dalam sebuah mobil dengan sudah berganti pakaian formal seperti biasanya, begitu juga dengan Rafael. Setelah bangun dari obat yang di suntikkan Luna di dalam tubuhnya, keduanya langsung berpindah ke sebuah mobil yang sama yang sudah di siapkan sebelumnya di lokasi yang sudah di tentukan.


"Tuan muda.....? " lirih Sakti.


"Kenapa Ibra?" tanya Rafael kemudian.


"Tuan muda sudah menelfon berkali-kali, dia tidak menghubungi mu?" tanya Sakti balik.


Rafael mengambil ponsel yang ada di saku dalam jas, terlihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Ibra juga, "eh iya, gua juga," ucapnya lagi.


Tanpa berkata-kata lagi, Sakti segera menghubungi Ibra, namun terlebih dahulu ia menggunakan mode loudspeaker agar Rafael juga bisa mendengarnya.


"Tuan muda,"


"Kau dimana sekarang?" tanya Ibra di balik telfon.


"Kami sedang menuju perusahaan tuan muda,"


"Paman Louis ?"


"Sedang meeting untuk solusi sistem keamanan kita di perusahaan yang baru, setelah ini Rafael langsung yang akan memberi pengarahan kepada mereka tuan muda," jelas Sakti.


"Baiklah, aku menuju bandara sekarang," ucap Ibra lagi.


"Anda memang harus pergi untuk mengecoh semua orang tuan muda, jangan khawatirkan kami yang ada di sini, bermain dan bersenang-senang bersama nona muda beberapa waktu, saya dan Rafael yang akan mengurus semua hal yang ada di sini dengan baik," ucap Sakti lagi.


"Kalian jangan bekerja terlalu keras, aku tau kalian sedang tidak baik-baik saja dengan pertempuran terakhir kali, jangan lupa bersihkan luka kalian setiap hari, jangan sampai infeksi," ucap Ibra sebelum kemudian menutup sambungan telfonnya.

__ADS_1


"Ibra tau dari mana kita terluka? lu bilang sama dia?" heran Rafael.


"Kau pikir orang kepercayaan tuan muda hanya kita ? meskipun tanpa kita, tuan muda tidak sendiri," ucap Sakti lagi.


__ADS_2