
Rafael POV
Malam ini Rafael tidak bisa tidur dengan nyenyak, ia berkali-kali membalikkan badan berusaha mencari posisi yang nyaman untuk tidur, respon Ibra benar-benar membuatnya gelisah.
"Kenapa Ibra bisa setenang itu, dia nggak marah sama sekali sejak gua sama Sakti dateng, emosinya beneran dia kendaliin dengan baik," pikirnya.
Rafael menggerakkan kakinya ke atas dan ke bawah berkali-kali hingga menimbulkan suara yang cukup keras, Bum bum bum.
"Ahh bisa gila gua mikir kek gini, gua harus pantau lagi gimana baiknya nanti, yang pasti gua harus tidur dulu malam ini, ah gua capek," pikirnya dengan tangan meremas rambut nya tanpa henti.
Sakti Pov
Berbeda dengan Rafael yang masih berusaha tidur di penghujung pagi, Sakti justru sedang meregangkan otot-otot di tubuhnya dengan melakukan tinju berkali-kali untuk meredakan emosinya.
"Rafael gila.... Rafael kurang ajar, gua bakal bunuh lu diem-diem ntar," ucapnya kesal dengan masih melakukan pukulan tanpa henti.
"Awas El... lu harus siap mati abis ini, kalo sampek terjadi sesuatu dengan tuan muda, gua bakal abisin lu juga," ucapnya dengan kesal.
"Dulu lu yang bilang nggak ada yang bisa ngambil apapun milik tuan muda, tapi dia sendiri yang ngambil, dasar Rafael nggak bisa di percaya.... Aish... "
Aga Pov
Laki-laki muda ini sedang menghadap jendela yang mengarah ke taman di samping rumah, ia sudah sibuk dengan ponsel di pagi hari.
"Akan ada perubahan besar di perusahaan, pemilik sebenarnya dari Harbank akan datang dalam waktu dekat, saya tidak ingin sampai ada kesalahan dalam hal apapun, pergantian posisi dan perubahan peraturan perusahaan harus siap kapanpun CEO yang baru akan melakukan kunjungan perdana,"
"Buat jadwal pendidikan untuk semua pekerja yang berada di rumah utama, jika ada problem hubungi pihak outsourcing dan ganti dengan yang baru, aku tidak ingin merawat sumber penyakit," tegasnya sebelum menutup panggilan telfon.
"Saya berjanji akan menjaga nona muda dan melaporkan semua hal yang ada di rumah ini agar anda tidak khawatir tuanku, sudah cukup semua drama di hidup anda, sekarang waktunya anda untuk menikmati ssemuanya tanpa perlu merasa khawatir," ucap Aga lagi pada diri sendiri.
***
Seperti biasa, Nadia bangun terlebih dahulu di bandingkan yang lain, tepat pukul empat pagi Nadia bangun dari alam mimpi seolah ada yang setia membangunkan nya di jam yang sama setiap hari meskipun tanpa alarm.
Nadia mengerjapkan matanya melihat sosok yang sedang tidur pulas di depan matanya, bulu mata lentik itu sangat indah bahkan ketika pemiliknya memejamkan mata.
Tanpa sadar Nadia tersenyum, "pagi cinta... " sapanya pagi itu dengan memberikan kecupan kecil di pipi Ibra.
Dengan senyum yang masih terlihat di pipinya, ia menurunkan kakinya dari atas ranjang hendak mengambil air wudhu sebelum ia melakukan sholat shubuh.
__ADS_1
"Mau.. kemana..? " tanya Ibra dengan suara masih serak.
"Mas udah bangun? ayok sholat yuk," ajaknya.
"Gimana nggak bangun kalo kamu cium-cium gitu, sini cium lagi," ucapnya dengan mata masih terpejam namun tangannya mencegah tangan Nadia agar tidak beranjak dari ranjang.
"Sholat dulu mas," ucap Nadia lagi dengan mengelus kepala Ibra seperti bayi.
"Yaudah sholat dulu gih, abis itu di sini aja nggak usah masak, biar nggak sia-sia bayar pembantu," ucapnya lagi dengan suara seraknya.
"Ayo sholat dulu tapi,"
"Kamu aja, aku nunggu di sini,"
Nadia mendekati wajah laki-laki yang sangat di cintainya ini dengan senyum, "nanti Nadia pengen banget sholat di imamin sama mas, semoga itu bisa jadi langkah kita berdua bisa selamanya menuju surga bersama anak-anak kita nanti," bisiknya pelan tepat di telinga Ibra.
Gadis itu beranjak dari kasur meninggalkan Ibra yang masih menatap kosong ranjang sebelahnya, getaran lembut ia rasakan di hati nya, Kata-kata sederhana yang baru saja di ucapkan Nadia menggoyahkan hati laki-laki itu.
"Mungkin, mungkin ini adalah jalan yang sengaja dia bawa untukku, bersama menuju surga terlihat sangat menyenangkan, dia sangat manis dengan kata-kata nya," batin Ibra dengan senyum.
Ibra beranjak dari tidurnya dan melihat ke arah kamar mandi, hingga tak lama Nadia keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah bersinar yang semakin mempesona Ibra.
"Tunggu aku, aku memang jarang melakukannya, tapi ini bukan pertama kalinya buatku," ucap Ibra ketika Nadia hendak mengambil mukenah di dalam lemari.
"Aku juga ingin bersama mu sampai surga yang kau ceritakan itu," ucapnya yang sudah hilang di balik kamar mandi.
Nadia tak henti-hentinya tersenyum pagi itu, ini pertama kalinya ia berdiri sebagai makmum dengan Ibra sebagai imamnya, ini saat-saat yang paling mendebarkan kedua setelah akad nikah yang pernah ia jalani dulu.
"Mas... " panggil Nadia ketika Ibra beranjak dari duduknya.
"Hm... "
"Naiklah, aku masih ngantuk, aku baru tidur dua jam," ucapnya yang sudah naik ke atas ranjang.
Mendengar ucapan Ibra, membuat Nadia bergegas melipat mukenah yang baru saja ia kenakan dan juga dua sajadah yang masih berada di atas lantai.
"Nadia ayo, ada sesuatu yang kamu harus tau,"
"Apa sih mas? ini harus di lipat dulu,"
__ADS_1
"Udah biarin aja, biar mereka ada kerjaan,"
"Mas nggak boleh gitu, kamar ini areanya aku, aku bisa beresin sendiri," ucapnya lagi.
"Oke, khusus itu tinggalin dulu, sini... " perintahnya tanpa ingin di bantak seperti biasanya.
"Huft... "
Nadia akhirnya mendekati Ibra dan duduk bersandar pada kepala ranjang, "ada apa?''
"Suatu saat, jika aku harus pergi dari hidup mu... "
"No... nggak ada pergi-pergi mas, nggak boleh pokoknya,"
"Rafael... rasa sayangnya padamu lebih besar dari apa yang aku bayangkan,"
Kening Nadia berkerut, "abang El kenapa?"
"Rafael, dia meminta ku untuk membebaskanmu," ucapnya jujur.
"Jika aku tidak jujur, aku hanya akan menciderai pernikahan kita, sejak aku menyentuhmu hari itu, aku sudah menerima pernikahan ini, aku tidak ingin menyimpan segalanya seorang diri,"
"Dan mas?" tanyanya.
"Mangkanya ini bilang Nadia..... kita cari solusi bareng," ucapnya kemudian menyentil dahi Nadia cukup keras.
"Awww, mas... sakit... " ucapnya reflek menyentuh dahinya.
"Fokus makanya..."
"Ini udah fokus, nggak kaget sih abang bilang gitu, ini bukan pertama kalinya bang El bilang gitu, udah dari dulu... "
"Nah itu, di tambah fakta kamu adeknya sekarang, dia jadi makin posesif," ucap Ibra sedikit kesal.
Tapi bukan ikut marah, Nadia kembali tersenyum, "ini baru suamiku,"
"Apa?"
"Suamiku yang suka marah, suka merintah, suka meledak-ledak nggak bisa ngatur emosinya,"
__ADS_1
Ibra melirik kesal, "yaudah sana, lusa aku mau pulang sama Sakti," ucapnya dengan kesal kemudian tidur memunggungi Nadia.
"Mas jangan di tinggal pulang, nggak mau... mas.... nggk mau di tinggal.... mas...." panggil Nadia menggoyangkan tubuh Ibra semakin keras karena tidak mendapatkan respon dari suaminya itu.