
"Jangan pernah berfikir buat bawa nona muda pergi dari sisi tuan muda,"
"Gua nggak pernah mikir kayak gitu, perasaan gua ke Nadia murni rasa sayang abang ke adik perempuannya, nggak modus kayak lu,"
"Kapan modus ?" tanya Sakti tidak terima.
"Dulu lu bilang pengen nunggu jandanya Nadia, pura-pura lupa lu ? gua masih inget jelas ucapan lu waktu itu,"
"Astaga Rafael, nggak gitu juga maksudnya, jangan terlalu hiperbola," jelas Sakti.
Tit tit tit tit
Suara alarm terdengar jelas bersahutan memenuhi seluruh ruangan di lantai itu, pertanda ada seseorang yang berusaha masuk ke dalam sistem informasi IA entertainment, kebanyakan mencari informasi pribadi Ibra sebagai publik figur terlalu dalam, namun tidak melepas kemungkinan juga mencari rahasia besar perusahaan.
"Wah ada yang pengen cari gara-gara nih, pas banget mood gua lagi pengen makan orang," ucap Rafael dengan seringai mematikannya.
"Iya tuan muda," sahut Sakti tak lama setelah menerima telfon dari Ibra.
"Ada saja tamu yang selalu mendatangi sistem keamanan kita, segera hubungi Rafael," ucap Ibra di balik telfon.
"Baik tuan muda," ucap Sakti lagi, kemudian menutup telfonnya.
Rafael masih fokus mencari tau siapa yang sudah berani masuk ke dalam sistem keamanan miliknya melalui ponsel, "mereka benar-benar cari mari karena berkunjung di waktu seperti ini," batinnya.
Laki-laki itu kemudian beranjak dari sofa yang sebelumnya ia tempati, dan masih berjalan dengan cool menuju ruangannya.
Melihat Rafael yang sudah melangkah pergi, membuat dirinya juga ikut beranjak dan melangkah mengikuti Rafael.
Sakti mengikuti langkah Rafael yang lebih jauh di depannya dengan kaki melangkah lebih panjang, tujuannya agar bisa menyeimbangi langkah Rafael tentunya.
Keduanya sudah berjalan berdampingan, Rafael membuka pintu ruangannya terlebih dahulu, namun langkahnya terhenti.
"Aduh, kalo mau berhenti bilang-bilang El," gerutu Sakti yang terantuk kepala Rafael yang tiba-tiba saja berhenti.
Mata Rafael berkerut, sudah ada Nadia duduk di kursi putarnya dengan Ibra berdiri di samping gadis kecil yang jari-jarinya sedang sibuk menari-nari di atas keyboard berwarna putih itu.
Tanpa banyak tanya, bahkan tidak menjawab pertanyaan Sakti, ia mendekat ke arah dua orang yang sudah lebih dulu ada di ruangan itu, keduanya terlihat sangat seru memperhatikan sesuatu, senyum puas juga sesekali muncul di balik bibir mungil Nadia.
"Asik bener, seru banget ya dek ?" tanya Rafael pada Nadia.
__ADS_1
Nadia masih fokus dan tidak menjawab pertanyaan Rafael, Sakti yang melihat itu pun segera mendekat dan memperhatikan apa yang saat ini di perhatikan semua orang.
"Dia hanya beberapa bulan mempelajari ini, tapi sudah sangat cepat melawan hacker yang hendak meretas informasi rahasia perusahaan ini, tapi Rafael nggak pernah bilang kalau dia ngajarin Nadia ini juga." batin Ibra.
"Tangan nona bisa bergerak secepat itu, ini seperti di lakukan seorang ahli, nona hanya belajar beberapa bulan, itu pun hanya lima hari sekali,"
"Selama ini gua cuma ngajarin dia program buat game, ama dasar-dasar pengoperasian sistem, gua belum ngajarin dia sejauh ini," batin Rafael menatap tak percaya.
Enter.
Itu adalah tombol terakhir yang di tekan oleh Nadia dan layar komputer sudah tidak bergerak-gerak seperti sebelumnya.
"Ahh akhirnya," ucap Nadia lega, dengan sedikit menekuk-nekuk ruas jarinya hingga berbunyi beberapa kali.
Ibra masih menatap Rafael, ini bukan seperti yang di jelaskan Rafael mengenai apa yang sudah dan belum di ajarkan kepada Nadia.
"Bukan gua," jawab Rafael seolah tau maksud dari tatapan Ibra itu.
Ibra masih tidak percaya dengan sahabat sekaligus bawahan nya itu, "beneran bukan gua dodol," ucapnya lagi pada mereka semua, pasalnya saat ini bukan hanya Ibra yang melihatnya dengan tatapan aneh, tapi juga Sakti.
"Siapa mereka ?" tanya Ibra yang baru saja mengalihkan pandangannya dari Rafael.
"Kita akan tau jika alamat IP nya sudah keluar om, setelah ini semua data di komputer yang terhubung dengan sistem mereka akan lenyap, tak hanya itu, kita akan mengambil alih semua akun email yang masih aktif di komputer-komputer yang terhubung dengan sistem,"
"Yups bisa di bilang seperti itu,"
"Bentar-bentar, yang ngajarin lu siapa ? gua masih belum ngajarin lu ini," tanya Rafael tidak terima.
"Nadia cuma liat abang, abis itu Nadia coba-coba sendiri," jelasnya.
"Lu denger kan bukan gua," ucapnya pada Ibra, "denger tuh denger, mau gua bersihin telinga lu pakai jasa korek kuping India ?" tambah nya pada Sakti.
"Lah, kapan aku bilang nggak percaya, tuan muda tuh yang nggak percaya, aku selalu mempercayai kemampuan nona muda,"
"Lu denger tuh, asisten lu udah mulai cari gara-gara, dia udah adu domba lu coba, bener-bener kurang ajar kan ?," tambah laki-laki itu di buat se dramatis mungkin.
Ibra hanya mendesah pasrah, "mereka masih saja suka bertingkah seperti ini," batin Ibra.
"Kerja bagus," ucapnya pada Nadia sambil menepuk-nepuk pucuk kepala gadis itu dengan pelan.
__ADS_1
"Ini virus terbaru bikinan Nadia," ucapnya lagi dengan senyum merekah di bibirnya, merasa bahagia mendapat pujian dari Ibra sebelumnya.
"Hah, virus lu tapi pake komputer gua ?" tanya Rafael shock.
"Buset kenapa gua baru nyambung kalo itu pasti virus, data gua gimana ? matilah El," gerutunya dalam hati.
"Aman kok bang, semua udah Nadia atur, punya abang udah Nadia pasang anti virusnya, hehe, tapi Nadia boleh minta tolong,"
"Pasang semua sistem keamanan kita yang terbaik El, agar tidak ada seorang pun yang tau virus itu buatan kita,"
"Hehe, om Ibra kayaknya beneran dukun nih, tau aja apa maksud Nadia," ucap gadis itu lagi.
"Sejak dulu nona, tuan muda memang...."
Prakkk
Belum sempat Sakti melanjutkan apa yang ingin ia ucapkan, sebuah figora foto yang sebelumnya terletak di atas meja kini melayang tepat di dada Sakti.
"Hey hey, itu foto gua waktu di Korea yang udah ada tanda tangan Park Min Young," teriak Rafael pada Ibra kesal.
Laki-laki itu terlihat memungut sebuah foto dengan bingkai menjadi dua dan pecahan kaca di mana-mana, ia mengambil foto tersebut dengan tangan kanannya, tepat saja terlihat sudah ada tanda tangan Park Min Young di sana.
"Hahaha, abang gagah perkasa gini melow juga ternyata, sukanya nonton korea," tawa Nadia menggema di ruangan itu, gadis itu kini berlari mengelilingi ruangan karena Rafael saat ini sedang mengejarnya.
"Diam Nadia, jangan nakal," teriak Rafael masih berusaha mengejar Nadia.
Berusaha tidak terusik, Ibra duduk di sebuah kursi yang sebelumnya di tempati istri kecilnya itu. Ibra melihat ke ada sebuah alamat IP yang tiba-tiba muncul di sana.
Ibra masih memperhatikan dengan seksama, ia merasa mengenal alamat IP itu, "El," panggilnya pada Rafael yang masih bermain tom and jerry bersama Nadia.
"Ini bukannya alamat IP milik daddy ?" ucapnya pada Rafael.
"Hah...?" Nadia melongo tidak percaya apa yang ada di depan matanya.
Rafael dengan serius melihat apa yang di tunjukkan Ibra, kemudian ia membuka sebuah draft yang ia letakkan di sudut meja kerjanya.
"Ini benar-benar milik tuan besar," ucap Rafael kemudian yang menambah panik Nadia.
"Matilah nona,"
__ADS_1
"Apa nama virusnya?" tanya Ibra lagi.
"Naisara om," jawab Nadia.