Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Harapan dan Gantungan


__ADS_3

Rafael yang baru saja keluar dari mobil segera menuju lift dan naik ke lantai tempat Kantor khusus Ibra berada.


Ruangan khusus itulah tempat Ibra menjalani operasi saat ini, alasan kenapa bukan di rumah sakit adalah karena khawatir ada pihak lain yang memanfaatkan keadaan dengan kondisi sekarang.


Sebuah lift khusus VIP segera membawa Rafael menuju tempat tujuan, namun ketika pintu lift terbuka dan langsung menunjukkan wajah Abrar, Rafael begitu saja langsung menghajarnya dengan keras.


"Awwww...... " rintih Abrar keluar dari mulutnya ketika Rafael memukul keras punggung laki-laki paruh baya itu.


Sakti dan Attar yang berada paling dekat dengan mereka segera melerai, Sakti menarik Rafael dan Attar membantu Abrar yang sudah berada di lantai untuk berdiri, darah mengalir keluar dari hidung laki-laki paruh baya itu, beberapa bagian wajahnya juga membiru karena pukulan dari Rafael.


"Are you crazy?" bentak Sakti pada Rafael yang sudah terlepas dari pegangannya.


"Sampai kapanpun gua nggak akan bisa lupa sama semua yang dia lakuin,"


"Dasar bocah... hal seperti itu saja membuatmu se marah ini," teriak Abrar yang juga tidak ingin kalah, ia terus memberontak hendak melepaskan diri dari Attar.


"Stop stop.... " teriak Aisyah tak kalah kencang melerai mereka semua.


"Kalian tidak lihat Ibra di dalam sedang dalam bahaya, tapi malah bertengkar seperti ini," ucapnya lagi.


"Keluar saja, bertengkar di luar sana, jangan dekat-dekat dengan putraku,"


Abrar yang paling kaget dengan ucapan Aisyah, "Hey... kau lupa janjimu, Ibra juga putraku, darahku juga mengalir di tubuhnya sekarang," ucapnya tidak Terima dengan ucapan Aisyah.


"Kalau dia juga putramu, seharusnya kau tau apa yang harus kau lakukan, bukan bertengkar disini seperti sekarang," teriak Aisyah lagi.


"Dan kau El, kenapa datang? Ibra sudah membebaskan mu kan?"


"Aku bukan budak yang bisa di bebaskan sesuka hati Ibra mom, aku pergi kalau aku ingin pergi dan akan datang ketika aku juga menginginkannya," jawabnya.


Namun Aisyah segera mendekat dan menarik telinga anak laki-laki nya ini, "Ahh... ahh.... sakit mom," rintih nya dengan tangan memegangi telinga.


"Kalau kau bisa bicara begitu, kenapa tidak mengatakannya dari dulu hah?" tambah Aisyah yang tau betul bagaimana Ibra setelah berpisah dengan Nadia.


"I'm... sorry mom," ucapnya lagi dengan memegang telinga sembari menggeleng kan kepala.

__ADS_1


"Huft.... sekarang duduk di sana dan diam, jangan membuat masalah," ucap Aisyah menunjukkan sebuah kursi tunggu dengan tidak tega.


"Kalo saja kita tidak berada di rumah sakit, aku pasti akan langsung memasukkan wajahmu itu ke dalam lumpur,"


"Mom... dia yang mulai duluan," adu Rafael dengan polosnya.


"Kau..." kesal Abrar ketika Rafael mengadu pada Aisyah.


"Cukup.... kau tidak tau jika Aisyah marah maka semua akan menjadi tidak baik, kau tidak lihat bahkan matanya itu hampir keluar, kau mau tubuhmu hanya tinggal kerangka? diam dan jangan membuat keributan lagi," bisik Attar yang sangat faham dengan istrinya itu.


Mendengar ucapan saudaranya membuat Abrar bergidik ngeri sendiri, hingga akhirnya mengikuti saran Attar agar berhenti bersuara.


Hampir lima belas menit terjadi keheningan di antara mereka semua, namun suara alarm mengacaukan semuanya.


"Sistem terblokir, sistem terblokir, sistem terblokir," suara operator yang berulang kali terdengar membuat Rafael menatap Sakti dengan wajah serius.


"Siapa yang mengendalikan sistem selama gua nggak ada,"


"Semua bawahan yang kau percaya,"


"Lu nggak kontrol?"


"Kalo sampai ini semua gara-gara lu, mending siap-siap abis aja idup lu abis ini," tunjuk Rafael pada Abrar.


"Sakti gua handle sistem, lu yang urus pertahanan kalo tiba-tiba ada orang yang mau nerobos masuk, dari pintu depan," perintahnya.


Sakti mengangguk dan dengan cepat bergerak masuk ke dalam lift untuk turun dan memberikan arahan lapangan.


Rafael melepas jas luar yang ia pakai, kemudian membuka kancing baju dan melipat sedikit lengan baju agar tidak kepanjangan.


"Kau mau kemana? nggak ada siapapun yang bisa masuk, pintu ini sudah terkunci secara otomatis sampai Ibra selesai operasi, aku sudah mencobanya tadi," ucap Attar.


"Nggak ada yang bisa menghalangiku dad, ini hanya masalah kecil," jelas Rafael kemudian meletakkan tangannya di atas permukaan pintu kaca untuk memindai sidik jari.


Tak hanya itu, Rafael juga mendekatkan kornea matanya untuk di pandai.

__ADS_1


"Welcome back master Rafael," ucap seseorang entah dari mana, namun pintu itu benar-benar terbuka.


Dengan langkah tenang Rafael masuk ke sana tanpa menoleh ke belakang lagi, masuk ke lapisan dalam ruangan dimana Ibra sedang melakukan operasi.


"Stop El, jangan bergerak lebih jauh lagi," teriak Luna yang sedari tadi mengamati pergerakan Rafael, tak hanya Luna, semua orang yang melihat di depan pintu transparan itu juga ketir-ketir kuatir.


Tanpa menghiraukan ucapan Luna, Rafael tetap saja bergerak di sisi berlawan,"Sekat di aktifkan," ucap Rafael yang tiba-tiba muncul pembatas kaca antara ruangan yang kini di tempati Rafael dengan beberapa alat komputer di depannya dan titik dimana Ibra di operasi saat ini.


"Lanjutkan tugasmu Lun, aku akan melakukan tugasku," ucap Rafael kembali formal.


Luna kembali fokus pada operasi Ibra, Rafael fokus mengamati dan menekan beberapa tombol komputer di sana, "Audio on, sistem manual di nonaktifkan, Rafael mengambil alih," ucap Rafael yang mana membuat semua orang di ruangan sistem mengangkat kedua tangannya tidak berani melakukan apapun.


"Waktunya beraksi," ucap Rafael seorang diri.


Tangan Rafael mulai bergerak lincah di atas keyboard kaca di depannya, tak hanya itu iya juga mengaktifkan semua layar monitor yang ada di depannya agar lebih mudah untuk melihat pergerakan di sekeliling perusahaan.


"Sakti... arah jam 12, 3 penembak jitu di atas menara,"


"Cih penembak jitu tapi tiga orang, pengecut,"


Dor dor dor


Suara tembakan terdengar jelas di penjuru gedung, "good job,"


Biip biip biip


Sebuah tanda suara yang berarti target sudah berhasil di identifikasi, "Dapat kau" ucap Rafael senang.


Ia memulihkan sistem keamanan dengan beberapa kode rumit agar tidak kembali terjadi hal seperti ini, "ke depannya sampai ada mata-mata yang kutemukan di wilayah ku, tidak hanya nyawa, keluarga dan seluruh orang yang kalian kenal taruhannya,"


"Ya tuan," ucap mereka serentak.


Rafael berdiri dari kursinya bersamaan dengan Luna yang juga menyelesaikan operasinya, beberapa alat operasi sudah di lepas dari tubuh Ibra.


Keduanya keluar ruangan dengan berdampingan yang mana langsung di serbu dengan banyak sekali pertanyaan dari semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


"Luna bagaimana dengannya?" tanyanya.


"Operasi nya berhasil tante, tapi semuanya kembali pada kondisi tubuh Ibra, kita hanya harus menunggunya saat ini," jelas Luna yang seperti memberi harapan namun juga menggantung.


__ADS_2