
"Lepaskan aku, aku tidak bisa bernafas,"
"Nggak mau, nanti om pergi,"
"Astaga Nadia, aku tidak akan pergi, lepaskan dulu," ucap Ibra yang sebenarnya sudah salah tingkah mendapat perlakuan seperti itu dari Nadia.
Selama ini memang Nadia tidak pernah bertindak lebih dulu, selalu Ibra yang dominan untuk memeluk dan menggoda Nadia, sekalipun salah tingkah Nadia selalu saja diam dengan apa yang di lakukan oleh Ibra karena berfikiran ini adalah hak yang harus di dapatkan oleh Ibra sebagai suaminya.
Namun setelah Nadia mulai agresif, justru Ibra semakin tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya, ia tiba-tiba merasa salah tingkah dengan pipi memerah karena malu, yang bisa ia lakukan hanya menutupinya dengan marah dan bersikap kesal.
"Nggak mau, sini duduk sini,"
"Apa yang dilakukan bocah ini, aish akan sangat memalukan jika dia tidak segera melepaskan pelukannya, kenapa dia benar-benar menggemaskan di saat seperti ini," batin Ibra ketika merasakan adik kecilnya sudah menegang dengan sempurna.
"Apa? kau mau bicara apa?" tanya Ibra mengalihkan pembicaraan, berusaha tenang meskipun hatinya sudah loncat loncat tidak karuan.
"Pillow talk,"
"Kau baru saja bangun Nadia, kenapa ingin tidur lagi,"
"Kan tadi bobok sendiri om, biasanya di peluk sama om kan? hehe," ucap Nadia senyum.
"Kau..... mesum....siapa yang mengajarimu ha ???" teriak Ibra kemudian bergerak mundur menjauh dari Nadia.
"Astaga sejak kapan dia jadi mesum seperti ini, pikiranku sudah traveling kemana-mana, tahan Ibra, tahan,"
"Aish dasar om Ibra, tadi aja khawatirnya minta ampun sampek cium-cium, sekarang kumat dinginnya, untung aja aku masih inget sama kejadian tadi, hehe" batin Nadia.
"Om yang ngajarin," jawabnya percaya diri.
Nadia mengingat semua hal yang terjadi padanya dan apa yang sudah di lakukan Ibra untuk menolongnya sejak ia melihat tanda merah di lehernya saat di kamar mandi, jika saja Ibra tadi datang terlambat sedikit saja, dia sudah tidak tau apa yang akan terjadi padanya saat ini.
"Om tau nggak ?"
__ADS_1
"Apa...? "
Ibra yang tadinya hanya duduk di bibir ranjang, kini sudah mulai menarik kakinya dan bersandar di kepala ranjang menatap ponsel yang berada di genggaman nya.
"Aku tidak boleh terlalu lama di dekat bocah ini, bisa bisa aku mati karena serangan jantung,"
"Hal yang paling Nadia sesali hari ini adalah tidak pernah melayani om dengan baik," ucapnya dengan senyum getir yang mana membuat Ibra menoleh padanya tiba-tiba.
"Kau sudah melayani ku dengan baik, kau menyiapkan semua yang aku butuhkan dan tau apa yang benar-benar aku inginkan, itu sudah cukup, aku bukan salah satu orang yang serakah," jelas Ibra kembali menatap ponselnya, berusaha bersikap acuh.
"Maaf udah bikin om Ibra mandi tiap malem, aku tau itu buat nahan biar nggak nyentuh aku sesuai kesepakatan kita, maaf juga karena aku belum cukup baik untuk menjaga diri sendiri dan selalu membuat om dalam masalah," ucap Nadia tertunduk, ia ingin sekali menangis, perasaan bersalah itu memang benar-benar ia rasakan.
Ibra tercengang, bagaimana mungkin gadis kecilnya itu bisa tau jika setiap malam ia selalu tidak tahan ketika memeluk tubuh kecil Nadia dan akhirnya melakukan pelepasan seorang diri di dalam kamar mandi, "ehem ," ucapnya tetap cool.
"Dia tidak tidur selama ini?" pikirnya.
"Aku tidak bisa membayangkan jika orang-orang itu benar-benar melakukannya, semua ini milikmu om, selama om Ibra belum memiliki nya maka tidak boleh ada yang bisa memilikinya juh" Nadia masih hanyut dalam pikirannya hingga sebuah lengan kokoh menariknya ke dalam dada bidang favoritnya itu.
"Nadia sayang om Ibra," ucapnya lirih namun masih terdengar jelas.
"Hey... kau wanita.... nanti jangan bicara sembarangan m seperti itu di hadapan pria lain, mengerti? membuatku kesal saja," ucap Ibra yang di jawab anggukan dan senyum oleh Nadia, tanpa sadar laki-laki itu tersenyum seorang diri, ada ketenangan di hatinya entah karena apa.
"Mereka sudah menyentuhmu di bagain mana?" ucap Ibra melepaskan pelukannya dan melihat baik-baik tubuh Nadia.
"Apa tidak ada yang luka?" tanyanya lagi membolak-balikan tubuh Nadia, emang gorengan bang di bolak balik, haha.
"Aku baik-baik saja om?"
"Kau yakin?"
"U uhm" ucapnya yakin seratus persen.
"Cepat katakan di bagian mana mereka menyentuhmu?" tanya Ibra lagi.
__ADS_1
"Tidak ada om,"
"Tidak tau om, aku tidak ingin mengingatnya," tukas Nadia.
''Tidak, tidak aku akan mengeceknya sendiri," ucap Ibra dengan tangan yang sudah menjelajahi di tubuh Nadia, yang pasti langsung membuat pipi gadis itu memerah karena malu.
"Apa di sini...? di sini....?" tanya Ibra pada Nadia ketika ia sudah sampai di kedua bukit kembar yang ternyata cukup besar itu.
"Om Ibra..... " teriaknya malu berusaha bangkit namun Ibra menahan pergelangan tangannya.
"Jangan berusaha menguji kesabaran ku Nadia, sebaik apapun aku memperlakukan mu, aku tetaplah laki-laki normal," bisik Ibra pada Nadia yang mana semakin membuat gadis itu merinding geli dengan jarak bibir Ibra yang hanya beberapa senti dari telinganya.
"Haha.... iya iya, om ngerasa panas nggak sih? aku akan mencari udara di luar, aku belum melihat-lihat penginapan ini, di sini sangat panas," ucap Nadia dengan lari secepat mungkin dengan tangan mengipas-ngipasi wajahnya.
Ibra tersenyum penuh kemenangan setelah melihat wajah Nadia yang benar-benar merah seperti tomat, gadis itu sudah berlari menjauh ke arah kolam renang dan halaman.
"Dia selalu memakai baju kebesaran, aku bahkan baru sadar jika dia memiliki pa****** yang sangat pas di genggaman tanganku, itu sangat besar, ah pasti...." Ibra tidak berani melanjutkan fantasi liar nya.
"Nggak usah ngaco Ibra.... lu nggak bisa sentuh dia, aish kayaknya harus mandi lagi," ucap Ibra.
***
Taman
Nadia berlari menjauh dari Ibra, detak jantung nya benar-benar tidak bisa di kendalikan, pipinya memerah, "apa yang harus aku lakukan, kenapa aku berbicara seolah-olah ingin di sentuh om Ibra.... Nadia bodoh Nadia bodoh," ucapnya memukul kepala sendiri.
"Aku bahkan masih bisa merasakan tangan om Ibra di sini, ini memang miliknya tapi aku juga takut mengatakannya, aku sangat malu berhadapan dengannya," ucapnya pada diri sendiri.
Nadia masih berfikir seorang diri, "om Ibra pasti sudah melakukan dengan wanita lain, dia terlihat berpengalaman ketika menyentuhnya, bagaimana jika selama ini om Ibra udah jajan di luar, aku ikut dapet dosa dong," ucap Nadia takut.
"Aku harus tanya bang El,"
"Aku belum pernah melakukannya, mau mencobanya bersamaku?" bisik Ibra di telinga Nadia sambil memeluknya dari belakang.
__ADS_1