Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Saling Menyayangi


__ADS_3

"Ada apa? apa yang membuatmu sakit sampai berkaca-kaca seperti ini, ada apa Nadia?" tanyanya lagi semakin khawatir.


"Hujan tidak pernah tau dia jatuh pada siapa, tapi air mata tau dia jatuh karena siapa," ucap Nadia pelan dengan tangan berada di pipi Ibra.


"Suatu hari nanti akan ku ceritakan bagaimana sulitnya bangkit tanpa kamu, pergi tanpa pamit rasanya sakit dan perih," ucap Nadia dengan air mata berhasil lolos dari kornea matanya.


Ibra menatap sosok perempuan yang ada di hadapan nya ini, kemudian memeluknya perlahan ke dalam dekapan nya, mengelus rambutnya pelan sebelum kemudian kembali menatap lekat-lekat mata memerah gadis itu.


"Aku sudah ada di sini sekarang, jangan menangis seperti ini untuk siapapun kedepannya, selama ada aku tidak ada seorang pun yang bisa membuat air mata ini terjatuh," ucapnya menghapus buliran air mata di pipi Nadia dengan lembut.


"Tapi kenapa suatu hari, aku ingin mendengar nya sekarang,"


"No... aku akan menceritakannya nanti," ucap Nadia dengan menggelengkan kepala.


"Karena aku masih sangat kesal dengan mas Ibra...mas Ibra nakal, menjengkelkan, jahat," ucapnya kesal.


Buk buk buk


Sebuah tangan beberapa kali berhasil mendarat dengan keras di dada Ibra hingga berbunyi, "udah tau darahnya langka kenapa bersikeras harus menghalangi kita dari tabrakan itu, kenapa mas Ibra nggak nyari cara lain atau apa, mas pikir dengan begitu bisa jadi super hero apa? hah....kita cuma pengen mas Ibra ada di sini, di sekeliling kita, jadi nanti jangan jadi pahlawan yang hanya akan membahayakan diri mas sendiri," cerocos Nadia tanpa henti.


Ibrahim hanya diam pasrah mendengar gadis yang tanpa sadar sudah di cintai nya ini mengeluarkan semua hal yang selama ini mengganjal hatinya.


"Kenapa? ayo jawab," tanya Nadia lagi dengan wajah di buat garang ketika Ibra masih saja bergumam.


"Ya karena ingin saja," jawabnya singkat.


Bibir Nadia semakin maju ke depan karena kesal dengan jawaban suaminya.


"Wkwkwk, jangan membuatku tertawa dengan wajah itu Nadia, dasar Gacil," imbuhnya lagi sambil mengetuk kepala Nadia pelan.


"Mas panggil yang romantis dong, sayang, honey, cinta, sweetie, atau apa gitu yang romantis, gacil... Nadia kan nggak akan jadi kecil terus mas," ucapnya.


"Uhm... nanti kupikirkan, aku akan memikirkan dengan baik, mengerti ?"

__ADS_1


"Iya, tapi jawab dulu yang tadi, hehe," ucapnya dengan senyum sumringah.


Ibra menarik nafas perlahan, "Dulu aku tidak bisa menjaga Anna dengan baik karena saat itu aku masih belum bisa melakukan apapun di usia dan kondisi saat itu, lalu saat aku melihat kalian semua ada di sana, yang bisa terfikir kan adalah bagaimana agar ledakan yang terjadi tidak menyentuh seujung kuku pun tubuh kalian, akhirnya terjadilah seperti itu, hanya itu yang bisa ku fikirkan."


"Tapi saat itu abang El bahkan masih belum memaafkan mas Ibra, dia masih belum menerima pernikahan kita juga saat itu kan, kenapa mas Ibra baik banget,".


"Simpel, because we are family," jawab Ibra singkat.


***


Di luar pintu kamar Ibra


Rafael dan Sakti sudah berada di depan pintu kamar Ibra hendak mengetuk pintu dengan beberapa makanan di tangan kanan mereka.


Keduanya terhenti ketika mendengar Ibra sedang berbincang dengan Nadia saat pintu sedikit terbuka, meskipun samar-samar, namun Sakti dan Rafael bisa mendengar pembicaraan kedua orang yang ada di dalam sana.


"Simpel, because we are family," jawab Ibra saat itu.


"We are Family? yups, we are family, sama halnya gua nggak bisa liat Ibra terluka, Ibra juga nggak bisa ngeliat salah satu dari kita terluka," batin Rafael terenyuh.


Nadia yang saat itu mendengar langsung dari mulut Ibra segera memeluk suaminya itu tanpa aba-aba, tidak hanya Nadia, Sakti dan Rafael yang sudah ada di depan pintu dengan membawa makanan kini juga langsung menyerbu masuk, meninggalkan kereta dorong kemudian meletakkan makanan di ranjang dan ikut memeluk Ibra bersama Nadia.


"Hey.... hey.... kita bukan teletubbies, lepaskan aku, heh... lepaskan aku," teriak Ibra ketika semua orang semakin memeluknya erat.


"Kita memang teletubbies, aku akan menjadi poo karena tubuhku yang paling kecil di antara kalian semua, ah aku senang sekali," ucap Nadia dengan masih memeluk Ibra.


"Gua lala, i like yellow, biar Sakti yang dipsy, mukanya item udah cocok tuh, ijo ijo" sahut Rafael yang sudah meletakkan kepalanya di bahu Ibra.


"Wah.... wah.... kalian kira kita sedang apa hah?, lepas.... lepas nggak ? Aish..." bentak Ibra yang mana langsung membuat semua orang melepaskan diri dari tubuhnya seketika.


"Saya minta maaf tuan muda, tapi saya benar-benar merasa terharu dengan apa yang tuan muda katakan," ucap Sakti.


"Cih.... mana makananku," ucapnya mengalihkan pembicaraan, Ibra kurang suka dengan suasana seperti ini, iya benci terlihat mellow.

__ADS_1


"Kenapa kalian semua di sini? mengganggu saja," tanyanya.


"Lah lu minta makan, dasar bocah," ucap Rafael.


"Mas...jangan berdebat dengan bang El," ucap Nadia mengingatkan.


"Ya kita ikut kalian berdua lah, salah sendiri minta makan di kamar, ya kita ikut lah," tambah Rafael.


"Mana mejanya," ucapnya lagi.


Tanpa lama Sakti dan Rafael segera mengambil sebuah meja dan menata makanan sendiri di sana, tentu saja di bantu oleh Nadia.


Semuanya bekerja dan bergerak bersama-sama saling membantu tanpa perlu di layani oleh siapapun, itu karena mereka selalu berada di satu rumah yang sama tanpa seorang pelayan.


Ibra melihat pemandangan di depannya, hatinya benar-benar sangat bahagia hari ini, ini adalah momen yang sudah lama ia rindukan sejak pertengkaran nya dengan Rafael terakhir kali.


"Jangan lupa memanggil Luna dan asisten pribadimu El," perintah Ibra pada Rafael.


"Kenapa nggak makan di taman aja mas kalo manggil semua orang kesini," ucap Nadia.


"Kamar kita sangat besar, aku sedang malas berjalan-jalan, ajak saja semua orang kesini," ucapnya lagi.


"Saya akan memanggil semua orang tuan muda," ucap Sakti lagi.


"Pergilah,"


Sakti pergi kemudian, "kau tidak pergi juga?" tanya Ibra pada Rafael yang masih sibuk memindah bunga di atas meja yang sedari tadi bingung hendak ia taruh mana.


"Jangan ganggu gua," ucapnya.


"Kenapa sudah membuat sistem keamanan baru begitu aku datang kemari," tanyanya pada Rafael.


"Biar lu aman, adek gua aman, gua aman, keluarga gua aman, udah," jawabnya dengan mata masih sibuk dengan bunga di depannya.

__ADS_1


Baru Ibra hendak membalas ucapan Rafael, namun sudah di sela oleh Rafael, "kita semua nggak bisa jamin kapan lu bisa pulih seratus persen, seandainya dalam waktu dekat, lu masih harus banyak latihan, gua tau lu kesulitan jalan, jadi nggak usah komen cara gua buat jaga lu," jelas Rafael yang membuat Nadia tersenyum.


"Mereka semua saling menyayangi,"


__ADS_2