
Drrt drrt
Ibra mengambil ponselnya yang bergetar karena pesan masuk dari Rafael, jari laki-laki itu membuka pesan yang baru saja masuk.
Deg.
Semua bukti atas menghilangnya Anna selama ini dan alasan dia pergi dari sisinya sudah berhasil di dapatkan oleh Rafael dan kini berada di ponselnya.
Foto-foto Anna yang sedang berpakaian mewah dengan tawa bahagia benar-benar terlihat jelas di sana, surat perjanjian yang sudah di tanda tangani oleh Anna dan oma selaku Delta Internasional juga sudah ada di sana.
"Dia bekerja sama dengan oma agar aku menjadi penerus oma dan dia juga bisa menjadi nyonya Ibrahim Muhammad Attar sebagai pemilik Delta Internasional selanjutnya? nggak mungkin ini pasti bohong, aku jauh lebih kenal Anna dari semua fakta ini," batin Ibra.
Di ruangan luas itu, beberapa orang berkumpul mengitari meja berisi buah-buahan dengan Ibra yang duduk di sofa utama dan lainnya duduk di sofa yang lain, hanya Nadia yang tetap duduk di atas karpet dengan tangan berada di atas meja sembari memainkan ponsel bututnya.
"Apa yang mereka lakukan kepada kamu selama ini ?" tanya Ibra memecah keheningan.
"No, mereka memperlakukan aku dengan baik honey, ini nggak seperti yang kamu fikirkan," ucapnya dengan senyum.
"Maksudnya?" tanya Ibra benar-benar tidak faham.
"Aku bukan tahanan di sana, aku bisa makan, dan melakukan apapun yang aku inginkan selama aku mau di ajari menjadi cucu menantu yang layak untuk kamu kedepannya," jelasnya.
"Lalu kenapa kamu tidak kembali ? daddy rasa kalian tidak bisa menutup mata dengan apa yang sudah di alami oleh Ibra beberapa tahun belakangan ini," tegas Attar yang baru saja datang.
"Keliatan banget daddy nggak begitu suka dengan tante Anna, memang tante Anna sedikit antik sih orangnya,"
"Oma nggak ngasih aku izin untuk bertemu Ibra sebelum aku menyelesaikan pelajaran ku untuk menjadi istri yang baik untuk Ibra dad," ucapnya membela diri.
"Oh, kalo gitu coba deh jadi istri pura-pura Ibra dulu, lebih bagus mana kamu yang udah ikut pelajaran jadi istri sama Nadia yang nggak belajar sama sekali," ucap Aisyah tidak tinggal diam.
"Aku di samakan dengan gadis kecil sepertinya mom?" tanyanya.
"Nadia nggak ikut nggak papa kok tante, kalo tante mau praktek jadi istri om Ibra langsung ya silahkan aja,"
__ADS_1
Semua orang menatap aneh ke arah Nadia dengan apa yang di ucapkan gadis itu, pasalnya semua ingin Nadia membuktikan bahwa dirinya adalah yang terbaik untuk Ibra, "itu bukan masalah bang, no problem," ucapnya dengan senyum manis melekat di bibirnya.
"Apa-apaan dia ini, aku merasa di jual olehnya,"
"Oke, aku akan tinggal dengan Ibra selama beberapa hari,"
"Aku tinggal di rumah kecil, dengan mereka bertiga, aku tidak yakin itu rumah yang layak untuk kamu An," ucapnya kemudian.
"Dan kamu Nadia, kamu masih istriku, kamu tidak bisa membuat keputusan sendiri tanpa izin dariku, termasuk hal ini" ucap Ibra tegas.
Nadia menatap Ibra penuh selidik, "Apa maksudnya om Ibra berbicara seperti ini, bukankah ini yang dia inginkan?" batinnya.
"Iya om, Nadia minta maaf," ucapnya menunduk.
"Seperti dugaan Sakti, perasaannya pada Anna mungkin saja hanya perasaan bersalah, Ibra mungkin tidak sadar jika dia sudah mencintai Nadia," pikir Rafael.
"Lalu bagaimana?" tanya Anna.
"Aku yakin aku bisa lebih baik dari dia Ibra, aku sudah belajar bertahun-tahun untuk mempersiapkan diri menjadi istri kamu," ucapnya tidak mau kalah.
"Ini adalah hari yang aku tunggu sejak dulu, bertemu dengannya. Namun hari ini aku seperti bertemu dengan orang lain, terlebih semua yang di kirimkan Rafael benar-benar mengusik pikiranku,"
Terlihat raut bingung di wajah Ibra, dia kemudian menatap Aisyah hendak meminta bantuan. Aisyah yang faham kode dari putra semata wayangnya itu pun mulai berfikir.
"Uhm, begini saja, anggap saja ini adalah masa penjajakan hubungan kamu dan Ibra, tapi tetap tidak boleh keluar batas, harus memperhatikan bahwa Ibra masih menjadi suami sah Nadia," ucap Aisyah.
"Masalah rumah, layak ataupun tidak layak, sebagai istri memang harus mengikuti kemana pun suami pergi, jadi entah rumah itu besar atau kecil Anna harus ikut kamu sebagai istri, anggap saja percobaan,"
"Dan lagi, karena kalian tinggal bertiga itu artinya Anna juga harus tinggal bersama dengan kalian, oke?" tambah Attar.
"Yes ada yang bisa di kerjain," senang Rafael, "Setuju dad, daddy mommy terbaik," ucapnya lagi dengan semangat.
"Bagaimanapun? semua ada di tangan tuan muda," ucap Sakti.
__ADS_1
"Tidak hanya aku, tapi juga Nadia," jawab Ibra mantap, laki-laki itu sejak tadi menatap raut wajah Nadia yang selalu menunduk, entah apa yang di rasakan gadis kecilnya itu saat ini.
Ibra membelai kepala gadis kecil yang duduk tepat di sebelah kakinya, "Bagaimana ?"
Kepala gadis kecil itu mendongak, terlihat matanya yang sudah berkaca-kaca terkena pantulan cahaya lampu di rumah itu. Sedikit lama terdiam kemudian gadis itu mulai menggeleng kan kepalanya.
"Nadia, Ibra punyaku, kamu nggak punya hak untuk mengekang Ibra seperti ini, aku juga punya hak yang sama," teriak Anna geram dengan tangan ke udara hendak menarik rambut Nadia yang terurai.
Grep
"Jangan pernah menyentuh nona muda," tahan Sakti pada pergelangan tangan Anna yang sudah melayang di udara.
"Sakti lepas, kamu nggak punya hak buat nyentuh aku," ucap Anna memberontak namun tetap tidak di hiraukan oleh Sakti
"Ragaaaannnn.... " teriak Anna pada sosok laki-laki yang baru datang, laki-laki itu yang dulu pernah di temui Ibra bersama Anna di rumahnya.
"Ho ho, jangan lu kira kita diem lu bisa ngelakuin apapun, tugas gua di sini nggak cuma buat Ibra, tapi lebih spesifik untuk melindunginya dari orang-orang seperti kalian," ucapnya menunjuk pada Nadia.
"Lusy.... pak Mul.... " teriak Attar tak mau kalah.
"Sejak kapan semua orang bisa keluar masuk rumah ini dengan mudah hah," ucapnya lagi.
"Ibra apa-apaan ini, kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini," ucap Nadia dengan nada suara memelas.
"Aku sudah bukan Ibra yang dulu, aku sudah memiliki istri dan kehidupan ku sendiri, seharusnya sejak kamu memilih untuk pergi, kamu sudah tau konsekuensi yang harus kamu terima,"
"Ibra... "
"Aku benar-benar kecewa dengan semua kebenaran yang saat ini mulai berangsur-angsur terbuka," tegas Ibra.
"Kebenaran apa Ibra, aku ikut oma demi kamu, demi layak jadi pendamping kamu di masa depan,"
"Dengan pergi? itu bukan alasan yang bagus Anna, akan berbeda jika kamu benar-benar menjadi sandera, aku nyari kamu udah kayak orang gila bertahun-tahun, kamu tau gimana rasanya ? kamu bisa bayangin perasaan aku hah ? aku berusaha nggak percaya sama apa yang aku lihat, tapi sikap kamu semakin membuat aku merasa bahwa semua fakta itu benar,"
__ADS_1