
Ada sosok wanita dengan pakaian putih berlumur darah mendekatinya, dengan rambut yang berantakan wanita itu berjalan terseok-seok sembari memegangi bagian tubuhnya yang terluka menatap ke arahnya dengan tatapan marah dan wajah penuh air mata. Dengan perasaan takut Nadia berjalan mundur ketika wanita itu mendekatinya.
"Ini semua karenamu, jika saja kamu tidak pernah datang di hidup Ibra, aku pasti akan mendapatkannya dan aku tidak akan berakhir seperti ini," ucapnya dengan mata berkilat-kilat penuh amarah.
Keringat dingin keluar dari tubuh Nadia, "A,,ku tidak pernah merebut om Ibra, A,,ku tidak pernah mengganggu tante," ucapnya dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Ini semua karenamu," ucap wanita itu semakin keras, tangannya kini sudah terjulur memegang leher Nadia.
"A,,ku tidak tau apapun," jawab Nadia dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun wanita itu masih saja mendekatinya dengan wajah menyeramkan itu, seakan tidak peduli dengan ketakutan yang Nadia rasakan.
"Tidak,,,tidak,,," teriakan Nadia membangunkan Ibra dari tidurnya.
"Siapa yang berteriak malam-malam seperti ini, mengganggu saja," ucap Ibra dengan suara khas orang yang baru bangun tidur.
Ibra bangkit dari tidurnya kemudian meraba sakelar yang ada di dekat meja samping ranjangnya, dengan mata mengerjap-ngerjap laki-laki itu berjalan pelan mencari sumber suara kemudian mendekat ke arah sofa yang di tempati Nadia, terlihat beberapa keringat sebesar biji jagung bertengger di dahi gadis itu, "kejadian tadi masih meninggalkan trauma padanya," ucap Ibra pada dirinya sendiri.
Suara ketakutan dari bibir Nadia semakin jelas terdengar, "Nadiaaa,, Nadia bangunlah,," ucap Ibra sedikit keras dengan menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu.
"Hah hah hah," Nadia bangun dari tidurnya dan terduduk seketika dengan tangan menutup telinganya. wajahnya pias, keringat dingin benar-benar membasahi seluruh tubuhnya.
"Apa yang terjadi ?" tanya Ibra.
"Om hah tante Bella hah," ucapnya ngos-ngosan seperti seseorang yang baru saja lari marathon.
Seperti dugaan Ibra, kejadian tadi siang sungguh membuat gadis itu mengalami hal seperti ini, "prediksiku tidak salah, dia akan mengalaminya malam ini. Topeng yang ia buat sejak tadi benar-benar tidak bisa membohongi alam bawah sadarnya," batin Ibra, namun laki-laki itu tetap diam menunggu keadaan Nadia lebih tenang.
Merasa sudah membaik, Nadia menoleh ke arah Ibra yang masih berdiri melihatnya tanpa melakukan apapun, "aku tidak apa-apa om, tadi hanya mimpi buruk saja, maaf sudah membuat istirahat om terganggu," ucapnya masih dengan senyum yang kali ini terlihat dipaksakan.
"Baiklah, sebaiknya kau tidur lagi, ini masih tengah malam," ucap Ibra dengan gaya coolnya kemudian berjalan mendekati ranjang, tangan laki-laki itu kini mulai bergerak hendak mematikan sakelar lampu agar tidak banyak pencahayaan yang masuk ke dalam matanya ketika ia tidur.
"Uhm om," ucap Nadia ragu.
"Apa ?" tanya Ibra singkat.
__ADS_1
"Bolehkah lampunya dinyalakan saja, aku tidak terlalu nyaman jika berada di ruangan gelap," ucap Nadia hati-hati.
"Aku tidak bisa tidur dalam keadaan terang, mataku juga butuh istirahat," ucap Ibra yang tetap mematikan lampu kamar itu.
"Ah baiklah," ucap Nadia lagi, gadis itu semakin mengkerut di bawah selimut karena takut, sejujurnya bayangan Bella menghampirinya masih terbayang-bayang di pikirannya.
Berbeda dengan Nadia, Ibra kini berguling guling di atas ranjang dengan perasaan tidak tenang memikirkan gadis kecil yang kini sudah terbungkus selimut di atas sofa, hinga akhirnya, "Hey Gacil, kau sudah tidur ?" teriak Ibra.
"Belum om, kenapa ?" ucap Nadia dengan kepala masih dibawah selimut, sehingga suaranya hanya terdengar pelan.
"Kemarilah ! kau akan semakin susah tidur jika disana, gorden itu suka bergerak-gerak sendiri, apa kau tidak takut ?"
"Hah, om yakin nggak bohong ?" tanya Nadia lagi kemudian melihat gorden yang dimaksud oleh Ibra, gorden itu memang bergerak terkena angin, ada jendela terbuka di sisi itu yang sebelumnya di buka oleh Ibra.
Melihat gerakan gorden itu benar-benar membuat Nadia berfikir bahwa itu hantu, kakinya secara spontan berlari kencang menuju ranjang Ibra dengan membawa selimut, pikirannya benar-benar masih tertuju kepada Bella yang berada di mimpinya, wanita itu terlihat menakutkan bahkan hingga kini.
"Om, apa sudah tidak bergerak ? apa om melihat sesuatu disana ? bagaimana ini om kalau om Bella balas dendam dengaku ?" ucapnya bergetar sambil menutup tubuhnya dengan selimut.
Nadia masih berada di dalam selimut dengan jarak yang sangat dekat dengan Ibra, bahkan lengannya menempel pada tubuh pria itu, tepat disampingnya.
"Cepatlah tidur, aku besok masih harus bekerja," ucap Ibra.
Tangan Nadia kini mulai menarik lengan Ibra karena takut jika Ibra tiba-tiba meninggalkannya sendiri di kamar itu, "om jangan pergi oke ?" ucapnya dengan mata terpejam.
"Hem," jawab Ibra.
"Dia benar-benar masih bocah dan hanya menganggap aku om nya, benar-benar gadis yang tidak waspada," ucap Ibra lagi, kali ini dengan memejamkan matanya.
Akhirnya, kedua manusia itu kini benar-benar tertidur dengan nyenyak.
***
Seperti biasa Nadia bangun lebih dulu di banding yang lainnya, itu sudah menjadi kebiasaanya bahkan selama di panti, setelah mandi dan melaksanakan sholat shubuh dua rokaat ia bergegas ke dapur untuk memasak sarapan untuk ketiga orang yang kini tinggal di rumahnya.
__ADS_1
"Om Ibra suka makan apa ya ? , kenapa aku nggak tanya kemaren, oke deh aku masak yang ada aja sebagai ucapan terimakasih karena kejadian semalam,"
Dengan tangan menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan di masaknya pagi ini, Nadia tersenyum mengingat kejadian semalam, dengan perasaan takut Nadia beranjak dari tidurnya tadi pagi, gadis itu memberanikan diri mendekati jendela dan melihat apa yang membuatnya bergerak-gerak, ia sudah bisa mengendalikan perasaanya, tidak seperti semalam yang dominan dengan rasa takut.
"Ah, ternyata hanya angin," ucapnya tersenyum.
"Om Ibra pasti hanya ingin menjagaku di sampingnya hingga mengatakan hal seperti itu, hihihi," ucap Nadia tertawa sendiri.
***
"Selamat pagi nona, ini masih pagi tapi anda sudah menyiapkan semua ini ?" ucap Sakti takjub.
"Ini hanya masalah sepele pak, om Ibra berangkat jam berapa hari ini pak ? aku akan membangunkannya terlebih dulu," tanya Nadia.
"Tuan sudah bangun nona, kami akan berangkat pukul 07.00 hari ini, ada masalah di cabang bisnis tuan muda yang lain, jadi harus mampir ke sana terlebih dahulu," jelas Sakti.
"Syukurlah jika om Ibra sudah bangun," ucapnya lagi.
"Hai adik abang yang cantik," sapa Rafael yang baru saja datang dan bergabung dengan mereka.
"Abang ?"
.
.
.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.
__ADS_1