
Nadia di antar oleh Aga ke tempat dimana Ibra berada, Ibra masih berdiri di tempat semula, masih menatap lautan biru dengan ombak dan tangan terlipat di dada.
"Bapak bisa pergi," ucap Nadia ketika sudah melihat Ibra berada di tempat terakhir ia meninggalkannya.
Nadia cukup lama menatap Ibra dari belakang, ia teringat apa yang di lakukan oleh Ibra semalam, bukan hanya di lakukan Ibra, tapi apa yang mereka berdua lakukan semalam.
"Om Ibra aku... apa yang harus aku lakukan ?" tanyanya karena memang ia tidak tau harus apa dan bagaimana setelah Ibra berada di atasnya.
"Kau hanya perlu diam dan tidak melakukan apapun, aku yang akan melakukannya," ucap Ibra parau saat itu.
Ibra tidak terkejut ketika Nadia merintih sakit saat darah mengalir ketika Ibra mulai memasukkan miliknya perlahan.
Meskipun ia merasakan sakit yang teramat sangat di bagian inti tubuhnya, namun wajah puas Ibra menjadi obat yang mampu mengalahkan perih di bagian kewanitaan nya.
Nadia masih sangat ingat bagaimana rasanya, rasa aneh yang baru pertama kali ia rasakan benar-benar memberikan sebuah sensasi dan kelegaan yang berbeda setelah banyak hal yang sudah mereka berdua lalui.
"Terimakasih sudah mengambil beban itu dariku om Ibra, jika laki-laki itu bukan kamu, aku akan menyesal seumur hidupku," ucap Nadia lega, ia tidak bisa membayangkan jika Ibra terlambat menolongnya dan para laki-laki itu berhasil melakukan hal-hal jahat itu pada nya.
"Om Ibra..... " panggil Nadia dengan nada khas cerianya bergelayut manja di lengan Ibra.
"Kau sudah datang, kau tidak mengganggu orang lain lagi kan?"
"Gimana bisa, nggak ada yang berani dong, semua orang yang ada di kapal ini adalah orang-orang om Ibra," jawab Nadia itu manja.
Ibra mencubit gemas pipi Nadia, "awww.... "
Bukannya kesal, Nadia malah tersenyum ketika Ibra tersenyum ke arahnya, keduanya tertawa renyah hingga tanpa sadar ada beberapa orang yang dengan sengaja mengambil gambar keduanya.
''Itu tuan muda Ibra, dia terlihat sangat menyayangi istrinya,"
"Mereka berdua pasangan yang serasi, perbedaan usia di antara keduanya nggak keliatan ya....? " ucap salah seorang yang lain.
Gunjingan-gunjingan itu mulai memenuhi kapal, namun tidak di hiraukan oleh Ibra dan Nadia sama sekali, keduanya terlalu sibuk mensyukuri apa yang ada di depan mereka saat ini.
__ADS_1
"Om masih menjadi artis sampai sekarang," ucap Nadia dengan terkekeh ketika melihat dan mendengar beberapa orang berbicara.
Ibra menatap Nadia dalam, senyum itu benar-benar meruntuhkan pertahanannya selama ini, keceriaan, tawa dan kehangatan yang di berikan Nadia padanya itu yang membuatnya goyah hingga tanpa sadar mulai terbiasa dengan keberadaan Nadia di sisinya.
"Om Ibra.... " ucap Nadia lagi ketika tidak mendapat respon dari Ibra.
"Jangan memanggilku seperti itu Nadia, panggil yang lain, kau nyonya ku.. " ucapnya lagi dengan tangan yang sudah bergerak bebas di perut Nadia.
''Om, kita sedang berada di luar, banyak orang melihat kita sekarang, malu tau... " ucapnya dengan suara mendayu-dayu manja.
Masih tetap tidak merespon, Ibra mendekati telinga Nadia dan berbisik, "kau menggodaku? aku berusaha menahan diri sejak pagi tadi, tapi sekali lagi sikapmu ini membuatku tidak bisa terkendali," ucap Ibra lirih di telinga Nadia.
Nadia melotot dengan pipi bersemu merah, "ini di atas kapal om, ada banyak orang di sini," ucapnya sembari melepaskan tangan Ibra yang semakin nakal berjalan kemana-mana.
"Akan lebih menyenangkan jika aku bisa berada di atas tubuhmu," ucap Ibra.
"Om Ibra mesummm," respon Nadia dengan tangan mendorong tubuh Ibra.
"Laksanakan tuan ku," ucap orang itu kemudian segera pergi.
''Om Ibra kita kesini untuk liburan kan? aku mau lihat matahari terbenam," ucap Nadia panik.
"Waktu bulan madu kita masih belum habis Nadia, kau tidak bisa lari dari itu, aku akan membawamu melihat matahari tenggelam nanti," tambah Ibra lagi.
"Om Ibra... "
"Ikut aku atau aku akan menggendong mu di sini?" tanya Ibra memberi pilihan dengan posisi hendak menggendong Nadia.
Terlihat kebingungan di wajah Nadia, "iya ikut, tapi pelan-pelan jalannya, kaki Nadia kecil, nggak nutut dong kalo ngikutin langkahnya om Ibra," sahutnya polos.
Mendengar ucapan Nadia, Ibra mulai menarik jari jemari Nadia yang sudah bertautan di jarinya perlahan, Ibra benar-benar tidak ingin menyakiti Nadia seolah ia barang yang sangat berharga.
''Aku menyesal tidak melakukan nya sejak dulu, Rafael benar, rasanya memang seenak itu, benar-benar membuatku merindukan rasanya setiap waktu," batin Ibra dengan senyum di sepanjang perjalanan.
__ADS_1
"Aku masih malu ketika harus melakukannya lagi dengan om Ibra, apa yang harus di lakukan untuk membuat suami senang, kenapa orang-orang harus membuat persiapan sebelum melakukan itu, tapi semalam aku tidak melakukan persiapan apapun, tapi om Ibra nggak bilang apa-apa," pikirnya bingung.
Keduanya berjalan dengan tangan saling berpegangan satu sama lain, sebenarnya ruangan itu cukup dekat, tapi karena Ibra berusaha mengimbangi langkah kaki Nadia yang kecil sehingga membuat mereka berjalan cukup pelan dengan pikiran masing-masing yang sudah melayang entah kemana.
***
Kediaman Attar
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Sakti dan Rafael terlihat baru saja keluar dari sebuah mobil berukuran besar itu, keduanya terburu-buru masuk ke dalam rumah hingga tidak menjawab sapaan penjaga rumah.
"Ada apa kalian kesini malam-malam seperti ini?" tanya Lusy yang kebetulan hendak keluar untuk mencari pak Mul.
"Bukan urusanmu,"
"Kalian berdua tidak boleh menemui tuan dan nyonya besar tanpa izin dariku," tegas Lusy menghalangi langkah mereka di depan pintu.
"Kami tidak perlu izin darimu untuk bertemu orang tua kami," sahut Rafael yang sudah tidak sabar untuk menemui Aisyah dan Attar.
"Ada apa Lusy ? kenapa sampai ada keributan malam-malam begini ?" tanya Aisyah yang baru saja datang, ia baru saja turun dari lantai dua hendak mengambilkan Attar kopi untuk menemani kerjanya malam ini.
"Mom....?" ucap Rafael yang langsung berhamburan mendekat dan memeluk Aisyah sebelum mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Miss you mom.... "
"Ada apa nak? kalian berdua di sini?" tanya Aisyah ketika melihat tidak hanya Rafael yang ada di sana.
"Biarkan mereka masuk Lusy," perintahnya pada Lusy.
"Tapi nyonya, mereka berdua hanya akan mengganggu anda dan tuan besar,"
"Mereka sudah ku anggap putraku, tidak ada anak yang mengganggu orang tuanya," balas Aisyah tak kalah tegas.
"Mommy love you... " tambah Rafael dengan simbol hati pada jari kanannya.
__ADS_1