Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Melepas beban


__ADS_3

"Sakti..."


"Iya tuan muda,"


"Aku masih berbaik hati padanya karena mempertimbangkan perasaanmu, beritahu padaku jika nanti kau sudah tidak mencintainya, aku yakin Rafael sudah tidak bisa sabar lebih banyak lagi," ucapnya yang mana membuat semua orang di sana melongo tak percaya.


"Ibra... bagaimana bisa kamu bicara seperti itu.. " ucap Anna dengan raut wajah kacau.


Ibra melepaskan tangan Anna yang masih bergelayut di lengannya, bukan dengan kasar, tapi dengan lembut dan hati-hati.


"Karena aku tau, apa yang akan laki-laki itu lakukan jika kau membuat masalah lagi dengannya, aku bukan orang yang sabar, tapi kesabaran Rafael lebih buruk dariku dalam beberapa hal," jawab Ibra pada Anna dengan tenang, namun beberapa butir keringat sudah keluar di dahi Ibra.


"Tuan muda..." panggil Sakti khawatir jika Ibra merasa sakit seperti sebelumnya, pasalnya ia berada di rumah ini, berhadapan langsung dengan oma dan perempuan yang sempat mati-matian ia cari.


Ibra mengangkat tangannya memberi kode bahwa dirinya baik-baik saja, meskipun ada sesak memenuhi dadanya namun ia berusaha tetap bertahan, "semua harus di akhiri hari ini, rasa sesak karena perasaan bersalah harus di lunasi segera, kuat Ibra."


"Hubungan kita masih baik-baik saja sebelumnya An, aku juga tidak pernah mengkhianatimu sampai aku tau apa yang sudah kau lakukan di belakangku,"


Ibra menghela nafas pelan, "dulu, sejak bertemu denganmu aku benci membahas perpisahan apalagi kehilangan, aku pernah berjuang sekuat-kuatnya, bahkan separuh waras ku ku abaikan, aku rela menjadi apapun asal bisa denganmu, dari pekerjaan kasar hingga aku sampai seperti ini, aku membutakan diri sebuta-butanya, menjadi tuli untuk segala perkara yang melemahkan dada, aku memperjuangkan mu dengan sekencang-kencangnya berlari, bahkan aku hampir mati, tapi aku tetap tidak keberatan jika itu untukmu, " ucap Ibra menatap Anna dengan mata berkaca, ini adalah hal menyakitkan bahkan untuk diri Ibra sendiri, namun ia harus mengucapkan nya agar beban di hati dan pundaknya terangkat.


"Ibra... "


"Mas.... " panggil Nadia yang ikut merasakan sakit saat melihat ekspresi wajah Ibra saat mengatakan itu.


"Kita akhiri saja baik-baik An, aku lelah berurusan dengan mu, oma dan Delta, aku hanya minta satu hal, biarkan aku dan semua orang yang berada di bawah perlindungan ku menikmati dengan tenang hidupnya saat ini, karena kau juga harus mulai memikirkan kebahagiaan mu, " ucapnya pada Anna dengan nada lembut yang tidak seperti biasanya, seolah ini adalah kata-kata terakhir yang ia ucapkan sebagai kata perpisahan.


Hati Anna semakin tidak karuan, butiran air mata tanpa sengaja mengalir dari pelupuk mata indahnya, mata yang dulu sangat di sukai Ibra, mata tulus yang menjadi candu setiap kali Ibra menatapnya.


"Tidak adakah kesempatan untukku memperbaiki diri?" lirih Anna menunduk, ia sungguh malu menatap Ibra saat ini.


"Aku minta maaf membuatmu terlibat dalam masalah ini, maaf sudah menyeret mu masuk ke dalam jurang tanpa tau bagaimana harus pulang, bisa jadi hanya jalan buntu yang akan kau temui dari dulu hingga sekarang, tapi aku bersyukur kau tidak sendiri," ucap Ibra yang melihat Ragan berjalan ke arahnya.


"Ibra... aku... "

__ADS_1


Bukannya marah, kali ini Ibra tersenyum, senyum yang sama sekali tidak pernah terlihat sebelum nya, "aku memaafkan mu, jadi berusahalah memaafkan dirimu sendiri dan bahagia, kalian tidak perlu berhubungan dengan sembunyi-sembunyi lagi, aku harus pergi, " ucap Ibra berbalik dan tersenyum melihat Nadia.


''Kita pulang... ayo'' ucapnya menggandeng tangan Nadia dan masuk ke dalam mobil.


Rafael masih mengatur nafasnya berusaha mengendalikan diri, "kau selamat karena Ibra memberimu kesempatan, tapi sekali saja, sekali saja kesempatan itu kau hancurkan, aku... aku akan mencari dan menghancurkan mu dengan kedua tanganku sendiri," ucap Rafael geram.


***


Di dalam mobil


"Mas... are you okay?" tanya Nadia pada Ibra yang mulai menggigil kedinginan.


"Ambilkan obat di saku kursi sebelah sana," ucap Ibra.


"Obat... " dengan segera Nadia mengambilkan dan memberikan obat yang minta suaminya.


"Mas.. kamu selalu kesakitan seperti ini? kamu punya rasa sakit yang tidak pernah aku tau," batin Nadia.


"Hey bocah, apa yang kau lakukan? kenapa kau masuk mobil tuan muda,"


"Saya sudah bersama tuan Ibra sejak datang tuan, mohon untuk tidak mengganggu pekerjaan saya," jelas Aga yang langsung masuk begitu saja ke dalam kursi pengemudi.


"Wah dia nggak tau lu apa gimana sih?" sahut Rafael yang juga ikut geregetan.


Tok tok tok, Sakti mengetuk kaca mobil tidak terima.


"Ada apa tuan...?" tanya Aga yang masih kekeh dengan pendirian nya untuk mengantar Ibra.


Aga menurunkan jendela mobil, "turunlah... " perintah Sakti.


"Tuan dan nyonya datang bersama saya, kenapa anda membuat keributan seperti ini," jawab Aga.


"Sakti cukup, kau duduk di sebelahnya," ucap Ibra yang sudah mulai membaik karena obat dengan kepala bersandar pada kursi mobil.

__ADS_1


"Hey... terus gua dimana kalo Sakti duduk di sana ? " ucap Rafael yang juga tidak ingin kalah.


"Masih ada mobil di belakang kan bang? kenapa jadi berebut kayak bocah gini sih?," ucap Nadia yang heran dengan kelakuan mereka bertiga.


"Nggak, gua ikut kalian, enak aja gua kalah sama asisten gadungan ini," cerocosnya hingga masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping Ibra.


Braak


"Ya Allah abang, nggak sopan tau nutup pintunya,"


"Lu nggak liat dek, nih orang udah nafsu banget ninggal gua," tambah Rafael.


"Rafael cukup, jangan buat keributan," ucap Ibra memberi peringatan.


Setelah semua naik di dalam satu mobil, Aga mulai mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, "kita akan pulang ke mana tuanku?" tanyanya.


"Rumah... "


Aga bingung rumah mana yang di maksud oleh Ibra, mulutnya reflek membentuk bulatan dan melotot karena heran, baru saja ia hendak membuka mulutnya untuk bertanya, namun Rafael sudah terlebih dulu angkat bicara.


"Lu pikir dong rumah lu ada berapa ? mana dia tau kalo lu nggak ngomong rumah mana yang lu maksud dodol," ucapnya spontan hendak memukul kepala Ibra, namun di halangi oleh Nadia lebih dulu.


"Abang... jangan ganggu mas Ibra," ucapnya.


"Mas... sejak kapan?" tanya Rafael heran.


"Emang suami Nadia kan? suka-suka Nadia dong manggilnya apa, weeee" ucapnya kemudian menjulurkan lidahnya.


"Kalian udah.......?"


Ibra menatap Rafael dengan wajah sangarnya, "aku masih belum membuat perhitungan masalah obat itu, kau ingin aku membahasnya sekarang hah?"


''Hehe... oke oke," ucapnya malu.

__ADS_1


__ADS_2