
Aisyah membawa Sakti dan Rafael ke ruang kerja Attar yang berada di ujung lantai dasar, sengaja di tempatkan di ujung agar terjauh dari hiruk pikuk acara yang biasanya berada di ruang utama.
"Daddy, lihat siapa yang mengunjungi kita," ucap Aisyah dengan senangnya.
Attar berdiri melihat sebuah tank berukuran besar dengan ikan koki warna-warni berada di dalamnya, ia masih fokus dengan gerak anggun puluhan ikan koki dan lamunannya hingga tidak mendengar ucapan Aisyah.
"Daddy.... " tegur Aisyah lagi dengan menepuk pundak Attar sebelah kiri, hingga pria paruh baya itu menoleh.
Attar terkaget dan membalik tubuhnya seketika, "hah? ada apa mom?" tanyanya tidak fokus.
"Lihatlah, putra kita datang melihat kita," jawabnya.
Ada perasaan tidak tenang terlihat jelas di wajah Attar yang tertangkap Aisyah, "ada apa dad? apa yang membuatmu gelisah?"
"Mereka bukan datang melihat kita jika tanpa Ibra, pasti ada sesuatu yang penting yang ingin mereka bicarakan tentang Ibra, aku yakin ada sesuatu yang terjadi pada putra kesayangan mu itu, hingga mereka sampai datang kesini," ucap Attar seolah melepas anak panah tepat di jantung mereka berdua, karena tebakan yang di lontarkan nya memang seratus persen benar.
"Hehe, tapi El memang sangat merindukan kalian berdua," ucap Rafael kembali memeluk Aisyah.
"Kau.... jangan memeluk istriku seperti itu.... " kesal Attar saat Rafael masih tidak melepas pelukannya pada Aisyah.
"Cepat lepaskan, atau dia akan semakin marah, dengan Ibra saja dia sudah sangat cemburu, apalagi denganmu," lembut Aisyah sambil memegang pipi Rafael dengan sayang.
"Katakan apa yang kalian inginkan,"
"Tuan muda, marah dengan kami berdua karena obat yang Anda sarankan tuan besar," jawab Sakti tanpa basa-basi.
"Yah... itu salah kalian, kenapa sampai ketahuan," ucap Attar seolah tidak ada masalah dengan itu.
"Hah..... nggak bisa gitu dong dad.... kan daddy yang kasih saran, kok lepas tangan gitu," ucap Rafael manja dengan bergelayut pada lengan Attar seperti bocah.
"Biar Ibra mengirim anak-anak nakal seperti kalian ke kandang buaya, pergilah, aku sedang tidak ingin melihat kalian berdua," tegasnya lagi dengan menggerakkan lengannya agar terlepas dari Rafael.
Aisyah melihat tidak suka dengan respon yang di berikan suaminya itu, "daddy..... "
"Putra-putramu selalu membuatku sakit kepala, aku sedang tidak ingin di bantah sekarang," ucap Attar dengan nada agak keras, ia yang biasanya sangat luluh jika berhadapan dengan Aisyah itu sekarang benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat.
"Ada apa? apa yang membuatmu menjadi kesal seperti ini?" tanya Aisyah ketika Attar tidak bersikap seperti biasanya.
"Karena tuan muda saat ini sedang menuju ke rumah oma nyonya besar,"
Seperti di sambar petir, hati Aisyah mencelos seketika "Itu benar dad? yang di katakan Sakti benar?" tanya Aisyah khawatir.
__ADS_1
"Tunggu dan lihat apa yang akan di lakukan putramu itu, tindakannya kali ini sangat gegabah, terlebih dia tidak memberi tau kita sama sekali tentang rencananya,"
"Tapi tuan muda sudah memberi tahu kan beberapa kode, itu yang ingin kami diskusikan dengan anda," jelas Sakti.
***
"Nadia kemana honey? ikut kemana? dengan pakaian ini?" tanya Nadia melihat dirinya sendiri, Ibra memang selalu memakai setelan jas, namun dirinya hanya memakai baju sederhana yang sangat nyaman di pakai berjalan ke sana kemari.
"Kau tidak perlu memakai apapun untuk terlihat bagus di depan orang, karena aku suamimu, kau hanya harus melakukan itu di depanku, ''
" Tapi om, kalo di pertemuan resmi kan bikin malu kamu nanti kalo pakaiannya nggak layak,"
"Sudahlah, aku sudah menyiapkan semuanya untukmu,"
"Lalu kita ke?" tanya Nadia penasaran.
"Kandang singa,"
"Hah? om mau ngajak Nadia bunuh diri?"
"Iya, karena kita akan pergi ke rumah oma," jawab Ibra tegas.
Nadia kaget, ia tidak tau saat ini berada di mana, yang pasti tempat ini sangat asing baginya, tapi ia benar-benar tidak menyangka ketika Ibra mengajaknya ke rumah oma secepat ini.
"Om Ibra yakin ngajak Nadia?"
"Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku" tegasnya.
Ibra berjalan cepat seperti biasanya, diikuti Nadia yang juga berjalan tepat di belakangnya sambil berfikir, "kenapa om Ibra nggak ngasih tau bang Sakti dulu kalo mau ketemu oma, siapa yang akan bantu kita nanti kalo terjadi sesuatu yang tidak di inginkan,"
"Aku sudah memperhitungkan semuanya, jangan meragukan kemampuanku, masuklah mobil, ada sesuatu yang harus aku beritahukan kepadamu,"
"Om dukun ya? pas banget jawabnya,"
"Mas Nadia, panggil dengan sebutan itu sekarang, dan jangan sampai salah panggil mulai sekarang, om om, jangan membuatku seperti pedofil" ketus Ibra seperti biasa.
''Kumat nih ketus nya," gerutu Nadia.
"Apa ?"
"Nggak ada apa-apa mas, udah ayo masuk," senyumnya menggiring Ibra agar segera masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
__ADS_1
"Aku sudah memberikan kode kepada Sakti dan Rafael, jadi jangan ragukan aku, aku tidak suka di ragukan dalam hal apapun, dan oleh siapapun"
"Astaga mas, iya iya, lagian tadi juga ngomongnya dalam hati, sensi banget kayak cewek," tambah Nadia yang menyerobot masuk terlebih dahulu karena Ibra tak kunjung masuk ke dalam mobil dan masih saja mengomel.
"Anda dan nyonya seperti pasangan suami istri pada umumnya tuan," puji Aga yang masih memperhatikan kedua pasangan suami istri itu.
"Kita memang suami istri, bukan hanya seperti...... jaga ucapanmu kedepannya," ketus Ibra tidak suka, yang langsung masuk dan menutup pintu mobil dengan keras.
"Huft.... aku bahkan hanya kagum dengan kalian berdua tuanku.... " ucap Aga kemudian berlari ke arah kursi kemudi.
Ibra duduk dengan diam melihat ke arah depan, berbeda dengan Nadia tang celingukan melihat kesana-kemari keluar jendela mobil, "kau selalu terlihat antusias terhadap sesuatu yang baru saja kau lihat, apa yang menyenangkan dari semua itu, kau seperti orang kampung, lagi pula ini gelap, apa yang sebenarnya kau lihat ?"
"Ish, sirik aja sih mas, mata mata aku, kok mas yang sewot,"
''Dasar om om.... ngeselin,"
"Kita akan bertamu malam ini mas? ini udah tengah malam,"
"Rafael masih belum menyiapkan kado untuk oma, kita tunda sampai beberapa jam lagi, kau istirahat lah dulu, aku sudah membuat mu kelelahan tadi,"
"Tidur di sini?" tanya Nadia dengan polosnya, karena pasti akan terasa tidak nyaman jika tidak tidur di atas ranjang, tubuhnya sangat lelah karena apa yang di lakukan oleh Ibra sebelumnya.
"Kemarilah, aku yakin kau pasti ingin tidur di dadaku, aku akan berbesar hati melakukannya untukmu," ucap Ibra dengan merentangkan tangannya.
Mulut Nadia membulat dengan sempurna, ia sungguh tidak tahan dengan sifat narsis Ibra yang semakin menjadi-jadi setiap hari, terlebih setelah diri nya melakukan hal itu dengan Ibra.
"Mas jaga bicaranya dong, ada pak Aga di sini,"
"Jangan khawatir nyonya, saya sudah lama tidak membersihkan telinga, jadi tidak akan bisa mendengar apa yang anda bicarakan dengan dengan tuan," jelasnya.
Nadia benar-benar mengedipkan matanya berkali-kali tanda tak percaya, "pesona om Ibra benar-benar, dia bahkan bisa membeli pendengaran seseorang,"
"Baca ini, dan dengarkan aku setelah nya,"
"Apa mas?" tanya Nadia dengan kertas yang sudah di letakkan Ibra di tangannya.
Nadia membaca kertas yang sudah terbuka itu, bait demi bait ia baca perlahan, hingga sampai setengah kertas gadis itu menatap Ibra tak percaya.
***
Author minta maaf karena baru bisa upload setelah absen beberapa hari, itupun hanya bisa satu episode, hiks.
__ADS_1
Lagi sibuk dan kondisi tubuh sedang tidak baik karena cuaca yang juga tidak mendukung.
Maaf jika episode ini tidak mampu menghilangkan dahaga kalian atas kerinduan membaca cerita ini, tapi hanya ini yang bisa author tulis sekarang, maafkan.