Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Perubahan Ibra


__ADS_3

Nadia masih berfikir seorang diri, "om Ibra pasti sudah melakukan dengan wanita lain, dia terlihat berpengalaman ketika menyentuhnya, bagaimana jika selama ini om Ibra udah jajan di luar, aku ikut dapet dosa dong," ucap Nadia takut.


"Aku harus tanya bang El,"


"Aku belum pernah melakukannya, mau mencobanya bersamaku?" bisik Ibra di telinga Nadia sambil memeluknya dari belakang.


"Ahhh om Ibra..... " teriaknya kaget dan berjalan menjauh.


"Aku hanya menyentuh sedikit telingamu, tapi kau sudah berteriak seperti itu, bagaimana jika aku menyentuh yang lain," ucap Ibra.


"Om Ibra jangan deket-deket dulu....." ucapnya semakin menjauh.


"Kau tidak lihat belakangan mu itu hah ? sekali lagi kau melangkah mundur, kau akan masuk ke dalam kolam renang,"


"Mangkanya om jangan deket-deket dong," ucap Nadia panik.


"Haha kau semakin menggemaskan ketika merona seperti ini Nadia," ucap Ibra mencubit gemas pipi Nadia.


Namun gerakan yang tidak di sangka oleh Nadia adalah ketika tangan yang baru saja mencubit pipinya itu mengambil sesuatu di balik kaos yang ia kenakan di bagian belakang.


Dan dor, dor, dor.


"Ahh.... om Ibra," teriak Nadia takut.


Tiga buah peluru berhasil melesat dan mengenai benda kecil yang melayang di udara, dan Nadia sendiri tidak tau apa, yang pasti benda itu mengeluarkan api kecil ketika peluru Ibra mengenainya.


"Kau masih belum berhenti bermain-main dengan ku El ? tetap lanjutkan dan aku akan menembak kepalamu yang keras kepala itu," teriak Ibra yang tau jika ketiga orang itu sudah pasti berada di balik dinding tepat ia berada saat ini, lebih tepatnya mereka bertiga menyewa vila yang bersebelahan dinding dengan yang di sewa oleh Ibra.


"Hehe, sorry sorry aku tidak akan mengganggu kalian lagi," ucap Rafael malu.


"Sakti...?"


"Iya tuan muda,"


"Aku sudah bilang gerakan mu terlalu kentara, lebih banyak latihan, kau tidak mendengar ucapan ku tadi hah ?" ucapnya tegas.


''Baik tuan muda, akan segera saya latih," ucap Sakti tak kalah tegas.


''Lakukan segera, jangan mempermalukanku ketika perusahaan sudah beroperasi nanti,"


Tanpa menunggu jawaban dari Sakti, Ibra membawa Nadia masuk ke dalam kamar, "mereka di sini om?" tanyanya yang tidak faham, dan baru tau jika Sakti dan Rafael ada disini bersama mereka.


"Tutup semua tirai, aku tidak bisa mempercayai Rafael, aku bahkan curiga dia sudah menaruh sesuatu di dalam sini ketika kita di luar tadi,"


"Hah? nggak sampek gitu juga dong om, bang El kan baik, dia nggak akan sampek ngelakuin itu kok, Nadia yakin banget,"

__ADS_1


"Kau belum tau bagaimana kelakuan Rafael sebenarnya, dia sangat jahil dan tidak bisa diam, apalagi dengan alat-alat baru temuannya, ia akan gatal jika tidak mencobanya," ucapnya kemudian.


"Rafael, kalau kau masih mendengar ku saat ini, aku akan pastikan benar-benar membunuhmu ketika kutemukan benda yang sengaja kau taruh di dalam sini untuk mengawasi ku," ucap Ibra kesal, ia sangat faham bagaimana Rafael, ini mudah untuk nya.


"Cepat tutup tirai," perintah Ibra pada Nadia.


Nadia bergerak menutup semua dinding kaca yang memenuhi ruangan itu, villa yang mereka sewa memang memiliki bangunan full kaca dengan desain modern, sehingga cukup banyak tirai yang harus Nadia tutup.


***


"Rafael, kalau kau masih mendengar ku saat ini, aku akan pastikan benar-benar membunuhmu ketika kutemukan benda yang sengaja kau taruh di dalam sini untuk mengawasi ku,"


"Astaga apa-apaan Ibra, kok dia bisa tau banget yang gua lakuin," ucap Rafael kaget setelah mendengar ucapan Ibra di balik layar komputer yang merekam percakapan nya.


Seperti yang di duga Ibra, Rafael memang memasukkan sebuah alat yang bisa merekam apa yang di bicarakan Ibra dan Nadia di dalam kamar, jika tiga kamera yang di ledakkan Ibra sebelumnya bisa merekam gambar dan suara dalam bentuk video, tapi yang satu ini hanya bisa merekam suara saja.


"Padahal dia udah terbang se aman mungkin ke dalam ruangan, bagaimana Ibra masih saja tau,"


"Bukankah semua alat yang kau buat bisa meledakkan diri mereka sendiri ketika terjadi keadaan darurat, ledakkan saja mereka, sebelum mereka tau,"


"Dan Ibra akan tau ketika sebuah api kecil keluar dari sana, bisa masuk kandang buaya gua,"


"Itu yang membuatmu kalah dari tuan muda, strategi, kepekaan, dan ketelitian tuan muda tidak ada tandingannya. Aku akan pergi, kalau sampai tuan muda tau aku bagian dari rencana mu, bisa bisa di panggang hidup-hidup sama tuan muda,"


"Hey hey.... lu gitu banget sih, nggak setia kawan banget, Lun lu masuk kek bantu gua ambil alat gua di dalem... "


Bipppp


Suara komputer terdengar jelas di telinga semua orang yang ada di sana, ketiganya saling pandang dan menatap satu sama lain.


"Kita cepat pergi dari sini, sebelum Ibra beneran murka," ucap Rafael pada Sakti dan Luna yang ikut bangkit dengan tergopoh-gopoh.


"Dasar El gila, gua nyesel ikut lu tadi," kesal Luna.


Suara itu terdengar ketika alat tersebut sudah di nonaktifkan, yang berarti Ibra sudah menemukan dan menghancurkan nya.


"Cepat pergi, jangan banyak omong sebelum Ibra dateng,"


***


Rafael mengeluarkan sebuah benda, kemudian berkeliling di seluruh sudut kamar, tanpa menunggu lama sebuah benda sangat kecil tertarik dan menempel di magnet yang ia bawa.


"Cih bahannya masih belum berubah, masih mengandung besi yang sangat mudah di lacak,"


"Nadia lihat om," sahut Nadia yang baru saja mendekati Ibra.

__ADS_1


Ibra memperlihatkan alat tersebut kepada Nadia, namun tak lama setelahnya Ibra menjatuhkan dan menginjaknya hingga hancur.


"Bersiaplah, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari ranjang setelah ini," bisik Ibra pada Nadia yang mana semakin membuat tubuh Nadia tidak karuan.


Pipi itu sudah sangat merah, "om Ibra mau kemana?" ucapnya malu.


"Aku akan membuat perhitungan dengan Rafael terlebih dulu,"


"Ikut,"


"No... kau bilang kau tidak akan bertemu orang lain selain aku selama bulan madu kita," tegas Ibra.


"Tapi nggak berani sendiri om," ucap Nadia dengan wajah manja saat ini.


"Percaya padaku, seluruh wilayah ini sudah di penuhi anak buahku yang akan menjagamu tanpa kamu sadari. Jadi, bersiap saja untukku oke?" ucap Ibra dengan mengedipkan sebelah matanya pada Nadia sebelum pergi.


"Om Ibra selalu membuatku malu, sejak kapan dia bisa mengedipkan matanya seperti itu, ahh dia benar-benar membuatku terbang hanya dengan menatap nya," ucap Nadia seorang diri.


***


Ceklik.


"Ho ho.... kalian sudah ingin pergi?"


"Hehe kita sudah berjanji akan meninggalkan kalian di sini kan," ucap Rafael.


"Selamat datang tuan muda, ada yang bisa kami bantu?," sapa Sakti tanpa dosa, berbeda dengan Luna yang sudah gemetar ketakutan dan bersembunyi di balik tubuh Sakti.


"Mau kabur kemana hah?"


Tanpa aba-aba Ibra mengeluarkan sebuah pistol dan mengarahkan tepat di kepala Rafael.


"Kau sudah berani membantah ku? apa yang harus aku lakukan padamu El?" pikir Ibra yang masih berjalan mundur dengan pistol di kepala Rafael.


"Gua udah coba buat ngeluarin itu lalat tadi Ibra, tapi lu udah keburu nutup pintunya, gimana bisa keluar dong," jelas Rafael, ia memang menyebut alat kecil itu dengan sebutan lalat karena bentuknya yang sangat kecil.


"Tuan muda.... "


"Kau tau aku sangat sulit mengendalikan emosiku, tapi kau masih saja bermain-main dan menguji ku," ucap Ibra penuh penekanan.


"Janji nggak lagi," ucap Rafael cengengesan dengan tangan membentuk V.


"Tuan.... "


"Diam......" bentak Ibra pada Sakti.

__ADS_1


"Astaga, tuan muda mudah sekali berubah, bukankah tadi beliau masih berbicara manis pada nona muda, saat ini seperti orang yang berbeda saja," Sakti menatap Luna bertanya tentang perubahan suasana hati Ibra yang cepat sekali berubah drastis.


__ADS_2