
Nadia masih duduk di atas kursinya memikirkan ucapan Luna yang pagi tadi ia dengar, ia sempat membaca cerita-cerita lain di internet yang mengatakan hal serupa.
"Apa aku harus benar-benar mengeceknya? hanya memastikan saja, tetap tidak boleh percaya diri," ucapnya kemudian dengan masih berfikir.
Hingga tidak sadar ada beberapa orang yang mendekatinya dan Brak.....
Tumpukan kertas hampir lima belas sentimeter berada di depan matanya, "apa ini?"
"Besok pagi kita ada rapat tiap divisi, coba kerjakan dan hasilnya akan kami presentasi kan besok bersama jajaran elit perusahaan, kau seharusnya bersyukur karena bisa punya pengalaman dengan mengerjakan ini," ucap senior pada divisi Nadia di tempatkan.
"Tapi ini sudah sore, satu jam lagi sudah waktunya pulang kerja, aku tidak akan sempat mengerjakannya," ucap Nadia tidak ingin berdiam diri saja.
"Ini bagus untuk perkembangan otakmu yang dangkal itu, lagipula tidak ada salahnya membatu senior, itu memang tugas karyawan magang sepertimu,"
"Sudah cepat kerjakan, jangan mengeluh," ucap seorang karyawan yang lain.
"Nadia.... "
"I.... iya.... "jawabnya kaget.
"Buatkan kami teh, ini sudah sore dan udara mulai dingin, buatkan sesuatu yang hangat untuk kami semua," teriak salah seorang pria di ujung sana.
"Tapi aku harus mengerjakan ini," jelasnya sembari menunjuk file di depannya.
"Ini memang tugas karyawan magang, untuk membantu kami semua dalam segala hal, jika tidak bisa melakukannya maka pulang saja, dunia kerja bukan hanya senang-senang seperti yang biasanya kalian lihat di drama korea," tambahnya
Nadia berada di divisi yang langsung berada dan di awasi oleh Aga, ruangannya juga bersebelahan dengan ruangan Aga dan bisa di lihat dari ruangan Rafael.
Didalam tim itu terdapat delapan orang dengan 5 orang perempuan dan tiga orang laki-laki yang mana semuanya adalah karyawan senior yang masing-masing ahli di bidangnya.
Sebelumnya tidak pernah ada karyawan magang di tim ini, karena ini merupakan tim khusus yang tidak sembarang orang bisa masuk, namun perbedaan Nadia yang masuk dengan rekomendasi Aga secara alami membuat kecemburuan semua orang di sana tumbuh.
Semuanya melakukan seleksi secara ketat untuk bisa berada di sini, namun bisa-bisanya Nadia bisa masuk begitu saja secara tiba-tiba, bahkan dengan pesan untuk tidak memberinya banyak pekerjaan yang semakin membuat api cemburu itu semakin besar.
"Apa-apa ini," pikir mereka.
Namun bukan Nadia namanya jika tidak bisa mengatasi ini, ini semua sudah menjadi kesehariannya sejak dulu, di sekolah ia juga diperlakukan dengan sama seperti ini, di anggap rendah, tempat salah dan bahkan dikucilkan karena ia hanya anak panti yang tidak jelas asal-usulnya.
"Huft.... seperti ini lagi," batinnya.
Nadia segera beranjak dari duduknya untuk membuatkan teh di pantry, ia melewati ruangan Rafael yang tirainya sedikit terbuka.
Rafael terlihat sedang fokus dengan laporan yang juga menumpuk di meja kerjanya dengan tangan memijit pelan kepalanya, orang yang biasa ceria dan melakukan sesuatu sesukanya itu beberapa hari ini menjadi pribadi yang berbeda, kerap kali Nadia melihat Rafael pulang malam dengan mabuk berat ditemani seorang wanita kembali ke rumah.
Flashback On
__ADS_1
Waktu itu Nadia sempat menarik perempuan itu keluar ketika Rafael sudah tidak sadarkan diri di atas tempat tidur, Nadia bahkan menariknya hingga semua benda yang ia lewati hancur karena perempuan itu sedikit meronta.
Hingga pyar....
Sebuah vas bunga besar terjatuh ketika Nadia sudah sampai di dekat pintu rumah keluarganya.
"Jangan pernah bermimpi menjadi wanita yang akan memenangkan hatinya, pergi dan jangan pernah kembali kesini, karena aku tidak akan diam saja jika kau kembali memberikan obat-obatan yang membuatnya tidak bisa lepas padamu," tegasnya.
Wanita itu hendak menjambak rambut Nadia namun Aga segera datang dengan beberapa orang yang langsung menghentikan ulah wanita itu.
Flashback Off
"Abang biasa membagi pekerjaan dengan mas Ibra dan bang Sakti, jika abang nggak egois seharusnya kalian bertiga masih berada di satu tim yang sama, dan abang nggak akan kebingungan sendiri seperti ini,"
"Nyonya... "
"Ah pak Aga, mengagetkan saja, jangan memanggilku seperti itu, sudah aku akan membuat teh dulu, jangan menyapaku," perintahnya.
"Darah memang lebih kental daripada air, nyonya masih peduli pada tuan Rafael,"
***
Nadia sudah membuat teh dan akan membagikan teh itu untuk semua orang yang ada di sana, ia membuat sangat banyak, ia bahkan memberikannya kepada pak Aga dan sekertaris pribadi Rafael.
"Mbak, ini ada teh, tolong berikan juga kepada pak Rafael dan pak Aga," ucapnya.
Setelah semua orang mendapat tehnya, Nadia mulai melakukan pekerjaan yang di berikan padanya, hari sudah gelap, semua orang di perusahaan ini seperti nya sudah pulang semua.
"Anda tidak pulang nyonya," sapa Aga ketika berjalan bersama Rafael melewati nya.
"Aku malas pulang, mungkin aku akan tidur disini malam ini," jawabnya.
"Yakin nggak pulang ? gua bantu kerjaan lu sini kalo emang belum kelar,"
"Pekerjaan abang jauh lebih banyak tadi, dia juga pasti lebih lelah dari aku," pikir Nadia.
"Nggak usah bang, lagian ini cuma sampah, aku masih ingin membuat virus baru, aku tidak ingin pulang," jawabnya.
"Baiklah, jangan pulang malam, kalo ngantuk tidur di ruangan gua,"
"Iya... bawel," ucapnya masih tidak lepas menatap komputer di depannya.
"Oke gua pergi... " ucapnya dengan mengacak rambut Nadia pelan sebelum pergi.
Ruangan ini benar-benar kosong tanpa penghuni satupun, mungkin hanya dia yang bernafas di gedung ini seorang diri.
__ADS_1
"Huft... udah jam segini masih belum dapat separuh, ah.... pengen makan laper hiks," ucapnya dengan meletakkan kepala di atas meja.
Waktu terus berjalan, hingga pukul sebelas malam, ia belum juga menyelesaikan pekerjaannya, Nadia masih fokus menghadap komputer dengan sebuah mie rebus di hadapannya, terlihat jelas sekali ia sedang frustasi karena pekerjaan yang tak kunjung selesai, ia bahkan sudah ingin menangis sejak tadi.
Drttt drtttt drtttttt
Sebuah panggilan telfon cukup membuatnya kaget di antara keheningan ini, ia melihat nama yang tertera di ponsel tersebut kemudian mengambil nya, "mas Ibra... " ucapnya bingung antara sedih atau bahagia, ia takut Ibra marah karena jam segini ia belum juga pulang.
"Halo, iya mas?" ucapnya.
"Belum tidur? kau dimana?" ucapnya pelan.
"Uhmm aku masih di kantor,"
"Apa yang kau lakukan di kantor semalam ini Nadia, ini hampir tengah malam,"
"Aku sedang menonton drama china mas, ini sangat lucu, aku tidak bisa berhenti melihatnya, mas nggak usah khawatir, Nadia nggak sendiri kok," ucap Nadia bohong dengan memijit kepalnya beberapa kali.
"Sudah makan ?" tanya Ibra lagi.
"Ini sedang makan hotpot sama temen-temen mas udah dulu ya, nggak enak sama yang lain," ucapnya lagi, bukan ia tidak ingin menelfon lebih lama tapi saat ini ia sedang lelah, jika terus di lanjutkan makan bisa saja ia tidak bisa membendung tangisnya, lagi pula ia harus menyelesaikan ini segera.
Tanpa Nadia sadari, seorang pria dengan setelan jas berwarna abu-abu mendekat dengan ponsel masih menempel di telinganya.
"Apakah dramanya benar-benar lucu sampai matamu membuat genangan seperti itu? ah inikah hot pot yang kau maksud? dimana teman-teman yang kau ceritakan itu?" ucap Ibra yang mana membuat Nadia sontak berdiri.
"Mas Ibra... " air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan karena lelah, rindu dan sudah tidak bisa berfikir akhirnya tumpah juga.
"Kenapa tidak menceritakannya padaku? kau tidak ingin membaginya?" tanyanya lagi.
Nadia sudah tidak bisa menahan diri, ia langsung berhambur memeluk Ibra dengan eratnya.
"Maaf, mas sakit, aku nggak pengen nambah pikiran mas nanti,"
"Hey, kau lupa siapa suamimu? aku sakit bukan berarti aku menjadi bodoh Nadia, aku masih bisa mengerjakan ini semua," ucapnya pelan mengelus kepala Nadia.
"Tidak ingin melepasnya?" tanya Ibra ketika Nadia semakin mengeratkan pelukannya.
Nadia menggelengkan kepala pelan di dada Ibra, "kangen mas Ibra,"
Ibra tersenyum, "Sakti, siapkan ruangan Rafael, pastikan tidak ada satupun kamera yang on di sana," tambahnya.
"Sudah siap tuan muda, anda bisa langsung kesana,"
"Aku akan membantumu menyelesaikan nya di ruangan Rafael, sekarang lepaskan dulu, kita harus berjalan kesana bukan ?" ucap Ibra.
__ADS_1
Nadia masih menggelengkan kepala, "gendong mas.... " ucapnya manja.