
Seringai puas terlihat jelas di wajah Ibra, "wanita sepertinya hendak bersaing dengan wanitaku? dia bahkan tidak ada seujung kuku pun milik istriku," ucap Ibra bangga.
Setelah sedikit berfikir, sebuah pikiran aneh mulai muncul, "sudah pasti Rafael tidak pernah menyentuhnya, panggil Aga dan suruh dia menemuiku," perintah nya pada Sakti.
Keduanya meninggalkan ruangan tersebut kemudian berhenti begitu melihat penjaga yang berjalan ke arahnya, "lepaskan dia, beri kompensasi dan jangan biarkan dia bertemu dengan kita semua sampai kapanpun, aku tidak ingin melihatnya lagi," perintah nya pada penjaga itu.
"Tuan, ini terlalu baik untuknya dengan apa yang sudah ia lakukan dengan nona Nadia," ucap Sakti pada Ibra.
"Jangan terlalu keras, aku tidak ingin memperbanyak musuh, karena sudah ada orang yang ingin ku lindungi sekarang," jawab Ibra.
"Dan kau... jangan melakukan apapun tanpa perintahku, karena aku akan tau saat itu juga, jadi jangan pernah coba coba,"
"Tidak tuan, saya tidak pernah melakukakannya," ucap Sakti.
"Seandainya pun kalian semua membangkang perintahku, aku tau semua yang kalian lakukan itu untuk kebaikan dan kebahagiaan kita semua," batin Ibra, karena ia sering mendapat laporan gerakan-gerakan Rafael dan Sakti di luar perintah nya di saat-saat tertentu.
"Silahkan menunggu di meja kerja anda tuan, saya akan memanggil Sakti,"
"Segera, Nadia akan kebingungan jika bangun tanpa ada aku di sisinya," ucap Ibra yang sudah bisa memprediksi reaksi Nadia nanti.
Laki-laki itu sudah melihat semua yang di lakukan istrinya selama ia tidak ada, setiap terbangun di pagi hari, Nadia akan seperti orang bingung meneriakkan nama Ibra begitu tau jika Ibra tidak di sisinya.
Oleh karena itu Ibra selalu mengusahakan agar tetap berada di samping Nadia sebelum istrinya itu bangun, ia tidak ingin melihat Nadia berjalan bingung mengelilingi rumah sambil berteriak namanya.
"Baik tuan, akan saya panggilkan segera," ucap Sakti yang membungkuk kemudian berjalan lebih dulu menaiki anak tangga menuju kamar Rafael.
"Bukankah kamar Aga berada di bawah? lalu kenapa kau berjalan ke atas," teriak Ibra yang langsung menghentikan kaki Sakti.
"Ah... Aga tidak keluar dari kamar Rafael sejak tadi malam tuan muda,"
"Mereka semakin mencurigakan saja,"
"Hah... tapi Rafael masih normal tuan muda, tidak mungkin jika dia berhubungan yang tidak baik dengan Aga," ucap Sakti tanpa di filter.
"Heh.... jangan berfikiran yang tidak tidak seperti itu, pikiran mu over sekali, cepat pergi panggilkan dia," tambah Ibra.
"Siap tuan muda,"
__ADS_1
"Tapi bagaimana dia tau kalau Aga tidak keluar dari kamar sejak tadi malam? apa Sakti memantau di depan kamar Rafael semalaman ? apa dia tidak tidur? ah... tidak hanya Rafael yang harus di carikan jodoh, sepertinya Sakti juga harus segera memilikinya, aku akan menjodohkan mereka dengan seseorang nanti," batin Ibra dalam hati.
***
Ruang kerja Ibrahim
Sakti dan Aga sudah berada di dalam sebuah ruangan dengan nuansa modern milik Ibra, keduanya berdiri berdampingan di depan meja besar Ibra.
"Kau tau alasanku membawamu kesini sekarang?" tanya Ibra pada Aga.
"Tidak tuanku, apa yang bisa saya lakukan," ucapnya tegas.
"Aku menunggu laporan mu,"
"Laporan tentang apa tuan?" tanya Aga yang memang tidak faham saat itu.
"Terakhir kali aku memberimu tugas untuk membantu Rafael di Harbank bukan? aku tidak mengira kalian akan menjadi sedekat ini di balik semua kata buruk yang di ucapkan Rafael padamu, ah... dan luka itu, itu juga pasti karenanya," tebak Ibra.
"Ba... bagaimana anda.. "
"Aku dan Rafael sama, tempramen kita sama, luka kita sama, kita di besarkan dengan banyak kehilangan, sedikit banyak apa yang ia pikirkan aku bisa faham,"
"Seperti yang nona muda katakan, tuan Rafael membawa wanita lain pulang ke rumah ini hampir setiap hari, jika sedang ada tuan dan nyonya besar maka tuan Rafael akan menginap di hotel atau villa kita di kota lain tuanku,"
"Dia menyentuh nya?" tanya Ibra.
"Iya tuan, seperti yang di ucapkan tuan Rafael kepada tuan Sakti tadi,"
"Lalu yang terjadi dengan wanita itu malam ini?" tanyanya pada Aga.
"Tuan Rafael yang melakukannya, itu untuk orang yang sudah menyakiti adiknya." jawab Aga jujur.
Belum Ibra merespon ucapan Aga, laki-laki itu tiba-tiba mendengar Nadia berteriak namanya, "mas Ibra... mas Ibra... mas... mas Ibra... '' teriak Nadia tidak henti dengan suara parau bercampur ketakutan.
''Nadia memanggilku ? Sakti bereskan sisanya, aku harus segera kembali,'' ucapnya yang berlari keluar begitu saja untuk menemui Nadia.
"Tuan sampai berlari seperti itu untuk nona, beliau bahkan meninggalkan cara berjalan yang sebelumnya beliau pelajari," ucap Aga terheran.
__ADS_1
"Jika anak muda jaman sekarang melihatnya, pasti mereka akan mengatai tuan muda bucin akut," tambah Sakti.
"Itu sudah pasti, rumah ini hanya milik mereka berdua, kita semua hanya menumpang di sini," ucap Aga lagi mengingat bagaimana keduanya tidak bisa di pisahkan bahkan ketika rapat penting perusahaan.
***
Ibra berlari mencari sumber suara Nadia yang masih terus memanggilnya, "dimana nyonya?" tanya Ibra pada seorang pelayan yang beberapa kali ia temui.
"Nyonya sedang mencari anda di depan tuan," jawabnya.
"Nadia.... Nadia... aku di sini, kau berada di mana?" teriak Ibra sekeras mungkin agar Nadia bisa mendengarnya.
Nadia yang saat itu mendengar teriakan Ibra segera langsung mendekat ke arah suara suaminya itu, "hey.... diam di sana, aku yang akan datang, jangan bergerak terlalu banyak," ucap Ibra yang berjalan dengan sangat cepat untuk menuju Nadia.
Perempuan yang masih berumur dua puluh tahunan itu membentang kan tangannya menyambut Ibra dengan senyum merekah di sudut bibirnya.
"Kupikir mas Ibra pergi lagi," ucapnya.
"Kenapa mencari ku sampai seperti ini, lihat, kau bahkan tidak memakai bajumu dengan benar," ucap Ibra dengan tangan merapikan baju Nadia yang sedikit terbuka di bagian dada.
"Ini hanya milikku, aku tidak ingin ada yang melihat milikku, ada banyak laki-laki di rumah ini jadi kau harus tetap waspada,'' ucapnya yang hanya di jawab senyum manja ala Nadia.
''Kenapa kau hanya tersenyum seperti itu, ayo kembali ke kamar dan pakai baju dengan benar, gaun tidur ini terlalu pendek"
"Gendong... ''
"Manjanya kamu... " ucap Ibra mencubit kecil hidung Nadia sebelum kemudian menggendong perempuan kecil ini.
"Apakah berat mas Ibra?" ketika tau nafas Ibra sudah tidak beraturan.
"Kau harus berat agar bayi-bayi kita juga sehat, aku yang harus banyak berlatih agar lebih kuat membawamu bersamaku seperti ini," ucapnya dengan sesekali menggerakkan hidungnya di hidung Nadia.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.
Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe
__ADS_1
Salam sayang semua.