Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Shock


__ADS_3

Rafael dan Aga langsung bergegas membuka pintu mobil Ibra, Aga bahkan memecahkan kaca agar Ibra bisa keluar dari Sana.


Bum... bum... pukulan demi pukulan Aga jatuhkan untuk memecahkan kaca, hingga pukulan ketiga, pyar.


Dengan sekuat tenaga, Aga dibantu oleh Rafael berusaha menarik Ibra keluar dari mobil yang sudah terbalik itu.


"Pergi saja, amankan Nadia... ada peledak di dalam mobilmu, jangan buang waktu untuk menyelamatkan ku," ucap Ibra dengan darah yang masih mengalir entah dari mana sumbernya, tubuh itu benar-benar penuh dengan darah hingga sulit melihat bagian mana tubuhnya yang terluka.


"Diam dan jangan banyak bicara, peledak itu gua yang masang kan, kenapa lu yang repot, gua lebih tau dari lu," ucap Rafael yang masih berusaha menggapai kaki Ibra yang terhimpit sesuatu sehingga sangat sulit untuk ditarik keluar.


Namun Ibra tidak bisa mendengar ucapan Rafael dengan jelas, kesadarannya sudah diluar kendali saat ini.


"Ibra... bangun... lu jangan nakutin gua... Aga... Aga... lu tarik bagian itu... pastikan jangan ada luka tambahan di tubuhnya selama kita menarik nya,"


"Satu... dua tiga.... " ucapnya memberi aba-aba kepada Aga.


Sakti terdiam, ia tidak melanjutkan langkahnya, kali ini ia menarik lengan Nadia agar menjauh dari sana, gadis kecil yang sedang meronta itu sedang di tahan oleh Sakti agar tidak berlari lebih jauh.


"Nona... cukup... "


"Abang.... mas Ibra..." ucapnya dengan air mata yang sudah mengalir deras tanpa henti.


"Ini perintah tuan muda," ucap Sakti yang mana semakin membuat Nadia menangis dengan derasnya.


Sakti mengeluarkan sebuah benda kotak kecil berwarna hitam, ada sebuah tombol lingkaran menyala yang ia tekan di sana.


"Tutup semua akses jalan di titik yang baru saja terekam satelit, jangan biarkan seorang pun lolos dari pengawasan kalian, juga beri tempat agar helikopter medis bisa mendarat," perintahnya dengan tegas, Sakti berusaha untuk fokus melakukan apa saja yang bisa ia lakukan sekarang ini.


"Luna... "


"Sepuluh menit," sahut seseorang entah dari mana.


"Terlalu lama, lima menit, kau harus datang dalam lima menit dari sekarang,"

__ADS_1


Puluhan orang anak buah Sakti dan Rafael berhamburan mendekat, semua nya membantu dan bekerjasama untuk mengeluarkan Ibra yang masih terjebak di dalam sana.


Rafael memperhatikan jam di tangannya, "dua menit, akan ada ledakan dua menit dari sekarang, keluarkan tuan muda segera dan cari posisi aman untuk berlindung," teriaknya memberi komando.


"Abang, mas Ibra... " ucap Nadia yang berlari ke arah mobil Ibra namun Sakti lebih dulu menahannya.


"Tuan muda sudah tau apa yang akan terjadi nona, karena itu anda harus menjauh dan aman, pikirkan bayi yang ada dalam kandungan anda, semua tuan muda lakukan untuk melindungi anda, jangan buat pengorbanan itu menjadi sia-sia," bentak Sakti untuk pertama kali.


Setelah mendapat bantuan dari semua orang, Rafael berhasil mengeluarkan Ibra dan membawanya, "berlindung.... "


Dengan berlari membawa Ibra dalam gendongannya, Rafael tidak bisa bergerak secepat yang lain.


Bbbhummmmm


Sebuah ledakan dua mobil yang saling terpaut cukup membuat getaran hebat di area sekitar lokasi kejadian, Rafael yang berada paling dekat dengan titik lokasi tanpa sengaja terkena serpihan besi mobil yang tanpa sengaja terlempar karena ledakan.


"Argh..... " rintihnya dengan keras ketika punggung bagian belakang tubuhnya terkena serpihan besi yang melayang ke arahnya, ia bahkan terduduk begitu besi itu menghantam punggungnya.


"Abang.... " teriak Nadia yang semakin panik.


Tak hanya Sakti, Nadia dan Aga juga berlari mendekati Ibra dan Rafael di sana.


"Aku di sini, are you okay?" tanya Sakti.


"Skala ledakan nya nggak besar, tapi cukup untuk membunuh siapapun yang berada di area ledakan, cepat suruh mereka membawa Ibra lebih dulu, gua yang sisir langsung lokasi," ucap Rafael menahan sakit di punggung nya.


"Mas Ibra... mas Ibra... mas Ibra.... bangun...'' teriak Nadia pilu, suaranya terdengar sangat menyakitkan.


Nadia meraih tubuh Ibra yang sebelumnya berada di lengan Rafael.


" Mas Ibra bangun dong, jangan nakutin aku, mas Ibra... rotinya bahkan belum sempat mas Ibra makan, bangun.... mas Ibra..... " panggilnya tiada henti dengan derai air mata yang seakan tidak bisa berhenti.


"Abang... kita harus pergi sekarang, kita harus membawa mas Ibra ke rumah sakit sekarang, ayo.. ayo bang, kenapa diem semua," teriak nya kepada semua orang yang ada di sana dengan tangan gemetar masih menutupi lupa Ibra.

__ADS_1


"Ayo... ayo bawa mas Ibra ke mobil yang lain,"


Tanpa memperdulikan ucapan Nadia, Sakti sibuk membuka sebuah tas yang entah ia dapat dari mana, laki-laki itu sibuk memberikan pertolongan pertama pada Ibra, mulai memasang Infus, memberi bantuan oksigen sampai mencari dan meneliti semua luka di tubuh Ibra.


"Apa yang abang lakuin? kita harus bergerak sekarang, kita udah nggak punya waktu lagi, ayo..." racaunya panik.


"Nggak bisa nona, kita harus kembali... tidak ada satupun rumah sakit di dunia ini yang akan mampu menangani tuan muda, saya akan membawa tuan muda kembali ke negara kami,"


"Lu gila hah? dia udah kayak gini lu jangan egois dong, berapa jam waktu yang kalian butuhkan buat balik, ini terlalu beresiko tau nggak?"


"Luna segera datang," ucap Sakti yang masih memperhatikan semua luka yang ada di tubuh Ibra.


"Lu.... "


Sebuah angin cukup kencang mendekat, terlihat helikopter hendak mendarat di dekat mereka yang menghentikan ucapan yang hendak keluar dari mulut Rafael.


Luna langsung berlari ke arah Ibra dengan beberapa orang yang membawa ranjang dorong untuk Ibra, sedikit kaget dengan kondisi Ibra saat ini, "separah ini? infus udah lu kasih obat sesuai instruksi dari gua?" tanya Luna pada Sakti dengan sigap dan cekatan hendak memindah Ibra ke atas matras agar bisa segera di bawa menggunakan helikopter.


"Kak... mas Ibra nggak papa kan kak?" tanya Nadia yang tidak mendapat sahutan dari Luna.


"Sakti come on, kita udah nggak punya waktu," teriaknya begitu Ibra sudah berada di dalam helikopter.


Nadia hendak naik ke dalam helikopter, namun tangan Sakti mencegahnya, "maaf nona, tidak aman untuk anda ikut bersama kami sekarang dengan kondisi hamil muda seperti ini,"


"Lu hamil dek? Nadia hamil," ucap Rafael lirih.


"Enggak bang, aku akan ikut kemanapun mas Ibra pergi," ucapnya tanpa menjawab ucapan Rafael.


"Tolong jangan menghambat nona, El...bantu aku," teriaknya agar bisa segera membawa Ibra pergi dari sana.


Aga dan Rafael menarik Nadia agar helikopter bisa segera berangkat, "Nadia... kita akan menyusul mereka, tapi setelah anak di dalam kandungan lu aman, kita masih harus konsul kan? oke,"


"Mas Ibra... mas Ibra... Nadia cuma mau mas Ibra bang," teriaknya ketika Sakti menutup pintu dan helikopter siap untuk di terbang kan.

__ADS_1


Rafael memeluk tubuh kecil Nadia yang masih memberontak hendak mengejar Ibra, "tenang Nadia... calm... calm..." ucapnya menenangkan, meskipun perasaanya sendiri saat ini sedang kacau.


Nadia masih tetap meronta hendak ikut bersama Ibra, hingga tiba-tiba gadis kecil itu kehilangan kesadaran di pelukan Rafael.


__ADS_2