Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Apa lagi ini?


__ADS_3

Nadia masih tenggelam dalam mimpinya, ia masih memimpikan kejadian yang sama seperti yang baru saja ia alami sebelum kehilangan kesadaran.


Kejadian itu benar-benar tidak bisa lepas dari pikiran bawah sadarnya, beberapa kali ia memanggil nama Ibra seolah mimpi yang ia alami saat ini adalah nyata.


"Mas Ibra...mas Ibra... " panggilnya lagi.


Cukup lama ia meneriakkan nama Ibra, hingga kemudian Aga mendengar dan mendekati Nadia.


"Nyonya...nyonya... ''panggil Aga lembut agar tidak membuat kaget Nadia.


Cukup lama Aga menggerakkan tubuh Nadia dan memanggil namanya, namun tidak ada respon apapun dari nyonya muda yang ia layani itu.


" Nyonya.... "teriaknya sedikit keras di tambah guncangan di tubuh Nadia yang langsung membangunkan gadis itu.


"Mas Ibra... " Nadia terduduk seketika, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok yang memenuhi hati dan pikirannya saat ini, ia bahkan lupa terhadap kondisinya yang tengah hamil.


"Pak Aga... mana mas Ibra... " tanyanya dengan air mata memenuhi kelopak matanya.


Belum sempat Aga menjawabnya, Nadia menatap pada pintu ruang rahasia miliknya yang diberikan oleh Ibra tengah terbuka.


"Mas Ibra ada di dalam kan? mas Ibra pasti ada di dalam, hanya kami berdua yang bisa membukanya," ucap Nadia masih berfikiran positif.


Gadis kecil itu dengan segera berlari ke arah ruang tersebut dengan tergesa-gesa, namun langkahnya terhenti ketika melihat Rafael yang berada di sana.


"Abang kenapa di sana?" tanya Nadia dengan suara sedikit tinggi, yang mana membuat Rafael menoleh kehilangan fokus seketika dan langsung menatapnya.


"Hanya ini yang tersisa agar kita tau tentang Ibra, Sakti menolak semua perangkat yang berusaha masuk ke dalam sistem, tenang dan datang kemari, abang yakin kamu juga ingin melihatnya,"


"Mas Ibra ada di sana?" tanya Nadia berharap penuh, tanpa menunggu ia langsung bergegas mendekati Rafael dan menarik kursi agar bisa duduk di sana.


"Belum datang, sepertinya masih dalam perjalanan," ucap Rafael menepuk-nepuk kepala Nadia lembut.


Ada gurat penyesalan yang terlihat jelas di wajahnya, hal ini juga di tangkap oleh mata Aga yang diam-diam memperhatikan mereka berdua.


"Melihat Ibra sampai mengorbankan dirinya seperti ini, kurasa dia benar-benar sangat mencintaimu," ujar Rafael memecah keheningan di antara keduanya.

__ADS_1


Nadia hanya mengangguk, ia tau Ibra sangat mencintainya, jelas sekali di mata Ibra sekalipun laki-laki itu tidak pernah mengungkapkan nya.


"Dia memang sangat mencintaiku," ucap Nadia bangga.


"Sebelumnya mas Ibra terlihat sangat senang dan antusias dengan bayi ini, dia bahkan menginginkan dua bayi," ucapnya bangga dengan air mata yang sudah mengalir.


"Benarkah?" tanya Rafael yang sudah tidak bisa menahan isaknya.


"Humm, mas Ibra bilang mungkin ada bayi yang keselip dan tidak terlihat di layar," tambah Nadia masih dengan isaknya.


Rafael memeluk tubuh seringan kapas itu ke dalam pelukannya, "dia harus hidup untuk melihat bayi ini bukan? dia pasti selamat, percaya sama abang," ucap Rafael yang sekali lagi hanya mendapat anggukan dadi Nadia.


Aga yang sejak tadi melihat mereka berdua kini berpaling membelakangi keduanya, dia sendiri tidak kuat melihat runtutan peristiwa yang terlihat di depan matanya hari ini.


Tit tit tit


"Tuan Rafael diizinkan memasuki sistem," terdengar suara sistem setelah bunyi bip yang mana membuat semua orang menoleh dan bergerak ke arah monitor.


Terlihat sebuah ruangan kosong yang dikelilingi oleh kaca, ruangan yang sudah full dengan alat medis lengkap itu masih kosong tanpa seorang pun di sana.


Tak lama muncul Attar dan Aisyah yang baru saja masuk dengan Lusy seperti biasa, Attar terlihat gelisah dengan mondar-mandir tanpa henti sejak datang, Aisyah hanya duduk diam dengan menggenggam erat jari jemari tangannya.


Derap langkah kaki berjalan beriringan memasuki ruangan, kereta dorong pasien dengan Ibra yang ada di atasnya menarik perhatian semua orang yang ada di sana.


Tak hanya semua orang yang ada di sana, Nadia, Rafael dan Aga juga sangat pilu melihat Ibra dalam keadaan seperti ini.


"Mas Ibra... " panggil Nadia dengan sesak memenuhi rongga dadanya.


"Ya Allah nak... Ibra... " teriak Aisyah tidak percaya ketika tubuh putranya penuh dengan darah, meskipun beberapa luka sudah di jahit oleh Luna dalam perjalanan menuju kesini.


Ibra sudah masuk ke dalam ruangan kaca dengan semua orang berada di luarnya, semua ruangan itu terekam dengan baik oleh kamera sehingga memudahkan Rafael untuk melihat secara keseluruhan.


"Kita butuh darah secepatnya om, kita harus cari secepat mungkin sebelum terlambat," ucap Luna.


"Bukankah dia selalu mendonorkan darahnya setiap bulan ?" tanya Aisyah yang tahu betul kebiasaan putranya.

__ADS_1


"Maaf tante, satu bulan yang lalu ada kecelakaan beruntun, saat itu para staf medis membutuhkan banyak sekali darah, kebetulan yang tersisa adalah golden blood milik Ibra, setelah melakukan banyak pertimbangan, akhirnya Ibra memutuskan untuk memberikan darah tersebut kepada para korban yang membutuhkan," ucap Luna memberanikan diri.


Attar dengan amarahnya langsung menarik Sakri begitu saja agar menjauh dari pintu ruangan yang saat ini ditempati Ibra.


Plak


Sebuah tamparan mendarat hingga meninggalkan bekas merah di pipi Sakti, laki-laki itu bahkan sampai terjatuh saking kerasnya tenaga yang digunakan Attar.


"Aku sudah bilang jaga dia, jaga putraku dengan baik dan jangan biarkan dia terluka sedikitpun, kau bahkan tidak memberitahukan apapun kepada kami ketika dia sudah mendonorkan darahnya yang berharga hah ?" ucapnya dengan penuh amarah.


"Kau tidak mendengar ku, kau tau darahnya berharga, kau tau darahnya sangat langka tapi kenapa kau biarkan ini semua terjadi hah?"


"Saya minta maaf tuan besar," ucapnya dengan kepala menunduk, ia sangat malu saat ini, ia tidak bisa menjaga Ibra dengan baik.


"Lalu kemana kita harus mencari darah itu, hanya ada 43 orang pemilik golongan darah ini dalam lima tahun terakhir, ya Allah... apalagi ini..." ucap Attar meremas rambutnya dan sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Om... ini murni keputusan Ibra. Sakti, Rafael bahkan Aga sudah melakukan yang terbaik versi mereka, tapi sama seperti yang om Attar lakukan sekarang, nggak akan pernah ada ayah yang akan diam saja jika istri dan calon anaknya dalam bahaya, itu yang Ibra coba lakukan," jelas Luna.


"Nadia hamil?"


"Ibra dan Nadia bahkan baru keluar dari rumah sakit tiga puluh menit sebelum kecelakaan itu terjadi tante," tambah Luna.


Aisyah sudah tidak bisa menopang lagi kakinya, kaki itu sudah lemas tak berdaya hingga terduduk di atas lantai begitu saja.


"Ibra bahkan baru tau jika akan menjadi seorang ayah, dia baru tau jika menjadi ayah," ucapnya dengan air mata yang tidak bisa di kendalikan.


"Ambil saja darahku," ucap Attar begitu saja, dunianya seakan runtuh saat ini.


"Pemilik golden blood seperti kami akan kesulitan mencari pendonor darah, ambil saja milikku Luna,"


"No dad... percaya Ibra bisa lewatin ini semua, ini sangat berbahaya untukmu jika seorang diri," ucap Aisyah.


Luna menggeleng penuh penyesalan, "benar om, terlalu beresiko jika om menjadi pendonor seorang diri, kita masih harus mencari yang lain untuk persiapan operasi,"


Ruang Rahasia Nadia.

__ADS_1


Nadia duduk tak berdaya di atas kursi yang ia duduki, "golden blood? golden blood?" ucapnya berulang-ulang.


Nadia semakin bertambah frustasi dengan kenyataan yang baru saja ia Terima kini, "abang ini apa lagi? kenapa jadi rumit gini sih?" tanyanya pada Rafael yang juga tidak bisa berkata apa-apa.


__ADS_2