Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Nadia Kerja


__ADS_3

"Om.. om Ibra.. tunggu Nadia bentar" teriak Nadia yang mengejar Ibra dengan setengah berlari takut Ibra segera pergi.


"Kenapa dia selalu berteriak," gerutu Ibra yang mendengar teriakan Nadia ketika hendak masuk ke dalam mobil.


"Kita tunggu nona muda saja tuan," ucap Sakti meredakan emosi Ibra yang mulai naik.


Tubuh kecil Nadia sudah muncul dari balik pintu, dengan sedikit berlari ia menyusul Ibra, "Kenapa selalu meneriaki ku seperti itu ? sudah ku bilang berapa kali rumah ini bukan hutan." ucap Ibra ketus.


"Nadia kan belum salim sebelum om pergi, mangkanya Nadia teriak tadi, takut keduluan om udah berangkat," jawab gadis kecil itu kemudian menarik tangan Ibra dan mencium punggung tangannya.


"Hati-hati di jalan om, semangat kerjanya ya, doakan Nadia nanti lancar training nya, " ucap Nadia tak lupa dengan senyum mengembang di bibirnya.


Ibra hanya diam melihat tingkah gadis itu, ia tidak Memberikan respon apapun, hingga kemudian, "mau uang jajan berapa hari ini ?" tanya Ibra kemudian.


Nadia sedikit terkejut dan membulatkan bibirnya, "Uang yang kemaren masih utuh om, kan kemaren Nadia masak sama bahan-bahan yang udah om siapin, jadi Nadia nggak jajan deh, masih utuh nih uangnya, orang Nadia cuma mau pamit doang, " ucap Nadia dengan tangan kanan masuk kedalam saku celana sebelah kanan dan mengeluarkan uang seratus ribuan dari sana.


"Yakin nggak kurang ?" tanya Ibra yang meragukan ucapan Nadia jika dia hanya benar-benar ingin berpamitan, bukan meminta uang jajan.


"Iya om, ya udah om berangkat nanti telat loh, bye bye om, hati-hati di jalan," ucapnya lagi.


Tanpa menunggu waktu lebih lama, Ibra masuk ke dalam mobil dengan pintu yang sudah dibukakan oleh Sakti, terlihat jelas ada raut kebingungan di wajah Ibra ketika ia melangkah ke mobil dan menatap Nadia yang masih setia melihatnya hingga mobil yang ia pakai tidak terlihat lagi.


"Kenapa dia mengejar ku hanya untuk mencium tanganku ? apa dia benar-benar menganggap aku sebagai omnya ? dia seperti anak kecil yang berpamitan kepada ayahnya dan meminta uang jajan," tanya Ibra pada Sakti.


"Menurut yang saya tau dari orang yang sudah menikah, itu sebagai bentuk rasa hormat nona kepada anda sebagai suaminya tuan muda," jawab Sakti memberikan penjelasan versinya.


"Kau kan juga belum menikah, bagaimana kau bisa tau ?" ucapnya kemudian.


''Hehe, kan saya sering lihat tuan dan nyonya besar tuan," jawab Sakti.


"Mereka emang raja dan ratunya bucin," ucap Ibra kemudian.


***

__ADS_1


Rafael sudah rapi dengan gaya ala style Korea yang terlihat menonjol, dibandingkan dengan Ibra dan Sakti, Rafael memang yang paling suka berpakaian dengan gaya santai dan trendi, namun tidak mengurangi kharisma kepemimpinannya.


Nadia sangat jelas melihat perbedaan yang sangat menonjol antara ketiga pria yang tinggal di rumahnya dengan kebanyakan orang pada umumnya.


"Wah abang El benar-benar tampan," puji Nadia tulus.


Rafael yang mendapat pujian dari Nadia malah berbalik memandang gadis itu dengan melotot seakan matanya hendak keluar, "harus banget ya pakai baju hitam putih dengan rambut di kuncir dua?" tanya Rafael dengan masih membulatkan kedua matanya.


Dengan cepat Rafael mengambil handphone di saku jas dan mengeluarkan nya.


Klik


Sebuah foto berhasil tertangkap kamera tanpa Nadia sadari, dengan lincah jari-jari Rafael mencari nama Ibra di deretan chat miliknya.


"Bini lu harus pakai pakaian kayak gini di perusahaan suaminya sendiri, apes banget nasib dia punya suami kayak lu,"


Setelah mengetik beberapa kata kepada Ibra, laki-laki itu juga tidak lupa menyertakan foto Nadia yang sempat ia ambil tadi.


"Bang kita jadi berangkat nggak? nanti Nadia telat, nggak lucu dong telat di hari pertama kerja," ucap Nadia.


Dendereng


Sebuah mobil sport mewah terparkir dengan nyata di halaman rumahnya, mobil berwarna merah darah itu benar-benar membuat seseorang yang melihatnya akan menjadi serakah ingin memilikinya.


"Bang nggak bercanda kan ?" tanya Nadia setelah melihat mobil yang akan ia kendarai bersama Rafael.


"Kenapa ?" tanyanya lagi.


"Yakin aja cleaning servis berangkat kerja di antar mobil kayak gini, yang bener aja bang?" ucap Nadia.


"Ini udah jam tujuh lebih dia puluh menit, lu ingin telat apa enggak ? kalo lu masih banyak tanya seratus persen kita bakalan telat," ucapnya kemudian memutari mobil untuk menuju kursi pengemudi.


Dengan terpaksa Nadia menaiki mobil tersebut dan duduk tepat di samping Rafael. "Perjalanan kita akan dimulai Nadia," ucap Rafael dengan senyum sedikit menyeramkan kemudian.

__ADS_1


***


Hari Pertama Kerja


Nadia diturunkan Rafael di pertigaan yang sedikit jauh dari perusahaan, Rafael sengaja mengendarai mobil dengan sangat kencang agar bisa segera sampai, yang mana membuat Nadia benar-benar jantungan.


Kini langkah kakinya sudah mulai memasuki lobby utama IA Entertainment. Besar, itu adalah kata pertama yang ada di pikiran Nadia ketika menginjakkan kakinya di IA Entertainment.


"Siapa yang bisa membangun bangunan sebesar ini, berapa banyak orang yang ada di dalamnya," ucapnya kagum.


Dengan sedikit bingung dengan banyaknya orang yang lalu lalang melewati nya, gadis kecil itu memberanikan diri bertanya kepada resepsionis tentang arah kemana ia harus pergi.


"Uhm mbak permisi, saya mendapat panggilan untuk menjadi cleaning servis disini, kalau boleh tau saya harus menemui siapa dan kemana saya pergi,"


"Sebentar," ucap salah seorang resepsionis yang ia tanyai, dengan sedikit berbisik wanita itu bertanya kepada rekan kerjanya.


"Hari ini tidak ada wawancara apapun, anda bisa pulang dan mencobanya lain kali," ucap wanita itu kemudian.


Dengan wajah shock campur sedih dan kecewa ia menatap wanita itu, "tapi saya benar-benar dapat panggilan untuk proses training di perusahaan ini mbak," jelas Nadia meyakinkan


"Kita tidak pernah merekrut cleaning servis sendiri, semua sudah dari outsourcing," jelasnya dengan sedikit ketus kali ini.


"Saya boleh minta tolong untuk di tanyakan kepada pihak HRD sekali lagi, saya benar-benar mendapat panggilan via email untuk hari ini," jelasnya lagi.


"Kamu masih kecil, nggak seharusnya kamu berkeliaran disini mencari pekerjaan, perusahaan kami juga sedang tidak membutuhkan cleaning servis, tolong mengerti pekerjaan kami tidak hanya melayani gadis kecil Seperti mu," ucap resepsionis itu semakin geram.


"Tolong mbak, saya benar-benar butuh pekerjaan," ucap Nadia sambil memegang tangan wanita itu.


"Cukup," bentak resepsionis itu kemudian membanting tangan Nadia yang memegang tangannya.


Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.


Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.

__ADS_1


Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.


__ADS_2