Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Jangan Bermimpi Untuk Pergi


__ADS_3

Nadia baru bisa tidur setelah mandi dan sholat subuh, gadis itu terlelap membelakangi Ibra dengan nyenyak nya, Ibra benar-benar membuatnya tidak tidur semalam suntuk, bahkan pagi ini Ibra masih merasa tidak tenang karena pengaruh obat yang sangat mempengaruhi tubuh dan pikirannya, ia merasa seperti sudah kecanduan terhadap tubuh Nadia.


"Dia terlihat sangat lelah, aku tidak tega jika harus memintanya lagi, aku akan membuat perhitungan dengan mereka bertiga begitu aku kembali, mereka sudah membuat istriku kelelahan seperti ini," kesal Ibra pada Sakti, Rafael dan Luna.


"Tapi aku yang membuatnya lelah sampai tertidur seperti ini, tidak tidak, ini karena ulah mereka bertiga, aku tidak akan berbuat seperti semalam jika mereka tidak memberiku obat sialan itu," ucap Ibra lagi.


Tidak ingin lama-lama berdebat dengan diri sendiri, akhirnya Ibra memilih beranjak dan melakukan olah raga pagi seperti biasa untuk mengurangi keinginan nya bersama Nadia, namun sebelum itu ia mengirim sebuah pesan kepada nomor anonim dari ponselnya.


Kurang lebih tiga puluh menit ia berolah raga di taman depan kolam renang, tak lama ia mendengar derap langkah sepatu dari luar villa yang ia tempati, ia melangkah ke arah pagar kayu, dan membuka grendel kunci dari dalam.


Sosok pria berkulit sawo matang dengan tubuh tegap berotot yang memakai setelan kemeja ketat berdiri di sana hendak mengetuk pintu pagar kayu.


"Hormat saya tuanku... "


"Masuk lah, tunggu aku di taman," ucap Ibra yang terlebih dahulu melangkah masuk untuk memastikan bahwa semua tirai sudah tertutup rapat, rasanya tidak rela jika ada orang lain yang melihat tubuh Nadia yang sedang terbungkus selimut itu.


Ibra menatap ke arah Nadia, ia mendekati istri kecil yang terbungkus selimut itu, "Nadia... "


"Hm.... "


"Aku keluar sebentar, jangan mencari ku dan tunggu aku pulang," ucap Ibra.


"U uhmm.... " balas Nadia antara sadar dan tidak sadar, gadis itu hanya bergumam tanpa bergerak sedikitpun, matanya pun tidak, yang mana semakin membuat Ibra gemas melihatnya.


Ibra hendak menyentuhnya lagi, namun kesadaran nya saat ini sudah lima puluh persen kembali, "aku tidak boleh di kuasai nafsuku, sekali saja aku menyentuh nya, aku yakin aku tidak bisa berhenti, sabar Ibra...tahan....tahan..." ucap Ibra menenangkan dirinya sendiri dengan menarik nafas berulang kali, hingga kemudian beranjak menemui laki-laki yang baru saja tiba itu.


"Dimana penawarnya?" tanya Ibra tanpa basa basi.


"Anda hanya perlu meminum separuhnya saja tuanku," jelas laki-laki itu sembari menyodorkan sebuah obat berwadah cupu kaca di atas meja yang langsung di ambilnya.


Ibra meminum penawar tersebut dan menyisakan separuh cupu seperti yang di instruksikan laki-laki sawo matang itu.


"Bagaimana dengan orang yang sudah menculik istriku?"


"Tuan Sakti dan tuan Rafael bahkan lebih sadis dari apa yang saya bayangkan tuanku,"


Ibrahim tersenyum, "itu yang tidak pernah aku temukan pada orang lain, mereka berdua adalah pasukan yang bisa membunuh seratus orang sekaligus," ucapnya sedikit berbangga diri, ia bahkan lupa rasa kesalnya pada Sakti dan Rafael sebelumnya.

__ADS_1


"Beliau berdua bahkan hanya menyisakan satu orang saja yang hidup dengan cacat seumur .... "


"Cukup, aku lebih tau dan faham dengan mereka dari pada orang lain, kau tidak perlu menjelaskan apapun tentang mereka,"


"Maafkan saya tuan,"


"Apa yang akan kau lakukan untuk membawaku dan istriku pergi?"


"Semua sudah siap tuan, hanya menunggu kesiapan anda,"


"Pasukan Rafael?"


"Kami sudah mengecohnya,"


"Kapan mereka pergi?"


"Semalam, tepat setelah Anda meninggalkan villa itu, dan kembali ke villa ini," jelas laki-laki itu.


"Mereka pasti menungguku memberi kabar berikutnya," ucap Ibra dengan senyum kemenangan dari bibirnya.


"Kita pergi sepuluh menit dari sekarang, bersiaplah," ucap Ibra tegas.


Ibra berjalan menuju ke dalam mobil yang di parkir cukup jauh dari villa yang ia tempati, sebelumnya pria itu meletakkan tubuh Nadia di atas kursi roda dan mendorongnya agar tidak menjadi pusat perhatian banyak orang.


Hingga tak jauh terlihat sebuah mobil sedan butut berwarna hijau pupus, cukup mudah di kenali karena terlihat ada simbol BR di dalam sebuah lingkaran tepat di pojok bawah pintu mobil bagian belakang, simbol tersebut adalah simbol kepemilikan Ibra yang sengaja di letakkan di posisi yang tidak terlalu mencolok.


Simbol itu hanya di ketahui oleh orang-orang kepercayaan Ibra, termasuk Sakti dan Rafael, semua yang di miliki Ibra memiliki simbol ini, bahkan ketika sedang berkirim pesan penting, simbol ini cukup untuk menjadi jaminan bahwa pesan itu langsung di minta oleh Ibra hanya dengan membubuhkan simbol ini di atasnya.


Nadia bergerak ketika Ibra mulai memindahkannya ke dalam mobil, gadis itu menggeliat dengan membuka sedikit mata yang enggan sekali untuk terbuka saat ini.


"Om.... kita pergi kemana lagi?" ucapnya menggaruk kelopak matanya berusaha terbuka.


"Tidur lah lagi, aku akan membawamu ke tempat yang lebih indah," ucap Ibra menenangkan dengan menarik Nadia untuk semakin dekat dengannya.


Bukannya memejamkan mata, Nadia malam menatap mata Ibra dengan tatapan sayu, "ada apa? kenapa kau menatapku seperti itu," tanya Ibra heran.


"Om kesal sama abang- abang kan? mangkanya om pergi lagi," tebak Nadia yang masih setengah sadar.

__ADS_1


"Kita jalan sekarang," perintah Ibra.


"Om Ibra... " ucap Nadia manja, dengan tangan yang bergerak membentuk bulatan-bulatan di dada Ibra yang semakin membuat darah Ibra berdesir.


"Aku sudah minum penawarnya, tapi aku masih ingin menerkam nya lagi sekarang, mungkinkah kurang? " batin Ibra dalam hati.


Tanpa menunggu, Ibra mengambil sebuah obat yang sebelumnya ia letakkan di saku celananya dan dengan segera meminumnya.


"Om minum apa?" tanya Nadia kuatir.


"Penawar,"


"Om masih merasa sakit? mana yang sakit? kata bang Sakti tidak ada penawarnya," tanya Nadia semakin khawatir.


"Kau percaya padanya?"


"Hah?" tanya Nadia bingung.


"Sudah cukup, sekarang berhentilah bermain di dadaku, atau aku akan memakan mu di sini," bisik Ibra.


Ucapan Ibra benar-benar membuat tubuh Nadia bergidik ngeri, ia ingat betul ketika semalam Ibra tidak bisa di hentikan, "matilah jika om Ibra memakan ku lagi, aku bahkan hampir tidak bisa berjalan tadi subuh, tapi aku hanya bermain di dadanya, kenapa dia ingin memakan ku lagi," ucap Nadia dalam hati dan bergerak menjauh dari tubuh Ibra.


"Ada apa?"


"Gak ada apa-apa, hehe," ucapnya meringis.


"Kau ingin aku memakan mu?" goda Ibra.


"Enggak,"


"Pengen lagi kan?"


"Enggak om,"


"Kalau begitu kemarilah," ucap Ibra yang sudah membentangkan lengannya.


"Kita mau pisah om, nggak boleh deket-deket," ucap Nadia reflek yang mana membuat wajah Ibra berubah dingin seketika.

__ADS_1


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri hanya melakukan hubungan seperti itu dengan istriku, jadi jangan bermimpi untuk pergi dariku setelah ini," tegas Ibra.


***


__ADS_2