
Seperti biasa, ia hendak menghubungi Sakti untuk segera menyiapkan makanan, namun tangannya berhenti pada nomor kontak seseorang di sana.
Setelah berfikir sedikit lama, ia memutuskan untuk menghubunginya, "halo... "
"Jangan coba-coba nyentuh Nadia...kalian berdua harus fit du..." teriak wanita itu dengan bar-bar seolah tau apa yang ada di pikiran Ibra.
"Aish... " kesal Ibra yang langsung menutup panggilan telfon Luna begitu saja.
"Sakti..... Sakti.... " teriaknya kemudian dengan sangat keras seolah hendak menumpahkan semua rasa kesalnya begitu mendengar jawaban telfon dari Luna sebelumnya.
***
Lantai 1
Semua orang selain Nadia, Ibra dan Rafael masih berada di ruang utama yang berada tepat di bawah tangga, semuanya tengah berbincang ringan seperti keluarga pada umumnya.
Hingga tak lama kemudian sebuah panggilan telfon berbunyi di tengah-tengah mereka, "Siapa?" tanya Sakti.
"Siapa lagi ?" ucapnya seolah tau apa yang hendak di bicarakan Ibra saat itu.
"Jangan coba-coba nyentuh Nadia...kalian berdua harus fit du..." ucapnya dengan suara sedikit keras meskipun terpotong, tentunya hal ini mendapat perhatian dari semua orang yang ada di sana.
"Hehe... anak tante mau main sruduk aja," ucapnya nyengir pada Aisyah yang kini tengah menatapnya.
Aisyah tersenyum, "pantas saja, itu turunan dari daddy," ucapnya kemudian.
"Tentu saja, dia putraku satu-satunya," ucap Attar bangga.
"Tapi apa tidak masalah untuk keduanya? uhm aku tidak ingin kehilangan seorang putra lagi," tanya Abrar.
"Tubuh Ibra tidak ada masalah jika di lihat dari luar om, tapi beberapa kali ia memijit mata kakinya pelan, ia juga kesulitan berjalan tanpa bantuan, bisa jadi karena kaki yang sudah lama tidak di gerakkan atau ada masalah lain yang harus di periksa lebih lanjut," jelas Luna.
"Dan masalah kedua, kita sangat kesulitan untuk memeriksa kondisi tuan muda jika bukan kehendaknya," tambah Sakti.
"Sakti...... Sakti..... " suara teriakan Ibra terdengar sangat jelas di telinga seluruh manusia penghuni rumah itu.
Tanpa kata Sakti berlari dengan kaki panjangnya menuju kamar Ibra tanpa berfikir lebih jauh, "lihatlah putramu itu Abrar, dia tidak pernah berhenti berteriak," ucap Attar menggelengkan kepala tanpa melihat pada Abrar.
Abrar melihat dengan tidak suka, kemudian mendorong kepala Attar dari belakang, "kenapa sikapnya yang buruk kau samakan denganku ? aku tidak pernah menyumbangkan gen ku padanya, sudah pasti semuanya itu milikmu,"
__ADS_1
"Hey.... Heyyy.... kenapa mendorong kepalaku maju seperti itu, kau yang menginginkan dia menjadi putramu, aku akan menerima semua hal baik dari Ibra, dan kau harus menerima keburukannya juga, ha ha ha ha ha," ucapnya senang bukan main kemudian melenggang pergi.
"Wah... wah... Aisyah, suamimu benar-benar menjengkelkan, aku akan mengasah pisau ku agar dia tidak bicara sembarangan seperti itu lagi." ucapnya kesal.
"Keluarga ini benar-benar di dominasi oleh orang-orang yang memiliki tempramen buruk, tante Aisyah bagaimana bisa kuat berada di sekeliling orang seperti mereka semua, berada di samping Ibra saja sudah membuatku cukup banyak tertekan, Tuhan beri aku kekuatan... karena kerja di sini benar-benar mahal.... hihihi" batin Luna.
''Jangan kaget, kau harus terbiasa, keluarga ini lebih ramai dari pada keluarga pada umumnya,"
"Lebih ramai ?" ulang Luna berfikir.
***
Sakti mengatur nafasnya sebelum menemui Ibra, ia beberapa kali menghembuskan nafasnya menyiapkan diri sebelum kemudian membuka pintu kamar itu perlahan.
"Iya tuan muda," tanyanya pada Ibrahim yang sedang duduk di atas ranjang dengan Nadia yang juga baru saja keluar dari kamar mandi.
"Siapkan makanan, jangan sayur, dan harus lebih enak dari makanan yang biasa di masak Nadia,"
"Baik tuan muda," ucapnya sebelum memutuskan pergi.
"Kenapa mas Ibra teriak begitu," tanya Nadia kemudian begitu Sakti pergi.
"Kemari... " perintah Ibra dengan menepuk kasur di sampingnya.
"Mas... hayo kenapa?" tanyanya tanpa basi basi.
"Siapkan bajuku, aku akan mandi lebih dulu,"
"Udah gitu aja??"
"Tetap di sini dan jangan keluar kamar, tunggu aku sampai selesai oke," ucapnya sembari mengelap beberapa butir keringat di dahinya yang mana membuat Nadia teringat peristiwa malam itu, saat yang sama ketika ia memutuskan untuk memberikan dirinya seutuhnya pada Ibra.
"Mas Ibra pengen ya???" tanyanya tanpa canggung, bahkan dengan senyum merekah indah yang mana semakin membuat detak jantung Ibra bergerak tidak karuan.
Ibra langsung menarik tangannya untuk mendekat kepadanya, "tunggu sampai kondisi ku membaik dan kandungan mu menjadi lebih kuat, aku berjanji akan menemui mereka secara langsung, sehari tujuh kali," ucapnya kemudian berdiri meninggalkan Nadia dengan mata membulat dan mata melotot khasnya.
"Cih... mas Ibra... " ucap Nadia kemudian dengan pipi memerah bahagia.
Sebuah alarm berbunyi dari ponsel milik Nadia, "abang El.... " lirihnya.
__ADS_1
Ia melihat sebuah sistem keamanan baru yang baru saja terupdate di ponselnya, tak hanya di ponselnya, sistem itu juga terupdate secara otomatis di ponsel milik suaminya.
"Abang El sudah mulai bergerak rupanya, cepat juga gerakan abang sampai bisa buat sistem rumit dengan waktu secepat ini," gumamnya begitu melihat pintu pertama program yang ada di dalamnya.
"Wih... abang yang terbaik," ucapnya kemudian.
"Nadia.... jangan mengacau dan terima sistem yang abang buat,"
Sebuah pesan terlihat di layar ponsel Nadia, jelas saja, Nadia memasang alat pengaman sendiri untuk ponselnya, sehingga tidak akan mudah sebuah sistem asing masuk tanpa seizin nya.
Tanpa pikir panjang lagi Nadia segera membuka akses agar Rafael bisa memasukkan sistem yang ia buat ke dalam ponselnya.
"Mana bajuku?" tanya Ibra yang baru saja keluar dari kamar mandi tanpa suara.
"Ah iya, maaf mas hehe, tumben mas mandinya nggak lama, sini duduk dulu, biar Nadia ambil bajunya," ucap Ibra pelan.
"Airnya panas," ucapnya singkat.
Nadia mengeluarkan kepalanya untuk melihat Ibra dari balik lemari, "panas? itu tidak terlalu panas, aku sudah mengeceknya," pikir Nadia seorang diri.
"Baju kaos saja, yang dingin kalau di pakai," ucapnya lagi.
Setelah memilih dan mengambilkan baju sesuai request dari Ibra, Nadia kembali mendekati suaminya, memakaikan kaos berbahan dingin dengan harga yang sangat fantastis tentunya.
Ibrahim hanya menurut saja ketika Nadia memakaikan kaos pada tubuhnya, ia bahkan masih menatap sosok kecil yang baru saja menghilang dari kamar mandi begitu selesai memakaikan kaos padanya.
Tanpa lama, Nadia keluar dengan sebuah bak cantik berukuran kecil dan meletakkannya tepat di bawah kaki Ibra, "sini mas kakinya," ucap Nadia sembari mengarahkan kaki Ibra agar masuk kedalam bak berisi air panas itu.
"Nyaman kah?" tanyanya yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Ibra.
"Sudah makan? kenapa wajahmu menjadi kurus seperti ini? apa sakit menjadi hamil? apa dia membuatmu tidak bisa makan ?" tanyanya lagi tanpa henti seolah tidak puas sebelum mendapatkan jawaban dari Nadia.
Hati Nadia terenyuh mendengar pertanyaan ini keluar dari bibir suaminya, mata itu tiba-tiba sudah di genangi air mata yang mana membuat Ibra menariknya karena khawatir.
"Ada apa? apa yang membuatmu sakit sampai berkaca-kaca seperti ini, ada apa Nadia?" tanyanya lagi semakin khawatir.
"Hujan tidak pernah tau dia jatuh pada siapa, tapi air mata tau dia jatuh karena siapa," ucap Nadia pelan dengan tangan berada di pipi Ibra.
"Suatu hari nanti akan ku ceritakan bagaimana sulitnya bangkit tanpa kamu, pergi tanpa pamit rasanya sakit dan perih," ucap Nadia dengan air mata berhasil lolos dari kornea matanya.
__ADS_1
***
Semoga suka